Eragon – Christopher Paolini

Eragon – Christopher Paolini

“Kau seharusnya merasa bangga; hanya sedikit orang yang bisa meloloskan diri tanpa terluka sewaktu membantai Urgal pertama merak. Tapi caramu melakukannya sangat berbahaya. Kau bisa saja mengahncurkan dirimu sendiri dan seluruh desa.”

Kubaca saat Harry Potter mencapai puncak hype Reliku Kematian. Eksteptasi tinggi, tentang naga yang bisa berkomunikasi dengan tuannya, tentu saja sangat menarik.

Kisah penunggang naga yang terinpirasi dari berbagai fantasi. Alur dunia ajaib dengan dilengkapi peta laiknya The Lord of The Ring, balutan sihir dari era keemasan Harry Potter, sampai dunia berlapis bak dalam His Dark Materials. Perpaduan itu menghasilkan drama panjang Siklus Warisan, sampai empat buku yang semuanya tebal. Sedari awal rencana mau dalam bentuk trilogy: Eragon, Eldest, dan Brisingr. Tapi karena buku pamungkas itu ternyata jauh lebih rumit dan sungguh tebal maka jadilah penutupnya disampaikan dalam Inheritance. 

Kisahnya, tersebutlah di sebuah desa kecil Calvahall hidup remaja lima belas tahun bernama Eragon. Suatu hari dia menemukan sebuah benda bulat lojong berwarna biru di hutan sata berburu, benda yang semula dikira batu, namun batu yang rencananya dijual itu disimpannya dan ternyata sebuah telur. Telur naga! Dari tuturan si pendongeng tua Brom tentang sejarah naga, tentang sihir, dan ilmu seni bertarung dengan pedang, Eragon menamai naganya Saphira. Eragon adalah penerus klan penunggang naga, klan itu ditumpas oleh Raja Galbatorix. Dahulu kala klan penunggang naga adalah penjaga negeri Alagaesia. 

Makhluk-makhluk Ra’zac yang dikirim sang raja untuk mencari dan merebut kembali telur naga yang hilang, mengobrak-abrik dan membumihanguskan desa, yang untuk menambah seru konflik, mereka membunuh paman Garrow, dan penuh dendam Eragon bertekad memburu dan bersumpah akan kembali membangun klan. Negeri Alagaesia dipimpin dengan kejam, Raja Galbatotix mempunyai tiga telur naga yang dijaga dan dalam rencana nantinya diberikan kepada anak buahnya sebagai penunggang naga. Dan tahulah kita, ternyata telur yang ditemukan Eragon itu salah satunya. Bagaimana telur itu bisa di hutan dijelaskan bahwa lima belas tahun yang lalu putri Arya mencurinya dari Urubean.

Eragon, Brom, Saphira dalam misi besar demi Klan Penunggang Naga. Berhasilkah? Bisa kita tebak dengan mudah, salah satunya tak selamat. Selalu ada konflik rumit untuk sebuah buku besar. Eragon jelas harus memenuhinya.

Saya baru membaca satu seri, tiga lainnya dalam proses. Seperti Bartimaeus yang butuh kesabaran, laiknya His Dark Materials yang butuh perjuangan. Saga Eragon saya nikmati perlahan dan mengalir. Cerita fantasi petualangan yang sangat menarik. Imajinasi itu bisa dipetakan, dibentuk dalam aturan sihir. Naga dalam saga Paolini adalah makhluk supranatural yang bisa berkomunikasi dengan Panunggangnya. Menjadi lebih istimewa karena pengisi suaranya Rachel Weisz.

Adaptasi filmnya gagal total. John Malkovich yang tampak sangar, sangat digdaya sepanjang film, menggambarkan kekuatan besar yang dipegangnya, kekejaman nan tanpa ampun serta kehebatan menata Negara dengan gaya keras itu, di bagian pertempuran akhir tampak sangat mengecewakan. Anti klimak, apalagi adegan pertarungan di udara yang ditunggu-tunggu visualnya, duh terlampau cepat diakhiri. Sayang sekali, berkat pemetaan film yang salah, sekuelnya bernasib tak jelas hingga sedekade lebih. Seperti The Golden Compass yang tenggelam dan respon pasar yang buruk, adakah harapan Eldest dkk ke layar lebar?

“Bantu aku Saphira, aku terlalu lemah untuk melakukannya sendiri.”

Eragon | by Christopher Paolini | diterjemahkan dari Eragon | copyright 2003 | cover art by John Jude Palencer | ilutrations on page 2, 3 and 10 by Christopher Paolini | alih bahasa Sendra B. Tanuwidjaya | GM 322 04.001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan keenam, Januari 2006 | 568 hlm.; 23 cm | ISBN 979-22-0862-3 | Skor: 5/5

Karawang, 071117 – Tasya ft Duta Sheila On 7 – Jangan Takut Gelap

Iklan

2 thoughts on “Eragon – Christopher Paolini

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s