The Hobbit – J. R. R. Tolkien 

The Hobbit – J.R.R. Tolkien

Fili: “Aku tidak ingin lagi mencium bau apel seumur hidupku. Tongku penuh bau apel. Mencium bau apel terus-menerus dengan perut lapar dan tak bisa bergerak, bisa membuat orang jadi gila. Aku bisa makan apa saja selama berjam-jam sekarang – asal jangan buah apel.”

Setelah terpesona The Lord Of The Rings (filmnya) yang kutonton tahun 2005 sampai beli kaset vcd original komplit seri, saya sempat akan membeli novelnya. Sayang di Cikarang susah sekali menemukan. Seakan sekejap waktu merentang cepat sampai di tahun 2009, saya malah menemukan The Hobbit di tumpukan buku diskon di Carefour Cikarang, dan taa-daaa… saya terkesan. Saya sangat terkesan. Setelah epic Potter berakhir 2007 inilah buku fantasi yang sukses bisa sampai klimak to the maxxx. Tiga tahun terentang ada Bartimaeus trilogy yang juga superb. Speechless.

Filmnya dibagi menjadi tiga, padahal bukunya tak lebih tebal dari al kitab. Dulu antusias menanti, tapi karena yang pertama bagus yang kedua sekedar lumayan, yang ketiga hingga kini belum kulihat. Kisahnya dipanjang-panjangkan, dan banyak sekali yang dicipta baru untuk memenuhi durasi. Karena setting waktu memang sebelum kisah Frodo maka segalanya memang mungkin.

Poin utama cerita adalah kumpulan kurcaci berjumlah tiga belas yang meminta bantuan hobbit cerdas, pintar menyelinap curi dan selalu rindu rumah di Bag’s End, Bilbo Baggins untuk menyertainya perjalanan ke Timur menuntut hak pada naga jahat Smaug yang menguasai lembah penuh emas. Dipimpin Thorin Oakenshield yang ambisius dan disertakan Gandalf the Grey yang memberi saran untuk mengajak Bilbo, mereka berpetualang. Mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir Indah ke samudera. Dihadang berbagai rintangan dan Bilbo tersesat di gua Gollum yang mengakibat sebuah cincin ajaib dikenakan, berhasilkah?

Kutipan-Kutipan

Kami di sini lebih suka hidup tenteram dan tidak menyukai petualangan. Petualangan cuma membawa kesulitan dan tidak menyenangkan. Membuat makan malam jadi terlambat! Aku tidak mengerti kenapa ada orang yang menyukai petualangan. – 15

Hari berikutnya Bilbo hampir melupakan Gandalf sama sekali. Ingatannya memang tidak terlalu tajam, kecuali ia mencatat dalam Daftar Acara. – 17

Dengan tongkat kayu dibabatnya kepala raja goblin yang bernama Golfimbul hingga terpelanting. Kepala raja itu melayang di udara sejauh delapan puluh meter, dan masuk tepat ke lubang kelinci. Maka dalam pertempuran ini pasukan goblin dikalahkan, dan sejak itu pula terciptalah permainan golf. – 29

Waktu melihat tampang orang kecil yang lucu itu, aku sudah mulai ragu. Dia lebih mirip pedagang barang kelontong daripada pencuri! – 30

Bagaimana aku akan bisa mengatasinya? Dan apakah aku akan kembali dengan selamat? – 35

“Jangan seperti orang tolol, Bilbo Baggins!” katanya pada diri sendiri, “Percaya pada naga dan segala dongeng omong kosong dalam usiamu yang setua itu!”

Sampai akhir hayatnya Bilbo tak pernah mengerti, bagaimana ia bisa keluar tanpa topi, tongkat, atau uang atau segala sesuatu yang biasa dibawanya kalau pergi ke luar. – 43

“Sial benar segala urusan ini. Ingin sekali aku berada di rumah, dalam laingku yang menyenangkan, dekat api dengan ketel yang bersiul.” – 45

Semakin sedikit bertanya-tanya, semakin sedikit pula kesulitan yang akan kita temukan. – 47

Bilbo terpaksa berangkat sebelum sempat mengatakan bahwa ia tak bisa menirukan suara burung apa pun. – 48

“Mengapa tidak kautunjukkan dari tadi?” – 58

Jadi sekarang kalian sudah mengerti. Lain kali kalian harus lebih hati-hati, kalau tidak kita takkan sampai ke mana pun. – 60

Sekali lagi ia membayangkan kursinya yang empuk di muka perapian, dalam liang hobbit-nya dan ketel yang mulai bersiul. Bukan untuk terakhir kali! – 62

Kadang-kadang ia terangguk-angguk dan hampir jatuh dari tungganggannya, atau hidungnya menumpuk leher kuda poninya. Makin turun ke bawah semangat mereka makin naik. – 64

“Lembah punya telinga dan beberapa peri punya lidah yang terlalu periang. – 67

Hari-hari yang penuh kegembiraan rasanya tidak menarik untuk diceritakan. Sementara itu, segala hal yang kurang enak, mendebarkan hati dan bahkan menyedihkan selalu lebih memikat untuk diceritakan. – 67

‘tinggi pintu lima kaki dan tiga bisa berjalan berjajar’ – 69

‘Berdirilah dekat batu kelabu waktu srigunting mematuk, dan matahari yang sedang terbenam akan memancarkan cahaya terakhir Hari Durin ke arah lubang kelinci.’ – 70

“Aduh, mengapa aku mau meninggalkan liang hobbit-ku!” kata Bilbo yang terlonjak-lonjak di punggung Bombur. – 85

Mula-mula ia terkejut, tapi lama-lama ia jadi terbiasa. – 89

Kadang-kadang Goblin Besar ingin makan ikan dari danau dan disuruhnya anak buahnya pergi ke sana. Kadang-kadang baik goblin maupun ikannya tak pernah kembali. – 91

Waktu! Waktu! – 97

Ia membayangkan kehidupan Gollum yang tidak mengenal hari, cahaya dan pengharapan. Yang diketahuinya hanya batu keras, ikan dingin, merayap-rayap dan berbisik-bisik sendiri. Bayangan itu melintas sekejap dan Bilbo menggigil. – 107

‘Selama ini dia lebih banyak memberikan kesulitan daripada bantuan pada kita. Kubilang, terkutuklah dia!’ – 113

“Apa yang akan kita lakukan. Apa yang akan kita lakukan? Lepas dari mulut harimau jatuh ke mulut buaya.” – 120

Pohon bukanlah tempat yang menyenangkan untuk diduduki lama-lama, pada saat kapan pun. Lebih-lebih kalau malam dingin dan berangin. Ditambah dengan sekelompok serigala mengepung dan menunggu untuk memakan mereka, tidak ada lagi tempat yang lebih menyedihkan. – 122

“Sekarang aku tahu bagaimana perasaan dendeng yang tiba-tiba diangkat dari penggorengan dengan garpu dan ditaruh kembali di atas rak!” – 132

Ia tidur bergelung di karang yang keras, lebih nyenyak daripada tidurnya di kasur empuk di rumahnya sendiri. Tapi semalaman ia memimpikan rumahnya. – 135

Ingat, kalian tidak boleh keluar dari jalan setapak karena alasan apapun. – 160

Semua tergantung dari nasib baik kalian, serta keberanian dan kecerdasan otak kalian sendiri. – 165

“Bukan itu yang kumaksud. Maksudku, tidak adakah jalan memutar.” – 166

Bilbo berlutut di tepi air dan melihat ke sebarang. Tiba-tiba ia berseru, “Ada sampan di seberang! Aduh kenapa tidak berada di tepi sebelah sini!” – 171

“Apakah hutan terkutuk ini tak ada habis-habisnya?” – 176

“Kenapa aku bangun dari tidur? Mimpiku Indah sekali. Aku mimpi berjalan di hutan yang agak mirip hutan ini. Di tanah ada api unggun. Pesta sedang berlangsung. Ada Raja Peri Hutan di situ mengenakan mahkota daun. Rakyatnya menyanyikan lagu gembira. Aku tak menghitung atau melukiskan makanan dan minuman yang begitu banyak.” | “Kau tak perlu menceritakannya,” kata Thorin. “Kalau kau tak bicara soal lain, lebih kau diam saja. Kami sudah cukup kesal gara-gara kau…” – 179

“Ya, mereka tidak takut. Tapi apa aku tidak takut pada mereka?” – 182

Bilbo berlari berkeliling sambil memanggil-manggil, “Dori, Nori, Ori, Oin, Gloin, Fili, Kili, Bombur, Bifur, Bofur, Dwalin, Balin, Thorin Oakenshield.” Sementara itu, ia merasa ada orang-orang yang tak bisa dilihat dan didengarnya juga berlari mengelilinginya sambil memanggil namanya berkali-kali. – 184

