A Farewell To Arms – Ernest Hemingway

A Farewell To Arms – Ernest Hemingway

Aku akan sangat bahagia jika aku diberi kesempatan untuk menetap di sana dan melayani Tuhan sepenuhnya.

Di film Silver Lining Playbook, Bradley Cooper di awal film terlihat malam-malam melempar sebuah buku keluar jendela sampai kacanya pecah dengan perasaan gusar dan marah. Buku itu seperti yang terlihat saat gambar close up, adalah A Farewell To Arms. Cooper kesal karena ending-nya yang menyajikan nihilitas. Perjuangan manusia di era perang, seorang serdadu yang terluka jatuh hati, muak akan perang dan saat mempunyai pilihan lain yang terlihat lebih manusiawi sak memasuki surga dan tentu saja terlihat masuk akal, ia mengambilnya. Serdadu itu bersama kekasihnya kabur dari perang dan rasanya akan jadi kisah bahagia saat ia hamil. Anak adalah pelengkap kebahagian. Sayangnya ini bukan produksi Disney, tragedi dicipta di penghujung cerita.

Apa yang dirasakan Cooper, mayoritas dirasakan pembaca jua, termasuk saya. Bukan karena buku ini bercerita tentang sesuatu yang tanpa poin, tapi justru karena kisah yang pilu seperti inilah yang membuat buku jadi begitu terkesan. Saya ikut kesal akan hidup, saya terbawa kesal akan semua pilihan yang terbentang itu sama-sama berakhir busuk. Nasib memang tak ada yang tahu, tapi saat ada pilihan yang tampak lebih bagus patut dicoba. Kalian bisa saja menumpuk uang untuk menjadi kaya, memiliki istri cantik bak bidadari atau terkenal dan bahkan kalau mau jadi raja. Tapi tetap hidup akan berakhir juga, hikayat Nicholas Flamel tetaplah fiksi.

Kisahnya tentang seorang tentara yang diterjunkan di Perang Dunia Pertama. Tentang sopir ambulan Henry Frederich di Italia. Ia adalah seorang Amerika imigran Inggris. Ia sangat berdedikasi. Mengikuti segala aturan main, menjalankan tugas dengan sepenuh hati. Ia menjadi saksi bagaimana para serdadu bergelimpangan terluka. Ada yang hanya perlu perawatan, kehilangan permanen anggota badan sampai yang mati. Kisah-kisah pahlawan yang didengungkan itu mulai mengusik. Di Gorizia, utara Plava, sebuah perbatasan Italia – Austria ia jatuh hati dengan seorang perawat janda. 

Teman-teman memanggilnya Tenente (Letnan). Sampai suatu kejadian di sungai Isonzo membuatnya terluka kena tembak sementara rekannya tewas di tenpat. Setelah mendapat perawatan di pos medikal ia dipindahkan ke rumah sakit. Kakinya terluka parah sampai harus dilakukan operasi pengambilan proyektil di lututnya. “Kupikir aku sudah mati, kemudian aku sadar aku masih bernafas.” Dalam proses penyembuhan itulah ia menjadi lebih dekat dengan perawat cantik Catherine Bakley yang menyusul ke Milan. Jalinan kisah kasih ini menjadi opsi berikutnya. Akankah ikut kembali maju ke front depan perang ataukah menikah dan menjauh dari segala hiruk pikuk? Mereka memutuskan pilihan kedua. Dengan sebuah perahu mendayung malam-malam kabur ke Swiss melalui danau. Dengan kenekatan itu Henry dicari polisi militer sebagai disester. Tapi dengan penuh perjuangan ia berhasil kabur, hidup bahagia dan tinggal di sebuah hotel di mana jendelanya menghadap pegunungan di daerah Montreux. Saat akhirnya hidup sepertinya nyaman, Ernest memberikan pukulan telak buat Pembaca. Kenapa?

Novel terbaik Ernest sejauh ini. Saya baca tahun 2010, jadi buku pertama yang saya dan tetap terbaik setelah menyelesaikan The Old Men and Sea serta The Sun Also Raises. Ini memang novel yang tak akan bisa menyenangkan semua pihak, tapi jelas sangat menyentuh. Bagiamana  bisa harapan dan impian itu dihancurkan bak piring yang terhempas ke lantai dengan kekuatan penuh. Sejatinya kisah ini semiotobiografi. Ditulis dengan banyak kalimat langsung, pengalaman jurnalisnya diterlihat jelas di sini. 

