Kisah Dua Kota – Charles Dickens

Kisah Dua Kota – Charles Dickens

“Akhirnya aku dapat berkata, hidupku tidak sia-sia!” Bisiknya.

Dua kota yang dimaksud adalah Paris dan London. Menyebut dua kota itu secara berurutan, tentu saja secara reflek kita menyangkutkannya dengan George Orwell yang punya novel semibiografis: Down and Fall in Paris and London. Novel itu ditulis pasca Perang Dunia Pertama sedang Kisah Dua Kota dikisahkan saat Revolusi Perancis pecah. Apakah ini kisah nyata? Tidak, jelas ini adalah sebuah drama yang dicipta dengan balutan alur sejarah. Cerita itu ditempelkan, mengikuti dan kemudian beriringan dengan catatan Perubahan tampuk pimpinan.

Ada banyak buku Dickens di toko buku dari yang dicetak istimewa sampai ala kadar. Dengan judul yang sama, penerbit beda, tahun rilis yang merentang, kalian akan menemukan ketebalan buku yang kontras tebal-tipis. Kok bisa? Contoh paling baru adalah The Great Expectation. Nah, buku yang saya baca ini terbitan 1976 dengan nama Penerbit Gramedia Jakarta. Bukunya tipis dengan jumlah halaman seratus 126, dibaca dalam sekali duduk di Senin subuh (17-10-17) sebelum berangkat kerja. Di datanya sih tertulis: ‘diceritakan kembali oleh Haka’, apakah itu artinya ia hanya mengambil sari cerita? Apalah itu, yang pasti kisah dua kota sangat bagus. Kisah cinta tak sampai, pengorbanan dan dendam dalam latar sejarah besar.

Berisi Sembilan belas bab yang merentang zaman dari sebelum, saat dan sesudah Revolusi. Lucie Manette adalah putri tunggal mantan narapidana 18 tahun dokter Mannette. Ia bersama Jarvis Lorry, bankir Tellson dari London sedang menjemutnya yang awalnya dikira sudah tiada tapi ternyata ia dipenjara di Bastille tanpa kesalahan yang jelas. Di dalam kedai milik Defarge, ia tampak gila. Memperbaiki sepatu dengan kursi panjang dan pikirannya ada di tempat lain. Dalam peluk putrinya, ia akhirnya hijrah ke London untuk kehidupan baru. Sementara istri Defarge merajut, acuh tak acuh. Bagian ini awalnya absurb karena beberapa kali diungkapkan, namun malah di akhir jadi picu boomerang amarah karena rajutan itu bukan rajutan biasa. Dalam sebuah adegan kereta anggur yang tumpah di jalan, orang-orang jelata berebut minum. Salah satu yang aneh, Gaspar – lelaki bertubuh tinggi menggoreskan jarinya ke tembok kedai Defarge dengan tulisan DARAH, seakan meramalkan jalan-jalan St. Antoine akan banjir darah.

Sementara Markis Evremonde yang lalim dibunuh pemberontak setelah dalam perjalanan kereta ugal-ugalannya menabrak anak kecil hingga meninggal. Tanpa rasa bersalah, ia semena-mena “Aku tidak akan beriba hati melindas kalian. Kalau aku tahu siapa yang melempar uang tadi, aku akan menghancurkannya di bawah roda kereta.” Itu adalah gambaran kaum bangsawan yang memerintah dengan payah. Menyengsarakan rakyat, pajak tinggi, dan berpesta di atas penderitaan warga banyak. “Jika engkau diberi beberapa ekor burung dan boleh mencabuti bulunya, yang pertama-tama kaupilih adalah bulu-bulu yang paling Indah, bukan? Nah, engkau baru saja melihat burung-burung dengan bulu yang serba Indah.”

Sementara Charles Darnay sedang menghadapi tuntutan di pengadilan London karena dituduh sebagai mata-mata Perancis. Berkat kesaksian Lucie dan ayahnya Ia berhasil bebas. Pengacaranya tuan Stryker dan tuan Sydney Carton. Mereka hidup dalam damai di perantauan. Sang dokter membuka praktek dan waktu digulirkan dengan tenang.

Lucie yang cantik dan cerdas mendapat dua pinangan. Dari Sydney Carton dan Charles Darnay. Sydney langsung ke orangnya Charles melalui ayahnya. Ternyata Charles punya masa lalu yang kelam, rahasia itu nantinya akan jadi twist menakjubkan di eksekusi ending. Sang dokter meminta menceritakan masa lalu itu di hari pernikahan karena Lucie memilih Charles, namun cinta sejati Sydney tak pudar. “Tapi ingatlah Lucie, aku akan melakukan segala sesuatu untukmu dan untuk mereka yang kaucintai. Aku akan senantiasa siap mengurbankan jiwaku untuk seseorang yang kaucintai. Ingatlah hal itu, meskipun engkau sedang terhanyut dalam kebahagian.” Saya sempat heran kenapa saat putrinya menikah sang dokter jadi sarap lagi? Jawabnya ada di catatan tersembunyi di kalimat ‘Seratus Lima, Menara utara.’ Pernikahan ini menghasilkan seorang anak.

