Pisau Gaib – Philip Pullman

Pisau Gaib – Philip Pullman

“Langit runtuh, dan roh-roh mondar-mandir antara dunia ini dan dunia itu. Semua tanah bergerak. Es meleleh, lalu membeku lagi. Roh-roh menutup lubangnya beberapa waktu kemudian. Menyegelnya. Tapi kata penyihir, langit di sana tipis, di balik cahaya utara.”

Malam itu sepi dan laut tidak bergerak. Ia melipat dan menyimpan kembali surat-suratnya lalu pergi tidur. Novel pertama The Golden Compass hilang, dipinjam teman sudah sepuluh tahun tak kembali, lost contact. Novel kedua The Subtle Knife adalah yang terbaik. Kalau yang pertama fokus pada petualangan Lyra Belacqua ke utara dalam dimensi dengan aturan setiap manusia memiliki daemon, sekuel akan makin melebar ke dimensi lain. Aku mencari apa yang kudengar dari legenda tua: Lubang pada material dunia, lubang yang muncul antara alam semesta kami dan alam semesta yang lain. Beberapa rekanku tersesat di ambang pintu itu, tanpa melihatnya, dan meninggalkan dunia kami. Mula-mula kami tak menyadari apa yang terjadi. Kami terus berjalan hingga menemukan kota, kemudian tidak mungkin keliru lagi. Kami berada di dunia yang lain. Tokoh utamanya adalah William Parry, Dimensi yang ditinggalinya adalah dunia kita. Manusia tanpa daemon, Will suatu hari membunuh seorang penyergap di rumahnya setelah ia menitipkan ibunya yang sakit ke seorang guru. Ayah will hilang dalam ekpedisi ke utara. Dan aku sangat mencintai istriku, sebagaimana aku mencintai putraku, satu-satunya anakku, anak laki-laki yang belum lagi berusia setahun ketika aku meninggalkan duniaku.

Anak ini memiliki dahan pinus awan yang benar di rumah Dr Lanselius: ia anak yang selama ini kita nantikan, dan sekarang ia menghilang. Dalam pelarian ia secara tak sengaja menemukan pintu, sebuah lubang di udara yang mengantarnya ke dunia lain, Cittagazze. Apa pun dunia baru ini, pasti lebih baik daripada dunia yang ditinggalkannya. Seiring dengan kepala yang terasa ringan, perasaan bahwa ia tengah bermimpi tapi juga terjaga, ia berdiri dan memandang sekitarnya, mencari kucing tadi, pemandunya. “Kau tidak tahu tentang kucing? Kucing membawa iblis dalam diri mereka, tahu tidak? Kau harus membunuh setiap kucing yang kaujumpai, mereka menggigitmu dan memasukkan setan ke dalam tubuhmu.” Di dimensi itu sedang mencekam akibat serbuan Spectre, para pelahap jiwa orang-orang dewasa. Bertemulah ia dengan Lyra di sebuah rumah, ending Buku Satu saat ia menyeberangi bintang emas dirajut di sini. Saat Pan berbuat begitu, Will dan Lyra menyadarinya mereka berpegangan tangan, dan perlahan-lahan melepaskannya. Pelabuhan di depan mereka, lampu-lampu di sepanjang bulevar yang kosong, bintang-bintang di langit yang gelap di atas, semua melayang dalam kesunyian hebat seakan-akan hal-hal lain tak ada sama sekali. Mereka sepakat saling menjaga dan kembali ke dunia kita ke Oxford untuk bertemu Dr Mary Malone, seorang ahli fisika yang meneliti partikel materi gelap. “Kau dulu biarawati. Aku takkan bisa menebaknya. Biarawati seharusnya berada dalam biara seumur hidup mereka. Tapi kau berhenti mempercayai Gereja dan mereka membiarkan dirimu pergi. Itu tak seperti duniaku, sama sekali.”

Saat itulah mereka terjebak dan ditolong oleh Sir Charles Latrom yang diluarduga malah mencuri alethiometer-nya Lyra. Kesepakatan diraih, Sir Charles mau mengembalikannya asal mereka berdua kembali ke Cittagazze untuk mengambil benda ajaib Pisau Gaib. Kenapa harus mereka? Ya karena Spectre hanya memangsa orang dewasa. Kembalinya Lyra dan will ke sana dan menuju Torre Degli Angeli, Menara Para Malaikat. Di sanalah adu tangkas, adu fisik, padu terjadi, Will berhasil mengalahkan Giancomo Paradisi namun dua jarinya terpotong. Ada yang sangat salah dan ia tidak menyadarinya. Ia menjatuhkan pisau dan memeluk tangan kirinya. Lilitannya basah kuyup dengan darah. “Aku hanya bisa memberikan pisau itu kepadamu dan menunjukkan cara menggunakannya.” Namun justru fakta itulah yang menjadikan Will seorang Pembawa Pisau Gaib yang baru. “Aku yang memegang pisau gaib atas nama Serikat.” Setelah mendapatkannya, mereka justru curiga Sir Charles tak akan menepati janji, apalagi saat tahu senjata baru ini kereeen sekali. Saya saja terpukau iri. Pisau Gaib itu semacam ‘Pintu Ke Mana Saja’ nya Doraemon. Ia berani melakukan apa yang bahkan tidak pernah berani dipikirkan orang lain. Dan lihat apa yang sudah berhasil dicapainya, ia merobek langit, ia membuka jalan ke dunia lain. Siapa lagi yang pernah melakukannya? Siapa lagi yang pernah memikirkannya? “Sial bagi kita semua, alethiometer itu ada di tanganku, dan pisaunya ada di tangannya.