Kisah ini menawarkan ironi. Henry diusulkan Pemerintah mendapat medali perak kehormatan atas tindakan heroik nan dedikasinya atas negara dalam perang. Sejatinya saat serangan itu ia sedang menyantap keju di parit perlindungan! “Aku terkena ledakan saat sedang menyantap keju. Aku tak melakukan apa-apa” Buku ini walau bersetting perang, tak akan mendetail bagaimana rentetan senjata terdengar, bom-bom yang menggelegar atau teriakan serang membahana. Tidak, kalau kalian berharap cerita heroik semacam itu kalian akan kecewa. Buku ini lebih banyak menyoroti sisi psikologis para serdadu, efeknya, dan, bagaimana pasukan menghadapi keseharian, perasaan terpendam, pilihan hidup, dan cinta. Ah cinta memang indah. 

Ernest Hemingway lahir di Oak Park, Illinois, Chicago pada tanggal 21 Juli 1899. Anak kedua dari seorang ayah dokter dan ibu memiliki kemampuan menyanyi yang bagus. Sewaktu kecil ia sering didandani sama dengan saudarinya Marcelline karena keinginan ibunya memiliki anak kembar tak kesampaian. Sampai-sampai mereka mirip dan dipanggil si kembar, untuk Ernest mendapat panggilan sayang ‘Ernestine’. Pengalaman pertamanya bersinggungan dengan karya tulis terjadi di SMA Oak Park dan River Forrest karena berkontribusi dalam majalah sastra sekolah Trapeze dan Tabula. Esnest tak kuliah, ia langsung menjadi reporter The Kansas City selepas lulus tahun 1917. Ayahnya komplain, sehingga ia pun memutuskan gabung di Perang. Karena pengelihatannya yang buruk, ia gagal masuk tentara tapi tetap berangkat perang sebagai sopir ambulan. Pada tanggal 8 Juli 1918 ia terluka saat mengirim pasokan kepada tentara. Dan harus dirawat di Milan. Di sana ia berkenalan dengan perawat palang merah, Agnes von Kurowsky yang lebih tua enam tahun. Nah, kalian pasti menemukan klik dengan buku ini-kan?

Setelahnya ia lebih aktif menulis. Debut sesungguhnya adalah In Our Time yang rilis tahun 1925. Ia berkenalan dengan Penulis The Great Gatsby, F Scott Fitzgerald di Dingo Bar. Mereka bersahabat dan saling tukar tulisan, saling kritik dan membantu. Namun pada akhirnya mereka berkompetisi dan bersaing, apalagi istri Gerald, Zelda kurang suka Ernest yang suka mabuk, bahkan menuduhnya homo sehingga memintanya menjauh.

Pada tahun 1929, buku yang saya ulas ini terbit. Dan setelahnya adalah kisah panjang kehidupan Penulis yang termahsyur. Setelah percobaan yang gagal, tiga minggu kemudian pada tanggal 2 Juli 1961 ia melakukan bunuh diri dengan senapan yang dibelinya di Abercrombie and Fitch, ia memilih cara ini karena depresi. Ah satu lagi penulis meninggal bunuh diri. 

Ending buku ini adalah ini, “Setelah kuusir mereka keluar dan menutup pintu lalu menyalakan lampu, tak ada gunanya. Seperti mengucapkan selamat tinggal pada patung…” yup, bahkan Ernest memberi akhir bukunya dengan rasa depresi yang seakan meramalkan akhir perjalanannya di dunia fana ini.

Dia memandangku dalam kegelapan. Aku marah namun ada keyakinan dalam diriku bahwa ini bagaikan permainan catur yang dapat kulihat jelas arah permainannya.

Pertempuran Terakhir: Luka Batin Seorang Serdadu | by Ernest Hemingway | diterjemahkan dari A Farewell To Arms | penerjemah Adelia Artanti R | penyunting Lilih Prilian Ari Pranowo | tata letak Galih W | pemeriksa aksara Giri dan Tika | perancang sampul Gunawan dan Julian | Penerbit Narasi | 348 hlm; 15 x 23 cm | ISBN  (10) 979-168-203-8 – (13) 978-979-168-203-9 | cetakan pertama, 2010

Karawang, 09-26 – 09-10 – 17 – Elthon John – Sacrifice – The Cranberris – Salvation

Iklan

One thought on “A Farewell To Arms – Ernest Hemingway

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s