Deru Gunung #25 – Yasunari Kawabata

Deru Gunung #25 – Yasunari Kawabata

Shingo: “Tapi sukses tidaknya seorang ayah tampaknya mesti dihubungkan dengan kenyataan apakah kehidupan pernikahan anak-anaknya berhasil atau sebaliknya. Nah, dalam hal ini aku tidak begitu sukses.

Ini adalah jenis buku depresif menghadapi usia senja. Di mana pikiran seorang kakek melalangbuana tak terkendali. Ditemani mimpi-mimpi aneh yang menerawang di kala lelap dan kehidupan sederhana dengan orang sekeliling yang rasanya menggemaskan. Saya sendiri belum bisa membayangkan dengan jelas bagaimana nanti ketika menapaki usia itu, karena bahagia itu ukurannya dinamis. “Bahkan saat cuaca alam bagus, cuaca manusia tetap buruk.”

Ogata Shingo adalah seorang sukses secara finansial yang di usia tuanya masih bekerja. Istrinya Yasuko, usianya lebih tua setahun tapi tampak awet muda. Seorang pendengkur dan pengatur. Ia kehilangan gairah terhadap pasangan, karena waktu malam-malam pikirannya keluyuran tak tentu arah akibat rasa hampa kepada sang istri. Putranya Shuichi ketahuan selingkuh. Mereka bekerja di tempat yang sama. Di mana anaknya jadi penasehat. Karena kerjanya sama, tinggal juga masih bareng maka ia tahu lebih banyak kegiatan keluarga anaknya. Salah satu pelajaran berharga di sini adalah, setelah menikah segera tinggallah terpisah. Jangan di PMI – Pondok mertua Indah karena tak seindah namanya. Menantunya Kikoku digambarkan begitu mempesona, cantik dan penyabar. Seorang ibu rumah tangga yang ideal, yang justru dihianati cinta. Buku ini akan didominasi cerita perasaan Shingo terhadap menantunya, gemuruh hati. Deru gunung Kawamura yang menggelora. Sementara putrinya Fusako sudah berkeluarga dan menganugerahi dua cucu, yang sesekali mampir dan berceloteh. Shingo sendiri berfikir alangkah tenang dan ringan rasanya duduk di ruang sarapan pada hari Minggu di bulan April sambil menatap kuntum-kuntum mekar sakura dan menyimak ayunan sang genta. Mentari musim panas memudar dan angin senja bertiup pelan.

Affair putranya awal dikira sekedar berdansa bersama selepas jam kerja, makan malam romantis atau hanya mencari perhatian sang ayah. Tapi tidak, keadaan ternyata sudah sangat rumit karena selingkuhan Kinu sudah hamil. Keadaan makin runyam saat tahu status sang WIL yang janda mati akibat perang. Pernikahan itu seperti rawa-rawa berbahaya, barang siapa menyeleweng maka kakinya akan makin terperosok. Saat akhirnya Shingo mendapat kesempatan bertemu langsung dengan perusak rumah tangga orang itu, adegan trenyuh tercipta. Ia bahkan tak menuntut penuh putranya, karena ia memang sangat mendamba anak. Ah korban perang, perang memang sebuah tragedi massal. Efeknya panjang. Ironisnya, sang selingkuhan mempertahankan bayinya untuk lahir, Kikoku justru malah aborsi. Permainan ironi macam apa ini! “Bisakah kasus ini dituntaskan tanpa campur tangan seorang lelaki tua? Tapi semua solusi memang jahat, kukira.”

Menjelang fajar, ia bermimpi. Dua kali bahkan dan di setiap mimpi ia mendapati diri bertemu dengan orang yang sudah mati. “Pagi ini aku bermimpi bertemu dengan orang yang sudah mati. Si tua yang tinggal di Tatsumiya mentraktirku makan mi.” Saat ia bercerita, istrinya yang menimpali, “Kau tidak memakannya kan?” Terdengar biasa? Ya. Tapi kalau dipikir-pikir seram juga karena Shingo bertanya-tanya apakah bermimpi dengan memakan makanan yang ditawarkan orang mati maka sang pemimpi sendiri akan mati? Orang harusnya menjauh saat ada yang mencinta. Ia bertanya apakah belalang juga mengalami mimpi buruk? 

