Botchan – Natsume Soseki

Tempat ini terlalu kecil untuk menyimpan rahasia.
A modern classic. Pertama baca tahun 2010 saat mengantar teman cari buku kuliah di pameran buku Pujasera, Cikarang. Saya beli hanya karena iming-iming tulisan back-cover ‘Seperti cerita The Adventure of Huckleberry Finn…’ yang seakan berteriak inilah Twain versi Asia. 

Membaca Botchan memberi pembenaran bahwa semua manusia punya talenta dibalik segala tindak buruk yang terlihat. Botchan adalah anak nakal, membuat berang orang sekitar. Hanya pelayan keluarga yang benar-benar percaya bahwa dibalik semua masalah yang dibuat ia memiliki sesuatu yang luar biasa sehingga sang pelayan menyayanginya. Dan saat beranjak dewasa, ia dipaksa jauh dari kampung halaman, pembuktian itu bisa. Ia menyata, ia ‘sukses’. Dikirim ke pelosok sebagai guru awalnya Botchan menganggap bahwa daerah terpencil itu kuno, warga Tokyo yang meremehkan. Namun siapa sangka, ia menemukan banyak pelajaran dan pengalaman hidup yang sangat berharga. Segala pengalaman itu dilimpahkan dalam buku 200 halaman yang sungguh menakjubkan.

Sedari pembuka kita sudah diperingatkan bahwa sang tokoh utama, ‘Aku’ ini orangnya nekad dan melakukan tindakan tanpa pikir dua kali. Lompat dari lantai dua karena hanya ditantang teman, menggores jari dengan pisau hanya karena diledek, dan berkelahi. Kenakalan-kenalakan anak-anak. “Anak itu begitu kasar dan berandalan, entah akan jadi apa nantinya.” Ibunya meninggal setelah sakit keras dengan gertakan kakaknya bahwa ia anak celaka. Saat tinggal dengan ayahnya yang aneh, ia hanya berkomentar, “Kau tidak berguna! Tidak berguna!”

Hanya Kiyo yang menggapnya tidak dibuang. Pelayan keluarga yang sudah sepuluh tahun mengabdi, ia lah pembela saat kenakalan Botchan kambuh. Ia selalu berprasangka baik, “Kau selalu berterus terang, sifatmu baik.” Sikap blak-blakan itulah yang jadi landasan Kiyo, Botchan akan ‘jadi orang’ suatu hari nanti. Dia percaya bahwa orang sepeti aku akan sukses dalam kehidupan dan menjadi orang besar, sedangkan kakaknya yang selalu belajar giat akan menjumpai kegagalan total, meskipun kulitnya putih bersih bak bangsawan. “Kau pasti bisa!” Kiyo selalu bersikap bijak, memberi uang lebih, membelikan makan, merawat dengan hati.

Saat akhirnya Botchan yatim piatu, bulan Januari tahun keenam setelah kematian ibunya. Bulan April ia lulus sekolah, bulan Juni kakaknya lulus sekolah bisnis. Kakaknya pindah ke Kyushu karena mendapat tawaran kerja yang menarik, Botchan harus tetap di Tokyo meneruskan studi. Kakaknya memutuskan memjual rumah, membagi uangnya berdua. Memberi uang pisah kepada Kiyo, dan mengucapkan selamat tinggal. Dengan lima ratus yes, Botchan menimang masa depan. Akhirnya memutuskan mengambil kesempatan Sekolah Ilmu Alam Tokyo. Selama tiga tahun belajar keras ia lulus walau pas-pasan. Delapan hari setelah kelulusan ia dipanggil kepala sekolah, bahwa sebuah Sekolah Menengah di Shikoku membutuhkan guru matematika, gajinya empat puluh yen sebulan dan ditawarkan kepadanya. Walau tak berkeinginan menjadi guru, ataupun tinggal di pedesaan ia ambil kesempatan itu karena ia tak tahu harus ngapain. Sebuah spotanitas yang disesali.

Sebelum berangkat ke Shikoku ia mampir ke tempat tinggal Kiyo, di sana Kiyo tinggal sama ponakan dan selalu membual bahwa Botchan akan jadi orang hebat dan memberitahu saudaranya segala hal hebat tentangnya, selepas lulus ia akan membeli rumah mewah di Kojimachi. Karena Kiyo sudah memutuskan sendiri dan mengumumkan semua bayangan itu, aku mendapati diri dalam posisi sulit dan tersipu. Sebelum pamit ia berujar, “Botchan kapan kau membeli rumah?” walau sudah dijelaskan membeli rumah tak semudah membalik telapan tangan, ia selalu membesarkan hatinya. “Aku harus pergi sekarang, tapi aku akan segera kembali. Aku pasti ke sini saat liburan musim panas tahun depan.”

