Kitab Lupa Dan Gelak Tawa – Milan Kundera

Kitab Lupa Dan Gelak Tawa – Milan Kundera

Seharusnya dapat label 18+ nih. Banyak adegan vulgar nan erotis. Memang ada esensi di bagian itu tapi jelas buku macam gini tak akan layak kita pinjamkan kepada remaja, apalagi anak-anak. Untung, saya membaca setelah menikah dan di usia matang, bisa jadi buku ini berefek liar. Keunggulan utama memang pada kekuatan penyampaian cerita dan penjabarannya yang begitu hidup. Kita seakan dicemplungkan ke dalam pusaran masalah, mengaduk emosi dan akhirnya terhanyut. Pasrah. Awalnya seperti sebuah kumpulan cerita pendek, cerita dipecah dan seakan bisa berdiri sendiri. Tak ada tokoh sentral. Sampai akhirnya memasuki cerita kelima, barulah benang merah itu tampak. Beberapa bagian jorok, beberapa bagian lucu –walau bisa saja tak sampai membuat gelak tawa, beberapa bagian nyeni – debat para penyair besar, beberapa bagian sungguh bernyawa –penuh petuah dan anjuran kedamaian. Ini jelas adalah buku yang komplit, permasalahan hidup yang ditulis, dibaca dan jelas untuk tak dilupakan. Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa.

Ia jatuh cinta pada nasibnya dan menemukan kemegahan dan keindahan dalam gerak menuju kehancuran. – 16

Sekali lagi jarak hanyalah merupakan rintangan bagi kemajuan. – 36

Sebuah penjara meskipun hanya dikelilingi oleh dinding-dinding, adalah sebuah teater sejarah yang dihiasi dengan sangat baik.-38

“Istrimu harus memahami bahwa tak peduli betapa pun besarnya cintamu padanya, kamu adalah seorang pemburu, dan perbuatanmu bukanlah ancaman.” – 57

Karel dan Marketa saling mencintainya, tapi mereka membutuhkan seorang untuk memindahkan beban yang menghimpit mereka. Seseorang yang membebaskna mereka. – 63

Orang-orang muda selalu punya banyak hal untuk diperbincangkan dan seorang tua harus mengerti dan menyingkir. – 71

Tawaran Eva tmapk mustahil untuk ditolak sebagaimana mulanya tampak mustahil untuk diterima. – 80

Selebihnya hanya gaung-gaung, peniruan-peniruan, pengulang-pengulangan atau kenangan-kenangan. – 84

Tanpa terkejut sedikitpun, seperti seorang anak sekolah yang sudah terbiasa sesekali menerima hadiah dari orang-orang dewasa. – 87

Hidup adalah kebahagiaan. Melihat, mendengar, menyentuh, minum, makan, buang air kecil, menyelam ke dalam air dan memandang ke langit, tertawa, menangis. – 94

Tawa yang dipaksakan. Tawa yang menggelikan. Tawa yang begitu menggelikan sehingga membuat mereka tertawa. Kemudian muncullah gelak tawa murni, gelak tawa total – yang membuat mereka bertekuk lutut dalam luapan rasa tanpa batas. Gelak tawa tiba-tiba. Gelak tawa yang dibangkit-bangkitkan, gelak tawa yang didorong-dorongkan, gelak tawa yang diarah-arahkan, gelak tawa yang meriah, mewah, liar… – 108

Suatu hari aku mengatakan sesuatu yang semestinya aku biarkan tetap tak terkatakan. – 110

Seketika aku merasa seolah-olah kubus es kecemasan telah dimasukkan ke dalam ulu hatiku. – 117

Setiap kali ibu mertua menginginkan sesuatu dari mereka, ia akan menangis. – 138

Apa yang ia anggap sebagai sesuatu yang tak terlupakan bisa menjadi terlupakan. – 142

Ia tidak punya keinginan untuk mengubah masa lampau menjadi puisi, ia ingin mengembalikan pada masa lampau tubuhnya yang hilang. Ia tidak didorong oleh hasrat akan keindahan, ia didorong hasrat untuk hidup. – 145

Dengan bayangan itu muncul kerinduan dahsyat padanya, dan dengan kerinduan itu muncul keinginan hebat untuk menangis. – 149

Karena ini menyangkut apa yang terjadi dalam diriku, di bagian dalam, maka ini patut ditulis. Itulah yang ingin dibaca banyak orang. Tapi cobalah suruh aku duduk di depan kertas, tiba-tiba semua ideku hilang. 152

Grafomania (obsesi untuk menulis buku) mencapai tingkat wabah bila seluruh masyarakat berkembang mencapai titik bisa menyediakan tiga syarat dasar: satu: tingkat kesejahteraan umum tinggi yang memungkinkan orang mencurahkan kepada kegiatan yang tak bermanfaat. Dua, tahap otomisasi sosial yang maju, dan perasaan umum yang ditimbulkan oleh pengisolasian individu. Tiga, tiadanya perubahan sosial penting yang radikal dalam pengembangan internal sebuah bangsa. 154-155

“Dokumen politik?” Kalau ia mau hidupnya bisa dipahami oleh orang-orang maka ia harus menyederhanakannya. Jadi ia katakan saja, “Benar. Dokumen politik.”

