Petualangan Menuju Perut Bumi – Edgar Rice Burroughs

Petualangan Menjelajah Perut Bumi – Edgar Rice Burroughs

Aku tahu persis di mana kita sekarang. Kita telah menemukan sebuah penemuan yang luar biasa! Kita membuktikan bahwa bumi mempunyai rongga. Kita telah melewati seluruh lapisan bumi dan sampai di dunia di bawahnya.

Luar biasa. Benar-benar kisah yang menakjubkan. Saya tak paham teori-teori yang berkembang mengenai pusat bumi, karena segala ilmu pengetahuan yang mengemukakannya belum bisa memastikan apa gerangan benda yang ada di inti tempat kita berpijak. Namun dari buku inilah saya malah berimaji liar. Bagaimana bisa Edgar Rice Burroughs – Penulis yang terkenal berkat Tarakan dan John Carter, berfikir praktis bahwa pusat bumi ini adalah sebuah cahaya laiknya matahari menyinari permukaan yang kita huni. Tak ada logika, namun bisa saja ini masuk ke dalam teori yang pas, kalau enggak bisa dibilang sangat ngawur. 

Tapi Edgar ga ngawur, menurutnya ada proses yang bisa dijelaskan. Pada mulanya bumi terbentuk dari  sekumpulan nebula yang kemudian mengalami proses pendinginan. Dikarenakan suhu yang sangat dingin, kumpulan nebula ini menyusut. Setelah untuk waktu yang sangat lama terbentuklah sebuah lapisan tipis dari benda-benda padat di permukaan luar, seperti kulit. Tapi yang terkandung di dalamnya adalah berupa benda-benda yang sebagian mencair dan gas yang telah memuai. Setelah terus-menerus dalam dingin apa yang terjadi? Muncullah gaya sentrifugal yang kemudian melontarkan partikel nebula ke kulit. Hal ini semakin lama semakin cepat seiring dengan perubahannya pada benda padat. Seimbangnya gaya tarik dari kulit bumi dari segala sudut, menjaga inti gas yang bercahaya ini tetap berada di tengah rongga bumi ini. Sisa dari inti gas itu adalah yang kau lihat sebagai matahari. Sebuah benda relatif kecil yang memberi cahaya dan panas di seluruh dunia bawah tanah. Hufh, bisa jadi kalian menganggap telaah fiksi namun berkat buku ini saya malah jadi begitu penasaran. Ataukah karena tutur seni tulis Edgar yang mempesona sehingga seolah kita benar-benar ikut berpetualang bersama Perry dan David Innes?

Kisahnya dinarasikan oleh pemuda David Innes yang ikut dalam ekspedisi sang ilmuwan Perry yang menemukan alat mengebor dan penggali tambang tanah yang diberi nama prospector. Seluruh waktu luangnya dicurahkan untuk mempelajari paleontologi, ilmu yang mengkaji fosil. Mereka berdua lalu menguji mesin, mengendarainya menembus tanah. Namun apa yang mereka temui jauh dari yang diharapkan, sesuatu yang tak terbayangkan, lebih ekstrem karena mesin itu terus masuk ke dasar tak bisa berhenti berhari-hari, yang membuat Perry ketakutan. Ketika di ambang kematian aku merasa yakin akan menyaksikan sebuah festival lantunan doa yang paling sempurna-jika kiasan itu bisa menggambarkan sikap ritualnya. Dan David memohon Tuhan agar panjang umur, seandainya aku mempunyai beberapa tahun lagi untuk melakukan sesuatu agar orang-orang melupakan perbuatan-perbuatan burukku di masa lalu, aku akan senang. Saat prospector berhenti dan mereka keluar dari mesin, mereka ternyata berdiri di atas tanah dengan matahari yang terik. Dikiranya mesin itu berputar arah saat menghujam bumi, namun tidak. Mesin itu terus menghujam turun (kalau orang pusat bumi pasti bilang naik). Mereka ada di pusat bumi! Mempunyai harapan merupakan sesuatu yang sangat baik dan logis. Aku sependapat. Sayang kini harapan tak lagi penting dan membuat kami bahagia.

Dalam kisah ini matahari ada di inti dan penguninya hidup dalam keadaan siang terus. Memang bumi jua ber-rotasi tapi karena intinya di atas kepala kita maka rotasi itu hampa. Waktu tidak akan menjadi faktor lagi apabila hal yang membuat waktu itu tidak ada, sudah tiada. Jam kami sudah hilang dan sekarang kami hidup di bawah matahari yang tidak bergerak. Rumit? Ya, betapa sia-sia imajinasi manusia yang lemah dibandingkan dengan kejeniusan alam. Waktu jadi begitu tak berarti. Pertama-tama katakan padaku apa itu waktu. Dan mungkin aku dapat menyelesaikan masalah kita. Kau mengerti yang kukatakan?

Di sana mereka bersapa dengan makhluk penghuni rongga bumi. Kita dapat percaya pada sesuatu mungkin karena hal itu diajarkan hal itu berulang-ulang kali, dan tidak ada alasan lain untuk tidak mempercayainya. Awalnya terkendala bahasa, namun mereka belajar cepat saat ditangkap. Berangsur-angsur mereka percaya duo ini hidup di bawah tanah. “Manusia dari dunia lain, aku percaya padamu. Bibir boleh berbohong tapi ketika hati telah bicara melalui mata maka yang dikatakan hanyalah kejujuran.

