Bride On The Loose 

Bride On The Loose – Debbie Macomber

Elizabeth: “Aku mengetahui beberapa berita yang mengejutkan. The Yacth Club tempat kami merencanakan resepsi, makan malam dan dansa sudah dipesan penuh sampai tiga belas bulan ke depan, kebetulan ada yang batal jadi aku memesankan tanggal itu untuk kau dan Jason.

Harlequin lagi. Pengalaman buruk pertama dulu terulang lagi, kali ini lebih buruk karena kisahnya berjalan dengan plot yang sangat mengada-ada. Mencoba romantis, fail! Mungkin karena memang buku roman picisan bukan genre-ku, tapi siapa sih yang suka cerita cinta-cintaan tak ada tragedi di dalamnya? Happy ending? Dengan akhir pangeran meminang sang putri tanpa banyak kendala? Kovernya saja spoiler berat. Kejadian demi kejadian yang disusun dengan (pura-pura) berkendala, tetap pada akhirnya mereka menikah-kan? Dan buruknya sesuai dugaan. Bah, buku macam apa ini. Bahkan teenlit anak SMP yang so so pun masih jauh lebih menarik. Seperti kata Carrie: “Aku ingin pergi ke pesta dansa dengan Brad melebihi apapun. Tapi sekarang pergi atau tidak aku tak peduli. Seharusnya memang saya tak memperdulikan buku ini. Di tengah gempuran sastra yang saya kejar untuk momen November (daftarnya panjang), novel ini mencuat dari daftar pinjaman yang harus saya selesaikan. Yah, memang harus lebih jeli dalam pilih pilah.

Jason Manning adalah dokter hewan yang punya apartemen, di usianya yang hampir 40 tahun ia lajang. Nonton softball jauh lebih menarik ketimbang kencan! Tampan, kaya, keluarga penuh cinta, karier sangat mapan. Charlotte Weston adalah orang tua tunggal Carrie. Janda cerai dari Tom, seorang sekretatis Perusahaan ternama yang traumatis perhadap pernikahan. Carrie Weston sebagai anak tunggal yang kini sudah ABG, mau lulus SMP menginginkan pesta dansa di perpisahan yang dilarang oleh ibunya karena dianggap masih kecil. orang tua kolot. Kalaupun datang, ia harus diantar olehnya. Gara-gara larangan itulah Carrie berpendapat bahwa ibunya harus move on dari masa lalu, harus segera kembali kencan mencari pasangan. Inilah saatnya, inilah waktunya. Waktu harusnya sudah menempanya untuk bersuami lagi. Dan Carrie yang berinisiatif mengail cowok, calon ayah tirinya.

Jadi Carrie meminta Jason untuk berkencan dengan ibunya, dibayar. Dalam pikiran sang remaja ini, siapa tahu setelah kembali berkencan pola atur kaku orang tuanya akan cair. Awalnya Jason tentu saja menolak berlibat keluarga ini. Namun Carrie dengan cerdik mengakali situasi. Karena mereka satu gedung apartemen, dan Jason sendiri yang punya maka suatu hari Carrie menyusun strategi bagaimana caranya Jason ke tempatnya. Keran air dirusak, Carrie menelpon Jason untuk memperbaiki, sebuah taktik biar pertemuan mereka seolah natural. Baut diberikan saat Jason yang pura-pura memperbaiki, dan saat mereka sedang berdebat kecil bagaimana selanjutnya, Charlotte curiga sehingga meminta penjelasan. Terbongkarlah rencana-rencana itu. Dan dengan marah sang janda mengultimatum bahwa esok pindah saja! “Dia tak bermaksud apa-apa. Dia hanya berusaha berbuat baik padamu. Anggap saja ini sebuah hadiah Hari Ibu yang kepagian.

Namun kisah dirajut tak seterjal yang diharap. Segera setelah mengusir, Charlotte ke apartemen Jason meminta maaf, tak jadi pindah dan malah ambil popcorn untuk ikut nonton softball. Di perpisahan mereka ciuman. Bah! Kisah macam apa ini. Freddy S saja menyusun cerita cabul tak senorak ini. Bagaimana bisa, habis marah tak lebih dari lima menit dengan sekotak popcorn dan laga live olah raga di tv (bahkan itu bukan sepak bola!), semua reda. Dan setelahnya dengan sangat mudah ditebak ke arah mana kisah ini. Lurus, lempeng bak di jalan tol dini hari. Kecepatan di atas 100 km/jam, tak ada rintang tak ada lawan, gas terus pol dan taa-daaa akhir yang bahagia.