Sementara itu Perancis bergolak. Kaum jelata yang sudah gerah mencapai puncak untuk menggulingkan pemerintahan. Liberte, egalite, fraternite (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan). Salah satu peranan aksi Revolusi ada dalam kedai Defarge. Mereka ikut serta dalam pemberontakan – yang tentu saja catatan sejarah merubahnya menjadi pasukan patriot, dan seperti yang tercatat sejarah Perancis pada masa 1789-1799 adalah masa genting perubahan internal. Perancis yang mulanya Monarki absolut yang sudah lama berkuasa runtuh oleh kelompok politik radikal sayap kiri di mana massa turun ke jalan. Banyak bangsawan dan tukang pajak dihukum mati, pemerintahan ada di tangan rakyat. Situasi memanas itu membuat Gabelle – tangan kanan keluarga Evremonde terjepit, ia beruntung masih bisa lolos, lalu ia meminta bantuan Charles melalui surat.

Sementara Charles di London yang sudah hidup dalam damai saat menerima surat jadi bimbang, waktu mendesak. Apalagi orang kepercayaan kini benar-benar membutuhkannya. Pada akhirnya ia nekad berangkat, mempertaruhkan nyawa masuk ke dalam pusaran kecamuk massa, menghadapi daerah konflik. Benar saja, ia tertangkap di penjara di La Force yang suram, dan akan diadili sebagai bangsawan émigré – para bangsawan yang kabur ke luar negeri untuk menyelamatakna diri. Dokter Mannete segera datang bersama putri, cucu, dan sahabat-sahabatnya. Sebagai mantan napi yang juga korban bangsawan ia begitu dihormati, kesaksian beliau bisa menyelamatkan menantunya. Sayang tak lama, karena dalam hitungan jam Charles kembali ditangkap. Kali ini siapa penuntutnya? Defarge, istri dan Dokter Mannete sendiri! Wow kok bisa? Itulah hebatnya Dickens! Berhasilkan keluarga ini memohon pada Tuhan untuk bisa lolos dari tiang pancung, sekali lagi?

Kisah abadi Charles Dickens. Masuk dalam daftar buku terlaris dunia bersama A Little Prince. To Kill A Mockingbird sampai The Lord of The Ring. A Tale of Two Cities adalah gambaran sebuah novel yang sempurna. Memainkan peranan sejarah dalam bumbu drama. Beberapa bagian sengaja kontradiktif. Dickens menentang pemerintah semena-mena terhadap rakyat sehingga dalam seni tulisnya ia mendukung gerakan Revolusi. Bagaimana kaum petani dan buruh digambarkan sengsara dalam sebuah adegan tong anggur yang jatuh jadi rebutan para kaum papa. Namun jelang akhir, ia menuliskan lagi menentang gerakan Revolusi karena pemerintah yang baru juga memena-mena, menghukum mati banyak orang. Kaum aristocrat yang dibuat limbung. Penggambaran ini pilu karena di negeri seberang, kota London yang lebih tenteram dijadikan acuan tempat untuk rantau, berlindung di mana bank-bank Tellson jadi begitu sibuknya.

Sekali lagi saya terpesona karakter bernama Lucie/Lucy/Lusi. Pertama terkesan saat di A Study in Scarlett-nya Sir Arthur Conan Doyle, lalu dalam The Betrayal-R.L. Stine, berikutnya lagi dalam film Die Hard 4.0-nya Bruce willis dan terakhir film dengan bintang Scarlett Johansson berjudul ‘Lucy’. Lucie disini mungkin hanya tokoh yang menjadi pemicu, bukan yang utama namun ia punya peranan sangat penting. Dimulai dengan tindakkannya menjemput ayah, lalu keputusan menikah dengan Charles bukan dengan Sydney. Dan alasan eksekusi ending-nya begitu pilu, itu adalah piliahn berani, tindakan sulit dilogika dan tentu saja karena atas nama cinta (pada Lucie). Gambaran bagaiman cinta memang punya peranan sangat penting dalam kehidupan dan – dan secara otomatis, dalam bertutur tulis.

“Saat ini adalah waktu terbaik, sekaligus waktu terburuk. Masa kebijaksanaan, sekaligus masa kebodohan.”

Kisah Dua Kota  | Charles Dickens | diterjemahkan dari A Tale Of Two Cities | diceritakan kembali oleh Haka | GM 76.056 | illustrator Cahidir Sofyan | dicetak oleh P.T. Gramedia | Jakarta, 1976 | Skor: 5/5

Karawang, 171017 – Sherina Munaf – Jagoan

Iklan

One thought on “Kisah Dua Kota – Charles Dickens

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s