Akhir buku ini memang seakan tak tuntas, menggantung di mana pembaca dipaksa berhenti di tengah jalinan kisah tanpa tahu mau ke arah mana. Tapi memang ini ciri khasnya, ‘Seni untuk Seni’. Karena ia berpendapat spekulasi dan rangkaian sketsa kehidupan jauh lebih penting ketimbang kesimpulan. Inilah hebatnya, sederhana namun sangat menohok. Buku istimewa dalam kehidupan yang tak istimewa. Penceritaannya memang sangat dekat karena mungkin bertutur masalah hal remeh temeh keseharian – hal-hal sepele. Sebuah buku yang lamban, ibarat air yang mengalir di tempat datar. Pelan namun terus dipaksa bergerak. Beberapa mungkin bahkan disodorkan tanpa emosi. Kalian tak akan menemui adegan pesawat jatuh, rentetan peluru atau gempa bumi. Pemilihan diksi terjemahannya bagus, sangat bagus. Beberapa tampak sangat puitis, walau sebenarnya keadaan yang dicipta sebenarnya mungkin hanya sekedar celoteh umum. “Mentari musim panas telah memudar, dan angin senja bertiup pelan.” Sederhana kan? Tapi memang itulah nyawa utama buku ini. “Beberapa kupu-kupu tampak berterbangan. Shingo bisa melihat mereka berkerlap-kerlip melewati celah dedaunan.” Cerita jiwa-jiwa yang sepi. Dalam Budha, ‘… aku telah menemui apa yang sukar ditemui, aku telah mendengar apa yang sukar didengar…’

Sebagai buku dari Peraih nobel sastra tahun 1968 – Penulis Jepang pertama yang mendapatkannya, Deru Gunung memang yang paling terkenal. Sama termasyurnya dengan Penari dari Izu, Ibokota Lama, Daun-Daun Bambu, Seribu  Burung Bangau sampai Negeri Salju. Akar naturalis Jepang yang kuat, penggambaran sekitar yang begitu realistis, kesederhaan dalam puitis. Selain menulis novel ia juga mencipta cerita pendek – beliau menyebutnya dengan ‘Kisah-Kisah Telapak Tangan’ (Tenohira no shosetsu). Kawabata meninggal karena bunuh diri pada tanggal 16 April 1972, kalau kalian sudah baca Norwegian Wood-nya Haruki Murakami kalian pasti tahu adegan saat seorang karakter melakukan bunuh diri dalam mobil yang sengaja dipenuhi gas beracun. Jelas itu adalah inspirasi dari kehidupan Kawabata, para jenius yang pasrah akan derita hidup. Spekulasi motif kematian Kawabata sendiri banyak beredar. Ada yang bilang ia melakukannya karena depresi pasca perang, sekalipun ia tak terjun langsung pada Perang Dunia Kedua. Ada yang bilang akibat penyakit Parkinson yang dideritanya sudah parah. Ada yang berujar juga karena depresi akibat sahabatnya, sesama Penulis Yukio Mishima melakukan bunuh diri harakiri di kam pasukan Jepang bersama Morita. Ada juga keran kecelakaan gasnya bocor saat ia dalam mobil? Yasunari Kawabata menambah panjang Penulis bunuh diri. Halaman 296 beliau bahkan memperingatkan dirinya sendiri, ‘Ia tak tahu apakah dirinya marah akibat Aihara mencoba bunuh diri ataukah marah karena kaca matanya lepas.’

Jadi apa salahnya mencintai Kikoku dalam mimpi? Apa salahnya mencintai menantu dengan diam-diam sepanjang hari, sepanjang waktu. Pikiran cinta ini juga merasuki ulang dari perasaanya terhadap kakak iparnya yang sudah meninggal – de javu. Awalnya kita seakan menyalahkan sang putra yang jelas-jelas selingkuh, tapi ketika kita menyelami pikiran Shingo ternyata sama saja. Keduanya mengalami keterpurukan spiritual, hati yang hampa. Dan segalanya dituturkan dengan sangat indah. Jelas Deru Gunung adalah salah satu novel (tampak) sederhana terbaik yang pernah saya baca. Lima bintang!

Untuk kepiawaian narasinya dan kepekaan hebat dalam mengungkapkan sisi natural kehidupan di Jepang.” –  panitia Nobel Sastra

Deru Gunung | by Yasunari Kawabata | diterjemahkan dari The Sound Of The Mountain | Penguin Books tahun 1974 | Penerjemah Nurul Hanafi | judul asli Yama no Oto terbitan tahun 1954 | Cetakan pertama, 2016 | Penerbit Senja | 376 hlm; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-391-127-1 | Skor : 5/5

Karawang, 080217-250617-290917 – Backstreet Boys – The ONE

Catatan ini ditulis dalam tiga kesempatan, pertama bulan Feb 2017 saat selesai baca. Kedua saat mengejar #30HariMenulis #Juni2017 dan akhir September ini. Setelah mencoba – gagal, coba lagi – gagal, akhirnya selesai juga.

#HBD34Tahun

One thought on “Deru Gunung #25 – Yasunari Kawabata

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s