Lolita – Vladimir Nabokov

Lolita – Vladimir Nabokov

“Aku akan segera turun, dan jika aku jadi kau sayang, aku tak akan bicara dengan orang asing.”

Sepertinya semua orang (nyaris semua deh) sudah tahu ini buku tentang apa. Ketika kata Lolita terdengar, apa yang pertama terbesit? Gadis lugu yang terjebak cinta sama ayah tirinya? Gadis korban pedofil yang menggoda. Kenes dan misterius. Yup, benar sekali. Tapi saya yakin sekali tak banyak yang benar-benar membaca Novel Nabokov hingga tuntas, apalagi untuk di sini di Indonesia. Sulit sekali membayangkan remaja generasi milenial menikmati Lolita. Saya sendiri butuh perjuangan ekstra. Nyaris lima tahun. Dapat Tukar Pinjam sama Tanti Melia Fajrianti dari Bekasi sejak 2010, saya tak langsung bisa menuntaskannya di kesempatan pertama. Terhenti, lalu tertimbun. Di kesempatan kedua, saya coba baca ulang tahun 2012 dan nyerah lagi, tertumpuk. Setahun berselang, saya paksakan menikmati, dan lagi-lagi tersingkir. Baru tahun lalu saya benar-benar focus. Saya baca ulang kilat di bagian kecil yang dulu saya lahap, lalu dengan kekuatan bulan saya menghukummu Lolita. Lunas. Hufh…, ini adalah jenis bacaan yang tak bisa dinikmati santai. Seperti The Sound and Fury yang berbelit, Lolita menawarkan kisah yang tak mudah dicerna dalam sekali duduk, atau terjemahannya ya? Dan memang mayoritas buku berkualitas butuh telaah lebih agar bisa men-sari-kan isi.

Kita akan diajak berselancar ria bersama Hubert Hubert alias HH, seorang yang digambarkan humble, sabar dan baik hati. Ia dibesarkan dari keluarga kaya pemilik hotel Riviera, Swiss. Jatuh hati pada gadis usai 13 tahun bernama Annabel, tamu hotel. Sayangnya percintaan itu kandas karena Anna meninggal dunia terserang tifus. Kisah tak tuntas terhadap anak awal belasan tahun inilah penyebab utama HH semacam idap pedofil. Anak-anak usia jenis ini, ia lebih suka menyebutnya peri asmara atau nymphet.

Setelah dewasa ia merantau ke Amerika, menikah dengan Valeria dan kandas dengan cepat karena istrinya selingkuh. Profesi sebagai professor sastra di Perguruan Tinggi membuatnya romantis dan introvert, karena gaulnya sama Penulis dan Penyair. Di sinilah di sebuah pondokan di Ramsdale, New England awal segalanya bagaimana ia mencinta gadis 12 tahun bernama Dolores Haze, atau yang lebih kita kenal sebagai Lolita. Charlotte Haze, ibunya jatuh hati sama professor, tapi HH jatuh hati sama putrinya. Cinta macam apa ini?! HH yang kini berusia tiga puluh tahunan, dan mau saja menikahi Charlotte hanya agar bisa mendekati Lolita. Pernikahan kedua yang semu ini suatu hari remuk redam. Charlotte menemukan buku harian HH tentang cinta terpendam putrinya. Dengan gusar ia pun berkemas dan segera memberitahukan family-nya untuk pindah. Takdir berkata, ‘Tunggu, tunggu dulu, kisah tak akan senyaman itu bu.’ Charlotte dalam perjalanan mengeposkan surat nass tertabrak mobil hingga tewas. HH yang pernah berbesit ingin membunuh istrinya justru seakan dapat durian runtuh, ia menganggap bahwa ia punya andil untuk kematiannya, dan memang sudah dituliskan Lolita untuknya.

Berikutnya ya, kisah yang sudah banyak kita dengar. Mereka berkelana Amerika. Tinggal dari satu hotel ke hotel lain, dan sesuai rencana HH yang menginginkan tubuh Lolita, merekapun bercinta. Yah, awalnya seakan kita mungkin menganggap itu pemerkosaan, itu pelecehan seksual anak di bawah umur, itu benar-benar tindakan amoral. Kenyataannya, Lolita-pun menerima lebih lapang. Ketagihan, dan menginginkan lebih. Hasrat seksualnya menjadi tinggi dan secara langsung membentuknya menjadi gadis yang lebih cepat dewasa daripada umurnya. Karena usianya yang masih remaja, ia disekolahkan HH. Tapi api cemburu cepat membakar ayah/kekasih ini, ia mudah tersinggung kala melihat keakraban Lolita dengan teman-temannya sehingga mereka berpindah lagi, lelaki tua posesif. HH lalu menganggap Lolita tak perlulah sekolah umum, ia bisa belajar arti kehidupan dari berkelana. Namun mau sampai kapan? Ada kalanya kaki ini juga lelah melangkah.

