Dan Brown: a Biography – Lisa Rogak

Ini adalah buku yang saya tunggu-tunggu sejak dua tahun lalu. Sempat menimang-nimang untuk kubawa pulang dari toko buku, tapi urung karena terbentur harga. Sehingga saat awal Ramadan 2017 ketika ke Gramedia Karawang sedang ada diskon sehingga harga bisa terpangkas separuhnya tanpa pikir dua kali langsung saya ambil. Kisah Novelis yang diklaim paling kontroversial abad 21 ini sungguh bervitamin. Perjalanan hidup penuh liku dari seorang lulusan universitas terkemuka, mencoba menjadi musisi, menikahi istri yang lebih tua sampai meledakkan diri dalam novel fenomenal Da Vinci Code.

Saya sudah menonton tiga adaptasi filmnya, dua pertama luar biasa seru memicu andrenalin. Sayangnya tahun lalu Inferno limbung, dengan pola nyaris sama, dan kejutan yang tak terlalu mengejutkan, bahkan plotnya terlihat konyol, sayang sekali. Di buku ini hanya sepintas disinggung proses menuju film, kita akan lebih banyak diajak mengarungi perjalanan karir sang Penulis. Saya baru baca satu buku Dan Brown, satu lagi ga selesai karena bentuk pdf pemberian teman, yang lain rasanya kalau ga kena diskon atau pinjam ga akan kebaca. Kemarin teman kerja bilang punya Inferno, waaa bisa-bisa saya pinjam.

Biografi ini saya baca kilat-se-hari dalam perjalanan pulang-pergi Selasa, 8 Agustus 2017 CIF – Citarasa Indonesia Factory, Karawang dari ke HO – Head Office, Jakarta untuk pre-implementasi SAP Training dan Benefit Asuransi, saya membaca di samping sopir memanfaatkan waktu perjalanan 2,5 jam berangkat, 3 jam pulang serta 1 jam istirahat di Grand Wisata, Bekasi. Hasilnya, lumayan seru. Tak sia-sia penantian panjang itu, tak rugi mengikuti seluk beluk bagaimana proses novel itu akhirnya tercipta.

Setelah prolog 21 halaman, semua ini dimulai di Exeter, New Hampshire. Dan Brown dibesarkan dalam rumah di mana teka-teki dan kode menjadi salah satu cara bersenang-senang. Kode merupakan gabungan antara matematika, musik dan bahasa. Di saat Natal, kado akan disembunyikan lalu Dan dan adik perempuan Valerie serta si bungsu Gregory akan berburu. Dan dibesarkan dikelilingi oleh berbagai klub rahasia di universitas-universitas Ivy League, pondok-pondok Masonic dari Para Pendiri Bangsa dan selasar tersembunyi pada kekuasaan di masa awal. New England punya tradisi panjang klub pribadi elit, kelompok persaudaraan dan rahasia. Salah satu alasan Dan merasa sangat nyaman dengan beberapa bidang ilmu sekaligus adalah dua subjek yang oleh orang lain dianggap sangat bertolak belakang – sains dan agama – hidup berdampingan dalam damai, bahkan berkembang di dalam keluarga Brown. Ayahnya mengajar dan menulis tentang matematika sedangkan ibunya memainkan musik sakral dan organ. Mereka saling melengkapi dengan harmonis. Pernyataan itu disampaikannya suatu ketika, “Mengingat aku tumbuh sebagai Putra seorang ahli matematika dan seorang pemain organ Gereja, aku tersesat sejak awal. Jika sains menawarkan berbagai bukti menarik mengenai pengakuannya, agama jauh lebih banyak menuntut.”

Saat lulus kuliah, Dan punya dua kecintaan: menulis fiksi dan menulis lagu. Tahun 1982 ia memiliki pengalaman tak terlupa saat menghabiskan musim panas berkunjung ke Amherst College, Spanyol. Benih awal Dan Vinci ditanamkan profesornya melalui sebuah presentasi slide tentang The Last Supper, lukisan kedua terkenal Leonardo Da Vinci setelah Monalisa Smile. Dengan santai berseru bahwa sosok yang duduk di samping kanan Yesus di dalam lukisan bukanlah John seperti kisah umum yang kita tahu. Melainkan sosok wanita yang lebih tepatnya Maria Magdalena. Lalu sang profesor menunjukkan rahasia-rahasia dia dalam lukisan itu, termasuk fakta tak ada cangkir anggur di bagian manapun. Dan inilah katalis imajinasi Dan Brown, termasuk lukisan Madonna of the Rock dan Adoration of the Magi.

Poin paling menakjubkan dari biografi ini tentu saja kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas. Singkat kisah Dan adalah dari keluarga berada, lulusan kampus bergengsi, punya tekad untuk jadi musisi ternama sehingga hijrah ke Hollywood, tempat berjuta mimpi berada. Menikah dengan wanita yang lebih tua 12 tahun, dengan tatapan miring kolega hal ini hanya untuk mendongkrak popularitas karena Blythe adalah salah satu orang penting dunia industri hiburan. Album pertama yang biasa kalau tak mau dibilang gagal, album musik berikutnya yang lebih terpuruk, dan langkah penting mengambil keputusan hidup untuk menepi menjauhi segalanya untuk memulai dari awal. Saat berlibur ke Tahiti, ketika tanpa sengaja menemukan buku Sidney Sheldon, Doomsday Conspiracy ia berseru bisa membuat yang seperti ini. ‘Hei aku bisa juga melakukannya’.