Satu-satunya makhluk yang tidak diberi ampun oleh Peri Hutan hanyalah laba-laba raksasa. – 199

Semua kurcaci diikat dengan tali, dijajarkan dan dihitung. Tapi mereka tak pernah menemukan atau menghitung si hobbit. – 201

“Kami kira kau punya rencana yang masuk akal, waktu kau mencuri kunci tahanan. Ini rencana gila!” – 211

Mereka berhasil meloloskan diri dari penjara Raja Peri. Tapi apakah mereka hidup atau mati, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. – 219

Seandainya mereka tahu apa yang terjadi kemudian, mereka pasti akan sangat terkejut. – 225

Tapi apa yang diucapkannya sangat berlainan dengan apa yang dipikirkannya. – 233

“Kalian bilang tugasku adalah duduk di ambang pintu dan berfikir. Nah, aku sedang duduk dan berfikir.” Tapi Bilbo tidak sedang memikirkan tugas yang dibebankan padanya. Ia sedang memikirkan Daerah Barat nun jauh di sana, serta liang hobbit di bawah Bukit yang menyenangkan. – 240

Para kurcaci gemetar. Takut jangan-jangan kesempatan ini akan lenyap kembali. Mereka mendorong batu sekuat tenaga – namun usaha mereka sia-sia. – 243

“Akhirnya kau melibatkan dirimu dalam bahaya, Bilbo Baggins.” – 247

“Aku tidak diikutsertakan untuk membunuh naga. Itu tugas seorang prajurit. Sebagai pencuri, tenagaku dipakai untuk mencuri harta.” – 254

Aku percaya apa yang dikatakannya, walau aku yakin itu bukan dari pengalamannya sendiri. – 255

“Akulah si pencari jejak, pemotong jaring laba-laba, lalat penyengat. Aku yang terpilih sebagai pemilik nomor mujur.” – 257

“Sisikku seperti perisai berlapis sepuluh. Gigiku deretan pedang, cakarku tombak, dan lecutan ekorku halilintar, sayapku angin ribut, dan napasku tiupan Elmaut.” – 261

“Jangan takut! Selama masih hidup selalu ada harapan, begitulah kata ayahku selalu.” – 270

Yang harus kita cari sekarang adalah jalan keluar, dan kita sudah terlalu lama bergantung pada nasib baik! – 276

Pembicaraan mereka selalu sampai pada satu pertanyaan: di mana Smaug? – 281

“Tempat ini masih berbau naga,” gerutunya sendirian. “Membuatku mau muntah rasanya. Dan aku benar-benar sudah sebal makan cram.” – 304

Meski aku sendiri tak pernah merasa sebagai pencuri – tapi aku pencuri yang jujur. – 311

Tapi perang ini rasanya sama sekali tidak mengandung kebesaran. Bahkan tidak menyenangkan, dan mengerikan. Ingin sekali aku tidak terlibat di dalamnya.” – 326

“Kalau kelak kau lewat di muka rumahku, masuklah. Kalian tak usah mengetuk pintu lagi. Waktu minum teh pada jam empat, tapi kapan pun kalian datang, akan kusambut dengan senang hati.” – 334

Dan aku sangat bangga akan dirimu; tapi kau juga hanya makhluk kecil di tengah alam semesta yang begini besar! – 348

Kutipan yang saya ketik ulang panjang nan banyak ya. Maklumlah ini  buku istimewa. Setiap lembarnya memberi kesan, dan bagian terbaik kesukaanku ada dua yang pertama saat main tebak-tebakan dengan Gollum. Cerdas dan sangat menyenangkan. Saya sampai teriak, ‘wow wow wow’. Satunya lagi setiap Bilbo ingat rumah liangnya yang nyaman. Kalau ditolok ukur kepuasan fantasi, The Hobbit adalah yang terbaik. Lebih hebat ketimbang Harry Potter, Narnia, His Dark Materials  apalagi Bartimaeus. Pertama terbit tahun 1937, jauh sekali dari fantasi era modern J.R.R. Tolkien menulis kisah bak sebuah dongeng yang lezat disantap dalam kondisi apapun. Setahuku doeloe pernah diterjemahkan ke Balai Pustaka, dengan sampul jadul nan klasik. Yang kubaca adalah terjemahan Gramedia, yang syukurlah sangat bagus. Tak ada komplain, ditambah ilustrasi bagus yang membawa bayang, sungguh ini adalah kisah yang sempurna.

The Hobbit jelas masuk 10 besar novel terbaik yang pernah saya baca. Noted!

The Hobbit atau Pergi dan Kembali | by J.R.R. Tolkien | diterjemahkan dari The Hobbit | originally published in English by HarperCollinPublishers Ltd | copyright 1937, 1951, 1966, 1978, 1995 | alih bahasa A. Adiwiyoto | GM 402 02.011 | sampul dikerjakan oleh Eduard Iwan Mangopang | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan ketiga, Mei 2002 | 352 hlm; 23 cm | ISBN 979-686-767-2 | Skor: 5/5

Karawang, 140917 – Sherina Munaf – Bermain Musik

Bride On The Loose 

Bride On The Loose – Debbie Macomber

Elizabeth: “Aku mengetahui beberapa berita yang mengejutkan. The Yacth Club tempat kami merencanakan resepsi, makan malam dan dansa sudah dipesan penuh sampai tiga belas bulan ke depan, kebetulan ada yang batal jadi aku memesankan tanggal itu untuk kau dan Jason.

Harlequin lagi. Pengalaman buruk pertama dulu terulang lagi, kali ini lebih buruk karena kisahnya berjalan dengan plot yang sangat mengada-ada. Mencoba romantis, fail! Mungkin karena memang buku roman picisan bukan genre-ku, tapi siapa sih yang suka cerita cinta-cintaan tak ada tragedi di dalamnya? Happy ending? Dengan akhir pangeran meminang sang putri tanpa banyak kendala? Kovernya saja spoiler berat. Kejadian demi kejadian yang disusun dengan (pura-pura) berkendala, tetap pada akhirnya mereka menikah-kan? Dan buruknya sesuai dugaan. Bah, buku macam apa ini. Bahkan teenlit anak SMP yang so so pun masih jauh lebih menarik. Seperti kata Carrie: “Aku ingin pergi ke pesta dansa dengan Brad melebihi apapun. Tapi sekarang pergi atau tidak aku tak peduli. Seharusnya memang saya tak memperdulikan buku ini. Di tengah gempuran sastra yang saya kejar untuk momen November (daftarnya panjang), novel ini mencuat dari daftar pinjaman yang harus saya selesaikan. Yah, memang harus lebih jeli dalam pilih pilah.

Jason Manning adalah dokter hewan yang punya apartemen, di usianya yang hampir 40 tahun ia lajang. Nonton softball jauh lebih menarik ketimbang kencan! Tampan, kaya, keluarga penuh cinta, karier sangat mapan. Charlotte Weston adalah orang tua tunggal Carrie. Janda cerai dari Tom, seorang sekretatis Perusahaan ternama yang traumatis perhadap pernikahan. Carrie Weston sebagai anak tunggal yang kini sudah ABG, mau lulus SMP menginginkan pesta dansa di perpisahan yang dilarang oleh ibunya karena dianggap masih kecil. orang tua kolot. Kalaupun datang, ia harus diantar olehnya. Gara-gara larangan itulah Carrie berpendapat bahwa ibunya harus move on dari masa lalu, harus segera kembali kencan mencari pasangan. Inilah saatnya, inilah waktunya. Waktu harusnya sudah menempanya untuk bersuami lagi. Dan Carrie yang berinisiatif mengail cowok, calon ayah tirinya.

Jadi Carrie meminta Jason untuk berkencan dengan ibunya, dibayar. Dalam pikiran sang remaja ini, siapa tahu setelah kembali berkencan pola atur kaku orang tuanya akan cair. Awalnya Jason tentu saja menolak berlibat keluarga ini. Namun Carrie dengan cerdik mengakali situasi. Karena mereka satu gedung apartemen, dan Jason sendiri yang punya maka suatu hari Carrie menyusun strategi bagaimana caranya Jason ke tempatnya. Keran air dirusak, Carrie menelpon Jason untuk memperbaiki, sebuah taktik biar pertemuan mereka seolah natural. Baut diberikan saat Jason yang pura-pura memperbaiki, dan saat mereka sedang berdebat kecil bagaimana selanjutnya, Charlotte curiga sehingga meminta penjelasan. Terbongkarlah rencana-rencana itu. Dan dengan marah sang janda mengultimatum bahwa esok pindah saja! “Dia tak bermaksud apa-apa. Dia hanya berusaha berbuat baik padamu. Anggap saja ini sebuah hadiah Hari Ibu yang kepagian.