Akhirnya apa yang ditakutkan HH terjadi, Lolita jatuh hati dengan Penulis drama yang pernah dimainkan Lolita. Clare pun sudah tua, lelaki angkatan HH. Mereka memutuskan kabur, berkelana meningalkan HH yang frustasi dan menggila. Bagian ini benar-benar menyentuh, sampai-sampai mungkin kalian malah bersimpati. Bertahun-tahun tak berkabar suatu ketika HH menerima sepucuk surat dari Lolita yang kehabisan duit. Dengan semangat 45 HH mendatanginya. Lolita kini sudah dewasa, hamil dan waktu menerpanya menjadi perempuan mandiri. HH yang merasa rindu memohon kepadanya untuk kembali, mengajaknya memulai baru. Maukah Lolita bersama dengan lelaki yang sudah merusak masa kecilnya? Berhasilkah HH menjalin asa untuk kesempatan kedua? Nabokov menyajikan kisah panjang itu dengan cara yang tak biasa. Kalian pasti berkali-kali mengernyitkan dahi, dan saat akhirnya di lembar terakhir kalian akan bernafas lega seakan sudah melewati jalur roller coaster yang berliku. Dan mungkin berteriak, ‘Bravo!’

Nama yang aneh, Hubert Hubert. Gara-gara nama ini saya pernah mengusulkan nama putriku yang kedua Hermione Hermione kepada May, tapi ditolak mentah-mentah. “Maksudnya apa coba? Mengulang nama persis, macam ga ada nama lain!” Yah, karena pemberian nama harus kesepakatan bersama tentunya, maka dengan senyum saya ngalah. Padahal kalau dipikir-pikir, terdengar keren ya. Makanya saya terkadang memanggilnya HerHer.

Kovernya terlihat provokatif, namun memang mewakili isi keseluruhan. Gadis berseragam berhadapan dengan lelaki bercelana panjang, necis. Mengedepankan nama Lolita dengan front huruf besar, jelas jualan utamanya. Majalah Time sekalimat bilang, “Satu dari tiga novel paling berpengaruh di dunia…” Yup, saya setuju. Kalau berpengaruh saya setuju, kita pasti setuju tapi kalau terbaik, tunggu dulu. Secara keseluruhan memang novel yang sangat bagus, tapi kalau di rank saya tak akan memasukkannya ke dalam sepuluh besar, apalagi tiga. Bahasanya yang tak nyaman, kisahnya yang tak patut ditiru, dan kaidah cinta yang sungguh bencana.

Vladimir Nabokov (1899-1977) lahir di Rusia, ia menetap di Amerika dan Lolita adalah karya tulis yang paling dikenal. Novel ini di zamannya sulit diterima Pembaca umum karena dianggap tak senonoh. Pertama terbit justru di Perancis oleh Penerbit Olympia Press pada tahun 1955 yang dengan instan menuai sukses penjualan, sesuatu yang kontroversi memang selalu menarik. Hanya butuh setahun untuk dicekal, tapi dua tahun kemudian muncul cetakan berikutnya di Amerika oleh Penerbit G.P. Punam’s Sons. Di sana pun menjadi best seller, dan selanjutntya tak terbendung. Judul aslinya: Lolita, Pengakuan Seorang Duda.

Berkat novel ini, nama Lolita jadi ikonik lalu muncullah kata lolicon atau Lolita complex yang berarti menyukai gadis di bawha umur, istilah lain dari pedofil. Lolita berasal dari bahasa Spanyol yang secara diminutive dari kata lola, dalam bentuk lain bisa Dolores berarti penderitaan. Di Latvia setiap tanggal 30 Mei diperingati sebagai hari nama Lolita.

Ini dia, kauingat kata-kata Kipling: Une femme est une femme, mais un Caporal est une cigarette? Sekarang kita butuh korek api.” – seorang wanita tetaplah wanita tapi seorang kopral adalah sebatang rokok.