Sebuah kontrak buku perdana, buku 187 Men To Avoid yang benar-benar biasa sebagai panduan bergaul. Terbit tahun 1995, dari judul dan genre nya saja sudah terdengar konyol, sehingga keputusan ini awalnya terdengar buruk. Karya itu ditulis oleh Dannielle Brown. Buku kedua The Bald Book bisa saja lebih baik, di bawah nama Blythe Brown. Namun tetap sambutan tak semeriah yang diharap.

Akhirnya menekuni serius dalam fiksi novel. Tahun 1998 Digital Fortress muncul ketika dunia komputer sedang naik daun. Dan informasi bahwa keamanan email kita tak serahasia yang kita duga membuat sambutan novel debut ini bisa diterima. Lalu Angels and Demons yang memperkenalkan Robert Langdon lumayan sukses. Menyusul kemudian tahun 2001 adalah novel dingin Deception Point yang bersetting di Kutub Utara. Dan mereka kembali gagal membuat sesuatu yang wow, bahkan ini novel terpuruk di pasaran.

Maka novel keempat adalah sebuah pertaruhan. Peristiwa 11 September menghentikan semuanya. Dan Brown mempersiapkan dengan lebih detail, kembali melihat ke belakang apa yang salah dan apa yang perlu dikembangkan. Maka keputusan kembali memperkenalkan Robert Langdon adalah keputusan brilian. “Untuk setiap halaman yang dibaca pembaca dalam the Da Vinci Code, ada sepuluh halaman yang berakhir di bak sampah. Bagaimanapun ini adalah thriller dan aku berusaha untuk menggunakan informasi yang mendukung cerita dan membantu jalannya plot.”

Satu lagi yang mendukung ledakan novel ini adalah kepindahan Penerbit dan kepercayaan editor barunya. Jejak Dan di Pocket Books kurang mengesankan maka kepindahannya ke Doubleday bersama editor kawakan Jason Kaufman merupakan campur tangan Tuhan untuk menjadikan Da Vinci Code terwujud. Akhirnya ia berada di jalan yang benar.

Dan seperti yang kita tahu, Da Vinci Code yang kontroversial malah mendongkrak reputasinya. Review positif di hari peluncuran novel dari kritikus Janet Maslin di New York Times mendorong lebih jauh lagi, “Kata yang tepat adalah wow…” sebuah pembuka ulasan yang tentu saja membuat semua Penulis melonjak kegirangan. Sisanya adalah perjalanan emas novel ini. Adaptasi film tahun 2005 dengan bintang besar Tom Hanks dan sutradara hebat Ron Howard. Persidangan melelahkan karena dituduh plagiat. Dan kemunculan novel kelima The Lost Symbol yang molor jauh dari jadwal karena kekagetan instan efek Da Vinci.

Biografi ditutup tahun 2013 dengan dirilisnya novel keenam Inferno, yang tahun lalu diadaptasi gagal ke layar lebar. “Tujuanku adalah kau mencapai halaman terakhir dengan perasaan senang dan setelah menutup sampulnya kau menyadari,Wow, coba pikir betapa banyak yang sudah kupelajari.’

Link yang kusuka dalam biografi ini adalah Dan Brown terpengaruhi oleh salah satu novel klasik Wrinkle In Time karya Madeleine L’Engle, buku tentang dimensi lain itu begitu membuatnya terpesona sehingga beberapa bagian novelnya seakan mengajak bersinggungan dengan histori waktu. Buku itu dibacanya empat kali, dan konsep mengagumkan tentang tesseracts membuatnya berfikir tentang alam semesta.

Seperti kata Mr. Jack Heath, dosen bahasa Inggris Dan di Exeter: ‘Lebih sederhana lebih baik.’ Dan inilah dia Dan Brown, Penulis hebat dari New Hampshire!

Bisakah kau memecahkan kode ini: YAOROVSEUEETHNCS

Dan Brown: a Biography | by Lisa Rogak | Terbitan Thomas Dunne Books an imprint of st. Martin’s Press, New York, 2013 | diterjemahkan dari Dan Brown: The Unauthorized Biography | cetakan pertama, Juni 2014 | Penerjemah Harisa Permatasari | ilustrasi sampul Jajang Windaya | desain sampul Dosi Rosadi | Pemeriksa aksara Yunni Y.M. | Penata aksara Ahmad Taufik Lubis | Penerbit Bentang | 248 hlm; 20.5 cm | ISBN 978-602-291-041-1 | Untuk kota New Hampshire dan penduduknya meski sudah berusaha, aku tetap tak bisa pergi dari kalian | Skot: 4/5

Ruang HRGA CIF – Karawang, 110817 – Sherina Munaf – Kutunggu

Iklan

Ordeal By Innocence – Agatha Christie

Khas Christie. Pembunuhan, para potensial terdakwa saling tuding, pembaca diminta menebak jalan pikiran masing-masing. Setelah yakin siapa sang pembunuhnya, kita dikecoh dengan fakta kecil yang luput dari perhatian. Ya, seperti keseruan laiknya buku-buku Christie lain. Untuk ‘Mata Rantai Yang Hilang’ ditambah bumbu debar bahwa kasus pembunuhan yang sudah ditutup dua tahun yang lalu kini harus dibuka lagi karena sang pembunuh yang dihukum seumur hidup itu harus mati di penjara, dan ternyata salah tangkap! Waaa.. sungguh mendebarkan.

