Malam Sensasional

Malam Sensasional

Karawang — Subuh (15-10-17) itu, saya tidak yakin bisa pulih dari efek terpana yang ditimbulkan pasca BIG Match pekan ke delapan Serie A. Selama lima jam saya bertahan melek, tak bisa tidur. Ada aura membuncah yang terus berdengung di atas kepala. Rasanya ingin berteriak gembira, katup mata tak bisa kupejamkan. Saya tak tahu harus mulai dari mana untuk bercerita mengenai #MalamSensasional yang saya saksikan. Setiap orang pasti suka kejutan-kejutan; hal seperti ini merupakan lumrah dan alamiah bagi manusia. Namun untuk bisa menaklukkan Juventus di kandangnya, saya tidak pernah mendapatkannya sejak tahun 2002. Hingga akhirnya aksi Dybala Mask versi baju terjadi.

Malam dalam perjalanan pulang dari Torino, para pemain menyanyikan Vola Lazio Vola dengan gegap gempita, dipimpin oleh Thomas yang memegang kamera phone keadaan bus sangat riuh. Sesampainya di Formelo, Laziale menyambut. Membentangkan syal dan ber-chant ria sampai gemuruh tepuk tangan saat bus masuk. Ditarik ke belakang, di pojok stadion Allianz – nama baru Juventus Stadion, dipimpin oleh Savic, pasukan Elang Biru berselebrasi ‘clorot’, bertepuk tangan kepada Laziale yang sudah jauh datang, perayaan malam sensasional yang seakan juara. Sementara Gianluigi Buffon sebelum masuk ke lorong, menyapa Laziale membentangkan kedua tangan, melepas jersey untuk diberikan kepada yang beruntung lalu memberi applaus, dibalas dengan teriakan hiruk pikuk pujian sportivitas. Seperti biasa, Buffon selalu ada di hati kita. Pahamnya yang konservatif bersisian dengan Curva Nord.

Saat itu memasuki menit akhir injury time. Lazio ungggul 1-2 dari tuan rumah Juventus. Empat menit yang disediakan sang pengadil sudah hampir habis. Patric yang baru masuklah pencipa cerita. Sebuah bola lambung dalam kerumunan kotak ia gagal menghalau mulus, bola itu mantul di kakinya lalu mendekat ke Bentacur Dalam keadaan fifty-fifty, bola disaduk bersamaan dengan kaki si ancur. Pemain Juve minta pinalti, dan sudah biasakan mereka dapat hadiah menit akhir? Wasit bergeming. Komplain, saling dorong dan caci maki. Teknologi baru VAR – Video Assistant Ruventus pun digunakan. Pada akhirnya Paolo Silvio Mazoleni menuju pinggir lapangan, menyaksikan tanding ulang dalam monitor sambil terus berkomunikasi pakai earphone. Dalam permohonan Matuidi, wasit memberi kode Spongebob Squarepant lalu meniup peluit dan menunjuk titik putih, merogoh celana dalam dan mengeluarkan kartu kuning untuk Patrick Star. Penalti!

Dua belas Laziale Karawang mengerumi layar, berdoa. Dybala menimang bola, Strakosha meremas-remas jari menatap sang eksekutor memainkan psikologi sementara itu Radu berjongkok memohon pada Yang Kuasa untuk menegakkan keadilan. Ini adalah pinalti keenam Dybala musim ini, Empat sukses, satu gagal. Dan seperti yang kita tahu, pinalti itu ditepis kiper Albania. Tembakan Dybala ke arah kiri dengan jitu dimentahkan, Adam Marusic langsung menyambut bola, mengontrolnya bentar sembari menanti peluit panjang lalu mengambilnya dengan tangan dan menyepak jauh. Di depan gawang, Strakosha dikerumini, Dybala lemas pingsan – dua kali dipecundangi dalam rentang pekan beruntun. Pekan lalu Etrit Berisha-lah pelakunya, kini lebih menyesakkan Juventini karena memang sudah detik akhir. Bangun Dybala, bangun! Kamu hanya kalah dalam pertandingan bukan kalah dalam perang. Kemudian Bernandes mengajaknya bangkit, dan Dybala mask gaya baru diperagakan dengan menutup muka dengan jersey. Duh! Sakke.