Lolita | by Vladimir Nabokov | diterjemahkan dari Lolita | copyright 1955 by Vladimir Nabokov | Penerbit Serambi | penerjemah Anton Kurnia | pewajah isi Nur Aly | cetakan IV: September 2008 | ISBN 978-979-1112-86-4 | Untuk Vera | Skor: 5/5

Karawang, 261017 – Sherina Munaf – Ku Bahagia

Iklan

A Farewell To Arms – Ernest Hemingway

A Farewell To Arms – Ernest Hemingway

Aku akan sangat bahagia jika aku diberi kesempatan untuk menetap di sana dan melayani Tuhan sepenuhnya.

Di film Silver Lining Playbook, Bradley Cooper di awal film terlihat malam-malam melempar sebuah buku keluar jendela sampai kacanya pecah dengan perasaan gusar dan marah. Buku itu seperti yang terlihat saat gambar close up, adalah A Farewell To Arms. Cooper kesal karena ending-nya yang menyajikan nihilitas. Perjuangan manusia di era perang, seorang serdadu yang terluka jatuh hati, muak akan perang dan saat mempunyai pilihan lain yang terlihat lebih manusiawi sak memasuki surga dan tentu saja terlihat masuk akal, ia mengambilnya. Serdadu itu bersama kekasihnya kabur dari perang dan rasanya akan jadi kisah bahagia saat ia hamil. Anak adalah pelengkap kebahagian. Sayangnya ini bukan produksi Disney, tragedi dicipta di penghujung cerita.

Apa yang dirasakan Cooper, mayoritas dirasakan pembaca jua, termasuk saya. Bukan karena buku ini bercerita tentang sesuatu yang tanpa poin, tapi justru karena kisah yang pilu seperti inilah yang membuat buku jadi begitu terkesan. Saya ikut kesal akan hidup, saya terbawa kesal akan semua pilihan yang terbentang itu sama-sama berakhir busuk. Nasib memang tak ada yang tahu, tapi saat ada pilihan yang tampak lebih bagus patut dicoba. Kalian bisa saja menumpuk uang untuk menjadi kaya, memiliki istri cantik bak bidadari atau terkenal dan bahkan kalau mau jadi raja. Tapi tetap hidup akan berakhir juga, hikayat Nicholas Flamel tetaplah fiksi.

Kisahnya tentang seorang tentara yang diterjunkan di Perang Dunia Pertama. Tentang sopir ambulan Henry Frederich di Italia. Ia adalah seorang Amerika imigran Inggris. Ia sangat berdedikasi. Mengikuti segala aturan main, menjalankan tugas dengan sepenuh hati. Ia menjadi saksi bagaimana para serdadu bergelimpangan terluka. Ada yang hanya perlu perawatan, kehilangan permanen anggota badan sampai yang mati. Kisah-kisah pahlawan yang didengungkan itu mulai mengusik. Di Gorizia, utara Plava, sebuah perbatasan Italia – Austria ia jatuh hati dengan seorang perawat janda. 

Teman-teman memanggilnya Tenente (Letnan). Sampai suatu kejadian di sungai Isonzo membuatnya terluka kena tembak sementara rekannya tewas di tenpat. Setelah mendapat perawatan di pos medikal ia dipindahkan ke rumah sakit. Kakinya terluka parah sampai harus dilakukan operasi pengambilan proyektil di lututnya. “Kupikir aku sudah mati, kemudian aku sadar aku masih bernafas.” Dalam proses penyembuhan itulah ia menjadi lebih dekat dengan perawat cantik Catherine Bakley yang menyusul ke Milan. Jalinan kisah kasih ini menjadi opsi berikutnya. Akankah ikut kembali maju ke front depan perang ataukah menikah dan menjauh dari segala hiruk pikuk? Mereka memutuskan pilihan kedua. Dengan sebuah perahu mendayung malam-malam kabur ke Swiss melalui danau. Dengan kenekatan itu Henry dicari polisi militer sebagai disester. Tapi dengan penuh perjuangan ia berhasil kabur, hidup bahagia dan tinggal di sebuah hotel di mana jendelanya menghadap pegunungan di daerah Montreux. Saat akhirnya hidup sepertinya nyaman, Ernest memberikan pukulan telak buat Pembaca. Kenapa?

Novel terbaik Ernest sejauh ini. Saya baca tahun 2010, jadi buku pertama yang saya dan tetap terbaik setelah menyelesaikan The Old Men and Sea serta The Sun Also Raises. Ini memang novel yang tak akan bisa menyenangkan semua pihak, tapi jelas sangat menyentuh. Bagiamana  bisa harapan dan impian itu dihancurkan bak piring yang terhempas ke lantai dengan kekuatan penuh. Sejatinya kisah ini semiotobiografi. Ditulis dengan banyak kalimat langsung, pengalaman jurnalisnya diterlihat jelas di sini. 