Buku ketiga pinjaman dari Melly Potter, teman istri yang kubaca dan review. Buku keempat ga saya ulas karena ‘Kisah Di Balik Penulisan Harry Potter’ itu sudah punya. Jadi setelah ini saya ulas akan kembali. Buku-buku pinjam saya prioritaskan tuntas agar segera pulang dan fokus buku lain. Sapta Siaga yang sederhana, Besar Itu Indah chicklit foya-foya serta ini, kisah pembunuhan dari Penulis favoritku.

Dari 76 buku Christie, setelah saya hitung ulang baru 11 buku yang sudah kubaca. Problem at Pollensa, Third Girl, After The Funeral, They Came To Baghdad, And Then There Were None, Murder is Easy, The ABC Murders, The Thirteen Problems, Partners In Crime, Poirot Investigates, dan buku ini. Wah, tak sampai 1/5 nya! Christie begitu produktif, bahkan buku-bukunya banyak yang dijual bundel oleh Gramedia. Pernah berniat beli (minimal satu aja), sayangnya tak pernah kesampaian. Isi per bundel 10 buku dengan baderol 500 ribu. Mahal juga ya, padahal 15 tahun lalu saat kubeli Poirot Investigates hanya 20 ribu. Kini sudah dua kali lipat. Kualitas memang tak bohong.

Ini adalah kisah detektif tanpa kehadiran detektif, yang memecahkan kasus adalah orang sipil. Kisahnya sulit ditebak, ya saya terkecoh. Semua orang yang ada di dekat TKP punya potensi. Tentang Jacko Argyle yang dituduh melakukan pembunuhan terhadapm ibunya, dan dipenjara. Di tahanan ia meninggal dunia. Dua tahun berselang, muncul orang asing yang meluluhkan kedamaian keluarga Argyle karena punya alasan kuat bahwa Jacko bukan pembunuh yang sesungguhnya. Arthur Calgary suatu senja memutuskan mendatangi sebuah kediaman mewah Sunny Point (dulunya bernama Viper’s Point) milik kelaurga Argyle. Ia datang untuk menemui Leo Argyle dan memberitahukan bahwa dua tahun lalu ia memberi tumpangan kepada Jack Argyle di malam naas itu. Dia ingin meluruskan bahwa ada kemungkinan Jack tak bersalah. Diluarduga Arthur, sambutan keluarga ini dingin. Bahkan terlihat jelas pada ga suka, aneh sekali.

Arthur lalu menyelidiki sebabnya. Keluarga Argyle ternyata tak punya anak kandung, kelimanya adalah anak angkat.

Anak yang pertama Marry ‘Polly’ Durrant, gadis asal New York yang diasuh setelah jadi korban Perang Dunia Kedua. Dibawa ke Inggris, sesuatu yang mewah dan membahagiakan awalnya naik mobil, hotel berbintang, pakaian indah, kapal laut dan pelayan. Sebuah kemewahan dalam kemanjaan ganjil yang akhirnya dia dapat. Menikah dengan orang cerdas Philip Durrant, namun sayang Philip terserang polio di puncak karir sehingga Polly harus merawatnya, mengabdi.

Kedua adalah Micky Argyle, seorang berfikiran bebas. Ibunya cuek pemabuk yang suka memukuli anak, ayahnya ga jelas. Seharusnya merasa beruntung diangkat anak keluarga ini, tapi ia selalu berteriak, ‘Saya mau pulang, saya mau pulang, ke Mama, ke Ernie.’ Malam ia sering menangis dalam kesedihan mendalam. Masa kecil keras yang membentuk wataknya kemudian hari.

Ketiga Christina ‘Tina’ Argyle, seorang pustakawan yang tinggal di flat kecil dengan mobil sederhana. Seorang anak blateran dari ibu pelacur, ayah pelaut India. Micky dan Tina punya kedekatan yang terlihat sepintas bisa saja mereka menjalin kasih. Awalnya kita diberitahu mereka tak ada di rumah saat kejadian, tapi semakin tipis halaman keraguan muncul karena ternyata ada saksi yang jelas melihat mobil mereka di sana!

Keempat Hester Argyle yang cantik. Ibunya dari Irlandia yang setelah melahirkan tidak sah tidak ingin memulai hidup baru. Dia memiliki kekasih posesif seorang dokter Donald Craig. Sempat mengadu untung di dunia seni peran merantau jauh dari orang tua namun kandas, sehingga kembali dalam pelukan Rachel. Malam setelah dipastikan bukan Jacko sang pembunuh ia membatalkan acara menonton pertunjukan drama Waiting for Gadot di Drymount.

