Gabriela, Cengkih, dan Kayu Manis – Jorge Amado

Gabriela, Cengkih, dan Kayu Manis – Jorge Amado

Bergunjing adalah seni tertinggi dan kenikmatan terdahsyat di kota itu. Ilheus adalah kota keji, di sana tidak ada sesuatu pun yang penting selain uang.

The chronicle of Ilheus. Itulah kalimat pertama yang terbesit saat membacanya. Kebetulan saya menikmatinya pas banget dengan gegap gempita Pilkada DKI Jakarta. Yang muda penuh ide dan inisiatif tapi disikut golongan jadul melawan tua kolot laiknya pemikir usang bahwa struktur kuasa selalu klasik dari atas ke bawah. Karena novel ini akan berkisah tentang perebutan kekuasaan, dengan cara legal maupun ilegal di sebuah kota kecil penghasil kakao di Brazil. Kata New Yorker di sampul: Penuh gosip, lucu dan sangat hidup. Yup, saya setuju. Benar-benar kehiduapn bermasyarakat penuh gosip kiri-kanan yang tak lelah-lelahnya. Dan Gabriela, gadis cantik eksotis dengan asal usul tak jelas datang ke Ilheus sebagai koki istimewa, dia terjebak di antara bau keringat petani kakao bersama adab Latin yang kental.

Pengantarnya adalah paragraf tembang dari wilayah Kakao: ‘Warna kayu manis. Aroma legit cengkih. Dari jauh kudatang hingga Gabriela kupandang.’ Tentu saja saya tak tahu tembang itu, mungkin di Brazil sana populer laiknya ‘Tanah Surga’-nya Koes Ploes. Setting utama di tahun 1925, masa di mana penemuan-penemuan awal peradaban modern banyak membuat takjub. Perjalanan dengan bus jarak jauh, kapal-kapal uap untuk menghilangkan gundukan pasir di pantai, hingga film-film dicipta dimana golongan tua akan berujar, ‘film adalah sekolah kebejatan.’

Tokoh utamanya memang Gabriela, gadis gipsi yang datang ke Ilheus bersama rombongan jelata tak tentu nasib. Dan Najib, seorang pemilik bar keturunan Suriah yang melajang walau sudah matang. Tapi novel ini akan sesak sekali dengan karakter beragam, saking banyaknya tokoh penting sampai-sampai memang tak ada sentral. Makanya saya lebih suka menyebut ini semacam riwayat hidup kota kecil Ilheus bukan kisah Gabriela. Di mana tokoh-tokoh tadi ada dalam pusarannya. Nyaris semua dituturkan dengan setting tempat di kota ini. Bagaimana pertama Najib dan Gabriela pertama bertemu juga engga banget untuk jadi pondasi kisah cinta. Najib kehilangan koki andalannya Filonema tua, ia mengancam pergi andai tuntutannya tak terpenuhi. Dan pagi jam 8 saat cuaca cerah di musim semi, ia pergi naik kereta api ke Agua Preta. Tapi hari itu banyak kejadian yang jauh lebih heboh: Kolonel Jesuino Mendonca menembak dokter muda Osmundo Pimentel yang ketahuan selingkuh dengan istrinya Dona Sinhazinha, yang tragisnya juga ditembak mati. Sang kolonel adalah pemilik kakao besar, istrinya aktif di Gereja dan sang dokter gigi punya reputasi baik serta penyair – dalam kalangan terbatas. Bersamaan pula dengan kandasnya kapal Maskapai Costeira di jalan masuk pelabuhan. Ditambah sedang hangat-hangatnya pembukaan pertama jalur bus Ilheus – Itabuna. Jadi hilangnya koki tua di bar Najib hanya dipusingkan segelintir warga, sekalipun pesta dansa dimana Najib bertanggung jawab menyuplai hidangan, sudah begitu dekat.

Kisah akan –atau nyaris semua – dibuka dengan kata ‘perihal’ tiap sub bab. Nah, Najib bertemu Gabriela di kerumunan gelandangan migrasi, awalnya meragukan. Namun kualitas memang tak bohong. Gabriela selain dianugerahi kecantikan juga kepandaian mengolah masak, serta telaten. Tanpa nego gaji, tanpa banyak menuntut Gabriela sudah sangat bersyukur bisa bernaung. Pesona gadis latin, diluargduga seluruh warga terpukau koki baru ini, termasuk si Najib. Ada rasa takut kehilangan, ada rasa takut nanti ia resign. Semakin hari semakin cinta, suatu hari ia berceloteh kepada Fagundes, “Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.” Ditimpali, “Kau gila. Dia bukan jenis perempuan yang bisa dijadikan pendamping hidup seorang lelaki. Kau bisa tidur dengannya dan melakukan segalanya. Tapi untuk benar-benar memilikinya sehingga dia menjadi milikmu – kau tak bisa dan tak seorang pun bisa.”

