Mary Poppins – P.L. Travers

Mary Poppins – P.L. Travers

Kau akan mendengarkannya. Tapi kau tidak akan mengerti.

Nasehat Mary Poppins itu cocok untuk beberapa Pembaca buku ini. Karena memang, kita bisa saja menyelesaikan baca, menikmati alur dan (mungkin) terpesona. Tapi kita tak akan benar-benar mengerti bagaimana cara sapi bisa melompati bulan? Meja kursi melayang di udara? Tangga bayang tak kasat mata? Meluncur naik? Bagaimana bisa kita berpetualang masuk ke dalam lukisan, menikmati hidangan di dalam gambar yang kita cipta? Tak masuk akal? Well, selamat datang di dunia fantasi, fellas!

Kisah klasik yang populer sejak 1930an. Kisahnya sudah sangat familiar, bahkan bagi yang belum menonton film dan atau membaca bukunya sekalipun, bahwa Mary Poppins adalah pengasuh anak yang luar biasa, mempunyai imaji tinggi, disiplin dan senang mengajak berpetualang. Keluarga Banks yang mengeluhkan betapa pengasuh anak-anaknya tak ada yang bertahan lama. Hingga suatu ketika saat angin Timur bertiup muncullah seorang nany membawa payung yang mengetuk pintu, memperkenalkan diri sebagai pengasuh baru. Ketika ditanya referensi, itu tak perlu. “Aku akan tinggal sampai ada perubahan mata angin.” Dari first impress anak-anak: Jane, Michael dan si kembar yang masih balita John – Barbara langsung terpukau. Kau tidak bisa memandang Mary Poppins tanpa mematuhinya.

Di rumah keluarga Bank di Cherry-Tree Lane nomor tujuh belas Mary mengubah hal-hal biasa menjadi mempesona. Sihir? Entahlah yang jelas sejak datang semuanya tampak ceria. Ia memang galak, ketus, terkadang berdiam diri mengamati tapi di tangannya segala masalah asuh seakan mudah ditangani. Nantinya kita tahu rahasia kecil, bagaimana manusia setelah beranjak umur setahun akan pudar komunikasi indera tak kasat mata dengan alam, sementara Poppins tidak. Berikut segala keajaiban yang disajikan dengan cara komikal, disertai ilustrasi sederhana yang bagus. Tiap berganti bab berganti pula keseruan yang ditampilkan. Semua pembaca jelas akan langsung jatuh hati dengan karakter utama.

Saat liburan ia bertemu sobatnya Berg, pelukis jalanan saat cuaca cerah dan menjadi penjual korek api saat sedang hujan. Berdua secara ajaib bisa masuk ke dalam lukisan, pemandangan gunung dengan sajian the beserta pelayannya ada di dalam. “Aku punya ide, sebuah ide yang nyata. Mengapa kita tidak pergi ke sana – sekarang juga – hari ini? Kita berdua masuk ke dalam gambar? Ayo Mary!

Saat ada seekor sapi melintas di komplek perumahan Lane, mereka heran kok ada sapi terlepas tersesat? Tanya anak-anak. Mary dengan gayanya yang khas malah mendongeng bahwa sapi itu tak tersesat, dia sedang mencari bintang. Lho? Kok bisa. Sapi yang menari dan tak bisa berhenti. “Aneh, namun ada perasaan senang juga. Seolah-olah ada tawa yang sedang berjalan naik-turun dalam diriku.” Sapi itu meminta bantuan kepada raja, raja yang sedang akan bercukur lalu mencoba memecahkan masalah. Ternyata ada bintang yang tertancap di tanduknya, tak bisa lepas. Hanya bisa lepas kalau ia melompati bulan. Dan bagaimana bisa? Namun saat akhirnya bintang itu berhasil ditaruh di angkasa, sang sapi justru rindu tarian. Dia pun bergegas mencarinya. “Tidak hanya satu bintang yang jatuh dari langit. Aku diberitahu bahwa miliaran yang jatuh setiap malamnya. Tapi mereka jatuh di tempat yang berbeda-beda tentu saja. Kau tidak bisa berharap dua bintang jatuh di tempat yang sama dalam satu masa kehidupan.”

