The Hours – Michael Cunningham

The Hours – Michael Cunningham

“Tapi masih ada jam-jam itu, bukan? Satu jam, lalu berikutnya lagi, lalu kau berhasil melewati satu jam itu dan kemudian, ya ampun, masih ada jam berikutnya lagi. Aku muak.”

Siapa yang tak kenal Adeline Virginia Stephen? Beliau adalah Penulis To the Lighthouse. Saya memang belum satu pun baca bukunya Virginia Woolf. Justru novel imajinatif tentang inilah yang kunikmati dulu. Tahun 2009 saat sedang jobless menikmati waktu luang yang berlimpah, saya dan Gnd – Grandong my friend ke pameran buku di Diamond – Slamet Riyadi, Solo. Ketemu teman SMP Bekonang Afifah Tri M, saya menggelontorkan uang sisa tabung dengan sangat selektif. Selain Fight Club, Million Dollar Baby, The Alchemist, saya membawa pulang The Hours terbitan Jala Sutra yang tampak mewah. Hasilnya? Luar biasa. Novel yang rumit sekaligus megah.

Ini adalah penghormatan bersahaja karya Penulis Virginia Woolf yang bunuh diri karena depresif. Awalnya rancu, kok malah ke arah proses hari-hari akhirnya? Namun dengan kesabaran dan harapan, kepingan-kepingan itu tersusun. Ternyata ini adalah kisah para perempuan dari era yang berbeda, namun ada benang merah yang menjalar untuk dikaitkan. Kehidupan yang murung nan sepi dari tiga orang wanita, apa serunya? Dengan ketekunan saya sukses menyelesaikan baca dan ternyata buku jos. Cunningham berhasil mengintimidasi Pembaca, berhasil mencipta horror di tengah rutinitas yang mungkin terlihat biasa.

Prolog-nya adalah proses bunuh diri tahun 1941 saat Perang Dunia sedang berkecamuk, sang Penulis yang jadi sentral segala kisah itu meninggalkan surat wasiat dan menuju sungai. Surat dalam amplop biru di atas meja Leonard, saya kutip:

Tersayang, Aku merasa yakin bahwa aku gila lagi. Aku rasa kita mustahil melalui masa-masa sulit seperti ini lagi. Dan aku sulit membaik kali ini. Aku mulai mendengar suara-suara, dan tidak dapat berkonsentrasi. Jadi aku melakukan apa yang sepertinya terbaik. Kau telah memberikan kebahagiaan yang paling hebat dan paling mungkin kurasakan. Kau telah menjadi segalanya. Kurasa ganjil dua orang bisa lebih bahagia hingga penyakit praha ini datang. Aku sia-sia melawannya lebih lama lagi, aku telah merusak hidupmu, aku tahu tanpaku kau bisa bekerja. Dan kau akan begitu setahuku. Kau pun bisa lihat aku bahkan payah sekali menulis ini dengan baik. Aku tak dapat membaca. Yang ingin kuucapkan adalah bahwa aku berhutang kebahagiaan seluruh hidup padamu. Betapa kau telah bersabar denganku dan begitu baik. Aku ingin berkata bahwa – semua orang tahu itu. Jika memang ada orang yang bisa menyelamatkanku, kaulah orangnya. Semua telah meninggalkanku kecuali jelas kebaikanmu. Aku jangan merusak hidupmu lagi. Kurasa mustahil ada dua orang yang bisa lebih bahagia daripada kita selama ini. 

V.

Setelah prolog yang pilu kita diajak berselancar hidup dengan tiga wanita. Pertama Mrs. Dalloway (Clarissa Voughan) sedang merencana pesta untuk Richard, mantan kekasih yang sakit AIDS. Kisah ini tahun 1990an di New York. Penulis yang menjuluki Clarissa sebagai ‘Mrs. Dalloway’. Penulis hebat yang menyukai sesama jenis. Ia akan berperan penting dalam jalinan, termasuk eksekusi akhir yang mendebarkan. Pesta menyambut penghargaan Carrouthers Prize ini berlangsung sederhana sebetulnya, namun isi kepalanya yang rumit dan putus asa-lah menghantui. Ia nyaris saja menjadi pasangan hidup Clarissa, tapi pilihan hidup terkadang memang tak berlogika.

Kedua  Mrs. Woolf (Virginia Woolf) dengan setting di Richmond tahun 1920an hingga kematiannya. Termasuk proses penciptaan novel, keseharian dengan anak dan suami sampai idap penyakitnya yang parah, ada suara-suara yang berbisik dalam kepala. Cunningham sendiri mencoba menulis seakurat mungkin, sehingga rujukan diari dalam biografi karya Quentin Bell dan Angelica Garnett dikutip. Bagian ini yang paling frustasi dan agak sulit dicerna karena kita seakan diajak berhalusinasi kelainan jiwa dan dituturkan dengan penuh kegelisahan.

