Inferno – Dan Brown

Inferno – Dan Brown

Dunia sesak. Populasinya membengkak. Kesejahteraan hidup yang makin menjamin, kelahiran tak terkendali, harapan umur panjang. Longevity – yang mengingatkan pada tulisan Shailesh Modi bahwa di era exponential harapan hidup manusia bertambah 3 bulan setiap tahunnya. Empat tahun lalu harapan hidup manusia ada di angka 79 tahun dan akan terus naik saat ini ada di angka 80. Artinya di tahun 2036 harapan hidup manusia akan mencapai 100 tahun! Teori transhuman itu juga dijelaskan di buku ini, LB2083 – all hail hydra! Sementara bumi menyediakan sumber daya alam yang dalam prediksi matematis tak akan cukup dalam 50 tahun ke depan. Manusia banyak, makanan kurang. Sebuah ancaman yang harus diantisipasi yang kini jadi debat rumit para ilmuwan. Solusi untuk mencegah kepunahan umat. Masuk akal sekali kan.

Ada satu ilmuwan Bertrand Zobrist yang menawarkannya. Caranya ektrim sekali, saat ada kesempatan menekan sebuah tombol yang bisa mencegah kepunahan umat apakah kalian akan lakukan? Tapi dengan konsekuensi 1/3 umat manusia tewas! Mengerikan. Sang ilmuwan lalu membuat virus/patogen/bakteri/wabah/penyakit yang mengancam. Apa yang dicipta Zobrist sendiri menjadi kejutan bagus di akhir. Karena saat tersudut, ia lebih memilih bunuh diri maka karyanya dilanjutkan pengikutnya. Dan sebuah konser Dante Symphony mematiknya. Pihak WHO, dipimpin oleh Elizabeth Sinskey tentu saja berusaha mencegah, menjadikannya target nomor satu untuk diburu. Zobrist berlindung di ketiak Provos, sebuah organisasi rahasia yang menyediakan layanan privasi pada kliennya, menjaganya dari segala ancaman, dan siap menyebarkan berita hoax. Costumer first!

Catalina, molto bella. Buku yang cantik sekali. Ini adalah hype capaian tertinggi dari semua seri petualangan Simbolog Robert Langdon. Benar-benar luar biasa. Awalnya kukira  Da Vinci Code adalah novel terbaik Dan Brown dan beliau sudah di puncak, tapi ternyata ekspektasi tinggi Inferno terpenuhi. Tak sekontroversial aneh penjabaran lukisan Leonardo tentunya tapi tentu saja penafsiran nyeleneh sebuah buku Dante Alighieri: The Divine Comedy tetaplah membuat shock. Ditulis dalam bab-bab pendek yang sebenarnya pola yang kurang kusuka, di mana tiap akhirnya digantung yang seakan meminta Pembaca untuk tak memenggal kisah, awalnya pesimis karena tahun lalu filmnya mengecewakan. Tapi saat sudah lahapanku menyentuh halaman seratus, rasanya sulit sekali diletakkan. Dan sukses membuat pembaca terpaku dan terus mengikuti lari Langdon. Terengah-engah, bangkit, dan kembali dipacu waktu. Salut.

Tagline utama kisah ini adalah: ‘Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral’. Sebuah kalimat yang sungguh menggoda, penafsiran awam tentu saja seolah bilang, ‘jangan cuek terhadap sekitar saat terjadi masalah’. Tapi ternyata itu adalah nukilan buku The Divine Comedy karya Dante. Dan buku inilah yang akan jadi pusat segala konflik kisah. Dalam puisinya, Dante mengisahkan perjalanan tiga alam yang dipandu oleh Virgil dalam Inferno – neraka, Purgatorio – penebusan dan Paradiso – surga. Mahakarya yang rilis tahun 1308-1321 ini jadi semacam kitab oleh ‘teroris’ fanatik Bertrand Zobrist. Neraka Dante bukan fiksi, itu ramalan. Kesengsaraan yang luar biasa, penderitaan yang menyiksa. Umat manusia jika tak terkendali, berfungsi sebagai wabah. Seperti kanker yang jumlahnya meningkat setiap tahun. Menjadikan panduan untuk menyelamatkan dunia. Jalan ke surga hanya bisa dilalui oleh kematian lewat Neraka. The Divine Comedy sendiri sebenarnya bukan buku komedi, buku ini dituliskan dalam bahasa Italia rakyat sehingga mudah diterima. Zaman itu bahasa Italia umum dirasa kurang sopan, makanya blak-blakan itulah dianggap melucu. Dalam sejarahnya buku ini justru lebih diterima masyarakat yang anehnya malah menjadi panduan untuk bertobat. Cara efektif menarik umat untuk ke Gereje daripada alkitab!

