Tsotsi – Athol Fugard

Tsotsi – Athol Fugard

“Satu penny bisa membeli sekotak korek api. Satu penny dan kau bisa membakar dunia.”

Saya mulai membaca Tsotsi ketika muncul berita penemuan bayi di jembatan Babaton (27/10-17), dekat alun-alun Karawang. Bayi laki-laki itu dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang untuk dirawat sembari menanti nasib. Banyak yang ingin mengadopsinya, yang pada akhirnya bupati kita yang cantik Cellica-lah terpilih. Nasib bayi di jembatan itu dibandingkan dalam kisah novel ini jauh lebih beruntung, karena bayi yang dalam gendongan Tsotsi itu akhirnya harus tinggal di bangunan reyot, reruntuhan bangun semi permanen para jelata jalanan yang setiap saat kena gusur Pemerintah. Sungguh ironi, yang satu diselamatkan Kepala Pemerintah, yang satu kena dampak dari kebijakan Pemerintah. Nasib memang sulit ditebak.

Dengan pengantar kutipan dari orang besar Afrika Selatan, Nelson Mandela dalam autobiografinya Long Walk to Freedom: “Nyawa itu murah, pistol dan pisau berkuasa di malam hari.” Kisah dalam novel seakan memang penjabarannya. Lebih dalam lagi tentang  UU Pertahanan 1913 menjatah 77 persen wilayah Negara untuk digunakan kulit putih, pemerintah Afrika Selatan tak mau mengakui bahwa kaum kulit hitam memiliki hak tinggal di perkampungan yang bermunculan sebagai asrama buruh di sekitar kota. Kombinasi antara tekanan sosial dan ekonomi akan mengakhiri kekuasaan kaum kulit putih dengan diadakannya pemilu demokratis pertama di negeri itu pada tahun 1994. Membumi, tersesat, dibutakan oleh kepedulian penindasan, tetapi akhirnya mampu melampauinya. Tsotsi tenyata menjadi model ramalan bagi penebusan dosa negaranya. Tentang Tsotsi alias David Madondo yang menelusuri kerasnya kehidupan Negara di ujung selatan Afrika tahun 1940an.

Selama setahun dia pergi dari perkampungan menuju kota pagi-pagi, bersama bejibun manusia lain di kereta penuh sesak, untuk bekerja dan pulang sore-sore bersama sejibun manusia yang sama di kereta yang sama, untuk tidur.

“Kau pasti punya jiwa Tsotsi. Semua orang punya jiwa. Setiap manusia hidup punya jiwa.”

Kelebihan Boston adalah dia pintar.

Peraturan pertama adalah peraturan pada momen bekerja. Momen itu selalu datang seperti mukjizat, berupa ledakan cahaya yang tiba-tiba pada saat dia membuka mata disertai suara dan sensasi, merasa dan membaui, peraturan kedua yang berlaku setelahnya adalah jangan pernah mengganggu kegelapan batinnya dengan cahaya pikiran tentang dirinya atau dengan mencoba mengingat. Peraturan ketiga dan terakhir sebenarnya merupakan kelanjutan peraturan kedua. Peraturan yang dilanggar Boston. Tsotsi tidak menerima pertanyaan dari orang lain. Bukan karena dia tidak punya jawaban, jurang keadaan-tanpa-wujud.

Mengapa? Apakah ada kematian yang terpilih, yang istimewa untuk bayi ini? Tsotsi ingin mempercayai ini karena, seiring ketekunan yang dicurahkannya bagi segala upayanya yang canggung dan meraba-raba untuk memenuhi kebutuhan bayi itu, ada juga kebencian.

Ketakutan aneh yang tak bernama di dalam dirinya.

Sesuatu telah terjadi, sesuatu yang telah lama diwaspadainya agar tak terjadi.

Waktu selalu mengajukan pertanyaan yang sama: apa yang bisa kulakukan dengan waktu?

Aku senang merasakan apa pun yang hangat karena kakiku pernah mendingin dan aku belajar bahwa dingin adalah sentuhan kematian. Batu hangat, berapa lama lagi aku merasakanmu?

Sewaktu aku kecil, dan ada yang memenggal kepala ayam, tubuh ayam itu masih berlarian beberapa lama. Aku pun seperti itu; bedanya kakikulah yang hilang.

Dia membencinya karena cara uang itu diberikan dan karena dia tidak bekerja untuk memperolehnya dan orang yang menerima uang tanpa bekerja adalah jenis orang yang berbeda dengan Morris Tshabalala.

Tetapi ada satu bagian dirinya yang mati kelaparan, yaitu harga dirinya.

“Mereka menembak bulan hingga berlubang, betul aku sudah baca. Lubang di bulan, leit edisyen. Nanti ada yang bersinar di malam hari”

Aku ingin hidup. Aku baru tahu. Aku ingin ke jalan lagi besok. Aku ingin duduk melewati satu hari lagi, di sudut lain. Aku ingin kembali ke sini lagi besok malam untuk makan. Sisa diriku ingin hidup.

Pengemis lebih cocok dimangsa oleh anak muda yang sudah bosan mengutil di toko dan mulai memikirkan rencana yang lebih berani dan lebih besar.

Dunia adalah tempat yang buruk. Keburukanlah yang membengkok dan terpelintir sehingga tak lagi bermakna.

Mangsanya sudah kabur untuk menikmati tambahan beberapa jam hidup sengsara dan Tsotsi merasa sangat lega.