Kisah ini menawarkan ironi. Henry diusulkan Pemerintah mendapat medali perak kehormatan atas tindakan heroik nan dedikasinya atas negara dalam perang. Sejatinya saat serangan itu ia sedang menyantap keju di parit perlindungan! “Aku terkena ledakan saat sedang menyantap keju. Aku tak melakukan apa-apa” Buku ini walau bersetting perang, tak akan mendetail bagaimana rentetan senjata terdengar, bom-bom yang menggelegar atau teriakan serang membahana. Tidak, kalau kalian berharap cerita heroik semacam itu kalian akan kecewa. Buku ini lebih banyak menyoroti sisi psikologis para serdadu, efeknya, dan, bagaimana pasukan menghadapi keseharian, perasaan terpendam, pilihan hidup, dan cinta. Ah cinta memang indah. 

Ernest Hemingway lahir di Oak Park, Illinois, Chicago pada tanggal 21 Juli 1899. Anak kedua dari seorang ayah dokter dan ibu memiliki kemampuan menyanyi yang bagus. Sewaktu kecil ia sering didandani sama dengan saudarinya Marcelline karena keinginan ibunya memiliki anak kembar tak kesampaian. Sampai-sampai mereka mirip dan dipanggil si kembar, untuk Ernest mendapat panggilan sayang ‘Ernestine’. Pengalaman pertamanya bersinggungan dengan karya tulis terjadi di SMA Oak Park dan River Forrest karena berkontribusi dalam majalah sastra sekolah Trapeze dan Tabula. Esnest tak kuliah, ia langsung menjadi reporter The Kansas City selepas lulus tahun 1917. Ayahnya komplain, sehingga ia pun memutuskan gabung di Perang. Karena pengelihatannya yang buruk, ia gagal masuk tentara tapi tetap berangkat perang sebagai sopir ambulan. Pada tanggal 8 Juli 1918 ia terluka saat mengirim pasokan kepada tentara. Dan harus dirawat di Milan. Di sana ia berkenalan dengan perawat palang merah, Agnes von Kurowsky yang lebih tua enam tahun. Nah, kalian pasti menemukan klik dengan buku ini-kan?

Setelahnya ia lebih aktif menulis. Debut sesungguhnya adalah In Our Time yang rilis tahun 1925. Ia berkenalan dengan Penulis The Great Gatsby, F Scott Fitzgerald di Dingo Bar. Mereka bersahabat dan saling tukar tulisan, saling kritik dan membantu. Namun pada akhirnya mereka berkompetisi dan bersaing, apalagi istri Gerald, Zelda kurang suka Ernest yang suka mabuk, bahkan menuduhnya homo sehingga memintanya menjauh.

Pada tahun 1929, buku yang saya ulas ini terbit. Dan setelahnya adalah kisah panjang kehidupan Penulis yang termahsyur. Setelah percobaan yang gagal, tiga minggu kemudian pada tanggal 2 Juli 1961 ia melakukan bunuh diri dengan senapan yang dibelinya di Abercrombie and Fitch, ia memilih cara ini karena depresi. Ah satu lagi penulis meninggal bunuh diri. 

Ending buku ini adalah ini, “Setelah kuusir mereka keluar dan menutup pintu lalu menyalakan lampu, tak ada gunanya. Seperti mengucapkan selamat tinggal pada patung…” yup, bahkan Ernest memberi akhir bukunya dengan rasa depresi yang seakan meramalkan akhir perjalanannya di dunia fana ini.

Dia memandangku dalam kegelapan. Aku marah namun ada keyakinan dalam diriku bahwa ini bagaikan permainan catur yang dapat kulihat jelas arah permainannya.

Pertempuran Terakhir: Luka Batin Seorang Serdadu | by Ernest Hemingway | diterjemahkan dari A Farewell To Arms | penerjemah Adelia Artanti R | penyunting Lilih Prilian Ari Pranowo | tata letak Galih W | pemeriksa aksara Giri dan Tika | perancang sampul Gunawan dan Julian | Penerbit Narasi | 348 hlm; 15 x 23 cm | ISBN  (10) 979-168-203-8 – (13) 978-979-168-203-9 | cetakan pertama, 2010

Karawang, 09-26 – 09-10 – 17 – Elthon John – Sacrifice – The Cranberris – Salvation