Namun kisah dirajut tak seterjal yang diharap. Segera setelah mengusir, Charlotte ke apartemen Jason meminta maaf, tak jadi pindah dan malah ambil popcorn untuk ikut nonton softball. Di perpisahan mereka ciuman. Bah! Kisah macam apa ini. Freddy S saja menyusun cerita cabul tak senorak ini. Bagaimana bisa, habis marah tak lebih dari lima menit dengan sekotak popcorn dan laga live olah raga di tv (bahkan itu bukan sepak bola!), semua reda. Dan setelahnya dengan sangat mudah ditebak ke arah mana kisah ini. Lurus, lempeng bak di jalan tol dini hari. Kecepatan di atas 100 km/jam, tak ada rintang tak ada lawan, gas terus pol dan taa-daaa akhir yang bahagia.

Tantangan ibunya yang menyewa yatch dengan dipaksa nikah dalam waktu tiga minggu hanya gelitik semu sebuah taburan bunga. Masalah pekerjaan Charlotte yang ga sreg sama bosnya sehingga memutuskan resign seakan hanya obrolan santai anak-anak di sela main kelereng. Acara dansa Carrie bahkan tak se-mengusik pikiran sedari awal, hanya jadi picu sebuah busi karatan yang sekali pakai bisa langsung dilempar ke tengah kali. Buruk, sangat buruk. Dibanding buku-buku sederhana karangan KKPK – Kecil-Kecil Punya Karya lokal saja kalah ini. Coba bayangkan, apa masalahnya: pria tampan, profesi mapan, lajang, sabar, dan senyumnya bisa membuat bunga langsung rontok. Dipertemukan janda cantik, beranak manis. Nikahnya aja di yacth dan semua keruwetan pra-nikah sudah ga dipusingkan karena sudah dipersiapkan keluarga. Tak pusing cari survenir, tak lieur cetak undangan, tak pening pula cari vendor buat pre-wed. Semua sudah terstuktur masive, ibarat nikah tinggal datang bermodal kolor. Sah! Hadeh, benar-benar plot kisah yang buruk.

Dengan tulisan tambahan di kover ‘Those Manning Man’ ternyata ini adalah seri ketiga dari Debbie Macomber tentang keluarga Manning. Ini jelas cerita pure romance happy ending, tak ada tragedi tak ada konflik yang benar-benar berarti. Hebat, Jason adalah karakter penyabar yang benar-benar idaman. Saat jadi harapan terakhir Manning family yang pernikahannya akan dirayakan gede-gedean karena kaka-kakanya nikah sederhana macam nikah siri pula, ia dengan sangat sabar meladeni permintaan gila orang tuanya. Saat sang mempelai dengan oon-nya kabur dari pernikahan beberapa jam sebelum kick off ijab kabul, ia dengan sabarnya mencari, meminta untuk tabah dan hadapi bersama. Saat ia dipermainkan remaja labil, ia dengan sabarnya membantu masih dengan nada humor, “menjijikkan adalah kata yang bagus.” Benar-benar bak superman. Seakan ia adalah pria idaman. Yah, cerita selurus ini. Mana menarik?

Sempat berharap saat Charlotte kabur ini akan jadi twist, ternyata tak terwujud. Saat adegan intim jelang akhir, dengan trauma sang mempelai kuharap akan terjadi sesuatu yang mengejutkan. Saat dibuka bajunya baru ketahuan Charlotte ganti kelamin, misalkan. Ah ternyata bukan. “Terbukalah padaku, aku tak kan menyakitimu. Lebih baik aku mati daripada menyakitimu.” Debbie jelas memberi penggemar cerita Disney bertepuk tangan. Saya membacanya dalam dua kali kesempatan duduk. Walau halaman nyaris 300 tapi karena cerita ringan ya lempeng aja. Jelas ini buku sekali baca dan lupakan. Tak perlu dibenamkan ke dasar lumpur deh, kan ini buku pinjaman. Sebuah karya sederhana yang tak layak dipajang di rak. Di kover juga tertulis koleksi istimewa? Yang ada stempel superb aja macam gini bagaimana yang biasa?  Wahai pembaca atau kolektor Harlequin, adakah buku yang benar-benar hebat dari seri ini? Coba pilih yang menurut kalian yang terbaik dan sodorkan ke saya, siapa tahu bisa mengubah hakim bahwa ini serial adalah deretan karya hampa. Ada?

Kau sungguh cantik. Charlotte kau dengar aku, kau sungguh sempurna!”

Harlequin: Kesempatan Kedua | by Debbie Macomber | diterjemahkan dari Bride On The Loose | copyright 1992 | this edition is published by arrangement with Harlequin enterprises II B.V. | alih bahasa Vivi Wijaya | GM 402 02.005 | sampul dikerjakan oleh Marcel A.W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, April 2002 | 296 hlm; 18 cm | ISBN 979-686-754-0 | Skor: 1,5/5

Karawang, 150917 – Jessie J – Ain’t Been Done

Thnx to: Melly Potter, teman Meyka yang meminjamankan buku ini.

Botchan – Natsume Soseki

Tempat ini terlalu kecil untuk menyimpan rahasia.
A modern classic. Pertama baca tahun 2010 saat mengantar teman cari buku kuliah di pameran buku Pujasera, Cikarang. Saya beli hanya karena iming-iming tulisan back-cover ‘Seperti cerita The Adventure of Huckleberry Finn…’ yang seakan berteriak inilah Twain versi Asia. 

Membaca Botchan memberi pembenaran bahwa semua manusia punya talenta dibalik segala tindak buruk yang terlihat. Botchan adalah anak nakal, membuat berang orang sekitar. Hanya pelayan keluarga yang benar-benar percaya bahwa dibalik semua masalah yang dibuat ia memiliki sesuatu yang luar biasa sehingga sang pelayan menyayanginya. Dan saat beranjak dewasa, ia dipaksa jauh dari kampung halaman, pembuktian itu bisa. Ia menyata, ia ‘sukses’. Dikirim ke pelosok sebagai guru awalnya Botchan menganggap bahwa daerah terpencil itu kuno, warga Tokyo yang meremehkan. Namun siapa sangka, ia menemukan banyak pelajaran dan pengalaman hidup yang sangat berharga. Segala pengalaman itu dilimpahkan dalam buku 200 halaman yang sungguh menakjubkan.

Sedari pembuka kita sudah diperingatkan bahwa sang tokoh utama, ‘Aku’ ini orangnya nekad dan melakukan tindakan tanpa pikir dua kali. Lompat dari lantai dua karena hanya ditantang teman, menggores jari dengan pisau hanya karena diledek, dan berkelahi. Kenakalan-kenalakan anak-anak. “Anak itu begitu kasar dan berandalan, entah akan jadi apa nantinya.” Ibunya meninggal setelah sakit keras dengan gertakan kakaknya bahwa ia anak celaka. Saat tinggal dengan ayahnya yang aneh, ia hanya berkomentar, “Kau tidak berguna! Tidak berguna!”

Hanya Kiyo yang menggapnya tidak dibuang. Pelayan keluarga yang sudah sepuluh tahun mengabdi, ia lah pembela saat kenakalan Botchan kambuh. Ia selalu berprasangka baik, “Kau selalu berterus terang, sifatmu baik.” Sikap blak-blakan itulah yang jadi landasan Kiyo, Botchan akan ‘jadi orang’ suatu hari nanti. Dia percaya bahwa orang sepeti aku akan sukses dalam kehidupan dan menjadi orang besar, sedangkan kakaknya yang selalu belajar giat akan menjumpai kegagalan total, meskipun kulitnya putih bersih bak bangsawan. “Kau pasti bisa!” Kiyo selalu bersikap bijak, memberi uang lebih, membelikan makan, merawat dengan hati.

Saat akhirnya Botchan yatim piatu, bulan Januari tahun keenam setelah kematian ibunya. Bulan April ia lulus sekolah, bulan Juni kakaknya lulus sekolah bisnis. Kakaknya pindah ke Kyushu karena mendapat tawaran kerja yang menarik, Botchan harus tetap di Tokyo meneruskan studi. Kakaknya memutuskan memjual rumah, membagi uangnya berdua. Memberi uang pisah kepada Kiyo, dan mengucapkan selamat tinggal. Dengan lima ratus yes, Botchan menimang masa depan. Akhirnya memutuskan mengambil kesempatan Sekolah Ilmu Alam Tokyo. Selama tiga tahun belajar keras ia lulus walau pas-pasan. Delapan hari setelah kelulusan ia dipanggil kepala sekolah, bahwa sebuah Sekolah Menengah di Shikoku membutuhkan guru matematika, gajinya empat puluh yen sebulan dan ditawarkan kepadanya. Walau tak berkeinginan menjadi guru, ataupun tinggal di pedesaan ia ambil kesempatan itu karena ia tak tahu harus ngapain. Sebuah spotanitas yang disesali.

