Kappa – Ryunosuke Akutagawa

Kappa – Ryunosuke Akutagawa

Peringatan: Ulasan ini mengandung spoiler, karena jumlah halaman yang sedikit dan review ini akan menceritakan dari halaman awal sampai ending kisah Aku. Bagi yang belum baca dan ingin menikmati Kappa disarankan berhenti baca di sini.

Kappa tua: “Siapa pun tidak dapat hidup tenteram, kalau tidak sehat atau tidak mempunyai uang. Untungnya aku selalu sehat dan mempunyai cukup bekal untuk membiayai keperluanku. Mungkin yang paling utama yang menjadikan aku bahagia adalah aku telah tua sejak lahir.”

Bermula dari rekomendasi grup WA – Love Book A Lot, sebuah buku tipis yang jumlah halaman tak lebih dari 100, memaksa saya memilih lahap Kappa. Awal bulan ini akan beli, tapi ragu karena lumayan juga harganya, setipis itu 45 ribu woy. Pekan lalu saat rekan kerja persiapan resign, akhirnya memutuskan beli-titip karena kebetulan Len mau ke Gramedia. Dan esoknya malah jadi hadiah perpisahan. Makacih Vaness. Bukunya saya baca kilat dalam perjalanan ke HO – Head Office pada 13 September lalu saat akan implementasi Training ke SAP. Buku aneh yang dibaca saat suasana kurang tidur dan kepala senut-senut ditemani radio Prambors FM yang ngelantur.

Cerita dibuka dengan sebuah kutipan satu paragraph panjang dari ensiklopedia Wakan Sansai Zue yang terbit tahun 1770. Tentang definisi kappa, mahkluk yang mirip manusia umur 10 tahun, telanjang, bisa berdiri tegak dan bisa bicara bahasa manusia. Hidup di air, biasanya keluar malam hari untuk mencuri semangka, apel dan hasil ladang lainnya. Orang harus berhati-hati kalau menyeberang sungai karena hobinya berkelahi. Bisa menyeret kuda atau lembu ke dalam air dan menghisap darahnya dari dubur. Sebuah penggambaran absurb seekor makhluk yang akan mengajak kita berpetualangan.

Ini adalah novel(a) satire dari Jepang yang pertama terbit di era Meiji. Sebuah analisis social tentang budaya Jepang yang disamarkan dalam bentuk dunia lain, dunia kappa. Sudut pandangnya orang pertama, orang gila nomor 23. Karena ini cerita dari orang gila banyak hal ganjil akan kita temui. Yah, seakan ia ngoceh tak tentu arah tapi karena penggambarannya pas seakan ini benar-benar terjadi – ataukah benar-benar terjadi? Ia bercerita di hadapan kita bagaimana kehidupan kappa yang legendaris itu.

Si Aku sedang mendaki gunung Hodaka, beristirahat di lembah sungai Azusa ia melihat kappa. Berniat menangkapnya, ia malah terjatuh pingsan. Saat tersadar ia sudah di kerumunan kappa, diperiksa oleh dokter Chak. Karena masih sakit maka ia ditandu ke rumah kappa dan jadi warga kehormatan. Maka jadilah ia hidup di sana, belajar kehidupan, bahasa, sastra, seni sampai budaya. Aneh di negeri asing itu banyak hal nyeleneh. Di negeri manusia dianggap serius tapi di sana tidak, begitu juga sebaliknya.

Di negeri kappa ia berteman dengan banyak karakter. Dari dokter Chak, Pep sang hakim, Bag kappa pencari ikan yang dikejar Aku, Tok penyair, Lap murid kappa, Mag sang filsuf, Crabach si componist jenius, Gael pemilik perusahaan gelas sampai Kappa Tua peniup seruling. Semua memberi porsi cerita moral yang pas berdasar bagaimana mereka memandang hidup ini.

Sekarang aku akan bangkit dan pergi | Ke jurang di seberang lembah kesengsaraan ini | Ke jurang berbatu karang | Di Mana air sejuk dan jernih | Dan udara segar dengan rumput-rumput berbunga’ – nyanyian Mignon, Goethe

Sedari lahir, kappa sudah diberi pilihan. Mau hidup atau langsung dimusnahkan. Janin kappa akan ditanya apakah ingin lahir atau tidak? Bila tidak ia akan disuntik cairan untuk pergi. Masalah jodoh misalkan, kappa betina akan mengejar kappa jantan sampai ke manapun. Di sana juga ada agama dan pemikir modern, ada juga para pemuja kehidupan viverisme. Di sana ada perang dan persaingan. Dan yang paling mengerikan (menurutku) adalah sistem kerja. Saat sang Aku bertanya kenapa para pekerja yang dirugikan itu tak melakukan mogok kerja, membentuk serikat kerja untuk melawan? Gael sang direktur menjawab ada undang-undang yang mengatur bahwa para buruh itu mereka makan. Jadi para kappa yang kehilangan pekerjaan berhak disembelih dan dimakan! Serem men…