Tantangan ibunya yang menyewa yatch dengan dipaksa nikah dalam waktu tiga minggu hanya gelitik semu sebuah taburan bunga. Masalah pekerjaan Charlotte yang ga sreg sama bosnya sehingga memutuskan resign seakan hanya obrolan santai anak-anak di sela main kelereng. Acara dansa Carrie bahkan tak se-mengusik pikiran sedari awal, hanya jadi picu sebuah busi karatan yang sekali pakai bisa langsung dilempar ke tengah kali. Buruk, sangat buruk. Dibanding buku-buku sederhana karangan KKPK – Kecil-Kecil Punya Karya lokal saja kalah ini. Coba bayangkan, apa masalahnya: pria tampan, profesi mapan, lajang, sabar, dan senyumnya bisa membuat bunga langsung rontok. Dipertemukan janda cantik, beranak manis. Nikahnya aja di yacth dan semua keruwetan pra-nikah sudah ga dipusingkan karena sudah dipersiapkan keluarga. Tak pusing cari survenir, tak lieur cetak undangan, tak pening pula cari vendor buat pre-wed. Semua sudah terstuktur masive, ibarat nikah tinggal datang bermodal kolor. Sah! Hadeh, benar-benar plot kisah yang buruk.

Dengan tulisan tambahan di kover ‘Those Manning Man’ ternyata ini adalah seri ketiga dari Debbie Macomber tentang keluarga Manning. Ini jelas cerita pure romance happy ending, tak ada tragedi tak ada konflik yang benar-benar berarti. Hebat, Jason adalah karakter penyabar yang benar-benar idaman. Saat jadi harapan terakhir Manning family yang pernikahannya akan dirayakan gede-gedean karena kaka-kakanya nikah sederhana macam nikah siri pula, ia dengan sangat sabar meladeni permintaan gila orang tuanya. Saat sang mempelai dengan oon-nya kabur dari pernikahan beberapa jam sebelum kick off ijab kabul, ia dengan sabarnya mencari, meminta untuk tabah dan hadapi bersama. Saat ia dipermainkan remaja labil, ia dengan sabarnya membantu masih dengan nada humor, “menjijikkan adalah kata yang bagus.” Benar-benar bak superman. Seakan ia adalah pria idaman. Yah, cerita selurus ini. Mana menarik?

Sempat berharap saat Charlotte kabur ini akan jadi twist, ternyata tak terwujud. Saat adegan intim jelang akhir, dengan trauma sang mempelai kuharap akan terjadi sesuatu yang mengejutkan. Saat dibuka bajunya baru ketahuan Charlotte ganti kelamin, misalkan. Ah ternyata bukan. “Terbukalah padaku, aku tak kan menyakitimu. Lebih baik aku mati daripada menyakitimu.” Debbie jelas memberi penggemar cerita Disney bertepuk tangan. Saya membacanya dalam dua kali kesempatan duduk. Walau halaman nyaris 300 tapi karena cerita ringan ya lempeng aja. Jelas ini buku sekali baca dan lupakan. Tak perlu dibenamkan ke dasar lumpur deh, kan ini buku pinjaman. Sebuah karya sederhana yang tak layak dipajang di rak. Di kover juga tertulis koleksi istimewa? Yang ada stempel superb aja macam gini bagaimana yang biasa?  Wahai pembaca atau kolektor Harlequin, adakah buku yang benar-benar hebat dari seri ini? Coba pilih yang menurut kalian yang terbaik dan sodorkan ke saya, siapa tahu bisa mengubah hakim bahwa ini serial adalah deretan karya hampa. Ada?

Kau sungguh cantik. Charlotte kau dengar aku, kau sungguh sempurna!”

Harlequin: Kesempatan Kedua | by Debbie Macomber | diterjemahkan dari Bride On The Loose | copyright 1992 | this edition is published by arrangement with Harlequin enterprises II B.V. | alih bahasa Vivi Wijaya | GM 402 02.005 | sampul dikerjakan oleh Marcel A.W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, April 2002 | 296 hlm; 18 cm | ISBN 979-686-754-0 | Skor: 1,5/5

Karawang, 150917 – Jessie J – Ain’t Been Done

Thnx to: Melly Potter, teman Meyka yang meminjamankan buku ini.