Kelima si ragil Jack ‘Jacko’ Argyle berwajah monyet jenaka yang menyenangkan, kelucuan-kelucuan selalu membuat tawa keluarga. Seorang perayu ulung, penipu dan suka foya-foya. Dia pintar sekali berkelit, hebat dalam bicara sehingga ada banyak korban wanita yang jatuh dalam pelukannya. Duit yang diberikan orang tua angkat selalu habis, dan gagal dalam segala usaha bisnis. Malam itu setelah gagal meminta uang kepada ibunya, dia dituduh membunuh menggunakan besi perapian karena marah. Ditangkap, diadili seumur hidup, tapi tewas lebih cepat. Kejutan buat keluarga adalah ia sudah menikah dengan gadis lugu penjaga tiket bioskop Maureen, yang setelah kematian Jack menikah lagi dengan Joe Clegg.

Kelaurga Argyle memiliki seorang pelayan setia Kirsten ‘Kisty’ Lindstrom yang penggugup yang sudah bertahun-tahun mengabdi bahkan sejak keluarga ini mulai dibentuk, serta sekretaris Gwenda Vaughan yang setelah kematian Rachel akan menikahi Leo. Rachel ternyata seorang ibu yang sangat protektif terhadap anak, semua diaturnya. Bahkan setelah pada dewasa masih saja mengatur masa depan, yang membuat anak-anak ini risih. Tentu saja selain kelima anaknya, tiga karakter ini dimasukkan dalam pusaran kemungkinan tersangka.

Malam naas itu, kedelapan orang ini terkait di dalam Sunny Point. Dikejar waktu karena mereka saling silang curiga dan prasangka pasti ada pembunuh di antara mereka sungguh dilematis, jadi siapa sebenarnya pembunuh Rachel Argyle?

Inspektur Huish yang sudah menutup kasus terpaksa membuka kembali adalah aib bagi kepolisian kasus salah tangkap, ia meminta keluarga ini berkumpul guna dimintai keterangan lagi. Dibantu oarng yang penyebab segalanya muncul, Arthur Calgary satu per satu coba ditelaah sampai akhirnya terjadi pembunuhan berikutnya yang mencengangkan!

Karena saya baru suka main instagram pakai HP May, saya iseng ketik judul buku ini dan muncullah banyak cast dan crew update terbaru film BBC yang ternyata dalam proses adaptasi! Wow, kok bisa pas banget ya, saya selesai baca dan langsung digarap ke tv series. Saya hanya lihat sepintas video durasi 30 detik dan nama paling populer yang muncul adalah Bill Nighty, jelas ia akan memerankan pak tua Leo Argyle. Rasanya sangat pantas ditunggu ini film.

Saya teringat kata-kata magna carta: ‘Tak ada orang yang akan dibiarkan tidak mengecap keadilan’.

“Penampilan seseorang kadang-kadang menipu.”

Mata Rantai Yang Hilang | by Agatha Christie | diterjemahkan dari Ordeal By Innocence | copyright 1958 | alih bahasa Ny. Suwarni A.S | revisi desian sampul Dwi Koendoro | GM 402 94.032 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, Mei 2002 | 384 hlm; 18 cm | ISBN 979-605-032-3 | Untuk Billy Collins, dengan penuh sayang dan terima kasih | Skor: 4,5/5 KGV.V5/23 – Karawang, 290717 – Krewella – Alive Thx to Melly Potter, May’s friend

Gulliver’s Travels – Jonathan Swift

Wow, buku bagus banget ini. Pecinta fantasi wajib baca. Pengamat politik harus menelaah. Buat yang suka fiksi satir kudu menikmatinya. Bukunya memang tipis, karena kita langsung masuk ke permasalahan. Tak banyak basa-basi, Sang Penulis langsung menempatkan kata-kata penting tanpa banyak pengantar situasi. Ceritanya memang tentang perjalanan mengarungi samudera, terdampar di pulau misterius tapi poin utamanya bukan itu, justru sindiran tajam tentang sifat manusia yang mengedepankan egoisme serta pencarian kenyamanan menjalani kehidupan. Mungkin saat ini sudah banyak kisah yang mengangkatnya, tapi untuk sebuah karya abad 18 tentunya istimewa. Karena film adaptasinya sudah banyak muncul dengan berbagai penyesuaian, maka saat menikmatinya tinggal ngalir tanpa banyak kejutan berarti. Tinggal bayangkan Jack Black dengan segala tatapan polosnya.

Kisah klasik dibagi dalam dua bagian: Perjalanan ke Negeri Liliput dan Perjalanan ke Brobdingnag. Setelah pengenalan dua halaman sang Penulis asal Dublin, Irlandia kita langsung ditempatkan dalam konflik. Sang Aku, Lemuel Gulliver diceritakan kilat sedari kelahiran di Nottinghamshire, sekolah di Emanuel College di Cambridge lalu belajar pada dokter terkenal asal London, James Bates. Cita-citanya yang ingin berpetualang di negeri asing sudah ada sejak kecil. Hobi baca dan mempelajari bahasa ini akan jadi pegangan dalam kisah asing ke Timur jauh. Setelah menikah mereka pindah ke Wapping dan mencoba bisnis tapi keadaan tak membaik maka Gulliver memcoba peruntungan berlayar bersama kapten William Pritchard, kepala kapal Antelope yang melakukan perjalanan ke Selatan yang berlayar dari Bristol pada tanggal 4 Mei 1699. Dan preferensi kisah ini dirangkum kilat hanya dalam 1 lembar! Benar-benar efektif dan tak bertele.