Sebelum berangkat ke Shikoku ia mampir ke tempat tinggal Kiyo, di sana Kiyo tinggal sama ponakan dan selalu membual bahwa Botchan akan jadi orang hebat dan memberitahu saudaranya segala hal hebat tentangnya, selepas lulus ia akan membeli rumah mewah di Kojimachi. Karena Kiyo sudah memutuskan sendiri dan mengumumkan semua bayangan itu, aku mendapati diri dalam posisi sulit dan tersipu. Sebelum pamit ia berujar, “Botchan kapan kau membeli rumah?” walau sudah dijelaskan membeli rumah tak semudah membalik telapan tangan, ia selalu membesarkan hatinya. “Aku harus pergi sekarang, tapi aku akan segera kembali. Aku pasti ke sini saat liburan musim panas tahun depan.”

Dikiranya Botchan hanya akan pergi ke sisi barat Hakone, tempat yang tak seberapa jauh dari Tokyo. Wanita seperti ini memang hanya membuatmu putus asa. Tapi saat bermamitan di stasiun adegan biru tersaji. Ia sudah naik kereta, dia menatap lekat-lekat dan berujar, “Ini mungkin kali terakhir kita bertatap muka. Jaga dirimu baik-baik.” Matanya dibanjiri air mata, aku tak menangis tapi hampir melakukannya. Kereta bergerak dan petualangan Botchan di tempat baru pun dimulai.

Setelah berpindah kapal dan kembali naik kereta ia tiba di sekolah tempatnya mengajar, berkenalan dengan kepala sekolah, guru lain dan tentu saja si guru matematika senior si Landak Hotta. Saat hari pertama mengajar para murid ribut sekali, sesekali ada yang memanggilnya ‘sensei’ dengan suara berlebihan. Saat sekolah ilmu alam dulu ia juga memanggil guru sensei, tapi saat dirimu yang dipanggil dengan kata hormat itu, rasanya ada sensasi menggelitik menuruni tulang rusuk. 

Sejak saat itu Aku setiap hari pergi ke sekolah, sesuai perintah dan mematuhi semua peraturan dan setiap hari pulang si pemilik rumah sewa akan menawari ‘menyeduh teh’. Rutinitas terbentuk, dan waktu memang obat mujarab menghadapi kesulitan. Adaptasi, di tanah rantau dengan uang minim dikombinasi kerja keras memberikan suatu hasil yang menakjubkan. Ditambah pengalaman kenakalan anak-anak dulu yang pernah ia alami, maka ia lebih bisa menghadapi masalah. 

Hanya karena pintar berargumen bukan berarti ia orang baik. Sama hal nya dengan orang yang dikalahkan dalam argumen, ia jahat. Kalau kau bisa membeli kekaguman seseorang dengan uang, kekuasaan atau logika maka lintah darat, polisi dan profesor universitas akan memiliki lebih banyak pengagum ketimbang siapapun. Bayangkan aku dikalahkan logika sekedar kepala sekolah menengah sungguh menggelikan. Manusia bergerak berdasarkan perasaan suka atau tidak suka bukan melulu dengan logika. – 155

Aku mengalami dilema. Sarjana sastra memang setan pandai bicara. Mereka menyambar satu titik lemah kemudian terus menyerangnya, menjadikan cemas dan terganggu sampai mereka mendapatkan apa yang diinginkan. – 153

Mereka berkelahi karena hal-hal yang sepele. Menurutku karena mereka tinggal di daerah terpencil, ini hanya salah satu cara mereka membunuh waktu. – 180

Aku meremas koran hingga menjadi bola dan melemparnya ke taman, tapi karena ini kurang membuatku puas aku mengambilnya kembali dan membuangnya di toliet. – 195

“Masalahnya ini memang rumit. Kalau mengatakan apapun, kita akan dicap melemparkan tuduhan palsu sungguh memusingkan. Terkadang aku menjadi ragu apakah ada keadilan yang datang dari langit.” – 200

Botchan terbit pertama kali tahun 1904 dan menginspirasi banyak pembaca. Novel ini mengajarkan kehidupan bagaimana menghadapi kenyataan dengan gentlemen di tenag kerusakan moral masyarakat. Ia adalah protagonis yangseakan antihero, melawan arus dengan keterusterangan dan tak memandang jabatan harus digenggam erat. Pemberontakannya akan sistem yang kolot dan lebih menguntungkan segelintir orang juga memberi gambaran karakter Botchan yang melawan. “Saya tak peduli pada karier saya, keadilan lebih penting.

Kovernya keren. Mengambil sembilan gambar dalam kotak di mana salah satunya ternyata berlubang. Judul yang bold putih beedasar hitam yang mencolok sungguh cathy. Layak dikoleksi dan dipajang berjajar novel sastra megendaris lainnya. Kisahnya sendiri terhenti bak di tengah jalan. Saat keputusan itu diambil, ia bahkan tak berkabar sama sekali dengan kolega. Menggoncang rel saat kereta sedang melaju nikmat, terasa menggangu? Enggak juga, bahasanya yang ringan dan mudah dicerna sudah cukup. Dan jelas Botchan adalah salah satu novel terbaik yang saya baca. Klasik yang menawan. 

Botchan | by Natsume Soseki | GM 402 09.017 | diterjemahkan drai bahasa Jepang olhe Alan Turney | alih bahasa Indah Santi Pratidina | sampul dan ilustrasi cover Martin Dima | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ceyakan keempat, Januari 2010 | 224 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-4417-5 | skor: 5/5

Ruang HRGA CIF – Karawang, 120917 – Sherina Munaf – Sendiri

Pekan 3:Lazio V Milan 

Perkiraan Line-up Lazio vs Milan

3-4-2-1

Strakosha

Wallace-de Vrij-Radu

Basta-Parolo-Leiva-Lulic

Sergej-Luis Alberto

Immobile

LBP

3-0

Kemenangan istimewa di kandang Keledai akan memicu kemenangan lainnya. Rektutan baru Portugal akan jadi pembeda. Biglia meringis aja kau. 

Kadita Ayu

Lazio 1-3 Milan, Çalhanoğlu

Lazio mungkin sulit menang. Mereka akan tumbang. Milan pasti menang.

Damar

Lazio 2-1 Milan, sSavic

Lawan sesungguhnya Lazio tersaji di Olimpico’s Inzaghi akan mengeluarkan ramuannya lagi.  Milan tumbang padamalm tersebut. Grande Lazio

PrapAtan

Lazio 1-1 Milan; Suso

Milan belum padu. Hal itu membuat lazio sukses menguasai jalannya pertandingan. Namun sayang mereka sebelumnya udah ngeper duluan. Silau dengan lawan yang lebih kaya, lebih berada. Dalam hati kecil, mereka takut kalau lawannya ini akan membeli mereka. Saksikan laga yg tak akan seru ini. 

Arief

Lazio v Milan 0-2. Suso

Lazio sangat kehilangan Biglia. Lazio merasa dilangkahi Milan dalam perekrutan Borini. Suso bakal kembali jadi ancaman utama Lazio. Layaknya di bursa transfer, Milan akan kembali memberikan gangguan di atas rumput.

Dj-O

Lazio 1-3 Milan, Andre Silva

Kekuatan baru Milan mulai padu. Seperti ikan hiu. Memangsa elang sampai tersedu sedu.

Bagas

Lazio 0 – 2 Milan, patrick cutrone

Bagaimanapun milan harus menang, walaupun main dikandang elang optimis 3 poin, forza milan

Christian

Lazio – Milan 0-4

Cutrone

Pembantaian pertama Milan musim ini, Lazio tidak berkutik lawan Milan. Dengan Squad barunya, Milan dijagokan sebagai Kandidat juara bersama Nyonya Tua.

Siska

Lazio 2-2 Milan

Immobile

Sebenernya berharap Lazio menang, secara gitu ada Luis Alberto dan Lucas Leiva. Tapi sepertinya belum bisa. Yaudah sih seri aja.

My name is Ajie

Lazio 3-3 Milan, Immobile

Laga sama kuat. Keduanya bisa dikatakan sekelas. Hasil yang adil.

GG

Lazio 4-2 Milan,  Cutrone

Lazio berpesta di kontrakannya. Om Bud gembira. Pulsa mendarat sempurna.

arifin panigoro

lazio 2-1 milan. immobile.

Lajio menang. milan tumbang. Om budi girang. Om pulsa om.  

agustino Capote calciopoli

Lazio 2 – 0 milan.