Semakin halaman tinggal dikit sang Aku makin muak. Bahkan salah satu temannya ada yang bunuh diri saking memandang hidup dengan optimisme berbeda. Saat kemuakan sudah sampai di puncak ia ingin kembali ke kehidupan manusia. Melalui Bag ia disarankan bertemu dengan kappa tua pemain seruling si kutu buku, di sana ia menunjuk sudut ruangan yang menjulur seutas tali yang tergantung di langit-langit. Saat tali ditarik, terlihat pohon pinus dan cemara dan langit dan tawaran kehidupan lama menjelang. Jika ingin kembali itulah jalannya. Saat ditanya apakah benar ia tak ingin tinggal di negeri kappa saja? Sang Aku dengan mantab bilang tidak.

Saat kembali di kehidupan manusia ia malah jadi jijik. Malah merasa kehidupan kappa lebih jernih tak sekotor manusia, tentu saja berkat ia sudah terlalu lama berinteraksi di sana. Kembali ia butuh adaptasi, memandang manusia aneh dan bau, sesekali bicara dengan bahasa kappa ‘Qua’, menggelandang di stasiun dan saat akan berkereta ke Chuo ia malah ditangkap polisi sampai akhirnya dirawat di rumah sakit bernomor 23 karena ngoceh ga jelas dan dianggap gila sehingga suatu saat dokter S yang merawatnya lengah ia ingin kembali ke negeri kappa. Lhooo.. ternyata.

Apa yang didapat dari pengalaman aneh ini? Tentu saja memandang hidup jadi lain. Apa yang ada di depan kita harus syukuri. Sesuatu yang mungkin kita anggap biasa, bahkan sepele di nun di sana adalah anugerah. Hidup ini singkat, tak perlu marah dan kecewa dengan tetangga, lebih-lebih saudara. Saling mengasihi dan terutama sekali sabar. Walau tak setajam Animal Farm-nya George Orwell di mana binatang bisa ngomong dan bertarung, kappa adalah kisah yang menyentil tata krama manusia. Walau tak serumit masa depan Brave New World-nya Aldous Huxley, namun kappa jelas memberi gambaran frustasi suatu masa (depan) yang tak pasti. Walau tak sehampa Pulau Dokter Moreau-nya H.G. Wells, jelas kappa memberi kesunyian hidup dalam gila semu dan sinisme.

Saya memang suka minimalis tapi kover-kover terbitan baru KPG yang hanya memberi warna latar dominan dengan mencantumkan nama Penulis besar dan judul ala kadarnya itu buruk juga. Ilustrasinya terlalu sederhana yang bahkan seperti dibuat anak kecil. Minimalis oke, tapi kalau minimalis dan serentak mirip jadinya ga unik. Monoton. Harusnya tetap memberi identitas sekelumit kisah, bandingkan dengan versi yang lebih berwarna yang enak dipandang seperti terbitan Interprebook.

Catatan ini saya tutup dengan sajak gila pasien nomor 23:

Di antara rumpun bambu dan batang kurma yang sedang berbunga | Budha telah lama tertidur | dan dengan batang ara yang layu di sepanjang jalan | Agaknya Kristus pun telah mati | Tetapi kita semua harus beristirahat, semua pemain | Bahkan sebelum adegan-adegan yang harus kita mainkan.

Well, seperti kata Ryunosuke, “Kappa lahir dari kemuakanku terhadap banyak hal, terutama pada diriku sendiri.” Akhir hidup sang Penulis sendiri adalah interprestasi dari apa yang dipikirkan laiknya penyair Tock. Otak manusia memicu banyak hal nyata di hari depan. Di tanggal 24 Juli 1927 setelah menyelesaikan tulisan Zoku Saiho no Hito ia ditemukan meninggal dunia karena over dosis obta tidur. “Hanya kegelisahan yang usulnya tidak jelas.

Kappa | by Ryunosuke Akutagawa | diterjemahkan dari Kappa | KPG 59 16 01211 | cetakan pertama, Juni 2016 | sebelumnya diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya | cetakan pertama, 1975 | penerjemah Winanrta Adisubrata | perancang sampul Teguh Tri Erdyan, Deborah amadis Mawa | iv + 83, 14 cm x 21 cm | ISBN 978-602-424-095-0 | Skor: 5/5

Karawang, 150917 – Sherina Munaf – Curahan Segalanya

Tnx to Vanessa Len, sukses berkarir di tempat barunya. Another place another challange

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s