Seperti cahaya, simpati dapat menerangi. Jika didesak lebih jauh, dia mungkin membayangkan kegelapan dan menyalakan lilin.

Kau memilih satu orang dan kau terus mengejarnya sampai semuanya tuntas.

Waktu itu relatif. Jika diukur oleh sesuatu selain hari dan bulan, enam tahun ini telah menjadikannya orang tua.

Dia tampaknya tak mampu memegang satu pikiran cukup lama untuk menghindai pikiran berikutnya.

Kota itu terbentang di cakrawala dalam siluet bergigi yang mencuri beberapa inci saja dari lengkung langit luas di atas.

Sejak dulu Tsotsi menganggap kehidupan sebagai garis lurus tidak berbelok seperti jalan yang barusan diikutinya saat menguntit pengemis dari terminal.

Dia merasa lebih baik, membunuh semut telah memulihkan sebagian rasa percaya dirinya.

Harus. Hari esok tidak menghormati tragedi hari ini.

Akhirnya tiba setelah senja menggelandang malas di bawah sinar matahari dan sekarang bersiap-siap tidur dengan kuapan terlebar dan geliat terpanjang pekan itu.

Bulan naik dan anjing-anjing memulai panduan suara menyalak dan menggonggong.

Dia mengingatnya berulang-ulang hanya berhenti dalam keheningan mendalam di antara setiap kegiatan mengenang, untuk bertanya-tanya bagaimana dia bisa sampai lupa.

Cara ibunya mengatakan ‘suatu hari nanti’ tidak kedengaran terlalu lama lagi. Besok memang hari besar.

Kau tak tahu? Itu karena kita tak bisa membela diri.

Apapun bisa menyerang kita. Kutu dan lalat di musim dingin, hujan di bocoran atap pada musim dingin, dan juga flu dan hal-hal seperti polisi dan maut. Itulah serangan terhadap hidup kita.

“Apakah hanya di kuburan aku akan beristirahat tanpa gangguan? Apakah tak ada lagi yang menghormati tulang-tulang tua ini?”

Hari adalah waktu yang panjang.

Baginya, ingatan tak ada gunanya. Lagipula dia tak punya ingatan apa-apa.

Ada apa lagi sekarang. Semua terjadi terlalu cepat.

Bayi ini dan David, yakni dirinya sendiri, yang mula-mula saling tertukar, sekarang telah menyatu menjadi satu orang yang sama.

Kau hanya membicarakan pohon setelah memetik buah pertamanya.

“David, tak pernah bertemu ayahnya.”

Walter ‘Boston’ Nguza lahir di Umtata. Dididik hingga kelas delapan di St. John College. Melanjutkan beasiswa ke St. Peter’s High School, Johannesburg. “Mengabdilah untuk kaummu!”

Dia bangga atas tulisannya, sederhana, ringkas, tidak sentimental, tanpa detail tak perlu, garis kehidupan yang lurus dan menanjak dalam bentuk lengkungan rapi hingga sampai titik patahnya.

Dengan mati rasa ‘ini kesalahan’. Itu ringkasnya. Kesalahan. Disebut ketidakadilan pun tidak bisa.

Takdir turun tangan dan mengambil alih saat dia sudah hampir menyerah pada aib yang dicoba dihindarinya dengan tidak pulang. Johnboy Lethetwa.

Sheeben adalah tempat yang cukup bagus untuk merenungi kesalahan masa lalu dan kesalahan baru miliknya, atau milik orang lain yang dilihatnya.

Masalahnya sederhana, solusinya lebih sederhana lagi, begitu sederhana sehingga mereka terkagum-kagum ketika Boston menunjukkannya kepada mereka.

Tetapi dia lelaki terhormat, Tolong, dan Terima Kasih, dan Permisi, dan Perlu Kubantu? Itu berarti banyak di mata Marty.

Mengapa menemukan ampunan itu aneh? Betapa luar biasa ampunan! Kata itu sendiri seperti desahan angin.

Membunyikan bel itu berarti memanggil semua orang lain untuk beriman pada Tuhan. Ingat, ada yang malas dan tak ingin mendengar.

“Tuhan menciptakan dunia. Dia menciptakan segala sesuatu. Kau, aku, jalan ini, semuanya.” 

“Dengarkanlah demi aku, aku akan memanggilmu untuk beriman pada Tuhan.”

Hal-hal yang disimpan sendiri akan menjadi masam.

Saya (hampir) selesai membaca Tsotsi ketika novel A Clockwork Orange datang, baca kilat, ulas di Blog ini dan masuk ke rak. Novel ini di selanya, saat sampai tengah kulanjutkan barulah selesai. Ada benang merah yang bisa ditarik bahwa keduanya tentang geng pemuda pembuat onar. Alex, Dim, Georgie dan Pete versus Tsotsi, Jagal, Boston dan Die Aap.

“Kita ini sakit, Tsotsi. Kita semua, kita ini sakit.”

Tsotsi | by Athol Fugard | copyright 1980 | diterjemahkan dari Tsotsi A Novel | terbitan Grove Press, New York, 1980 | penerjemah Femmy Syahrani | penyunting Hermawan Aksan | desain sampul Andreas Kusumahadi | pemeriksa aksara Yayan R. H. | penata aksara Iyan Wb. | Penerbit Bentang | cetakan pertama, September 2006 | xxiv + 352 hlm.; 17.5 cm | ISBN 979-3062-96-7 | Skor: 5/5

Karawang 011117 – Sherina Munaf – Balon Udara

One thought on “Tsotsi – Athol Fugard

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s