Seharusnya Lazio sudah bisa memastikan tiga poin kala menit akhir itu kala Felipe Sepele Caicedo yang tinggal head-to-head sama Buffon, sayang si keling melakukan shot buruk. Lemah terarah sehingga Superman berhasil blok. Ini pemain hanya bisa bikin gol kala pemain lawan blunder deh, bola-bola tinggal sepak. Haha… Namun Juve juga bisa saja mengamankan satu poin kala sepakan jarak jauh Dybala mengenai mistar, hufh. Dag dig dug.

Lazio dalam posisi tertinggal satu gol. Lazio memulai babak restart dengan benar, gol cepat yang dinanti terjadi melalui skema serangan teratur. Serangan dari kiri mengarah ke Luiz Alberto, dalam lima kerumunan lawan ia dengan jeli mengirim umpan terobosan ke arah Immobile yang dengan sekali sepak mengarah ke pojok gawang. 1-1. Lazio berbalik unggul melalui pinalti Immobile yang sebelumnya dijatuhkan Superman. Eksekusi menit lima tiga itu sukses. Setelahnya, laga menjadi sangat hidup. Alle merespon keadaan dengan memasukkan Bernardes menarik sang skorer. Lima tujuh, Matuidi shot dalam kotak, blok. Enam tiga, Alberto melakukan free kick, bola ke arah kerumunan, heading keluar. Juve mencoba serangan balik, langsung kandas dan percobaan Savic dari luar kotak masih menyamping. Lalu Khedira yang malam itu bermain bagus ditarik, Dybala masuk. Tujuh dua, umpan lambung ke Marjuki tapi bola terlampau tinggi. Luiz Alberto out, Luis Oalah masuk. Semenit kemudian Lichtstmerda keluar, sturaro masuk. Tak banyak perubahan, untuk mengamankan tenaga Immo diganti Felipe Sepel Caicedo. Tujuh tujuh Higu berkesempatan membalas, bola enak depan Thomas tapi ia gagal kontrol. Laptop nge-hang perlu restart. Dan LIRK pun terpecah dalam nobar HP, ada tiga yang nyala di mana ketiganya berselisih tiap menit. Patric yang malam itu dibully sebelum dimainkan karena sering ngeselin, eh dimasukkan menit delapan empat. Dan terbukti si Star ini bikin jantung Laziale berdegub lebih tak teratur.

Lima belas menit waktu istirahat, Laziale Karawang sedang berdebat cari link yang tepat. Super Soccer malam itu bapuk, sinyal kembang kempis dengan peringatan error di berbagai web. Padahal sudah daftar premium. Namun kesabaran itu terbayar, nyambung juga (walau seperti yang saya sampaikan di atas, Laptop-nya bapuk di tengah laga). Kopi segelas tandas setelah jadi korban berikutnya #dispenser, tahu bulat sudah comot dua. Dennis Basta muncul saat separuh babak.

Saya rasa kualitas paling penting yang harus dimiliki manusia adalah imajinasi. Imajinasi mampu menempatkan diri mereka di tempat orang lain. Imajinasi membuat mereka menjadi orang yang lebih baik dan bisa bersimpati penuh pengertian, hal semacam ini harus ditanamkan pada ultras.

Babak pertama mulai, koneksi ke Turin belum nyambung berkat laptop hang dan sinyal Patisim yang hancur, atau karena operator Reye yang butuh tutorial? Sebagian sembari menanti permainan muncul di layar, streaming HP. Setelah basa basi saling raba kekuatan, peluang pertama hadir kala Savic melakukan free kick menit enam belas. Tendangannya membentur tembok betis yang membuat Juki terjatuh. Juve unggul lebih dulu melalui Douglas Costa. Prosesnya dari kanan pertahanan. Asamoah mengirim umpan silang ke dalam kotak, Khedira melakukan shot langsung, Thomas reflek mementahkannya. Costa yang berdiri bebas tinggal menceploskan. Offside? Dalam komplain pemain The Great, wasit keukeh mengesahkan. 1-0. Menit dua tujuh, serangan balik Lazio tercipta rapi, dari kanan sepakan lambung Luiz mengarah depan gawang, Immo berhasil menang dalam lomba lompat, sayang tandukannya bisa ditepis Buffon. Khedira nyaris saja menggandakan skor, tendangan jarak jauhnya membahaya jaring, bisa diblok Thomas. Kejadian aneh nan absurb terjadi kala Thomas menerima bola back-pass umpan rendah Marusic. Dalam kejaran Higu, bola disepak kencang yang kena kakinya tepat depan garis gawang. Normalnya bola masuk, tapi entahlah saat itu peri mimi sedang berbaik hati sehingga nerpa mistar! Aje gile. Kalau sampai gol, bisa jadi blunder paling konyol itu. Sampai akhir babak satu, tuan rumah unggul satu.

