Messiah – Boris Starling

Messiah – Boris Starling

“Anda pasti telah melihat ribuan orang keluar masuk tempat ini sepanjang waktu itu. Bagaimana Anda bisa mengingatnya dengan jelas?”

Di tahun 2007, ketika fantasi menyerang daftar baca di masa lajang, Messiah muncul terselip dan sukses menghantui. Saat itu memang ada aura detektif jua tapi tak ekstrem, masa itu jua tak lama setelah terpukau nonton film The Silence of the Lambs yang dibintangi Anthony Hopkins. 

Siapa yang memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri daripada kesukaran (Amsal 21:23)

Kisahnya ala ala detektif Poirot dan Holmes, tapi sudah di era akhir abad dua puluh, tepatnya tahun 1998 jadi pengungkapan, proses kejar dan seni pola menangkap tersangka menyesuaikan teknologi. Yang sama dari era Victoria, Raja Edward sampai zaman milenial ya AGAMA. Kitab suci adalah pegangan umat dari zaman batu dengan tulisan di atas sabak sampai digital, ayat-demi-ayat yang tertera persis. Yang bercabang hanya penafsirannya. Nah buku ini menawarkan alih bahasa tafsir versi Helloween yang berdarah dan membuat gidik.

Detektif Red Meltcalfe  bersama tim investigasi Jez, Kate dan Duncan harus memecahkan kasus dua pembunuhan dalam semalam. Korban pertama dibunuh dengan sadis Phillip Rhodes seorang pemilik usaha catering tewas digantung, korban kedua James Cunningham sang uskup Wandsworth tragis babak belur kena pukul bertubi, keduanya ada kesamaan di mana dalam mulutnya ditemukan sendok perak dan lidah terpotong. Kasus ini berjuluk ‘Silver Tongue’. Kasus pembunuhan berantai berlanjut hingga membentuk pola. Dengan setting di London, Inggris tahun 1998 kriminal itu semakin lama semakin mengerikan dan mengejutkan karena korban yang seakan dipilih acak ternyata tak se-random yang kita kira, dan degub jantung Pembaca makin kencang saat tahu korban target berikutnya justru mengarah kepada sang detektif Red. Wow, dikejar waktu, diburu pengungkapan secepatnya berhasilkah si pembunuh itu diringkus?

Ada satu bagian yang digambarkan dengan begitu hidup, ketika para penyidik ini mencoba meringkus penjahat dengan menunggu di suatu tempat malam-malam dengan sangat sabar. Bagian itu menjelaskan bahwa mereka bersembunyi, mengamati dan mengintai sosok misterius yang diduga sang pembunuh. Waktu seakan berjalan lambat, dan sungguh manusiawi mereka juga orang biasa yang saat menghadapi fakta tak menentu jua galau. Bagus, sungguh pas.

Untunglah saya membaca terbitan Ufuk cetakan satu, karena dalam cetak ulang di bawah judul ada sub yang spoiler berat: ‘Pembunuhan Atas Nama Tuhan’. Duh! Kenapa poin sepenting itu dicantumkan, di kover depan pula! Saya benar-benar shock saat tahu identitas sang pembunuh dan alibi utamanya, nah ke-shock-an itu kalau dibocorkan gitu, ya walau tersamar tetap kenikmatan akan sangat berkurang. Sayang sekali.

Saya memang bukan pem-prediksi adaptif buku ke layar lebar yang baik. Kehebatan Messiah kala itu membuatku yakin tinggal masalah waktu untuk difilmkan. Tapi pas saat ini, sedekade berselang masih nihil hasilnya, isu-pun tak ada. Justru adaptasinya hanya ke TV seri di BBC dalam empat episode dengan bintang utama Ken Stott sebagai Red. Malahan buku-buku detektif yang lebih soft yang baru muncul dengan cepat masuk ke Hollywood, semisal The Girl On The Train yang bertutur pembunuhan sederhana dan menawarkan thriller ala Christie. Arah hidup menang sulit ditebak kawan.

Kisah Messiah memang Agatha Christie banget. Kita diberi sebuah kasus, sang Penulis menyimpan rapat sang dalang pembunuhan berantai. Kita diajak membuka tabir, selapis kulit bawang demi selapis kulit bawang. Fakta-fakta itu dituturkan dengan hati-hati, seakan mengajak pembaca bermain tebak-tebakan. Saat lapisan makin sedikit, semakin jelas intinya. Namun tidak, kita dikecoh, kita ditipu di mana data-data yang dibeberkan tak sejelas kelihatannya. Dan saat tabir terbuka, inti bawang itu terbaca; kita shock karena motif, dan sang pembunuhnya ternyata sudah sering bersinggungan dan tak terduga. Yah, plot macam itulah yang ditawarkan Messiah. Pengulangan yang masih saja manis dan berhasil.

Boris Starling, seorang Penulis Inggris. Nama yang masih asing di telinga Pembaca Indonesia. Lahir tahun 1969 lulusan Eton College dan Trinity College, Cambridge. Pernah menjadi jurnalis di The Sun dan The Telegraph lalu beralih profesi dalam agen khusus menangani negosiasi penculikan dan penyelidikan rahasia. Messiah (1999) adalah debut karya tulisnya dan langsung memukau publik sehingga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa serta mencetak penjualan 8 juta kopi. Buku keduanya Storm (2000) juga mencetak sukses jadi best seller New York Times dan memenangkan W.H. Smith ‘Thumping Good Read’ Award. Buku ketiga berjudul Vodka (2004) tentang epik Rusia dan situasi sekitarnya. Selanjutmya hingga kini karya-karya beliau: Visibility (2006), Soul Murder (2010), City of Sins (2011), White Death (2012) dan yang terbaru terbit tahun ini Unconquerable. Lumayan banyak juga, namun kenapa terjemahannya sulit sekali ditemukan di toko buku konvensional? Semacam Dean Kontz-nya Inggris nih.

“Mobil Volvo itu berhenti di pertigaan Evening Road… sepertinya akan belok ke kiri… ya belok ke kiri… ke Evening Road sekarang… Sam melambaikan tangannya… mobil berjalan perlahan di seberang Helen dan Sam… mobilnya berhenti, diparkir… mesin dimatikan… pintu mobil dibuka… tersangka mulai keluar… tersangka sudah di luar… SERGAP!” segalanya terjadi secara bersamaan.

Messiah | by Boris Starling | copyright, 1999 | diterjemahkan dari  Messiah | penerjemah Eka Santi Sasono dan Rahmawati Rusli | pewajah sampul Eja-creative 14 | pewajah isi Ahmad Bisri | penyunting Eka Santi Sasono | Penerbit UFUK Press | cetakan I, Januari 2007 | ISBN 979-1238-25-1 | Skor: 5/5

Untuk Keluargaku, atas semua cinta dan dukungan mereka

Ruang HRGA CIF NICI – Karawang, 021117 –Virgoun – Bukti

Rani Skom, Iyul, Intano menikmati bunga rose di taman bersama Virgounwho

Iklan

One thought on “Messiah – Boris Starling

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s