Perjalanan ini lancar sampai di Van Diemen (Tasmania) lalu badai muncul yang mengakibatkan 12 kru meninggal dan yang lain luka-luka, tanggal 5 November awal musim panas di dunia bagian tersebut angin kencang kembali menyapa sampai kapal menampar karang hingga hancur. Enam orang berhasil melompat selamat, namun terpencar ke segala arah, ia berhasil berenang menemukan daratan sendirian pada pukul delapan malam. Saking lelahnya ia tertidur di rumput pendek nan halus di dekat pantai. Saat terbangun kurang lebih sembilan jam kemudian ia terkejut, mendapati tubuhnya sudah dalam posisi dililit benang. Dengan matahari pagi yang mulai terik, Gulliver merasakan ada sesuatu yang hidup menaiki kaki kirinya, kemudian berjalan ke atas tubuh menuju wajah. Betapa terkejutnya ia makhluk berukuran enam inci dengan busur dan panah di tangan mengancam, kemudian ada lagi paling tidak empat puluh makhluk yang sama mengikuti! Selamat datang di negeri Liliput! Inilah gambaran yang ada di sampul buku.

Saat membacanya saya membayangkan, kita sedang dikerumuni manusia kerdil seukuran kadal dengan segala ancamannya. Seram juga, Gulliver mencoba membebaskan diri, walau ada beberapa benang putus tapi sungguh erat iktannya lalu beberapa panah ditembakkan lagi membuatnya panik, makhluk itu coba ditangkapnya, tiba-tiba salah seorang berteriak, “Tolgo phonac!” dan ratusan panah menancap di lengan kiri, bagaikan ratusan jarum yang menghujam, berikutnya sasaran ke wajah tapi bisa ditangkis. Ia pun memutuskan kembali diam berbaring.

Setelah beberapa lama, makin banyak makhluk yang berdatangan. Dari sebelah kanan salah seorang berteriak, “Langro dehulsan.” Dan sekitar lima puluh orang melepaskan tali. Orang yang memerintah itu berusia sekitar setengah baya dan lebih tinggi dari yang lain berbicara panjang lebar dan walaupun ia tak mengerti bahwa perkataannya menyatakan tentang ancaman, janji, belas kasihan dan kebaikan hati. Mencoba menjawab tapi terkendala bahasa. Akhirnya dibuat kesepakatan dengan menggunakan isyarat. Ia ingin dibebaskan, tapi muncul sang raja yang menggelengkan kepala dan memberi tanda kepada pasukan bahwa ia dibawa sebagai seorang tawanan. “Peplum selan!

Orang-orang ini adalah pembangun yang hebat, ada lima ratus tukang dan insinyur bekerja menyiapkan kendaraan untuk mengangkutnya. Benang yang kuat diikatkan di leher, tangan, tubuh dan kaki. Sembilan ratus pria terkuat menarik benang itu selama kurang lebih tiga jam Gulliver berhasil diangkut, dibawa ke kerajaan. Begitulah, akhirnya ia menjadi tawanan di negeri Liliput. Di sana hukum terlihat unik, bila orang tertuduh di pengadilan terbukti tidak bersalah maka sang penuduh dijatuhi hukuman mati dan orang yang dituduh mendapati harta dan tanah sang penuduh. Pemerintah yang baik berdasarkan pada imbalan dan hukuman. Semua orang yang menjunjung tinggi hukum negeri selama enam tahun akan mendapat hak istimewa. Simbol keadilan mereka berupa enam mata, dua di depan, dua di belakang, dan masing-masing satu di sisi. Sebuah kantung emas dan pedang bersarung menunjukkan mereka lebih menginginkan imbalan ketimbang hukuman.

Berikutnya ia mempelajari bahasa mereka, ia dipanggil ‘Quinbus Flestrin’ atau ‘Manusia Gunung’, dengan porsi makan yang bisa menghabiskan porsi ribuan liliput mereka meminta ‘bersumpah damai dengannya dan kerajaannya’ atau ‘lumos kelmin desmar lon emposo’. Ditandatangani dan disegel pada hari keempat bulan kedelapan puluh Sembilan kekuasaan yang Mulia – Clefven Frelock, Marsi Frelock –

Perdamaian itu membuat Gulliver harus menyerahkan senjata, uang perak dan tembaga, pisau cukur, sisir, kotak tembakau dan saputangan. Tapi ia menyimpan kacamata, teleskop saku dan beberapa benda lain yang lolos dari pengamatan. Setelahnya mereka mengakrabkan diri. Ia mendapat suplai makan yang cukup untuk 1728 liliput per hari. Gulliver heran bagaimana mereka bisa menghitung cepat angka itu, lalu salah seorang menjelaskan ia sudah mengukur tubuhnya adalah dua belas kali liliput sehingga butuh makanan sebanyak 1728 kali yang mereka butuhkan. Dari sini jelas mereka adalah makhluk yang pandai. Di dunia liliput ternyata tak jauh beda dengan kehidupan kita, mereka berperang, hidup dalam masyarakat dalam komunitas. ‘Golbasto momaren evlame gurdilo shefin mully ully gue’ Raja paling kuat liliput, cahaya dan terror alam semesta.