Kick off itu terdengar dengan komposisi skuat musuh yang aneh. Juve memainkan pola 4-2-3-1. Superman di bawah mistar. Benatia yang baik jelek di Super Coppa dicadangkan. Chiellini, Barzagli, Asamoah dan judas Lichsteiner di belakang. Gelandang bertahan ada di Khedira dan Costa. Higuain menjadi ujung tombang yang disokong tiga pemain ofensif: Matuidi, Bentacur dan Marjuki. Ya, tak ada Dybala dalam starting. Mereka mencoba menyimpannya untuk laga ketiga UCL. Pilihan bijak alex. Di kubu kita, hanya Felipe Bale dan Basta pemain inti yang masih belum pulih. Ini adalah komposisi terbaik, Inzaghi sudah paten dengan strategi 3 bek: De Vrij, Radu dan Bastos. 5 lini tengah yang sangat kuat: Leiva, Parolo, Marusic, Savic, Lu71c. Luiz Alberto menjadi striker belakang ujung tombang, sang goal getter: Immobile. Sembari menanti pulihnya Felipe, posisi ini paten. Dan siap menghancurkan lawan manapun, termasuk Barcelona? Dan saat koneksi ke Allianz terhubung (dengan HP ataupun kadang laptop), pesta laga dimulai.

Ini adalah akhir dari rentetan gilang gemilang laga Juventus selama 41 pertandingan tak pernah kalah di Kandang. Terakhir keok saat tahun 2015. Dalam rangkaian itu, Lazio the Great juga menelan pil pahit nirpoin. Baru pecah saat Final Super Italia awal musim ini. Itu juga dramatis, itu juga Dybala pinalti menit-menit akhir sebelum dihempaskan pemuda Murgia.

Kemenangan ini terasa sangat spesial karena hanya enam tim yang bisa menumbang Juve di stadion baru mereka. Inter 1-2 tahun 2012, Il Samp dan Muechen di tahun 2013, Fiorentina dan Udinese tahun 2015. Dari data Opta mencatat rentetan 41 satu game itu bertulis: DDWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWDWWWL. Dan dengan melucu ‘L’ ke deret 42 itu berarti LAZIO. Luarbiasa.

Immo

Ciro: “Saya bisa saja pulang ke Juventus tapi mereka tak menjanjikan tempat utama. Apalagi akan sulit bertahan di kota yang sama dengan seragam yang berbeda setelah mendapat kecintaan dari fan Torino.” Musim ini bisa jadi adalah musimnya Immobile, dengan 11 gol dalam 8 laga. Kalau sampai konsisten maka sepatu emas dalam jangkauan. Dan menyakiti Juventus jadi sebuah kebiasaan. 

Coach Setiadi

Simone Setiadi Inzaghi adalah pelatih Lazio sejak era Sven Goran yang paling menarik, menghibur, bersahabat, dan menyenangkan, dia tahu segalanya. Ketika ia lebih memilih Thomas Strakosha yang diorbitkan, bukan Guido  atau Adamois, seolah ia bersabda: “Terberkatilah engkau anakku, berlatih keras dan bersenang-senanglah dalam tiap pertandingan. Temui striker lawan dengan tak gentar di tingkat yang lebih tinggi dan pelajari hal-hal baru, tinggallah di Lazio selama mungkin, bertambah kuat dan sehatlah, dan rayakan tiap pekan dengan poin-poin juara.” Sebagai didikan asli Formello sejak musim 2012, calon kiper terbaik dunia ini sudah berhasil menyingkirkan Marchetti musim lalu.