Ketiga Mrs Brown (Laura Brown), ia adalah pembaca buku Mrs. Dalloway sedang mengandung anak kedua tahun 1949 di Los Angeles. Putra pertamanya Richie yang aktif dan kesibukan menjelang pesta ulang tahun suaminya yang tiga tahun lebih muda, ia yang kutu buku merasa terganggu. Bikin kue yang rasanya remeh saja baper. Sebagai kutu buku, sendiri adalah sebuah intan. Saking ingin konsentrasinya, ia bahkan pergi ke hotel menyepi untuk membaca novel dan terkejut bahwa Penulis yang menghasilkan karya hebat ini memilih mati dengan dramatis. Inilah satu-satunya tokoh yang agak ‘normal’. Yah, setidaknya menurut pecinta buku. Xixi.

Ketiganya tak pernah bertemu, jelas. Kumpulan orang depresi ini pengaitnya: proses penciptaan buku itu, penikmat buku itu dan orang yang dipanggil oleh sahabatnya dengan panggilan nama buku itu. ‘Itu’ yang kumaksud tentu saja Mrs. Dalloway. Apakah hanya itu? Nope, ketiganya lesbi dan dalam penyajiannya mungkin terbaca vulgar. Walau pikiran mereka nyeleneh mereka (hanya) tampak bahagia. Dan kebebasan yang tampak menyenangkan itu sejatinya kalau salah jalan akan membuat frustasi, dan sedikit pening. Sepakat?

Kutipan-Kutipan

Keindahan itu pelacur, kadang ia berkata begitu. Aku lebih suka uang. Halaman 10

“Aku pikir aku ini genius. Aku benar-benar terpikir kata itu, hanya di dalam hati.” – 61

“Aku jujur tak punya penyesalan kecuali satu itu. Dulu aku ingin menulis tentangmu, tentang kita, sebenarnya. Mengerti maksudku? Dulu aku ingin menulis tentang semua, kehidupan yang sedang dijalani dan mungkin saja kita jalani. Dulu aku ingin menulis tentang segala kemungkinan cara kita mati.” – 62

Lebih baik mati tak karuan di London daripada menguap di Richmond. – 67

Karena ia akan mengadakan dan menghadiri berbagai pesta, menulis di pagi hari dan membaca di siang hari, makan siang dengan teman-teman, berbusana sempurna. Ada seni sejati di sini. Pria mungkin menganggap perang dan pencarian Tuhan satu-satunya subjek hebat dalam sastra. – 79

Ia merasakan keberadaan hantunya sendiri; bagian yang paling hidup dan tak terhancurkan sekaligus paling terpisah; paling tak memiliki apapun; paling terpisah dan diamati dengan kagum, seperti turis di museum, barisan pot kuning berlapis dan meja hias dikotori sebutir kecil remah roti, keran khrom sumber butiran air bergetar, mengumpulkan massa, lalu jatuh. – 87-88

Aku ini sepele, sepele sampai kapan pun, pikirnya. Hingga sekarang. Tidak diundang rasanya seperti pembuktian kecil bahwa kehidupan dunia berjalan baik-baik saja tanpanya. – 90

Kenapa tak berhubungan seks dengan semua orang, selama kau menginginkan mereka dan mereka menginginkanmu? Jadi Richard melanjutkan hubungan dengan Louis dan memulai dengan Clarissa pula, dan rasanya benar. – 92

Ia pikir, ia bisa saja memasuki dunia lain. Ia bisa saja hidup tegar dan berbahaya sebagaimana sastra itu sendiri. – 93

Di usia tiga puluh tahun ia sudah mulai menunjukkan betapa laki-laki heroik bisa bermetamorfosis menjadi sampah tengah baya tanpa alasan sekecil apapun. – 101

Terlalu sedikit cinta di dunia ini. – 130

Kau benar-benar percaya bahwa jika jumlah orang abnormal dibulatkan, mereka tak akan menghitungmu? Kau benar-benar bodoh. – 156

Di dunia ini tiada kekuatan yang lebih dahsyat daripada ketenaran. – 172

Ia bertanya-tanya, apa menyedihkan atau heroik membeli kemeja baru yang mahalnya minta ampun buat kekasih yang belum tentu sembuh? – 177

Setiap hadiah, menurut Clarissa adalah sempurna, tepat seperti harapannya. – 177

Bunga-bunga zombie, pikirnya; hanya barang dagangan, dipaksa hidup persis ayam yang cekernya tak pernah menjejak tanah sejak menetas hingga disembelih. – 179

Richie berkata, lebih nyaring daripada yang diperlukan. “Mama, aku sayang padamu.” – 188