Konflik sesungguhnya di dunia liliput muncul saat kerajaan tetangga Blefuscu menghimpun kekuatan untuk berperang, tapi dengan adanya manusia gunung mereka tentu saja menang mudah. Malam itu armada kapal Blefuscu direnteng, mereka terkejut ada raksasa dan paginya mereka menyerah total. Kembalinya ia disambut bak pahlawan dengan penuh puja puji, mereka menganugerahi gelar pahlawan nardac, gelar penghormatan tertinggi.

Yang Mulia menginginkan membawa seluruh kapal musuh ke Liliput, ambisi Raja tak terbatas ia menginginkan Blefuscu sebagai salah satu provinsi, ia ingin menghancurkan negeri Ujung Lebar, dan menjadi penguasa seluruh dunia. Gulliver tentu saja menolak, ia tak ingin menjadikan orang bebas menjadi budak, penolakan itulah awal dari segala prasangka buruk. Sang raja mulai menuduhnya berkonspirasi, menolak Raja berarti melawan kerajaan, beberapa menteri mulai menarug curiga. Dan saat surat undangan damai kerajaan Blefuscu disampaikan, malam itu terjadi kebakaran di kerajaan Liliput, Gulliver membantu memadamkannya dengan mengencinginya, puncak kemarahan meletus. Ia harus pergi, ia harus pulang ke Inggris. Sehingga saat di pantai ada kapal asing terdampar di sana ia memutuskan untuk berlayar.

Kisah Liliput ditutup pada tanggal 24 September 1701 jam enam pagi ia meninggalkan pulau Liliput dan dua belas jam kemudian di barat daya Gulliver menemukan pulau, setelah istirahat ia kembali berlayar satu jam kemudian ia melihat kapal berbendera Inggris. Kapten kapal yang baru dari Jepang, Tuan John Biddel dari Deptford. Bertemu dengan teman lama Peter Williams. Setelah bergabung, cerita Gulliver dikira mengada-ada, dikiranya pikiran terganggu. Namun dalam sakunya terdapat binatang ternak mungil yang bisa jadi bukti. Akhirnya mereka bisa mendarat kembali ke Inggris tanggal 13 April 1702.

Perjalanan kedua ke Brobdingnag diawali dengan tak lebih absurb pada tanngal 2 Juni 1702. Dengan kapal Adventure yang dinahkodai kapten John Nicholas dari Liverpool mereka menuju Surat, sebuah daerah di India. Ada yang unik kala satu pulau Indonesia disebut, pada tanggal 3 Mei mereka mencapai Maluku Selatan lalu ke arah Tenggara, kemudian mereka terdampar di sebuah pulau asing, saat para pelaut pada berlarian ke kapal untuk menyelamatkan diri karena dikejar raksasa, Gulliver apes sedang di pantai sendirian. Karena ngeri, ia sembunyi lalu dalam keadaan takut ia memutuskan masuk ke ladang di mana tanamannya super besar.

Tentu saja Gulliver akhirnya tertangkap. Awalnya dikira binatang, tapi saat ia mengeluarkan pedang mengancam dan berteriak-teriak mereka malah tertawa. Kelucuan Gulliver membuat para raksasa membawanya pulang dan dimasukkan ke kandang, dan esoknya dibawa keliling ke pasar untuk dipamerkan. Siapa saja yang ingin melihat ‘Grildrig’ yang artinya manekin, mereka harus membayar. Sang raja lalu membayar petani untuk Gulliver, ia dirawat oleh gadis cilik berjuluk Glumdalclith alias Perawat Cilik. Di sana Gulliver belajar bahasa dan kebiasaan baru. Dan sungguh luar biasa, negeri raksasa ini, mereka juga sudah maju. Ada angkatan darat, susunan majelis kerajaan sampai tata Negara. Tukar pikiran sejarah manusia itu membuat salah satu kutipan paling bagus diucapkan raja halaman 112, “Aku memiliki pendapat bahwa orang-orangmu adalah serangga kecil paling mengerikan yang merangkak di atas permukaan bumi.”

Jonathan Swift memang berfikiran anti-kekerasan dan anti-perbudakan. Novel bergaya diary ini sukses membuat kita ikut larut berfikir, ‘benar juga ya, manusia di hadapan semesta hanya sebesar debu’ dianggap sebagai serangga mengerikan dengan pikiran jahat terselebung. Sungguh hebat sindiran yang tersampaikan.

