Gone With The Wind – Margaret Mitchell

Gone With The Wind – Margaret Mitchell

Gerald: “Tanah adalah satu-satunya milik yang paling berharga di dunia. Karena tanah adalah satu-satunya benda yang abadi di dunia. Jangan lupakan itu! Hanya demi tanahlah kita patut bekerja keras, berperang, hidup…”

Kasha cinta Scarlett O’Hara dan Rhett Butler yang tak terlupa sepanjang masa. Romansa dalam setting Perang Saudara di Amerika Serikat. Scarlett adalah gadis istimewa. Kalau saudara-suadaranya dididik untuk menjadi istri ningrat yang penurut yang suka bergosip dan pesta pora, Scarlett lebih tomboy, percaya cinta sejati yang anehnya dibarengi sifat keras kepala. Hobi berkuda membuatnya tampak seolah wanita tangguh. Ia berfikiran kolot bahwa orang kulit hitam memang sering menimbulkan masalah. Kadang-kadang berpendapat gagasan kaum abolisionis itu bagus juga. Rhett Butler adalah lelaki cerdas. Walaupun orang-orang menyebutnya curang, tak nasionalis, suka memanfaatkan situasi — ibarat menghalalkan segala cara untuk selamat, untuk hidup, ia adalah karakter yang paling rasional dalam kisah panjang ini. Seorang Selatan, pria asli Charleston yang pemikirannya susah ditebak, yang terusir dari keluarga dan pernah membunuh pria gara-gara menolak menikahi adiknya. Nantinya Scarlett malah menaruh hormat padanya menolak menikahi gadis yang tolol.

Bagusnya kisah ini, penuturan cinta bukan langsung ke inti mereka berdua. Tapi justru diawali dengan pertemuan yang masam. Scarlett jatuh hati kepada pemuda tampan kutu buku yang romantis Ashley Wilkes. Buku-buku membuatnya tertekan, begitu orang-orang yang suka membaca buku, semua orang, kecuali Ashley. Obsesi cinta luar biasa, padahal banyak cowok yang menginginkannya. Kalimat pembukanya bilang ‘Scarlett O’Hara tidak cantik, tapi kaum pria jarang menyadarinya, apalagi bila sudah terjerat oleh pesonanya, seperti yang terjadi pada si kembar Tarleton…’ Ya, kisahnya memang tak tergesa, pelan tapi diarahkan ke pokok permasalahan. Si kembar – Stuart dan Brent – ngajak pesta dansa di Twelve Oaks di Georgia pada bulan april 1861, biasanya Scarlett akan menghindar berkelit, tapi setelah bilang bahwa acara besok juga pengumuman pertunangan Ashley dengan Melanie, Scarlett seakan mendapat serangan dentum ‘deg’ yang membuatnya sedih sehingga mengiyakan tawaran dansa Tarleton. Dikira itu hanyalah kabar selenting tak penting, namun nyatanya itu sangat melukai hati. Ia berharap Ashley mengucap cinta padanya untuk waktu-waktu yang sudah dihabiskan bersama dalam riang dan penuh kenangan Indah. Tapi fakta menikam.

Semalaman ia pening, dan pikirannya dipenuhi adegan-adegan esok dari yang mengerikan sampai yang ekstrem mengajak kawin lari. Namun justru yang dipilihnya yang terakhir ini, ia merancang bangun apa yang akan dilakukannya di Twelve Oaks. Ia dandan secantik mungkin, memakai baju paling anggun untuk menarik perhatian sang pujaan, sehingga saat hari H seluruh mata tertuju padanya. Tinggal kesempatan untuk berdua dengan Ashley yang akhirnya berwujud saat istirahat siang ia menenuinya di ruang perpustakaan. Skenario susunan ia praktekkan, ia mengucap cinta. “Aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Aku tak kan mencintai pria manapun selain kamu. Aku rela ikut ke Virginia bersamamu, memasak untukmu, menyemir sepatu botmu, dan menyikat kudamu. Ashley, katakana kau mencintaiku. Akan kuingat itu sepanjang hidupku.” Meminta Ashley tak mengumumkan pertunangan dan mengajaknya pergi kawin lari. Luar biasa, salut Scarlett. Salut sekali saya, tak semua orang (termasuk pria ya) berani mengambil keberanian setegas itu. Perjuangan cinta! Kalau kau tak punya keberanian untuk memulai, akupun tak akan berani.

Dan seperti prediksi, Ashley tetaplah orang yang berpijak pada realita. Tentu saja ucapkan cintanya tak bisa mengubah fakta pertunangan. Scralett heran, Ashley jua bilang cinta tapi kenapa tak berani melarikan diri, membawanya pergi demi cinta? Egois? Dendam? Yah, jelas ia amarah. Scarlett duduk terenyak. Luapan kemarahan itu membuat lututnya lemas. Kenangan wajah yang ditamparnya itu akan menghantui hingga akhir hayat. Betapa enaknya lelaki, tak perlu merasakan kepedihan yang baru saja ia alami. Saat Ashley sudah keluar ruangan, betapa terkejutnya Scarlett ternyata di Perpustakaan yang dikiranya hanya berdua ada orang ketiga. “Kenapa seorang gadis harus berlagak bodoh agar dapat memperoleh suami?” Dialah Rhett, karakter penting lain. Ia mendengar seluruh pengakuan dan penolakan, ia tahu amarah itu, ia tahu cinta sang gadis. Keadaan yang tercipta sungguh drama berkelas. Rhett justru takjub terhadap Scarlett. Jelas, ia gadis istimewa. 