Edgar mencipta konflik dengan pertarungan. David berhasil kabur dan menjelajah sendiri. Aku merasa seperti sedang berjalan di dunia yang telah mati dan dilupakan. Ketika berjalan aku membayangkan membandingkan diri dengan manusia pertama yang hidup di bumi, dengan segala kesunyian yang mengelilingiku dan keindahan alam yang masih perawan, belum tersentuh oleh siapapun. Aku merasakan diriku sebagai Adam kedua. Dan mendapati wanita cantik bernama Dian. Mata kami sedang bertatapan dan aku bersumpah bahwa di dalam matanya aku bisa melihat sebuah ekspresi kepasrahan.

Dian sendiri digambarkan cantik dan jadi rebutan para pria. Tak bisa dilogika juga bagaimana mereka pun suka bertarung seperti kita. Tapi memang selalu begitu, ketika muncul hal baru yang tidak sesuai dengan jangkauan pikiran sempit kita. David berkongsi dengan seorang Mezop bernama Ja yang nantinya menghantar ke banyak wilayah lain, walau pada akhirnya mereka akan selalu kembali ke wilayah Puthra. Ja sendiri awalnya sangsi tapi karena David menyelamatkannya dari mahkluk air, meraka pun sepakat bersatu. Yang tidak mereka miliki adalah kesempatan, sedangkan kita memilikinya, hanya itu.

David berhasil bersatu dengan Dian. Semua impian tentang romantisme, petualangan, dan penemuan itupun terbang menghadapi gabungan antara ketiganya dalam bentuk yang kongkret bergerak ke arahku. Sempat memutuskan hidup dan tinggal di sana membentuk keluarga. Dengan itu aku membuat kesalahan seperti yang biasa kita lakukan ketika memilih jalan hidup kita. Sekali lagi terbukti bahwa jalan yang paling mudah tidak selalu menjadi jalan yang paling baik. Namun tidak, David dipaksa untuk terus bergerak karena dalam goa itu-pun tak seaman yang dikira. Seorang manusia goa purba telanjang sama primitifnya dengan nenek moyang. Seorang putri dari zaman batu pun dapat menjadi sangat tidak tahu terima kasih – sangat tidak berperasaan, tapi mungkin hatinya memenag mencerminkan kualitas zamannya. Tapi kebahagian mereka terusik. Di tempat itu kami merasakan saat-saat paling bahagia dalam hidup kami. Berapa lama kami di sana aku tidak tahu.

Ujungnya, David harus bertarung head-to-head dengan Jubal si Buruk rupa. Yang terkenal kokoh dan kuat. Seakan ada firasat buruk David pamit ke Dian. Aku mengharapkan sepatah kata indah dari Dian untukku sebelum ia pergi, karena ia tahu aku sedang berlari menuju kematianku demi dia. Saat terdesak, ia memikirkan teman-temanku di permukaan bumi, dan bagaimana mereka tetap menjalani hidup mereka tanpa mengetahui nasib mengerikan yang menimpaku atau membayangkan lingkungan aneh di sekitarku. Di sini aku sadar betapa tidak berartinya kehidupan dan kebahagiaan duniawi jika tidak ada yang mengetahui ataupun merasakan keberadaan kita. Siapa yang unggul? Dan bagaimana nasib mereka berikutnya? Semua disajikan dengan tensi dan imajinasi tinggi!

Overall

Ilmu pengetahuan dapat membuat seekor makhluk yang kerdil jadi majikan dari mahkluk yang ganas. Hufh, kalian akan mengalami sebuah petualangan tak biasa. Sesak, penuh dengan makhluk aneh dan saat di tengah cerita yang terus berkejaran, kalian akan merasakan sensasi ganjil bahwa David dan Perry bertarung mencoba bertahan hidup di bawah kita, di tempat misterius, di bawah tanah. Seram, ngeri dan menantang otak dalam membayangkan dunia ciptaan Edgar Rice.

Buku ini aslinya berseri. Seperti Tarzan yang legendaris, yang ada banyak versi dan petualangan. Seri menjelajah perut bumi termaktub dalam serial Pellucidar. Ada delapan seri: At the Earth, Pellucidar, Tanar of Pellucidar, Tarzan at the Earth’s Core, Back to the Stone Age, Land of Terror dan Savage Pellucidar. Empat seri awal ada dalam Proyek Gutenberg yang pertama terbit tahun 1914 sampai 1928. Sedang empat seri berikutnya muncul antara tahun 1929 sampai 1963. Saya tak tahu kumpulan yang saya baca ini merupakan seri utuh delapan atau separuh atau sebagian lain karena Penerbit Quills tak menjelaskan gamblang.

Yang pasti kisah ke perut bumi adalah buku fantasi yang amat sangat layak dinikmati, terutama pecinta fantasi. Dengan matahari seperti itu, waktu tidak berjalan. Nah! Selalu seru kalau sudah berdiskusi masalah waktu, karena memang waktu adalah mahkluk paling misterius.

Petualangan Menjelajah Perut Bumi  | by Edgar Rice Burroughs | diterjemahkan dari  Pellucidar Series | cetakan I, Juni 2005 | alih bahasa Armadeus Syailendratama | ilustrasi MH. Syahlan dan Dedi | penyunting Yossy Suparyo | proof reader Mimi Maryami | supervisi Narulita dan Agung | layout dan design sampul Quills Art Lab. | Penerbit Quills Book Publisher Indonesia | ISBN 979-99176-6-2 | 306; 115 x 175 mm | Skor: 5/5

Karawang, 211017 – Michael Learn To Rock – You Took My Heart Away

Iklan

One thought on “Petualangan Menuju Perut Bumi – Edgar Rice Burroughs

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s