Tapi nyatanya Najib bergeming. Cintanya buta, ada rasa nyaman saat dekat dengan sang pelayan. Ia pun menikahinya. Surat-surat identitas bisa dipalsukan, segalanya diurus temannya Tonico. Dan akhirnya sah mereka suami-istri, sejak itu Gabriela dipanggil Bie, nama panggilan sayang. Gabriela ragu apakah ada perempuan di dunia yang mencintai lelaki sebesar cintanya terhadap pak Najib.

Namun memang semua dicipta rumit. Gabriela mencintai banyak hal dengan sepenuh hati: matahari pagi yang belum terlalu panas, pasir putih dan lautan, sirkus, karnaval, bioskop, jambu biji dan ceri pitanga, bunga, binatang, memasak, melangkah di sepanjang jalan, bicara, ketawa. Yang pertama, para lekaki muda tampan. Maka rumah tangga mereka digoncang gosip. Berhasilkah mereka bertahan? “Bacalah sebuah buku atau menangislah jika kau memang ingin. Menangis bukanlah sesuatu yang memalukan.”

Kisah cinta ini hanya sebagian kecil. Tak ada dominasi cerita. Ada kasus penembakan pasangan selingkuh, di mana sang pembunuh buron dan di akhir justru jadi kunci utama pesan moral novel ini. Mengacu pada stoking hitam yang menghebohkan itu, moralitas dan kebejatan. Bagaimana keluarga dokter muda begitu shock dan mencoba menempuh jalur hukum, bagaimana keluarga istri yang marah yang juga menjadi kemarahan seluruh Ilheus. Kota ini bukan lagi kota para bandit, surga para pembunuh karena tema yang diusung adalah peradaban dan kemajuan. Nasib akhir Kolonel Jesuino Mendonca sangat patut dinanti-kan?

Ada seorang istri kesepian juragan kakao yang terkenal genit Gloria yang nantinya malah jadi tempat kunjungan sembunyi seniman nyeleneh nan kere Josue. Hubungan rahasia adalah urusan rumit dan berbahaya. Hubungan ini memerlukan kesabaran, kecerdasan, ketangkasan, dan kewaspadaan terus-menerus. Tak peduli itu mabuk kepayang, gairah, cinta, atau ketertarikan sesaat.

Ada lelaki malang yang mencinta Gabriela tanpa syarat. Lelaki teman seperjalanan migrasi itu Clemente mempunyai impian menyuntingnya tapi gagal, sekalipun ia sudah mau diajak berguling. Nantinya kita tahu bagaimana Gabriela memandang hidup. Clemente yang butuh uang, kepastian cinta dan tekad kuat untuk kesejahteraan lebih baik di masa depan yang akhirnya siap mengangkat senjata.

Ada pemuda sableng Tonico Bastos yang terkenal play boy. Namun akan jinak saat di rumah. Suami dari seorang istri yang pencemburu, ayah dari dua anak cantik dan buaya darat sekaligus pesolek kota. Bagaimana ia merayu wanita seantero Ilheus, dan ketampanannya begitu memuakkan. Tak peduli gadis lajang atau istri orang bahkan teman sendiri, selama ia bisa maka kebejatan nafsunya diikuti. Mungkin dia-lah karakter terbobrok? Menusuk teman, manis di depan. Useless banget. Ini bukan petualangan puisi mengenai Juca Viana dan Chiquinha.

Ada Malvina yang unik. Gadis bermasa depan cerah yang jatuh hati sama insinyur dodol. Cinta memang buta. Bagaimana ia dihianati, padahal sudah memberontak ayahnya Melk yang begitu menjaga hubungan dan nama baik. Dalam adabnya, suami adalah majikan secara mutlak, sedang istri dikerdilkan untuk mematuhi secara pasif. Lebih buruk daripada menjadi biarawati. Gadis itu bersumpah kepada dirinya sendiri tidak akan membiarkan dirinya terperangkap. Gadis berfikiran modern yang mendamba kehidupan romantis, bisakah ia punya keberanian melarikan diri?

Dan tentu saja ada perebutan tampuk jabatan wali kota yang panas antara golongan tua Kolonel Ramiro Bastos yang masih sangat ingin berkuasa, melawan golongan muda Mundinho Falcao seorang pendatang yang memberikan banyak kemajuan kota. Dalam lapis dasar, ia seakan tulus menolong, ikhlas membangaun infastruktur Ilheus demi kepentingan umat. Namun kita nantinya juga tahu, ia begitu ambisius. Gila jabatan demi pengakuan  kata ‘sukses’. Karena punya masa lalu yang pahit, tentang keluarga dan tragedi cinta. Ide ia mendekat dengan cucu seteru juga terbilang revolusioner. Demi suara pilkada, ia laukukan segala. Politik memang kejam. Menyeret dua kubu dalam mencari dukungan, tak peduli ada darah yang harus ditumpahkan. Peluru itu menerjang dada Aristoteles ketika dia dan Mundinho sedang berjalan melintasi tanah kosong di dekat Unhao dalam perjalan menuju bar Najib. Dia baru saja berkata, “Aku tidak minum…” Tragis, seram, hantams emua tembok yang menghalangi. Kepada siapa jabatan wali kota itu?