Tak pernah terpikirkan oleh orang lain bahwa ia pernah mencintai seseorang dan cinta itu sangat berarti baginya.

Waktu ia bangun, ia merasa damai dan tenang. Ia memutuskan untuk hidup demi kesunyian dan untuk kesunyian.

Waktu Thomas Mann masih sangta muda ia menulis sebuah kisah naïf dan membangkitkan minat mengenai kematian. Dalam cerita itu kematian begitu Indah, seindah yang diimpikan orang-orang yang masih sangat muda, waktu kematian masih berupa khayalan dan mempesona, seperti suara kebiru-biruan dari tempat-tempat yang jauh.

Goethe: ‘Apakah seorang manusia hidup ketika yang lainnya hidup?’

“Tapi kini untuk pertama kali aku melihat seorang ahli strategi dalam dirimu, seorang ahli siasat pintar yang dibutakan oleh nafsu.”

“Kamu tahu apa tentang istriku? Istriku adalah sobatku. Tidak ada rahasia di antara kami!”

Karena memahami berarti membaur, mengenali. Itulah rahasia puisi. Kita terbakar dalam perempuan yang kita puj, kita terbakar dengan pikiran yang kita bela, kita terbakar dalam panorama yang menggerakkan kita.

“Langkah pertama untuk memusnahkan bangsa adalah menghapuskan memorinya. Hancurkan buku-bukunya, hancurkan kebudayaannya dan sejarahnya. Kemudian suruh seseorang menulis buku-buku baru, membuat kebudayaan baru, menemukan sejarah baru. Dunia di sekelilingnya bahkan akan lupa lebih cepat.”

Salah satu jalan paling pasti menuju kelamin perempuan adalah melalui kesedihannya.

Seluruh isi buku ini adalah novel dalam bentuk beragam variasi.

Tidak ada orang yang melakukan perjalanan sepanjang itu tanpa mengetahui di mana berakhirnya. Kamu harus belajar untuk tidak berbohong.

Kematian mempunyai dua wajah. Pertama adalah ketiadaan, yang lainnya adalah benda materi yang mengerikan, yakni mayat.

Sejarah musik adalah fana, tapi ketololan gitar adalah abadi.

Sejarah adalah perubahan-perubahan singkat.

Dirinya diliputi keputusasaan, dan saat ia kehilangan harapan, tangan dan kakinya tampak kehilangan kekuatannya, dan air terasa sangat dingin.

Ia seorang yang fanatik pada orgasme. Orgasme adalah agamanya, satu-satunya tujuan, kaidah ilmu utama ilmu kesehatan, simbol kesehatan. Tapi juga merupakan kebanggaan, karena ini membedakannya dari perempuan lain yang kurang beruntung, seperti memiliki kapal pesiar atau tunangan terkenal.

Kehidupan manusia – dan di sinilah letak rahasianya – berlangsung di tempat yang paling dekat dengan perbatasan, bahkan dalam kontak langsung dengannya. Bukanlah bermil-mil jaraknya, melainkan hanya pecahan dari satu inci.

“Aku sangat berharap kamu segera hamil istriku, aku tak ingin lagi melakukan gerakan-gerakan yang menggelikan ini.”

Setiap kali sesuatu itu diulang, sesuatu itu akan kehilangan sebagian maknanya.

Ia tak pernah mengerti mengapa cairan asin yang keluar dari mata adalah agung dan puitis, dan cairan yang kita keluarkan dari kandung keming menjijikkan.

Kejelekan manusia adalah kejelekan pakaiannya.

“Gila perempuan mengatakan tidak, padahal ia sebenarnya bermaksud iya.”

Kembali ke masa sebelum agama Kristen melumpuhkan umat manusia.

Seorang manusia tahu bahwa hidupnya fana, tapi ia percaya bahwa bangsanya memiliki semacam kehidupan yang abadi.

_______

Kitab Lupa Dan Gelak Tawa | by Milan Kundera | diterjemahkan dari The Book of Laughter and Forgetting | copyright 1978 – Penguin Books | penerjemah Marfaizon Pangai | gambar cover Agus Suwage | typografi Si Ong | desain ulang cover Sugeng D.T. | Penerbit Narasi, bekerja sama dengan Pustaka Promethea | cet. 2 – 2015 | 14.5 x 21 cm; viii + 400 hlm. | ISBN (10) 978-168-429-4 | ISBN (13) 978-979-168-429-3 | skor: 5/5

Karawang, 241017 – Sherina Munaf feat Afgan – Demi Kamu dan Aku

Iklan