Gol fellipe bale

Motivasi lebih tim kasta sudra untuk mengalahkan tim kaya baru.Jual beli serangan sepanjang malam.Dan akhirnya keberuntungan yg bicara.Uang milan g bisa membeli kemenangan

Takdir 

Lazio 2-0, Nani 

Eks. MU beruntung bisa berbaju The Great laiknya Jaap Stom. Sambutan istimewa Laziale memberi bukti antusiasme tinggi. Pilihan nomor 7 juga ga sembarang, bandingkan dengan Bruno 66, Pedro 30. “Saya begitu termotivasi, jelas Lazio adalah pilihan terbaik untuk karir saya. Bermain sayap atau di belakang stiker siap.” Tenda tanda gol debut?

Depok, 100917

Biru – Fira Basuki

Are you in trouble financially, Candy?
Momentum itu penting. Timing saat membaca buku ini begitu pas sehingga membekas setelah 12 tahun berlalu. Di tahun 2005, setahun jelang Reuni Akbar STM1SKA-Elektronika saya menemukannya di toko buku Book Store, Lippo Cikarang. Membacanya seakan menelusuri kenangan-kenangan saat sekolah. Sebagai buku pertama Fira Basuki yang saya nikmati, buku ini jelas yang terbaik. Setelahnya saya sempat melahap Rojak dan sempat beringinan baca Trilogi Rumah yang sayangnya belum kesampaian hingga kini. Di tahun 2010 sang Penulis juga memberi kenangan manis saat ada diskusi buku baru beliau di Gramedia Matraman, Kapitan Pedang Panjang. Saya yang datang dengan teman-teman film, Gila Film begitu antusias. Di jeda acara saya dapat kepastian dari teman lama, sebuah kepastian yang menghantarku ke Karawang – hingga kini.

Malam biru: Lanskap langit mencurahkan biru ke Januari matamu | binari bulan mencurahkan waktu ke biru langit matamu | marak malam mencurahkan aku ke cakrawaka matamu (Joko Pinurbo, 2003)

Setelah pengantar dan ucapan terima kasih serta alasan kenapa memilih warna Biru yang menyita lima halaman kita diajak mengarungi samudera kehidupan. Kisah utamanya adalah reuni. Menuju ke sana kita diajak bersafari dalam 6 tahapan kisah. Pertama undangan, kedua 90 hari, ketiga 1982, keempat 60 hari, kelima 3 hari dan yang terakhir hari H: Reuni. Buku ini pertama terbit tahun 2003 dan kisah pembukanya adalah sebuah setting waktu bulan 29 Agustus 2002, hanya setahun sebelumnya. Proses penulisan sampai akhirnya di tangan Pembaca berarti cepat juga ya. Undangan reuni SMA Surya Bogor yang akan dilaksanakan tanggal 2 November 2002 di Hotel Grand, Senayan, Jakarta. Reuni angkatan 1982 itu akan bertema BIRU. Nah dari sinilah kisah itu dimulai, menuju kumpul-kumpul. Kita diajak mengenal mereka yang akan datang. Cerita menuju Reuni Biru.

Pertama Ana aka Rohana sang ibu rumah tangga yang sempat minder untuk reuni, mungkin teman-temannya sudah pada sukses materi sementara ia di rumah mengurus keluarga. Anak-anak sudah sekolah, kegiatan di rumah sudah ada pembantu. Hampa. “Aku harus memiliki sesuatu, sesuatu  yang membuat aku diperhatikan di reuni nanti.” Putrinya Mita nantinya akan jadi penghubung segala keruwetan cerita.

Kedua Pura aka I Gde Anunya (haha…) – Jakarta, sopir taksi yang hobi ngeband. Gitaris band Biru, kenapa nama band-nya Biru? Karena banyak membawakan lagu-lagu blues, jazz. Sudah lima belas tahun menyupir, sempat kuliah akutansi tapi drop out karena memang jiwanya ada di musik. Sayangnya saat mereka akan serius menggeluti musik, anggota band ada yang kena kasus narkoba.

Ketiga Aris aka Horison sang ketua panitia. Seorang aktivis LSM yang korup. Menikah dengan Diana dan punya putra berusia lima tahun. Aris dihantui masa lalu, sering mimpi buruk. Masa lalunya kelam, dibesarkan di panti asuhan, karena ibunya Gloria adalah korban seksual. Masa lalu itulah yang membentuk dirinya, keras, playboy dan menanggung dosa. Mimpi-mimpi seperti puzzle di kepala. Aku pernah ke sana, ke alam itu. Rasanya aku pernah di sana dan merasakannya. Dari hari ke hari aku merasakannya dan mengingatnya . Sepertinya aku pernah hidup di mimpi-mimpi itu. Mimpi buruk sang Horison Ford.

Keempat Lindih, korban cabul Aris. Si gembrot yang terpedaya. Keluarganya diambang berantakan, suaminya terlihat miskin. Berjuang cari uang bersama, menabung dan prihatin. Sayangnya sang suami selingkuh, ia kecewa karena saat menikah Lindih sudah tak perawan. Setiawan menyusun harapan di luar. Dan terbentuklah cinta segitiga, rumit.

Kelima Kira, sebagai WIL – Wanita Idaman Lain yang menghantui rumah tangga orang. Kira merasa kesepian, serba salah. Bahkan ada dalam dau paragraf penuh menjelaskan ketika libidonya naik ia tuntaskan dengan timun. “Kenapa Mr. T, kamu juga kesepian?” Gadis lain Mas An.

Keenam Mario Fernando aka Yo-Yo – alam liar, teman dekat Cindy. Hubungan mereka yang dominan dalam kisah bahkan nyaris memakan ¼ bagian juga akan jadi kunci sukses tidaknya reuni. “Seringlah datang malam-malam, Can-Can. Datanglah dalam mimpi nyataku…” Hobinya jalan-jalan menaklukkan ketinggian, hiking, travelling. Berkat temannya Steve McGill dari Amerika yang bertemu di Rocky Mountain, Colorado ia mendirikan Perusahaan petualangan ‘Go Out’ yang sekaligus kampanye pelestarian lingkungan. Setelah bertahun-tahun, begitu lamanya perbuatan kita yang mengusiknya planet bumi menjadi terganggu dan capek. Ia pun kesal dan kemudian tak heran ngambek dan mulai membalas dengan angin ributnya, gempa bumi, gunung meletus… Yo-Yo punya masalah kelamin dan mendamparkannya sampai Filipina.

Ketujuh Cindy van Cook – Singapura seorang model yang mulai mengeluhkan penampilan fisik. Secantik siapapun kita tak bisa melawan usia. Keriput di wajah, kelebihan berat badan, mudah lelah. Keseringan pandang cermin cemberut sampai nyanyi lagunya Diana Ross: ‘Mirror mirror on the wall. You turned my life into paperback novel. Words that come to life. Tell me mirror mirror on the wall…’ Obsesi tiada henti. Segala kosmetik dan pengobatan mujarap dicoba melawan waktu.

Buku ini menonjolkan feminisme. Fira dengan jeli menampilkan karakter kuat para perempuan dengan segala problematikanya, tak ada gadget tentunya karena setting utama ya sebelum era Millenial. Dari perempuan kesepian karena menjadi orang kedua sampai korban pemerkosaan. Dari perempuan yang mengutama fisik sehingga harus selalu tampil cantik sampai perempuan kuat menatap kenyataan. Tak ada tokoh utama, tak ada antagonis, semua ditampilkan seseimbang mungkin. Hebatnya buku ini disusun dengan kedekatan personal seakan kenyataan tragis yang dialami para tokoh itu memang ada di sekitar kita. Benar-benar unik untuk buku lokal. Tak seperti Dee yang ngawang-awang dan sok intelek. Saya lebih suka gaya Fira dalam bercerita, real, membumi. Fira menggunakan setting tempat-tempat yang pernah ditinggalinya, atau paling tidak disinggahi sehingga penggambarannya bisa benar-benar terasa di antara kita. Dari Amerika, Filipina, Singapura, Bogor, Surabaya dan tentu Jakarta. Profesinya di majalah Cosmopolitan juga segaris lurus dengan penokohan karakter. Salute!