Saat Michael dan Jane diajak berkunjung ke rumah temannya untuk minum teh dan makan kue, setelah masuk Mr. Wigg – pria tidak ber wig – tak ada di ruangan padahal istrinya bilang ada di rumah. Ternyata ia sedang melayang, acaranya di udara! Mereka bersama, di sana di udara. Seru pastinya. Namun saat pulang Mary justru yang keheranan dan merasa tersinggung sama anaka-anak. “Menggelinding dan mengapung? Omongan apa ini. Bergulir dan mengapung di langit-langit. Selanjutnya kalian akan mengatakan padaku bahwa ia sebuah balon.

Saat kalian tahu bahwa ada seekor anjing yang dipelihara dan diperlakukan dengan cara istimewa di rumah sebelah. Namanya Andrew menjalani hidup mewah sehingga kau mungkin berfikir sesungguhnya seorang Pangeran Persia yang sedang dalam penyamaran. Dua kali seminggu ke salon untuk berkeramas, tidur di bantal sutera di kamar Miss Lark. Ia mendapat porsi krim dan kadang-kadang tiram dalam setiap makanannya. Punya mantel empat dengan motif kotak-kotak dengan warna berbeda-beda. Nah, suatu ketika si Andrew ceritanya ngambek kabur dari rumah. Miss Lark yang panik mencarinya, Andrew pulang tak sendirian, mengajak Willoughby, anjing biasa kumal. Jadi dimana peran Mary Poppins? Ternyata setiap Abdrew menyalak, ia menterjemahkannya kepada sang majikan. Wow, bisa bahasa anjing?!

Dan seterusnya, dan seterusnya. Total ada dua belas bab yang memberi kesan. Paling kusuka adalah komunikasi John dan Barbara yang menyapa sinar matahari, bicara dengan angin, bertegur dengan burung jalak. Semua bayi bisa merasa, menerka. Namun saat usia bertambah, indera istimewa itu perlahan pudar. “Rasanya aku tak kan mengerti orang dewasa. Mereka semua tampak begitu bodoh. Bahkan Jane dan Michael pun terkadang bodoh.” Yup, bagian ini begitu mempesona. Saat akhirnya angin Barat berhembus seakan kita tak ingin mengakhirnya.

Saya suka sekali film Saving Mr. Banks yang dibintangi Tom Hanks dan Emma Thompson. Salah satu adaptasi biografis terbaik. Film  tentang proses adaptasi ke film yang rilis tahun 1964. Pamela Lyndon Travers (1906-1996) adalah kritikus drama, penulis esai perjalanan, resensi, dosen, dan tentu saja Pencipta Mary Poppins. Ada delapan seri: Mary Poppins (1934), Mary Poppins Comes Back (1935), Mary Poppins Opens the Door (1943), dan Mary Poppins in the Park (1952), semua terbitan Harcourt Brace. Kover untuk terbitan Qanita begitu catchy eye, cerah dengan gambar Mary terbang ke angkasa menggunakan payung kepala kakak tuanya. Cocok sekali dengan tema utama, imajinasi anak-anak yang hidup. Dibanding sekuelnya yang dominan ungu, justru saya lebih suka yang ini. Pemilihan kover dengan mengambil salah satu adegan adalah favorit saya, laiknya semua novel Harry Potter. 

Kalau ceritanya memang tak masuk dinalar, tenang saja. Fantasi memang terkadang membuat berkerut kening, malas membayangkan hal-hal muluk. Namun individu kisah punya landmark-nya, seperti kata Mary, “Apakah kau tidak tahu, bahwa setiap orang mempunyai Negeri Dongeng mereka sendiri?

Mary Poppins | by P.L. Travers | diterjemahkan dari Mary Poppins | copyright 1981 terbitan an Odyssey/Harcourt Brace & Company, Florida, 1997 | penerjemah Desak Pusparini | penyunting Prisca Primasari | proofreader Emi Kusmiati | ilustrasi isi Rizki Goni | desainer sampul Windu Tampan | cetakan I, Agustus 2012 | Penerbit Qanita | 228 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-9225-53-2 | Skor: 5/5

Untuk ibuku 1875-1928

Ruang HRGA – CIF, Karawang, 131017 – Savage Garden – I Knew I Loved You

Thx to Ari Naicer, Rindang Book Store

Iklan

One thought on “Mary Poppins – P.L. Travers

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s