Doctor Zhivago – Boris Pasternak

Doctor Zhivago – Boris Pasternak

“Masalah terbesarku adalah bahwa aku mencintaimudan tahu bahwa kamu tidak mencintaiku. Aku tetap berusaha memahami perasaanku ini. Aku melihat ke dalam diriku dan memikirkan hidup kita bersama.” – surat perpisahan Tonya kepada Yuri.

Hikayat. Inilah riwayat hidup dokter Yuri Andreyevich Zhivago. Ini adalah kisah panjang perjalanan seseorang sedari kecil sampai meninggal dunia. Benar-benar pusat cerita hanya pada satu tokoh. Penokohan yang kuat dan terkonsentrasi itu niscaya akan lebih mudah dinikmati. Bagaimana ia menjalani masa kecil dalam keterasingan, belajar dan berjuang bersama sahabat dan saudaranya, jatuh cinta, mewujudkan mimpi menjadi dokter dan Penulis, menikah dengan gadis pilihan bibinya, menikah lagi dengan gadis impian, menikah kembali dengan gadis pilihan teman yang bangga untuk berujar ke dunia, “anakku menikah dengan seorang dokter”, terkucil sampai terlibat dalam deru tempur revolusi Rusia. Dengan setting awal abad dua puluh sampai Perang dunia Kedua, seluruh kehidupan sang dokter berderap cepat penuh keseruan.

Sedari pembuka di Moscow tahun 1901 kita disuguhi fakta bahwa Yury Zhivago adalah seorang piatu. Baru masuk ke bab berikutnya, ia jadi yatim piatu karena ayahnya bunuh diri melompat dari kereta. Setelah berdoa untuk ibunya, bagian ini tampak absurb dan memainkan ironi. Saat itu Yury dilanda emosi yang meluap-luap dan kehilangan kesadaran selama beberapa saat. Ketika ia terguncang dengan sendirinya ia terjaga. Ia teringat akan ayahnya, ia lupa berdoa untuknya. “Nantilah!” sulit bagi Yury berdoa untuk ayahnya yang tak ia kenal. Ia meninggal tepat pada saat Yuri lupa berdoa untuknya.

Yury lalu tinggal sama paman Nikolay Nicolayevich Vedenyapin atau sering dipanggil paman Kolya, dari pamannyalah ia banyak belajar kehidupan. Tentang seni, tentang politik praktis, tentang filsafat sampai pilihan hidup beragama. Ia belajar banyak hal dalam sepuluh tahun terakhir. Karena pendidikan, Yury harus hidup bersama keluarga Gromeko, di sana ia kuliah di kedokteran dan bersabahat karib dengan Tonya dan Misha. Tonya nantinya jadi istri karena ia adalah seorang Gremeko dan dapat restu dari ibunya langsung secara dramatis sebelum berangkat pesta dansa Sventitsky. “Tonya, kamu cantik sempurna. Dan Yury kamu sungguh sangat tampan dan gagah. Aku sangat bahagia malam ini. Kalian siap untuk menjadi yang terbaik, aku pikir kalian telah siap bagi dunia!” Pernikahan yang awalnya ideal, sampai muncullah karakter penting lain Lara.

Larissa Fyodorovna Guishar atau lebih akrab dipanggil Lara mengalami masa remaja yang tak menyenangkan. Sebagai anak Yatim, ia harus kerja keras membantu ibunya berjualan. Nah, akhirnya muncullah karakter jahat pertama di novel ini (walau nantinya di eksekusi ending jadi begitu ironis mengajak Yury dan Lara mengungsi) bernama Victor Ippolitovich Komarovsky. Ia adalah pengacara yang segerbong dengan ayah Yury saat melompat dari kereta. Komaro ini sering mampir ke toko Amalia, ibu Lara dan mengajak jalan. Naas, suatu ketika saat akan pergi ke pesta, Amalia sakit sehingga Lara yang saat itu masih remaja terpaksa menggantikannya. Bisa kita duga, akibatnya terjadi affair, yang ujungnya nyaris membuat mati Amalia saking malunya dengan bunuh diri. Benang itu menyambung kembali ke Yury yang menjadi saksi peristiwa bunuh diri gagal itu. Di sanalah ia pertama bertemu Lara, dan jatuh hati. Cinta pada pandangan pertama.

Pertemuan kedua lebih dramatis lagi, saat Lara mencoba membunuh Komaro di sebuah pesta. Walau gagal, tapi cinta pada pandangan pertama Yury tak bisa dienyahkan. Setelah itu mereka terpisah lama, terbentang dalam waktu dan keadaan perang dunia pertama serta revolusi pecah dalam perang saudara. Pertemuan ketiga, posisi Lara sudah menikah dengan Pasha. Nantinya Pasha justru jadi salah seorang tokoh perjuangan dan secara tak sengaja bertemu Yury dan bersahabat. Nah pertemuan ketiga di sebuah perpustakaan umum di desa terpencil yang jauh dari Moscow menumbuhkan cinta. Saat itu sedang kecamuk perang, Lara menjadi suster Antipova dan sang dokter hidup dalam pengasingan. Cinta segitiga berbentuk. Pertanyaannya tentu bukan sampai mana kisah kasih ini berujung, karena seperti yang saya katakan di awal, mereka nantinya menikah dan bahkan Yury berikutnya menikah ketiga kalinya. Sangat seru menikmati cerita cinta di masa perang, karena seolah hubungan antar personal jadi hanya tempelan. Padahal kisahnya sangat kuat. Ya, inilah sejarah panjang Rusia.