Di bulan Februari 2010 dalam catatan Facebook, saya pernah posting berjudul ‘Andai Aku Menjadi…’. Ada lima pengandaian yang kusebut. Dan salah satu yang paling kuingat adalah Andai Aku Menjadi Produser Film, pengandaian yang kini mustahil terwujud setelah 8 tahun bergerak. Lengkapnya:

Jika Aku menjadi produser film dengan hak penuh. Maka aku akan menunjuk Riri Riza menjadi sutradara untuk menfadaptasi novel karya Fira Basuki dengan cast: Vino G Bastian – Mario, Marsha Timothy – Anna, Sisy Prescilia – Candy, Nirina Zubir – Kira, Nico Saputra – Pura, Julia Perez (alm) – Lindih. Untuk cast terakhir mungkin syutingnya agak lama. Tapi aku tetap menginginkan Jupe agar dia punya satu saja (minimal) film berkualitas, walau satu scene membutuhkan take puluhan kali aku tak peduli. Aku biayai salon untuk rebonding rambut Riri Riza agar beliau tak stress karena mengurus satu seleb satu ini. Jika Jupu gagal dan menyerah maka (anggap aku punya opsi no 4) aku akan mendeportasinya ke Uruguay, melarang penayangan dirinya di media massa dan tentu saja menutup iklan kondom yang menggunakan ikon dirinya. Soundtrack jelas aku berikan keleluasaan pada Sherina Munaf, screenplay biar Lazione Budy membereskan. Percayalah! Di adegan ending menampilkan reunian aku akan muncul sebagi cameo. Mengajak serta sebagian (besar) teman-teman Elektronika C 2003 untuk tampil walau sesaat. Lalu dalam kerumunan di depan ballroom hotel Grand aku berbincang dengan kepala suku EC: “Eh, kamu siapa sih? Kita ngobrol dari tadi, aku lupa-lupa ingat, sorry…!”

Mereka menyebutnya binatang. Aku menyebutnya pahlawan. Aku akan menutup mata dan telingaku rapat-rapat. Tapi aku akan membuak mulut di pengadilan nanti, suamiku yang baik, bukan saja seorang kekasih yang baik, tetapi juga seorang ayah yang baik… aku harus tahu, atau paling tidak itu yang harus aku percaya. Aku harus melindunginya, ia suamiku.

Biru | oleh Fira Basuki | GM 501 03.207 | editor A. Ariobimo Nusantara | pewajah isi Suwanto | foto Ivanho Harlim | Penerbit Grasindo – Gramedia Widiasara Indonesia | cetakan kelima, Juli 2004 | ISBN 979-732-099-5 | Skor: 5/5

Karawang, 090917 – Sherina Munaf – Semoga Kau Datang

In Cold Blood – Truman Capote

Hati-hati dengan apa yang kamu harapakan. Delapan tahun lalu sesaat setelah menonton film Capote dengan bintang Phillip Seymour Hoffman, saya berharap bisa menikmati buku terbaik Truman Capote, In Cold Blood. Selang berapa lama, saya sms teman-teman memberitahu betapa film ini sangat inspiratif. Salah satu yang membalas sms itu adalah Opan, teman dari Bogor yang bilang film tentang Penulis yang rekomended yang kebetulan ia sedang proses menulis novel. Belakangan kita ketahui berjudul Dead Smokers Club (trilogi). Mungkin Opan sudah lupa dengan pesan yang dia kirim, tapi siapa sangka kini justru dia malah jadi salah satu Penyunting buku ini! Hati-hati dengan harapan Anda!
Saya berhasil menyelesaikan baca dalam sekali telan. Mulai baca di tanggal 2 September dini hari sesaat setelah Jerman menang dramatis Ceko dan selesai sore harinya saat akan berangkat menjemput May. Hebat, karena buku ini mengelem erat pembaca untuk tak beranjak. Terus ditahan dan dibuat penasaran, sebuah momen sukses bila kita dipaksa duduk terus, mengabai keadaan sekitar. Dalam lima bab yang sangat panjang, tulisan kecil-kecil yang menembus 500 halaman, bersyukurlah saya mewujud menikmatinya.

Kisahnya bukan teka-teki pembunuhan karena sedari awal sudah diberitahu bahwa ada satu keluarga di temukan tewas secara sadis di Holocomb, Kansas. Para pembunuh juga sudah dijelaskan beriringan, siapa pelakunya. Tragis motif utama kasus ini adalah uang yang tak lebih dari 50 Dollars. Di sampul belakang juga sudah diberitahu bahwa enam minggu kemudian dua residivis yang sedang menjalani bebas bersyarat, ditangkap. Kemudian plot bergerak maju hingga akhirnya penentuan nasib mereka untuk mempertanggungjawab. Semuanya gamplang, tak ada misteri tak ada tanya. Lantas apa yang membuat penasaran? Daya pikat utama buku ini adalah cara bercerita yang unik, khas kisah fiksi yang mendayu, padahal ini bukan buku maya.

Keluarga Herbert Clutter digambar sebagai keluarga yang ideal. Memiliki kekayaan melimpah, dua anaknya merantau yang satu sudah menikah yang satu lagi dalam proses. Dua lagi masih tinggal bersama tapi punya masa depan cerah dengan kecerdasan dan kemampuan istimewa. Sayang semua kebaikan itu lenyap hanya dalam semalam. Herbert, Bonnie istrinya, putranya Kenyon dan putrinya Nancy ditemukan meninggal di Minggu pagi yang cerah tanggal 16 November 1959 di rumahnya di River Valley Farmasi, Holcomb. 

Pembunuhnya adalah Richard ‘Dick’ Hickock dan Perry Smith. Mereka mengincar brangkas yang ternyata zonk. Kabur ke Meksiko hura-hura melakukan kejahatan-kejahatan, pesta hampa, lontang-lantung sampai kehabisan uang hingga memaksa kembali ke Amerika dan tertangkap. Penangkapan dipimpin oleh detektif Dewey. Setelah mengalami hari-hari yang menghantui untuk menuntaskan kasus ini akhirnya bisa teratasi. Uniknya pemicu tahu siapa tersangkanya bermula dari ocehan narapidana Flyod Wells, teman satu sel Dick. Akhirnya tuntas di tanggal 14 April 1965 di Lansing, Kansas. Hufh…, roller coaster terhenti.

Buku terbagi dalam empat bagian yang sangat panjang. Saat Terakhir Kehidupan Mereka. Orang-Orang Tak Dikenal. Jawaban. The Corner. Kisah menanjak terus sedari awal, sempat akan drop ketika sampai di penjara. Kekhawatiran buku 24 Wajah Billy yang seakan membaca jurnal perkara kejahatan menghantui, namun tidak. Was-was itu lenyap saay Capote menawarkan kesegaran kisah dengan mencerita rekan penjara dengan lebih intens. Sehingga turunan itu hanya sebentar, lalu tanjakan lagi hingga akhir yang sangat manis. Sebuah bayang masa depan sang Gadis yang ditulis dengan senyum. ‘seorang gadis cantik yang terbirit-birit, rambut lembutnya berayun-ayun, bersinar-sinar – persis seperti perempuan muda itulah kemungkinan Nancy akan tumbuh.’

Berikut Kutipan-Kutipan

Tetapi siapa yang menginginkan New York? Tetangga yang baik, orang yang saling mengenal dan peduli satu sama lain, itulah yang penting. – halaman 50

“Selesaikan pekerjaanmu, saksikanlah dan berdoalah: karena kamu tak tahu kapan akhirnya tiba.” – 45

“Hanya untuk membuktikan bahwa aku pernah berhasil dalam sesuatu.” – 394

H: Head, Heart, Hands, Health – halaman 52

Nancy Clutter selalu tergesa-gesa, tapi ia selalu punya waktu. Dan itulah definisi seorang lady – 36

“Aku tidak semiskin penampilanku, ambillah apa pun yang bisa kalian dapatkan.” – 18

“Mungkin lebih baik begitu. Para biarawati adalah sekumpulan pertanda buruk.” – 71

Mr. Clutter mungkin lebih ketat dalam beberapa hal – agama dan sebagainya – tetapi ia tidak pernah mencoba membuatmu merasa bahwa ia benar dan engkau salah. – 78

Hanya kini setelah kutimbang-timbang lagi, kupikir mestinya seseorang bersembunyi di sana. Mungkin di antara pepohonan. Seseorang menantikan aku pergi. – 81

Kita sudah menjalani seumur hidup kita di neraka, sekarang kita akan mati di surga. – 105

Kematian, brutal, dan tanpa motif yang jelas. Terpicu reaksi Mother Truit: takjub, larut dalam kedukaan. Suatu sensasi horor yang dangkal, yang diperdalam oleh ketakutan pribadi.- 108

“Namun kehidupan tersebut dan apa yang telah dicetaknya – bagaimana hal itu terjadi, Erhart menerung saat disaksikannya api membesar. Bagaimana mungkin upaya semacam itu, suatu kemuliaan yang nyata, dalam semalam saja direduksi hanya menjadi – asap, menebal membumbung hingga ke angkasa, disambut oleh langit luas dan menghilang. – 121

Kelurga ini mempresentasikan segala sesuatu yang benar-benar dihargai oleh orang-orang sekitarnya, maka hal semacam ini bisa saja terjadi pada mereka – well, ini seperti diberitahu bahwa Tuhan itu tidak ada. Akibatnya hidup ini tampak tak berarti. – 135

Saling mengabarkan hari kami, dan pada saat makam malam siapa, aku tahu kami punya alasan yang bagus untuk berbahagia dan bersyukur. Karena itu kuucapkan, Terima Kasih Tuhan. Bukan karena kewajiban melainkan karena aku menginginkannya. – 163