Dikiranya Botchan hanya akan pergi ke sisi barat Hakone, tempat yang tak seberapa jauh dari Tokyo. Wanita seperti ini memang hanya membuatmu putus asa. Tapi saat bermamitan di stasiun adegan biru tersaji. Ia sudah naik kereta, dia menatap lekat-lekat dan berujar, “Ini mungkin kali terakhir kita bertatap muka. Jaga dirimu baik-baik.” Matanya dibanjiri air mata, aku tak menangis tapi hampir melakukannya. Kereta bergerak dan petualangan Botchan di tempat baru pun dimulai.

Setelah berpindah kapal dan kembali naik kereta ia tiba di sekolah tempatnya mengajar, berkenalan dengan kepala sekolah, guru lain dan tentu saja si guru matematika senior si Landak Hotta. Saat hari pertama mengajar para murid ribut sekali, sesekali ada yang memanggilnya ‘sensei’ dengan suara berlebihan. Saat sekolah ilmu alam dulu ia juga memanggil guru sensei, tapi saat dirimu yang dipanggil dengan kata hormat itu, rasanya ada sensasi menggelitik menuruni tulang rusuk. 

Sejak saat itu Aku setiap hari pergi ke sekolah, sesuai perintah dan mematuhi semua peraturan dan setiap hari pulang si pemilik rumah sewa akan menawari ‘menyeduh teh’. Rutinitas terbentuk, dan waktu memang obat mujarab menghadapi kesulitan. Adaptasi, di tanah rantau dengan uang minim dikombinasi kerja keras memberikan suatu hasil yang menakjubkan. Ditambah pengalaman kenakalan anak-anak dulu yang pernah ia alami, maka ia lebih bisa menghadapi masalah. 

Hanya karena pintar berargumen bukan berarti ia orang baik. Sama hal nya dengan orang yang dikalahkan dalam argumen, ia jahat. Kalau kau bisa membeli kekaguman seseorang dengan uang, kekuasaan atau logika maka lintah darat, polisi dan profesor universitas akan memiliki lebih banyak pengagum ketimbang siapapun. Bayangkan aku dikalahkan logika sekedar kepala sekolah menengah sungguh menggelikan. Manusia bergerak berdasarkan perasaan suka atau tidak suka bukan melulu dengan logika. – 155

Aku mengalami dilema. Sarjana sastra memang setan pandai bicara. Mereka menyambar satu titik lemah kemudian terus menyerangnya, menjadikan cemas dan terganggu sampai mereka mendapatkan apa yang diinginkan. – 153

Mereka berkelahi karena hal-hal yang sepele. Menurutku karena mereka tinggal di daerah terpencil, ini hanya salah satu cara mereka membunuh waktu. – 180

Aku meremas koran hingga menjadi bola dan melemparnya ke taman, tapi karena ini kurang membuatku puas aku mengambilnya kembali dan membuangnya di toliet. – 195

“Masalahnya ini memang rumit. Kalau mengatakan apapun, kita akan dicap melemparkan tuduhan palsu sungguh memusingkan. Terkadang aku menjadi ragu apakah ada keadilan yang datang dari langit.” – 200

Botchan terbit pertama kali tahun 1904 dan menginspirasi banyak pembaca. Novel ini mengajarkan kehidupan bagaimana menghadapi kenyataan dengan gentlemen di tenag kerusakan moral masyarakat. Ia adalah protagonis yangseakan antihero, melawan arus dengan keterusterangan dan tak memandang jabatan harus digenggam erat. Pemberontakannya akan sistem yang kolot dan lebih menguntungkan segelintir orang juga memberi gambaran karakter Botchan yang melawan. “Saya tak peduli pada karier saya, keadilan lebih penting.

Kovernya keren. Mengambil sembilan gambar dalam kotak di mana salah satunya ternyata berlubang. Judul yang bold putih beedasar hitam yang mencolok sungguh cathy. Layak dikoleksi dan dipajang berjajar novel sastra megendaris lainnya. Kisahnya sendiri terhenti bak di tengah jalan. Saat keputusan itu diambil, ia bahkan tak berkabar sama sekali dengan kolega. Menggoncang rel saat kereta sedang melaju nikmat, terasa menggangu? Enggak juga, bahasanya yang ringan dan mudah dicerna sudah cukup. Dan jelas Botchan adalah salah satu novel terbaik yang saya baca. Klasik yang menawan. 

Botchan | by Natsume Soseki | GM 402 09.017 | diterjemahkan drai bahasa Jepang olhe Alan Turney | alih bahasa Indah Santi Pratidina | sampul dan ilustrasi cover Martin Dima | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ceyakan keempat, Januari 2010 | 224 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-4417-5 | skor: 5/5

Ruang HRGA CIF – Karawang, 120917 – Sherina Munaf – Sendiri

Iklan