IRR – 30 Tahun

Irriducibili (dalam English berarti: unshakeable – tak mudah goyah) adalah ultras terbesar Lazio , terfanatik, dan kata polisi paling berbahaya. Suara dan aksinya banyak mempengaruhi keputusan manajemen. Malam Sensasional itu di Allianz, Irriducibili riuh. Menempati pojok stadion dan terus meneror tuan rumah. Bukti Laziale sudah kembali meramaikan setiap laga. Apalagi saat ke Nice, saat ulang tahun ke 30, tiket sebanyak ludes dan itu rekor baru di kandang Nice. Hebat, manis. 

Saya tidak bisa membayangkan ada kebagiaan dalam hidup ini sebagai seorang fan bola, yang lebih hebat daripada menyaksikan tim favoritnya menang seru, dramatis dan patahkan rekor dari tim yang dianggap terbaik dan terkaya. Saya sampai memimpikannya setiap malam.

Strakosha & Immobile 2022

Kabar terbaru semalam dua pemain penting ini perpanjangan kontrak. Seperti yang dikutip Lazio Press, “Lazio ingin mengumumkan klub telah memperpanjang kontrak Ciro dan Thomas Strakosha hingga 30 Juni 2022.”

Kami membutuhkan hujan keberuntungan. Kami membutuhkan dukungan. Selamat selalu. FIT terus dan konsisten mendulang angka sampai akhir musim ya. Salam, Lazione Budy – Laziale dalam keadaan jiwa yang sangat bahagia.

Juventus 1-2 Lazio

Gol: Costa 24′; Immobile 47′, 54′ (pen) 

1 Gianluigi Buffon; 22 Kwadwo Asamoah, 15 Andrea Barzagli, 3 Giorgio Chiellini, 26 Stephan Lichtsteiner; 30 Rodrigo Bentancur, 14 Blaise Matuidi; 17 Mario Mandzukic, 6 Sami Khedira, 11 Douglas Costa ; 9 Gonzalo Higuain

Pelatih: Massimiliano Allegri

1 Thomas Strakosha; 26 Stefan Radu, 3 Stefan de Vrij, 15 Bastos; 19 Senad Lulic, 21 Sergei Milinkovic-Savic, 6 Lucas Leiva, 16 Marco Parolo, 77 Adam Marusic; 18 Luis Alberto; 17 Ciro Immobile

Pelatih: Simone Inzaghi

Karawang, 221017 – Anggun C. Sasmi – Snow on the Sahara

Thx to 12 Laziale Karawang: Rye, Ari Goyang 25, Coach Setiadi, Ketu Satria, Nurd, Dennis Basta, Nda d Young, Nardur Enrich, Abe Lincoln, Xanafi, Adiet, dan Lazione ‘Parolo’ Budy. Kalian luar biasa, kita luar biasa.

Lazio meraih scudetto. Itu adalah bayangan favorit saya setiap malam menjelang tidur. Saya merencanakan sedetail-detailnya – gol dramatis injury time, gol penting penentu kemenangan, selebrasi berlebih dalam hiruk pikuk peluk rekan setim, sampai sapa aplaus kepada fan jelang masuk koridor. Para pemain lawan yang tertunduk, marah, cek cok, frustasi. Karena bahkan terkadang pemain musuh yang berlabel bintang pun bersikap buruk. Rasanya ini bukan akan jadi khayal semata. Musim ini pecah telur setelah 18 tahun? #ForzaLAzio #LazioTiAmo #AvantiLazio

Iklan

Pekan Ke 9: Lazio Vs Cagliari

PROBABILE FORMAZIONE (3-5-1-1): Strakosha;