Sebenarnya setelah ke Negeri Raksasa masih ada dua perjalanan lain Gulliver yaitu ke Glubbdubdrid dan Jepang serta ke negeri Houyhnhnms. Tapi buku ini hanya merangkai dua perjalanan awal. Patut diburu nih kisahnya. Ada satu lagi kutipan yang sangat kusuka, saat Gulliver terasing dan terancam maut ia memikirkan keluarga di halaman 75 ia menulis: “Aku berfikir tentang istri dan anak-anakku dan semua teman serta sanak saudara yang telah menasehatiku untuk tak kembali melaut.”

Itulah jiwa petualang, saat sudah mereda segala rintangan kita akan tertantang untuk kembali mengarungi sesuatu yang baru. Dan jelas Gulliver ini istimewa!

Gulliver’s Travels | by Jonathan Swift | alih bahasa Zuniriang Hendrato | penyunting Windy A | perancang sampul Bendung | Penerbit Narasi | distribusi tunggal PT Buku Kita | cetakan pertama, 2007 | 128 hlm; 13×19 cm | ISBN 979-168-022-1 | Skor: 5/5

Ruang HRGA CIF – Karawang, 100817 – Sherina Munaf – Persahabatan

#HBDCalista3Years #HermioneYumna​

A Wrinkle In Time – Madeleine L’Engle

Salah satu novel klasik tentang permainan dimensi terbaik yang saya baca. Saat membaca ending Bartimaeus Trilogy di mana sang jagoan akhirnya memasuki dunia lain yang gelap dalam pemadatan materi, saya langsung teringat buku ini. Saya membacanya tujuh tahun lalu, saat merayakan kebebasan masa muda bersama teman-teman GF – Gila Film: Zulk, Dien, B Sukendo, Deni, dkk di tanggal 10-10-10 ke Senayan dalam pameran buku. Karena Atria tidak mencantumkan cetakan asli awal terbitnya, kukira dicetak pertama tahun 2007. Hebat juga, buku terbitan milenial bisa semegah ini, ternyata sudah ditempa waktu karena aslinya terbit tahun 1963 dan mulai tahun 1979 ada ilustrasinya yang dikerjakan oleh Leo dan Diane Dillon. Sungguh menakutkan sekaligus menarik saat menemukan bahwa materi dan energy adalah hal yang sama, ukuran hanyalah suatu ilusi dan waktu adalah subtansi materi. 

Buku anak-anak tapi tak sepenuhnya buat anak, isinya filosofis memainkan dimensi bak sebuah ilmu sains yang rumit. Kisahnya dibuka dengan malam penuh badai, di dalam kamar tidurnya di loteng, sang protagonist Margaret Murry dalam tidurnya terganggu. Ia memperhatikan pepohonan yang bergoyang di tengah tempaan angin yang dahsyat. Terbungkus dalam selimut, Meg gemetaran. Dia lalu turun ke dapur untuk membuat minuman. Bagaimana seluruh keluarganya bisa tidur? Sepanjang hari di radio terdengar peringatan-peringatan tentang badai? Di bawah tangga dia mendengar Fortinbras, anjing hitam besar, menggonggong. Fortinbras tak pernah menggonggong tanpa sebab. Saat sampai di dapur, tenyata ada adiknya Charles Wallace yang sedang memanaskan susu, “Aku sudah menuggumu. Aku tahu kau akan turun.” Bagaimana ia selalu tahu tentang Meg? Sungguh aneh mereka tidak mampu mengungkapkan apa yang sepertinya mereka sendiri ketahui kepada kita.

Meg adalah si sulung. Adiknya kembar Sandy dan Dennys (dalam kisah ini porsi tentang mereka sangat kecil yang membuatku menebak nasib karakter utama jangan jangan sad ending), dan si bungsu yang nyentrik Charles Wallace. Orang tua mereka adalah ilmuwan. Ibunya akan dengan senang hati menghabiskan waktu berhari-hari di laboratorium, meneliti. Mrs Murry bukan hanya cantik, tapi cantik jelita. Ayahnya menghilang saat melakukan penelitian dalam tugas Negara. Nah poin kisah bisa saja adalah ini, kemana perginya Mr Murry? Walau sejatinya masalah dunia lain yang berlapis tapi tetap kisahnya ada dalam misi penyelamatan. Di sekolah banyak yang menyindir, tetangga banyak yang bergosip, dan nada-nada miring itu membuat Meg tak nyaman. Hanya ada sedikit sekali perbedaan antara ukuran mikroba terkecil dengan galaksi terbesar. Dan saat sedang marah, kita tidak memiliki ruang untuk rasa takut.

Charles Wallace baru berusia lima tahun, tapi sudah terlihat jenius sedari balita. Awalnya ia sulit bicara, terlambat untuk berdiri dan lambat tumbuh. Tapi saat akan menginjak usia emapt tahun, ia langsung hebat. “Tak usah mengkhawatrikan Charles Wallace, Meg. Tidak ada masalah dengan pikirannya. Dia hanya melakukan hal-hal dengan cara dan waktunya sendiri.” Dan benar, tiba-tiba Wallace tanpa sedikit pun cadel yang biasa terdengar dalam omongan bayi, dan menggunakan kalimat lengkap. Betapa bangganya keluarga Murry mengetahui itu. Waspadalah dengan kebanggaan dan kesombonganmu, karena itu bisa menghianatimu.

