Biru – Fira Basuki

Are you in trouble financially, Candy?
Momentum itu penting. Timing saat membaca buku ini begitu pas sehingga membekas setelah 12 tahun berlalu. Di tahun 2005, setahun jelang Reuni Akbar STM1SKA-Elektronika saya menemukannya di toko buku Book Store, Lippo Cikarang. Membacanya seakan menelusuri kenangan-kenangan saat sekolah. Sebagai buku pertama Fira Basuki yang saya nikmati, buku ini jelas yang terbaik. Setelahnya saya sempat melahap Rojak dan sempat beringinan baca Trilogi Rumah yang sayangnya belum kesampaian hingga kini. Di tahun 2010 sang Penulis juga memberi kenangan manis saat ada diskusi buku baru beliau di Gramedia Matraman, Kapitan Pedang Panjang. Saya yang datang dengan teman-teman film, Gila Film begitu antusias. Di jeda acara saya dapat kepastian dari teman lama, sebuah kepastian yang menghantarku ke Karawang – hingga kini.

Malam biru: Lanskap langit mencurahkan biru ke Januari matamu | binari bulan mencurahkan waktu ke biru langit matamu | marak malam mencurahkan aku ke cakrawaka matamu (Joko Pinurbo, 2003)

Setelah pengantar dan ucapan terima kasih serta alasan kenapa memilih warna Biru yang menyita lima halaman kita diajak mengarungi samudera kehidupan. Kisah utamanya adalah reuni. Menuju ke sana kita diajak bersafari dalam 6 tahapan kisah. Pertama undangan, kedua 90 hari, ketiga 1982, keempat 60 hari, kelima 3 hari dan yang terakhir hari H: Reuni. Buku ini pertama terbit tahun 2003 dan kisah pembukanya adalah sebuah setting waktu bulan 29 Agustus 2002, hanya setahun sebelumnya. Proses penulisan sampai akhirnya di tangan Pembaca berarti cepat juga ya. Undangan reuni SMA Surya Bogor yang akan dilaksanakan tanggal 2 November 2002 di Hotel Grand, Senayan, Jakarta. Reuni angkatan 1982 itu akan bertema BIRU. Nah dari sinilah kisah itu dimulai, menuju kumpul-kumpul. Kita diajak mengenal mereka yang akan datang. Cerita menuju Reuni Biru.

Pertama Ana aka Rohana sang ibu rumah tangga yang sempat minder untuk reuni, mungkin teman-temannya sudah pada sukses materi sementara ia di rumah mengurus keluarga. Anak-anak sudah sekolah, kegiatan di rumah sudah ada pembantu. Hampa. “Aku harus memiliki sesuatu, sesuatu  yang membuat aku diperhatikan di reuni nanti.” Putrinya Mita nantinya akan jadi penghubung segala keruwetan cerita.

Kedua Pura aka I Gde Anunya (haha…) – Jakarta, sopir taksi yang hobi ngeband. Gitaris band Biru, kenapa nama band-nya Biru? Karena banyak membawakan lagu-lagu blues, jazz. Sudah lima belas tahun menyupir, sempat kuliah akutansi tapi drop out karena memang jiwanya ada di musik. Sayangnya saat mereka akan serius menggeluti musik, anggota band ada yang kena kasus narkoba.

Ketiga Aris aka Horison sang ketua panitia. Seorang aktivis LSM yang korup. Menikah dengan Diana dan punya putra berusia lima tahun. Aris dihantui masa lalu, sering mimpi buruk. Masa lalunya kelam, dibesarkan di panti asuhan, karena ibunya Gloria adalah korban seksual. Masa lalu itulah yang membentuk dirinya, keras, playboy dan menanggung dosa. Mimpi-mimpi seperti puzzle di kepala. Aku pernah ke sana, ke alam itu. Rasanya aku pernah di sana dan merasakannya. Dari hari ke hari aku merasakannya dan mengingatnya . Sepertinya aku pernah hidup di mimpi-mimpi itu. Mimpi buruk sang Horison Ford.

Keempat Lindih, korban cabul Aris. Si gembrot yang terpedaya. Keluarganya diambang berantakan, suaminya terlihat miskin. Berjuang cari uang bersama, menabung dan prihatin. Sayangnya sang suami selingkuh, ia kecewa karena saat menikah Lindih sudah tak perawan. Setiawan menyusun harapan di luar. Dan terbentuklah cinta segitiga, rumit.

Kelima Kira, sebagai WIL – Wanita Idaman Lain yang menghantui rumah tangga orang. Kira merasa kesepian, serba salah. Bahkan ada dalam dau paragraf penuh menjelaskan ketika libidonya naik ia tuntaskan dengan timun. “Kenapa Mr. T, kamu juga kesepian?” Gadis lain Mas An.