Richard terlihat gila dan syahdu, lanjut usia sekaligus kekanak-kanakan, mengangkangi lis jendela seperti orang-orangan penunggang kuda, patung taman karya Giacometti. – 192

“Sesuatu dari harimu. Dari hari ini. Bisa sebiasa apa pun. Malah lebih baik yang biasa. Yang paling biasa yang dapat kau ingat.” – 194-195

Richard tersenyum. Dia menggeleng. Katanya, “Kupikir tak ada dua orang yang bisa lebih bahagia daripada kita.” – 196

Neraka adalah ruangan berbentuk kotak, kuning usang, tanpa pintu keluar, diteduhi bayangan pohon buatan, dengan jejeran pintu metal, bergores-gores (salah satunya bergambar simbol Grateful Dead, tengkorak bermahkota mawar). – 197

Akan berlanjut, mencintai London, mencintai kehidupan berisi kenikmatan biasa, dan seorang lain, sastrawan sinting, pengkhayal, yang akan mati. – 207

Hampir sama dengan membaca – sensasi serupa kala mengenali orang, lokasi kejadian, situasi, tanpa berperan sebagai apa pun selain pengamat. – 211

“Editor harus punya objektivitas tertentu.” – 218

Sedikit orang loncat dari jendela atau menenggelamkan diri atau menelan pil, lebih banyak orang mati karena kecelakaan, dan kebanyakan dari kita, mayoritas, pelan-pelan digerogoti penyakit, atau jika sangat beruntung, dimakan oleh waktu. – 221

Overall

Gaya penceritaan Cunningham-lah juaranya. Unik, nyeni dan begitu dibuat rumit namun benang kusut itu terurai dengan caranya sendiri. Sekalipun bertele, kita tak akan tersesat. Perjalanan kisah itu sendiri terasa pointless, seakan kita berjalan-jalan ke hutan bertanya-tanya akan ke arah mana selanjutnya, saat di persimpangan kita diberi pilihan sulit karena memang keduanya merupakan opsi sebagai pengalaman pertama kali. Namun saat kita berani mengambil tindakan, ternyata meleset, pilih manapun meleset. Dua-duanya salah dan di ujung jalan itu kita terperosok. Kesal? Bisa saja tapi The Hours begitu padat pilihan diksi yang buat penikmat seni tulis terasa ‘nyaman’. Jelas ini salah satu novel yang menyenangkan ditelusuri dan telaah. 

The Hours adalah novel keempat Cunningham yang pertama terbit tahun 1998, setahun berselang memenangkan tiga anugerah sekaligus: Pullitzer Prize untuk fiksi, PEN/Faulkner Award da GLBT Book Award. Tahun 2002 sudah diadaptasi ke film dengan sutradara Stephen Daldry dan bintang cemerlang Nicole Kidman, Julliane Moore dan Meryl Streep. Sayang film peraih banyak penghargaan itu sampai saat ini belum ketonton. Uniknya dalam film yang dibintangi Meryl dalam novel ia disebut-sebut walau sepintas lewat. Apakah ia memerankan diri sendiri ataukah tokoh lain yang lebih sentral? Entahlah.

Keunggulan utama novel ini adalah detail dan gaya bercerita yang unik. Plotnya disusun penuh tanya dan sangat menarik pembaca, namun memang butuh kesabaran untuk menuntaskannya. Ini jenis buku yang tak bisa dibaca santai, butuh konsentrasi dan kesunyian. Dengan benang merah sebuah buku Mrs. Dalloway ketiganya menyusui lorong waktu – seakan linier, tapi jelas tak ada kepentingan khusus yang menyinggungnya. Karya fenomenal yang abadi, The Hours juga suatu saat akan cult dan dipuja. Hebat!

Kutipan berasal dari the Diary of Virginia Woolf, volume II: 1920-1924, copyright 1978 oleh Quentin Bell dan Angelica Garnett | Kutipan dari Mrs. Dalloway karya Virginia Woolf, copyright 1925 oleh Harcourt Brace & Company | Surat Virginia Woolf kepada Leonard Woolf diambil dari The Letters of Virginia Wolf, volume VI: 1936-1941, copyright 1982 oleh Quentin Bell dan Angelica Garnett.

Waktu Demi Waktu | by Michael Cunningham | diterjemahkan dari The Hours | 07.JSA.156 | Copyright 1998 | penerjemah Saphira Tanka Zoelfikar | editor Anwar Holid | desain kover Antorio Bergasdito | layout Iryaspraha | Penerbit Jalasutra | 08 09 10 11 12 5 4 3 2 1 | cetakan I, Januari 2008 | xii + 226 hlm; 15×21 cm | ISBN 979-3684-88-7 | Buku ini untuk Ken Corbett | Skor: 5/5

Ruang HRGA CIF – NICI, Karawang, 091017 – Joeniar Arif – Rapuh – Audit Nestle 2017 dimulai

Iklan