Bastos, de Vrij, Radu;
Marusic, Parolo, Leiva, Milinkovic, Lulic;
Luis Alberto;
Immobile.
Kuis The Great dibuka. Parade laga mudah sudah dimulai. Lazio V Cagliari. Ditutup adzan Asar besok. Good luck.
LBP 3-0
Parade lawan mudah dimulai. Target dalam empat pekan ke depan adalah puncak klasemen. Lalu bisa konsisten dan juara lebih cepat. Ok, challange accepted.
JK
Lazio 1-1 Cagliari, Immobile.
Lazio punya semangat tinggi kejar capolista. Berusaha memanfaatkan duel papan atasnya.
Faktor kecapean jadi penghambat laju Lazio.
Arifin
Lajio 1-0 kagliari. Immo.
Lajio menang. Kagliari tumbang. Om budi om girang.
Siti Nurhaliprap
Lazio 2-0 Cagliari, Immobile
Analisis: Purnama mengambang, cuma berteman. Bintang berkelipan dan juga awan. Siapa tahu rindu yang mencekam pada Lazio ku.  Aku meminta pada yang ada. Aku merindu pada yg kasih. Aku merayu padamu yang sudi merinduku, oh Lazio ku.
Bagas
Lazio 3 – 1 Cagliari, Immobile
Dalam laga ini Lazio diprediksi akan menang mudah, Immo akan nyekor lagi (mungkin 2 atau 3 gol), Forza Elang… Forza Lazio…
Arief
Lazio v Cagliari 4-0
Immobile
Curva Nord, tribun sebelah utara Olimpico yang letaknya di belakang  gawang, tidak akan diisi penonton. Lazio diprediksi bisa menyapu bersih selama oktober. Tak ada alasan Lazio gagal menang
Damar IRR
Lazio 1-0 Cagliari,  Caicedo
Setel kendow, jangan setel kenceng, lemaskan aja, jangan spaneng, menyambut bulan sapu bersih Lazio akan lebih santai pada laga ini, tapi3 point adalah hal wajib.
Ajimovic
Lazio 4-1 Cagliari
Immobile
Lazio akan menang. Wajib menang. Dan pantas untuk menang.
DC
Lazio 4-2 Cagliari
Immo
Banjir gol. Partai mudah. Tiga poin buat tuan rumah.
Luis GANi
Lazio 0-1 Cagliari. Farias
Lazio Over PD. Lengah dan bobol. Satu kartu merah.
Siska
Lazio 2-0 cagliari
Luis alberto
Lazio harus bisa memanfaatkan peluang.  Mumpung Napoli dan Inter saling hantam. Kali ini Luis Alberto yang jadi pahlawan.
Gold
Lazio 2 – 1 Cagliari
Ciro
Kunci kebangkitan Lazio tak lepas karena kedatangan luiz ~alberto~ Nani.  Betapa tidak pesona dari si tampan ini cukup memporakpondakan pertahanan lawan. Meskipun dari pinggir lapangan pesonanya begitu terang terpancar.😌
AW
Lazio vs Cagliari : 5-0, Immobile
Lazio menang. Alberto garang. Om Bud senang.
Takdir
Lazio 5-1 Cagliari, Immobile
Analisis: 24 poin dalam delapan laga. Ini gila, Serie A tak ada dominasi tapi Napoli sedang dalam posisi menggila. Semua lawan ditaklukkan, termasuk kandidat kuat Lazio. Icardi sedang bergairah, rasanya tak ada yang lebih indah cetak hatrik di derby dengan berkelas di menit akhir. Kini kalau kita berdiskusi siapa yang akan juara Italia, hanya orang pea yang sebut Juventus,  apalagi setelah digebuki The Great di kandang. Lazio terbukti hebat di Allianz. Kini Inter dan Napoli akan saling ludah, siapa paling basah? Inter sangat pantas jadi batu sandung pertama namun Napoli juga serasi di puncak dengan konsistensi. Ini kuis the Great tapi kenapa bahas BIG match? Karena rasanya tak ada yang bisa dijelaskan panjang lebar, Lazio sedang menjalani pekan pekan sederhana dalam 6 laga berikut. Dibuka bersafari ke Nice, lalu menjamu Cagliari tak ubahnya piknik hura hura. Hanya TAKDIR buruk yang akan menggagalkan poin penuh mereka. Musim ini kita bisa sebut Lazio layak juara, hanya saja kita tak tahu dalam bentuk siapa malaikat Alessandro Calori itu berwujud?
INR
Lazio 0-1 Cagliari Joao Pedro
Bosan dengan foto Lazio. Semoga kali ini kalah. No win no spam.
Karawang, 221017