Sekarang Lyra bergetar hebat. Mungkin reaksi tertunda dari kecelakaan tadi, atau shock sekarang akibat menemukan gedung yang sangat berbeda di tempat akademi Jordan yang dikenalnya sebagai rumah seharusnya berada. Kejadiannya hampir seketika. Ia merasa seakan telah melangkah ke ruang yang tak ada. Seluruh jiwa raganya terhempas karena shock. Butuh beberapa saat sebelum ia cukup tenang untuk mencoba lagi. Dan kecurigaan itu terbukti tepat, karena saat mereka kembali ke Oxford kejutan besar terjadi di mana Sir Charles ternyata bersekongkol dengan Mrs. Coulter! Aku pembohong terbaik yang pernah ada. Tapi aku tidak akan membohongimu, tidak akan pernah. Aku bersumpah. Sulit menceritakan kebenaran pada mereka kalau kebohongan jauh lebih mudah untuk mereka pahami. Lyra merasa jantungnya seperti dihantam, hantaman terburuk yang dirasakannya sejak melarikan diri dari Bolvangar, karena tamu Sir Charles ternyata ibunya. Wow wow wow, konspirasi macam ini?

Sementara itu Penyihir cool Serafina Pekkala yang sudah mencari Lyra ke sana kemari justru menemukan fakta lain tentang Otoritas dan sekongkong menuju babak baru, ia segera melakukan pertemuan darurat dengan aeronaut Lee Scoresby, dan ratu penyihir Skadi di danau Enara. Keputusan itu menghasilkan sang Penyihir melanjutkan pencarian Lyra sedang Lee ditugaskan memastikan nasib Stanislaus Grumman yang hilang. Tiba-tiba Lee merasa bulu tengkuknya merinding, dan Hester mengejang dalam pelukannya karena mereka sadar bahwa mereka diawasi. Di antara bunga-bunga kering dan ranting pinus, ada mata kucing yang memandang keluar. Mata itu milik daemon. Aku tidak bisa melihat masa depan, tapi aku bisa melihat masa kini dengan cukup jelas. Siapa itu Stanislaus? Mudah ditebak, karena perannya yang penting dan menyeret banyak karakter untuk mencari sekutu, itu jelas mengarah kepada satu nama. “Kalau mereka sedang mencarimu, aku sudah menyingkirkan mereka.”

Kedua penyihir dan pasukan itu lalu mengarah ke Cittagazze, dan di sanalah puncak The Subtle Knife terjadi. Perang yang disulut Lord Asriel untuk melawan Otoritas, Tuhan-nya His Dark Materials. Akhirnya siapa yang bisa tetap tersenyum?

Ending kisahnya menggantung. Jelas, karena ini adalah trilogy dalam satu rangkaian. Saat membumbung ke atas, dengan angin kencang di belakang dan dunia baru di depan: apa yang lebih baik lagi dalam hidup ini? Semua akan meledak di The Amber Spyglass, satu lagi benda gaib ajaib ciptaan Philip Pullman. “Itu hal terhebat yang pernah kulihat seumur hidupku.” Dan pengetahuan inilah yang dicari orang-orang itu… maka pengetahuan ini juga berbahaya.

Serangkaian cahaya yang menari-nari yang tampak sangat mirip tirai aurora yang berpendar, menyambar ke seluruh layar. Rangkaian cahaya itu membentuk pola yang bertahan hanya sesaat sebelum menyebar dan membentuk lagi, bentuk yang berbeda atau warna yang berbeda, mereka berputar-putar dan bergoyang-goyang, menyebar, meledak menjadi hujan cahaya yang tiba-tiba bergoyang ke sini atau ke sana seperti gerombolan burung berubah arah di langit.

“Kalian ingin tahu tentang malaikat? Baiklah. Mereka menamai diri mereka sendiri bene elim, aku diberitahu begitu. Beberapa orang menyebutnya Pengawas. Mereka bukan makhluk berjasad seperti kita, mereka roh, atau mungkin jasad mereka lebih halus daripada kita, lebih ringan, lebih jernih. Mereka membawa pesan dari surga, itu tugas mereka. Terkadang kami melihat mereka di langit, melintasi dunia ini dalam perjalanan ke dunia lain, berkilau seperti kunang-kunang jauh tinggi di langit. Di malam yang sepi kau bahkan dapat mendengar suara kepak sayap mereka.

Salah satu bagian yang memikatku, mungkin sederhana namun penggambaran setting tempatnya bagus banget: Ruangan itu luas dengan langit-langit dipenuhi sarang laba-laba. Dinding-dindingnya dipenuhi rak-rak buku berisi buku-buku tak terawat dengan sampul yang sudah lepas dan terkelupas, atau ringsek karena lembab. Beberapa buku terserak di luar rak, tergeletak terbuka di lantai atau di meja-meja yang berdebu, dan yang lainnya dijejalkan kembali ke rak dengan serampangan.

Lalu ia menuliskan alamatnya dan membeli prangko serta memeluk kartu itu sejenak sebelum memasukkannya ke kotak pos.

His Dark Materials jelas salah satu fantasi terbaik sedunia!

Pisau Gaib | by Philip Pullman | diterjemahkan dari The Subtle Knife | copyright 1995 | alih bahasa B. Sendra Tanuwidjaja | editor Poopy Damayanti Chusfani | GM 322 07.001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 408 hlm.; 23 cm | ISBN 979-22-2578-1 | Skor: 5/5

Ruang HRGA CIF NICI – Karawang, 031117 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

Iklan

2 thoughts on “Pisau Gaib – Philip Pullman

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

  2. Ping balik: Best 100 Novels of All Time v.2 | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s