Ia tahu bahwa ia mengawali sebuah percakapan yang menjengkelkan Dick – 169

Yang dibacanya cuma sampah – buku-buku komik dan sampah koboi. Ia oke. – 172

“Tampaknya kita kehilangan setiap orang, dengan satu dan cara lain.” – 180

Berbaring kecanduan matahari dan lesu tanpa gairah, persis seperti seekor kadal yang tidur siang. – 182

“Kuharap akan ada selalu seorang Clutter di sini, dan seorang Herm juga…” – 186

Seseorang bertanya apakah ia seorang pejalan kaki yang meminta tumpangan – hitchhiker? Mencari tumpangan ke New Meksiko? – 190

Dua dollar sehari. Meksiko! Honey keterlaluan buatku. Kita harus berusaha keluar dari sini. Kembali ke Amerika. – 191

Aku selalu memberi tahu mereka jangan memulai sebuah perkelahian, jika kamu lakukan itu aku akan memukulmu kalau sampai ketahuan. – 197

Ia harus membayar mahal ketika melakukan kesalahan, hukum adalah pemimpin yang dikenalnya sejak saat ini. – 198

Ia seperti diriku, suka bersama dirinya sendiri, juga paling suka bekerja bagi dirinya sendiri. Seperti diriku juga. Aku ini serbabisa. – 199

Untuk menjalani hukuman di balik terali besi dengan sebuah senyuman yang kamu lakukan untuk dirimu sendiri. Kamu tahu lebih baik. – 201

Ia tahu hidup ini terlalu singkat dan terlalu manis untuk dihabiskan di belakang terali besi. – 202

Dan sebagian besar kenangan yang dilepaskannya justru yang tidak dikehendaki, biarpun tak semuanya. – 203

Kenapa aku tidak suka pada biarawati. Dan, Tuhan. Dan, agama. – 206

Sebagian karena mencoba mengontrol kandung kemih dan sebagian lagi karena kau tak kunjung bisa berhenti berfikir. – 208

Ayah seperti seorang maniak. Tak peduli apa yang terjadi – badai salju, hujan badai, angin kencang yang dapat membelah pohon – kami terus bekerja. – 211

Dengan jalanan naik turun yang bahkan dalam cuaca cerah terbaik tampak tak ceria dan suram. – 215

Kalau engkau merasa kemarahanmu meluap-luap lebih baik redakan karena aku menyadari tak seorang pun diantara kita menyambut kritik dengan gembira. – 219

Tak satu pun hal baik datang dengan mudah dan aku yakin kamu telah mendengar ini beberapa kali, tapi mendengarnya sekali lagi tak membikin cedera. – 221

Seorang ibu tetaplah satu-satunya yang bisa mencium luka di tubuh dan menyembuhkannya. – jelaskan itu secara ilmiah. – 222

Kamu adalah manusia dengan suatu kehendak bebas. Yang menempatkanmu satu tingkat di atas derajat binatang. – 224

Mudah sekali mengabaikan hujan kalau kamu punya jas hujan – 226

Orang-orang yang berhubungan denganku banyak, temanku sedikit. – 230

Manusia itu bukan apa-apa tapi selapis kabut, sebuah bayang-bayang yang diserap oleh bayang-bayang lain. – 231

Dick berbicara tentang membunuh Mr. Clutter. Katanya, ia dan Perry akan pergi ke sana dan merampok tempat itu, lalu mereka akan membunuh semua saksi mata – keluarga Clutter dan siapa saja yang kebetulan berada di tempat itu. – 249

Kondisi pikirannya buruk, ia kurus dan merokok enam puluh batang sehari. – 254

“Ayah, engkau adalah seorang ayah yang baik untukku. Aku tak akan pernah melakukan apapun untuk menyakitimu…” – 257

Nye, yang suara normalnya cenderung pendek-sengau dan secara alamiah mengintimidasi, warna nada yang lunak, gaya yang seolah menenangkan, tak berarti. – 262

Ia dipermalukan oleh pikiran-pikiran tentang laki-laki yang pernah meniduri istrinya sebelum pernikahan mereka. – 288

Kapten Manson, dengan jabat tangan terentang, memandang Prajurit Smith, tetapi prajurit Smith malah memandang kamera. – 289

Well, kami tak ingin mereka mengetahui sebaliknya. Semakin mereka merasa aman, semakin cepat kami mencocok mereka. – 294

Musuhnya adalah siapapun yang menyerupai sosok yang diinginkannya atau memiliki sesuatu yang diinginkannya. – 310

Pernah melihat kuda yang terbaring begitu saja dan tak pernah bangun lagi? Aku pernah. Dan seperti itulah yang terjadi pada Bibi. – 323

“Aku percaya pada hukuman mati. Seperti dikatakan Alkitab – mata untuk mata. Dan, bahkan kalau begitu kita masih kekurangan dua pasang mata.” – 385

“Aku hanya ingin melihat mereka baik-baik. Aku hanya ingin melihat binatang jenis apakah mereka berdua…” – 433

Why, orang itu adalah pengurung jenazah di pemakaman. – 435

“Karena hal itu persis seperti dilakukan seperti yang pernah dikatakan.” – 439

Temanku Willie-Jay biasa membicarakan ini. Ia biasa bilang bahwa se;uruh kejahatan sesungguhnya hanyalah ‘variasi-variasi pencurian’, termasuk pembunuhan. – 449

Ia adalah seorang yang impulsif dalam tindakannya, cenderung melakukan berbagai hal tanpa memikirkan konsekuensi-konsekuensi atau ketidaknyamanan bagi dirinya sendiri, atau bagi orang lain pada masa depan. – 457

Potensi membunuh dapat teraktivasi, terutama jika muncul beberapa ketidakseimbangan, yaitu ketika calon korban secara tidak sadar dipersepdi sebagai sosok kunci dalam sejumlah pengalaman traumatis masa lau. – 467

‘Siapa yang menumpahkan darah manusia, maka darahnya akan ditumpahkan lagi oleh manusia’. – 473

Aku sendiri tidak peduli apakah aku harus berjalan atau dibawa dalam peti mati. Pada akhirnya semua sama saja. – 496

“Aku akan mengkhawatirkan leherku sendiri. Urusi saja lehermu sendiri.” – 501

Sekali ia membaca, maka bacaan itu akan terus menempel. Tetapi tentu saja ia tak tahu seluk-beluk kehidupan. – 519

“Senang bertemu dengan Anda.” – 528

“Akan tak berarti apa-apa untuk meminta maaf atas apa yang telah kulakukan. Bahkan tidak pantas. Tetapi, aku ingin melakukannya. Aku minta maaf.” – 530

Sebelumnya saya sudah baca buku Capote yang lebih ringan, Breakfast At Tifanny’s, bukunya tipis dan sudah diadaptasi film. Baca pinjam punya Dien Novita, sekitar tujuh tahun lalu. In Cold Blood jelas jauh lebih komplek dan berbobot. Lawrence Journal World menyebutnya sebagai novel yang menorehkan sejarah dalam dunia jurnalistik. Dan setelah melahapnya, memang gaya berceritanya unik, ga lazim. Di mana kasus dan pencarian dan cara bertahan hidup para pembunuh berjalan beriringan, ada detektif di dalamnya namun kita tak ditantang berfikir menebak laiknya Agatha Christie – karena semua sudah dengan sangat jelas. Nikmat sekali mendalami pikiran orang-orang abnormal itu. “Mudah sekali membunuh – jauh lebih mudah daripada meloloskan cek palsu.”

Sayangnya untuk sebuah buku terbitan Bentang, kutemukan beberapa typo. Tahun lalu saya baca ‘What I Talk About When I Talk About Running’ –nya Haruki Murakami yang bagus banget secara kualitas terjemahan dan anti  typo, gambaran sempurna sebuah buku. Untuk yang satu ini yang sama-sama terbitan Bentang dan sama-sama buku istimewa sayang aja basic cek aksara sedikit ternoda. Contoh-contoh, yang siapa tahu bisa buat perbaikan untuk cetakan berikutnya.

Sang nyoya – halaman 44. Lorongl-orong – 49. Mengenduse-ndus – 72. Pulangp-ergi – 78. Dijelaskannya kpada – 187. Sebuah etsa – 263. Harus diangap – 271. Prangko – 295.  Lalu di daftar isi Tentang Penulis – 536. Terima kasih – 538. Padahal aktual di halaman akhir itu terbalik, ucapan terima kasih dulu baru bio yang menjelaskan bahwa Penulis kelahiran 30 September 1942 ini menerbitkan buku pertama berjudul Other Voices, Other Rooms dan In Cold Blood adalah buku kesembilan.