Keenam Mario Fernando aka Yo-Yo – alam liar, teman dekat Cindy. Hubungan mereka yang dominan dalam kisah bahkan nyaris memakan ¼ bagian juga akan jadi kunci sukses tidaknya reuni. “Seringlah datang malam-malam, Can-Can. Datanglah dalam mimpi nyataku…” Hobinya jalan-jalan menaklukkan ketinggian, hiking, travelling. Berkat temannya Steve McGill dari Amerika yang bertemu di Rocky Mountain, Colorado ia mendirikan Perusahaan petualangan ‘Go Out’ yang sekaligus kampanye pelestarian lingkungan. Setelah bertahun-tahun, begitu lamanya perbuatan kita yang mengusiknya planet bumi menjadi terganggu dan capek. Ia pun kesal dan kemudian tak heran ngambek dan mulai membalas dengan angin ributnya, gempa bumi, gunung meletus… Yo-Yo punya masalah kelamin dan mendamparkannya sampai Filipina.

Ketujuh Cindy van Cook – Singapura seorang model yang mulai mengeluhkan penampilan fisik. Secantik siapapun kita tak bisa melawan usia. Keriput di wajah, kelebihan berat badan, mudah lelah. Keseringan pandang cermin cemberut sampai nyanyi lagunya Diana Ross: ‘Mirror mirror on the wall. You turned my life into paperback novel. Words that come to life. Tell me mirror mirror on the wall…’ Obsesi tiada henti. Segala kosmetik dan pengobatan mujarap dicoba melawan waktu.

Buku ini menonjolkan feminisme. Fira dengan jeli menampilkan karakter kuat para perempuan dengan segala problematikanya, tak ada gadget tentunya karena setting utama ya sebelum era Millenial. Dari perempuan kesepian karena menjadi orang kedua sampai korban pemerkosaan. Dari perempuan yang mengutama fisik sehingga harus selalu tampil cantik sampai perempuan kuat menatap kenyataan. Tak ada tokoh utama, tak ada antagonis, semua ditampilkan seseimbang mungkin. Hebatnya buku ini disusun dengan kedekatan personal seakan kenyataan tragis yang dialami para tokoh itu memang ada di sekitar kita. Benar-benar unik untuk buku lokal. Tak seperti Dee yang ngawang-awang dan sok intelek. Saya lebih suka gaya Fira dalam bercerita, real, membumi. Fira menggunakan setting tempat-tempat yang pernah ditinggalinya, atau paling tidak disinggahi sehingga penggambarannya bisa benar-benar terasa di antara kita. Dari Amerika, Filipina, Singapura, Bogor, Surabaya dan tentu Jakarta. Profesinya di majalah Cosmopolitan juga segaris lurus dengan penokohan karakter. Salute!

Di bulan Februari 2010 dalam catatan Facebook, saya pernah posting berjudul ‘Andai Aku Menjadi…’. Ada lima pengandaian yang kusebut. Dan salah satu yang paling kuingat adalah Andai Aku Menjadi Produser Film, pengandaian yang kini mustahil terwujud setelah 8 tahun bergerak. Lengkapnya:

Jika Aku menjadi produser film dengan hak penuh. Maka aku akan menunjuk Riri Riza menjadi sutradara untuk menfadaptasi novel karya Fira Basuki dengan cast: Vino G Bastian – Mario, Marsha Timothy – Anna, Sisy Prescilia – Candy, Nirina Zubir – Kira, Nico Saputra – Pura, Julia Perez (alm) – Lindih. Untuk cast terakhir mungkin syutingnya agak lama. Tapi aku tetap menginginkan Jupe agar dia punya satu saja (minimal) film berkualitas, walau satu scene membutuhkan take puluhan kali aku tak peduli. Aku biayai salon untuk rebonding rambut Riri Riza agar beliau tak stress karena mengurus satu seleb satu ini. Jika Jupu gagal dan menyerah maka (anggap aku punya opsi no 4) aku akan mendeportasinya ke Uruguay, melarang penayangan dirinya di media massa dan tentu saja menutup iklan kondom yang menggunakan ikon dirinya. Soundtrack jelas aku berikan keleluasaan pada Sherina Munaf, screenplay biar Lazione Budy membereskan. Percayalah! Di adegan ending menampilkan reunian aku akan muncul sebagi cameo. Mengajak serta sebagian (besar) teman-teman Elektronika C 2003 untuk tampil walau sesaat. Lalu dalam kerumunan di depan ballroom hotel Grand aku berbincang dengan kepala suku EC: “Eh, kamu siapa sih? Kita ngobrol dari tadi, aku lupa-lupa ingat, sorry…!”

Mereka menyebutnya binatang. Aku menyebutnya pahlawan. Aku akan menutup mata dan telingaku rapat-rapat. Tapi aku akan membuak mulut di pengadilan nanti, suamiku yang baik, bukan saja seorang kekasih yang baik, tetapi juga seorang ayah yang baik… aku harus tahu, atau paling tidak itu yang harus aku percaya. Aku harus melindunginya, ia suamiku.

Biru | oleh Fira Basuki | GM 501 03.207 | editor A. Ariobimo Nusantara | pewajah isi Suwanto | foto Ivanho Harlim | Penerbit Grasindo – Gramedia Widiasara Indonesia | cetakan kelima, Juli 2004 | ISBN 979-732-099-5 | Skor: 5/5

Karawang, 090917 – Sherina Munaf – Semoga Kau Datang

Iklan

One thought on “Biru – Fira Basuki

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s