Penolakan itu berefek panjang. Kalau Ellen yang meminta, pasti Tuhan akan mendengar. Tapi Scarlett yang putus cinta memang bukan setegar ibunya, dengan gegabah langsung membuat keputusan ektrem. Menerima cinta  Charles yang notabene saudara kandung Melanie. Pada usia enam belas, keangkuhan lebih berkuasa daripada cinta. Dalam kurun waktu sesingkat-singkatnya, mereka menikah – bahkan tanggalnya hanya bertselang sehari sebelum pernikahan Ashley! Luar biasa. Keren. Sebagai pengantin baru, ia ternyata menjanda lebih cepat dari yang diperhitungkan. Perang merusak segalanya, Charles harus berangkat mengemban tugas Negara, tewas dalam misi yang bahkan sebelum diterjunkan di medan laga. Ia terkena penyakit. Seorang janda harus dua kali lebih hati-hati dalam bertindak dibandingkan dengan wanita yang masih bersuami. Dalam pikirannya janda seharusnya sudah tua, – sangat tua – sehingga tak punya keinginan untuk berdansa, bercengkerama dan dikagumi.

Scarlett sudah mengandung bayi, saat tahu suaminya meninggal. Dan saat Wade terlahir, ia memutuskan pergi ke Atlanta ke rumah mantan suaminya, bergabung dengan istri Melanie dan suadaranya Pittypat. Ia sudah tak tahaun tinggal di Tara, tanah halamannya, Georgia. Tak tahan dengan kenangan yang menghantui. Oh Atlanta, Sembilan tahun sebelum Scarlett lahir kota ini bernama Terminus lalu menjadi Marthasville. Baru pada tahun kelahiran Scarlett kota ini menjadi Atlanta. Di Atlanta kabar kemelut perang terus berkecamuk. Orang-orang Utara, orang-orang Yankee itu yang diperkirakan akan menyerah dalam waktu singkat justru memberikan perlawanan. Propaganda Pemerintah untuk mengirim para pemuda perang sukses, tapi perang ini yang dikoarkan akan cepat selesai ternyata tak seperti yang dikabarkan. “Tuhan berperang untuk pasukan yang paling kuat.”

Banyak teman dan saudara yang meninggal, dan Ashley yang dulunya pria tampan yang melankolis kini berubah kekar nan keras. Perang mengkonversinya menjadi seorang yang kuat. Adegan treyuh tiba saat ia pulang mengambil cuti, Scarlett mendamba peluk cium tapi jelas Ashley memberinya kepada istri. Pedih. Cinta buta memang pedih.

Sementara Rhett terus membayangi. Sebagai pemuda Charleston ia memang memiliki predikat buruk di mata masyarakat, ia tak ikut pergi berperang, ia makin runyam memberi pernyataan kontroversial bahwa pihak Selatan akan kalah, pasokan makanan dan obat akan tersendat sehingga harga akan melambung, masa sulit segera tiba. Di sinilah letak seni kisah Gone With The Wind. Cinta rumit Scarlett terhadap suami orang, perhatian special Rhett terhadap janda perang, dan kehidupan yang sulit di era Amerika yang belum mapan, menempa segalanya. Walau Rhett Butler sangat menjengkelkan selalu menunggu-nunggu kedatangannya, ada yang mendebarkan dalam pria ini sesuatu yang tak ia pahami karena tak dimiliki pria-pria lain yang dikenalnya. Pintar merayu, “Apakah kau senang jika kukatakan bahwa matamu bagaikan sepasang mangkuk tempat menaruh ikan mas koki yang diisi penuh-penuh dengqan air hijau jernih, sehingga saat ikannya berenang ke permukaan, seperti sekarang ini, kau tampak mempesona.” Jadi bagaimana akhir dari petualangan Scarlett dan Rhett?

Novel 1000 halaman yang harus dipenggal empat jilid (ada sih satu buku tebal, sayangnya malah mendapat yang versi kecil). Yang saya baca adalah seri pertama, Scarlett masih suka merajuk, manja, dan menuruti ego. Kalau dalam film yang durasinya juga luar biasa panjang itu, kita bisa melihat transformasi sifatnya yang menjadi dewasa dan berjuang demi kepentingan keluarga.

Jelas Lalu Bersama Angin adalah salah satu novel paling berpengaruh sepanjang masa…

Lalu Bersama Angin 1 | by Margaret Mitchell | diterjemahkan dari Gone With The Wind | copyright 1936 by Macmilan company | copyright renewed 1964 by Stephens Mitchel and Trust Company | alih bahasa Sutanty Lesmana | GM 402 93.687 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan ketiga, Mei 1996 | 4 jul.; 18 cm.; 584 hlm. | ISBN 979-511-685-1 (no. jil. Lengkap) | ISBN 979-511-687-8 (jil. 1) | untuk J.R.M. | Skor: 5/5

Karawang, 220917-031017 – Sherina Munaf – Sendiri

2 thoughts on “Gone With The Wind – Margaret Mitchell

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s