Untuk urusan kover, jelas saya sangat suka yang minimalis ini. Hitam yang dominan, nama kontras sang Penulis lalu lalu ditebar merah dalam keker kaca pecah. Jauh lebih berkualitas laiknya buku sastra ketimbang terbitan lama yang menampilkan close up wajah. Jilidnya Oke, kualitas cetak bagus, pemilihan front kata pas. Hebatlah. Salut Bantang, semakin hari semakin berbobot.

Well, In Cold Blood done. Tahun ini saya dapat tiga kado istimewa karena selain karya Capote buku legendaris terjemahan On The Road juga sudah beredar. Satu lagi Don Quixote-nya Miguel De Cervantes saat ini sedang dalam proses alih bahasa. Wwwoooagh… Indonesia sedang berlomba, berpacu menebarkan buku-buku berkualitas. Tak ada yang mustahil karena, siapa sangka dua tahun lalu Game Of Throne yang super duper tebal saja bisa terwujud serta buku kontroversial Ayat-ayat Setan pun ada!

Seperti nasehat ayah Perry Smith: “Aku mengajari anak-anakku aturan emas. Hiduplah dan jalani hidup…”

In Cold Blood | by Truman Capote | diterjemahkan dari In Cold Blood: A True Account of a Multiple Murder and Its Consequences | terbitan Random House, New York 2002 | penerjemah Santi Indra Astuti | penyunting Wendratama & Adham T. Fusama | perancang sampul Fahmi Ilmansyah | pemeriksa aksara Achmad Muchtar | penata aksara Martin Buczer | Penerbit Bentang | cetakan Pertama, Juli 2017 | pernah diterbitkan dengan judul yang sama atahun 2007 | vi + 538 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-602-291-393-1 | Skor: 5/5

Karawang, 090917 – Richard Marx – Angels Lulaby

The Betrayal – R.L. Stine

Yang tak bersalah mati hari ini. Tapi rasa benciku akan hidup turun-temurun. Keluarga Fier tak kan luput dari pembalasanku. Ke mana pun mereka lari aku akan jadi jerit tangis keluarga Fier yang tersiksa. Api yang membakar hari ini tak kan padam – sampai dendamku terbalas dan keluarga Fier terbakar selama-lamanya dalam api kutukanku.
Saya kenal RL Stine sejak sekolah. Baca di persewaan buku dan komik seri anak Goosebumb yang ringan namun tetap seru dan seri Fear Street yang lebih remaja. Daya pikatnya kuat, sehingga saat setiap mencari di rak deret yang utama yang dicari adalah ini dan komik Kunfu Komang yang kocak, temanku Inu prefer ke komik Detective Conan. Selain dari sewa dapat di Perpus Kota Solo daerah Jebres dan sesekali kalau punya uang lebih beli di toko buku loak Gladag. Saya ingat sekali saat beli ini, selepas lulus SMK cari kerja tes di BKK, naik bus Damri dari Sekolah turun Gladag – seberang kantor pos Solo yang terkenal itu – di gerimis Desember 2003. The Betrayal saya temukan terselip di antara novel jadul lain. Saat akan memutuskan membelinya saya gemetar, bimbang. Harganya Rp 1,500,- yang kala itu untuk saya termasuk besar. Lulus sekolah, seorang penganggur, sisa tabung yang tak seberapa, novel ini terbukti sangat layak kubawa pulang. Sejauh 10 Km dari Palur, sendiri membaca gratis di emperan tukang buku – tanpa bawa air minum  – lebih dari 3 jam dan hanya membeli buku tipis ini. Dunia memang penuh ironi.

Saya tak hitung sudah berapa Fear Street yang kulahap, baru belasan tapi jelas ini yang terbaik. Ada twist, ada kesedihan yang menggelayuti, ada kemarahan, dan kebencian nasib buruk di tengah harapan cerah masa depan. Apalagi ini adalah asal mula terbentuknya daerah Fear Street, jadi kita tahu segalanya bermula. Kisahnya dibuka dengan silsilah keluarga Fier dan prolog tentang keadaan desa Shadyside tahun 1900. Nora Goodie tahu rahasianya dan ia berdongeng untuk kita. Api yang membara jadi pengantar cerita pilu ini. 1900, tahun lahirnya Lazio tuh. 

Kisah ditarik jauh ke belakang lagi, tahun 1692 di Desa Wickham, koloni Massachusetts. Susannah Goode anak seorang petani, berpacaran dengan sembunyi dengan Edward Fier, anak orang berada. Ayahnya adalah hakim desa termasyur. Kejutan pertama muncul, saat mereka sedang menikmati makan dan berdebat tentang wortel Susannah memberitahu ayahnya ia akan menikahi akan Fier. Namun siapa nyana, ayahnya malah memberitahu balik bahwa pagi tadi dia diberitahu bahwa Edward telah bertunangan dengan gadis asal Portsmouth.

Sementara Benjamin Fier juga sedang berdebat dengan putranya yang menolak menikah dengan Anne Ward, “Aku tak kenal dia, dia orang asing.” Perjodohan ini terasa menguntungkan sang hakim karena August Ward adalah importir teh yang kaya sehingga kelak masa depan keluarga Fier lebih terjamin. Edward yang marah mengancam, “Ini hidupku dan aku akan menikah dengan Susannah Goodie, aku akan menikah dengannya sekalipun kita harus kawin lari.” Sang ayah hanya tersenyum kejam.

Upaya menggagalkan kata cinta itu disusun. Benjamin mengirim pasukan untuk menangkap keluarga Goodie, saat William tak sedang di rumah. Dengan trik menggeledah dan menemukan peralatan sihir dari cakar ayam, helai bulu, akar kering, sepotong tulang kecil, sampai gelas berisi cairan semerah darah. Saat itu juga Martha dan Susannah Goodie dibawa untuk dihukum, bayi mereka George dititipkan ke tetangga Mary. Hukum untuk praktek sihir adalah bakar hidup-hidup. Upaya terakhir gagal meyakinkan, “Anda mengenal kami, kami keluarga sederhana yang takut Tuhan. Kami orang saleh.”

William frustasi mengetahui anak dan istrinya akan dibakar esok malam, padahal bukti bahwa mereka penyihir tak kuat. Malam itu Matthew Fier, adik Benjamin yang licik mendatanginya, mengajak berbisnis. Ia mengaku bisa mengubah keputusan kakaknya sehingga menyelamatkan keluarga tapi biayanya mahal, 100 Pounds. Karena miskin dan uang bukan segalanya, semua tabungan diberikan. Ada 800 Pounds plus beberapa Shilling. Dominatio per malum.

Esoknya diluarduga, keluarga Fier kabur merampok semua yang bisa dibawa. Namun hukuman untuk penyihir tetap dijalankan. Keluarlah kutukan itu, kutukan yang tak pernah dikira. Kutukan dari William Goodie kepada Keluarga Fier akan selalu ada dari generasi ke generasi, karena siapa sangka ada darah penyihir dalam Goodie? Muncul rasa kasihan saat orang-orang tak berdosa itu kena rentetan nasib buruk. Dulu pas baca saya bahkan sempat dengan berharap pertemuanSemua ini kita ketahui berkat tulisan Nora. Ending-nya sendiri menggantung karena keturunan Fier yang marah kini menyusun rencana untuk kembali ke Wickham dan membalas dendam.

Robert Lawrence Stine atau lebih dikenal sebagai R.L. Stine adalah Penulis yang sangat produktif. Fear Street tercipta dulu 1989, baru tiga tahun kemudian lahir Goosebumps. Mendapat julukan Stephen King-nya anak-anak. Buku-bukuya tipis tapi menghantui, semacam horor kelas B yang asyik namun tak norak. The Betrayal merupakan Fear Street trilogi Saga. Saya belum membaca lanjutannya, The Secret dan The Burning. Sudah nyaris 15 tahun saya belum juga melanjutkan baca pertempuran Fier Vs Goodie. Suatu hari nanti pasti kubaca, suatu hari nanti.

Nora: “Ya, ceritaku yang mengerikan ini baru dimulai. Ceritanya panjang dan pahit dan aku harus menyelesaikannya sebelum malam berganti pagi.”

Sepi, hanya terdengar bisikan angina di sela pepohonan. Mungkin sebaiknya aku berbaring saja di sini di dalam lumpur dan membiarkan air hujan menghanyutkanku, menghanyutkanku menjauhi semua ini.

Penghianatan | by R.L. Stine | copyright by Parachute Press, 1993 | diterjemahkan dari Fear Street: The Betrayal | terbitan Pocket Books, a division of Simon & Schuster, Inc | alih bahasa Widya Kirana | GM 99-309 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Mei 1999 | 192 hlm; 18 cm | ISBN 979-655-309-0 | Skor: 5/5

Karawang, 080917 – Lagu Daerah, Sunda – Bubuy Bulan