Boris Leonidovich Pasternak adalah Penulis Rusia yang terasing, meraih Nobel Sastra pada tahun 1958 ini jatuh miskin karena banyak larangan karyanya terbit. Ia menolak menerima Nobel karena tekanan dari Negaranya, kalau sampai ia menerima hadiah Nobel dia akan ditolak pulang ke Uni Sovyet. Dan seperti yang kita tahu, Boris sangat terkenal oleh pecinta Sastra hingga kini karena ia mengirim telegram kepada komite Nobel masalah ini, komite tetap pada pilihannya, “Untuk pencapaian pentingnya dalam puisi lirik kontemporer dan di bidang tradisi epic Rusia.” Sekalipun sudah menolak Nobel, Boris tetap dikecam dan mendapat banyak ancaman. Kelak kita tahu pada tahun 1989, puteranya Evgenii menerima medali itu di Swedia saat peringatan kematian Boris Pasternak. Novel ini memang menjadi propaganda CIA (Central Intelligence Agency) karena isinya yang menolak rezim sosialis yang berarti Anti-Sovyet. Saat perang dingin berlangsung CIA melakukan banyak hal untuk menekan musuh, salah satunya menyortir karya tulis. Dan Doctor Zhivago ini salah satu yang paling terkenal. Cara terbitnya yang berliku, diselundupkan ke Italia yang pada akhirnya penerbit Giangiacomo Feltrinelli di Milan merilis pada tahun 1957. Kalau digaris lurus tuduhan Sovyet terhadap Dewan Nobel yang menganugerahi Boris karena permintaan CIA dan Barat bisa saja pas, namun mereka sudah menyangkalnya.

Lahir di Moscow, 10 Februari 1890. Kutipan paling terkenalnya selalu menginspirasi banyak Penulis, “Tidak perlu menyesuaikan seni dengan tuntutan politik negara. Mengorbankan karya (novel), akan menjadi dosa terhadap kejeniusanku sendiri.” Walau pahamnya itu membuat ia dicekal dan jatuh miskin ia tetap pada pegangan. Karya aslinya sangat tebal tapi entahlah kenapa Narasi bisa memangkasnya menjadi hanya 144 halaman. Mungkin bagian-bagian detail disingkirkan dan hanya memasukkan yang poin utama, pantas saja alurnya cepat sekali, sangat tergesa-gesa. Contoh bagaimana sang dokter saat diculik dan ditawan paksa menjadi perawat pasukan Stelnikov, hanya dalam dua lembar waktu langsung melompat dua tahun kemudian. Atau bagiamana ia terasing bersama istri dan anaknya, saat memilih hidup bersama Lara karena terluka, setting waktu disingkat karena Tonya seakan tiba-tiba emigrasi ke Paris. Benar-benar detailnya dimusnahkan. Sayang sekali.

Usia memang tak ada yang tahu, Boris meninggal dua tahun setelah beliau dinyatakan menang Nobel. Ia meninggal dunia di Peredelkino, Uni Sovyet pada tanggal 30 Mei 1960 karena paru-paru.. Keputusannya menolak bisa kita maklumi karena walau novelnya mengkritik Negara ia begitu mendamba tanah air. Seperti yang disampaikan Yury: ‘Pulang ke rumah telah menjadi tujuan hidupnya – pulang kembali kepada keluarganya, kepada dirinya sendiri, kepada hidup baru.’ Perkataan Yury itu tentu saja sebanding lurus dengan pernyataan Penciptanya. “Meninggalkan tanah air sama artinya dengan kematian bagiku. Aku terikat dengan Rusia karena kelahiran, kehidupan dan pekerjaanku.”

“Dunia telah kacau balau. Itu adalah bagian dari akibat perang, dan kemudian revolusi meneruskan sisanya. Tiba-tiba semua orang merasa bebas, bebas untuk menjadi diri mereka sendiri, sebagai orang baru.”

Doctor Zhivago | by Boris Pasternak | diterjemahkan dari Doctor Zhivago | penerjemah Haryo Dipo Adinegoro | penyunting Yogaswara | perancang sampul Hengky Irawan | Penerbir Narasi | ISBN 979-168-063-9 | cetakan pertama, 2007 | 144 hlm.; 11×18 cm | Skor: 5/5

Karawang, 231017 – Sherina Munaf – Sing Your Mind