Kutipan-Kutipan

“Ketika aku mendarat di sini pada tahun 1902, dua puluh tiga tahun yang lalu bulan depan, tempat ini berupa lubang neraka, kumuh, hancur lebur. Saat itu kota sesungguhnya adalah Olivenca… tempat yang baik untuk menunggu kematian.” – halaman 34

“Perabadan yang harus dibangun – pernyataan yang bagus. Dulu kami gemar mengatakan bahwa ketika seseorang datang ke Ilheus, kakinya terjebak dalam bubur kakao dan dia tidak pernah bisa pergi. Tidak pernahkah kau mendengar itu?” – 122

“Aku ingin tahu apakah ini benar-benar layak untuk dilakukan. Dunia politik selalu begitu kotor. Tapi jika ini untuk kebaikan wilayah…” Mundinho merasa sedikit konyol. “Mungkin akan menyenangkan.” – 131

Katanya dia akan menjadi kaya. Ketika kau menyanyi, kau melupakan semua hal buruk. – 209

Pemilik bar tidak boleh terlibat dalam politik. Itu bahkan lebih berbahaya daripada terlibat dengan perempuan bersuami. – 226

Ada kegelisahan di udara seakan-akan mereka sedang menunggu terjadinya sesuatu. – 253

Kakinya punya irama sendiri, tubuhnya gemulai dan dia menghitung waktu dengan tangannya. – 269

“Awasi hartamu. Ada banyak perampok berkeliaran.” – 297

“Tempat yang seperti kakus terbelakang ini menjadi begitu heboh gara-gara seorang insinyur, seakan-akan lelaki itu berasal dari planet lain..” – 297

Dia pun membantu dalam politik; dia memberi kita anak-anak, membuat kita terhormat. Jika kita menginginkan sesuatu yang lain, perempuan selalu tersedia. – 306

Konon dia tak membaca satu buku pun, dia hanya membeli buku-buku itu untuk menghiasi rak bukunya dan memberi kesan cerdas dan terpelajar. Joao Fulgencio bertanya padanya. – 310

Aku bersumpah kau akan mengira setan sedang berkeliaran di Ilheus dan berkuasa tanpa perlawanan. – 378

Bagian terbaik dari semua ini adalah ketidakdatangan Romulo. Bagaimana mungkin dia bisa hidup dengan seorang pengecut? – 399

Penyair agung itu sendiri adalah pendongeng hebat. – 449

Ya Tuhan, selamatkanlah aku dari jabatan wali kota! Aku benar-benar bahagia di tempat terpencilku sendiri. – 471

Kurasa kau bertindak dengan sangat tepat. Membunuh gara-gara cemburu adalah tindakan bar-bar. – 569

“Kubilang ada bunga-bunga tertentu yang akan layu jika kauletakkan dalam jambangan.” – 570

 “Kesetiaan adalah buah cinta terbesar.” – 582

Overall

650 halaman yang sangat padat. Hanya teruntuk pecinta fiksi dan gosip. Butuh kesabaran, dan konsentrasi karena memang sangat menatang nalar. Ditulis dengan nyaman dan indah. Kisahnya tak rumit karena memang semua gamblang. Buku ini juga seolah bilang, menikah bukanlah solusi utama kebahagian. Terutama menikah dengan paksaan keadaan. Terpaksa menikah karena takut kehilangan dia. Terpaksa menikah karena badai cemburu. Oh sultan, apa yang telah kau perbuat terhadap gadisku yang ceria? Cukup Putri Ofensia yang melegenda. Teman seperjuangan ayo berkelana bersama. Ke seluruh dunia, teman, ah, teman.

Gabriela, Cengkih, dan Kayu Manis | by Jorge Amado | diterjemahkan dari Gabriela, Cravo, e Canela (Potugis) | Gabriela, Clove, and Cinnaon (English) | terbitan Vintage International | copyright 1858, 1992 by Grapiuna Producoes Artisticas Ltd. | Penerbit Serambi | Penerjemah Inggrid Nimpoeno | penyunting Moh. Sidik Nugraha | desain sampul Altha Rivan | pewajah isi Suharyono | cetakan I, Desember 2014 | ISBN 978-602-290-023-8 | Skor: 5/5

Karawang, 071017 – Backstreet Boys – Any Other Way

Iklan

One thought on “Gabriela, Cengkih, dan Kayu Manis – Jorge Amado

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s