Carilah, maka akan kau temukan. Robert Langdon, profesor Havard seorang simbolog terbangun dengan amnesia jangka pendek akibat tertembak di kepala di rumah sakit Florence. Ia tak ingat apa yang terjadi semalam, dan alasan tepatnya kenapa ia di Italia. Langdon tak bisa berlama-lama menentukan pilihan karena ia kini adalah target pembunuh bayaran dan sepasukan penuh Pemerintah menginginkannya tewas. Dibantu dokter muda cerdas Siena Brooks ia melarikan diri. 

Dengan sebuah file dalam bentuk stempel kuno memberinya petunjuk di mana cara bukanya pakai sidik jari Langdon, mengantarnya ke Topeng Dante – yang mengejutkannya justru semalam Langdon curi, ke kata very sorry verry sorry yang salah terjemahkan, sebuah puisi di balik Topeng, sampai memaksa mereka harus melanjutkan perjalanan 1,600 kilometer jauhnya untuk mencegah bencana. Semua dikisahkan dengan kecepatan luar biasa, kejar-kejaran. Bukan hanya siasat cepat Langdon dan Siena untuk memacu waktu, tapi Dan menulisnya dengan tempo tinggi. Dan karena saya sudah menonton filmnya, tak terlalu mengejutkan saat petunjuk itu mengarah ke Turki.

Ya, buku macam gini tak akan menarik juri Pulitzer apalagi Nobel Sastra. Jelas, ini hanya buku seru-seruan setebal 600 halaman. Tapi memang sedari awal sudah kuniatkan hanya ‘have fun’. Narasinya tak serumit seni tulis, semua yang dijelaskan tak memberi perdebatan bercabang karena gamblang dan selurus sepakat. Bayangkan saja, ‘hanya’ 600 halaman bisa terpecah dalam 100 bab lebih. Ini adalah buku (promo) panduan tur paling menarik. Bohong kalau setelah baca kalian tak ingin ke Florence, Venezia atau ke Istanbul. Karena saya tak pernah ke sana, maka jelas ini buku bervitamin. Dan seperti tujuan Dan Brwon dalam biografinya yang menginginkan setiap pembaca untuk mendapat akhir yang ‘Wow, coba pikir betapa banyak yang sudah kupelajari.’ Dan sukses memberi gambaran surga dunia dengan keseruan fiksi. 

Berkat kesuksesan tak terkendali The Da Vinci Code, tentu saja Dan harus memasangnya di setiap buku barunya. Kisah hidup Dan yang saya nikmati bulan lalu menjelaskan bahwa pilihan (pasangan) hidup yang tepat itu penting, sangat penting. Kalau kata Puthut EA kurang lebih begini, ‘lelaki boleh saja melakukan kesalahan-kesalahan, tapi tidak BOLEH kesalahan terjadi dalam memilih istri.’ Nah Dan ini hebat sekali, ketepatan menikahi Blythe Brown memberinya waktu tak berbatas untuk berkarya. Finansialnya terjamin, sehingga setelah gagal menjadi musisi ia menepi untuk menulis. Menulis tanpa kebingungan besok mau makan apa, menulis dengan pikiran bebas. Merdeka, punya uang lebih untuk melakukan riset dan saat seorang Penulis fokus, karya bagus tinggal masalah waktu. Inferno ini hanyalah salah satu rentetan efek pilihan tepat menyunting pasangan. Selamat Dan! Anda seorang gentlemen.

Inferno (movie tie-in) | by Dan Brown | copyright 2013 | terbitan Doubleday, New York 2013 | diterjemahkan dari Inferno | edisi kesatu, cetakan XIII, Maret 2016 | edisi kedua (movie tie-in), cetakan I, September 2016 | penerjemah Ingrid Dwijani Nimpoeno dan Berliani Mantili Nugrahani | penyunting Tim Redaksi | book design by Maria Carella | motion picture artwork 2016 CTMG | pemeriksa aksara Eti Rohaeti dan Oclivia Dwiyanti | penata aksara Cahyono | Penerbit Bentang | 644 hlm.; 23,5 cm | ISBN 978-602-291-268-2 (softcover) | untuk Orangtuaku… | Skor: 5/5

Karawang, 230917 – Celine Dion – The Power of Love

Thx to Intana Intano yang telah tukar pinjam dengan biografi Dan Brown, “We’re just the beginning.”

Iklan