Di kota mereka ada penghuni aneh yang tinggal di hutan. Mrs Whatsit dan dua orang temannya. Penampilan yang acak-acakan membuat mereka bak gelandangan. Siang itu di kantor pos ramai membicarakan tentang gelandangan yang mencuri seprei Mrs Buncombe. Tindakan tersebut tentu saja salah, tapi nanti akan ada penjelasan kenapa mereka membutuhkan seprei. Nah malam itu Mrs Whatsit masuk ke rumah Murry. “Jalan menuju neraka dilapisi oleh niat-niat baik.” Dan betapa terkejutnya Mrs Murry saat tahu mereka paham tesseract.

“Segala hal tentangku membuatku tahu.” Calvin O’Keefe adalah siswa Sekolah Regional yang keren, panggilannya si sport karena memang ahli di olahraga terutama basket. Anak ketiga dari sebelas bersaudara ini suatu malam bisa berduaan dengan Meg, saling mengenal. Di sekolah padahal Meg adalah orang aneh yang tak suka membaur, kontras dengan Calvin yang cool. 

Lalu diperkenalkanlah karakter berikutnya yang tak kalah nyentrik, Mrs Who dimana saat bicara selalu mengutip kalimat orang-orang terkenal dari masa lalu dari bahsa aslinya. Kalau kutipan dari Inggris ya pakai English, kalau dari Jerman pakai Jerman kalau dari Amerika Selatan ya pakai Latin, dst dst. Khusus untuk Mrs Who kutipan yang diucap bisa dibuat dalam catatan tersendiri saking bagus dan banyaknya. Auf frischer tat ertappt. Jerman. In flagrante delicto. Latin. Caught in the act. Inggris. Tertangkap Tangan. Bahasa. Hihi.. unik ya. Oh mengapa kalian harus membuatku melihat hal-hal yang tidak menyenangkan saat masih banyak sekali hal-hal menyenangkan yang bisa dilihat?

Kau tak tahu betapa beruntungnya dirimu karena dicintai. Karakter ketiga dari ibu-ibu itu adalah Mrs Which. Dalam pengenalannya ia berjalan di atas tembok dengan memakai seprei! Hanya karena kita tidak mengerti tidak berarti penjelasan itu tidak ada. Sore cerah dan dalam hitungan detik semua berubah. Ini adalah sore yang paling mustahil dan paling membingungkan dalam kehidupan Meg, tapi ia tak bingung atau sedih, ia hanya merasa bahagia. Mengapa? Seberkas angin lemah berhembus, dedaunan berkeresak karenanya, pola-pola cahaya bulan berubah dan dalam lingkaran, sesuatu berkilau, bergetar dan suara itu berkata, “Kupppikkkirrrr akkku tidaaaak akkkan mewwwwuuujud ddddeeengaan sempppurnnrna. Akkku merrrasaaa itttuuu sangaaaattt mellleeelaaahhhkannn, dannn kitttaaa memmmilikkkkii bbbaaanyakkk hall yang haaaarrrrusss dilakukkan.”

Sebuah konsep melompati ruang dan waktu, tesseract. Trio aneh itu membawa Meg, Calvin dan Charles ke dimensi lain. Aku sedang tertidur, aku sedang bermimpi buruk, aku ingin terbangun. Biarkan aku terbangun. Kegelapan memiliki suatu kualitas yang terukur. Ia mirip dengan keheningan, di dalam kehampaan itulah mereka berpindah ruang dan waktu. Tersedot bak sebuah perjalanan memusingkan. Mereka baru saja melakukan tesser, atau kita bisa menyebutnya mengerut. Nah dari sinilah judul buku diambil, kerutan dalam waktu. Di mana kita melintas bisa hingga ke lima dimensi. Dalam buku ini digambarkan kedua tangan terentang benang, seekor semut berjalan dari satu tangan ke tangan lain, butuh waktu. Tesser adalah mendekatkan kedua tangan, sehingga jarak benang jadi taka da dan semut itu bisa berpindah dalam sekejap. Perumpamaan yang bisa dinalar, ya?! Kita harus mencari jalan pintas kapan pun kita menemukan kemungkinan itu.

Adegan demi adegan berikutnya adalah sebuah fantasi tingkat tinggi. Melintas antar dunia, menyelip dalam kehampaan sampai mengukur betapa terbatasnya suatu proto plasma. Semacam ramuan mimpi yang aneh dan membingungkan, mereka lalu berpetualang hingga batas-batas fantasi pengetahuan alam. Saat akhirnya mereka bertemu dengan ayah mereka Mr Murry, mereka harus berhadapan dengan ITU. Suatu makhluk penguasa dimensi, berhasilkah mereka menyelamatkannya? Keyakinan adalah saudari keadilan, percayalah kepada kami!

WWalaupun ending hanya begitu tapi jelas ini novel tak biasa. Beberapa hari yang lalu saat baca biografi Dan Brown, A Wrinkle In time disebut. Bagaimana beliau terinspirasi dengan cerita tentang The Dark thing, dunia antah yang menakjubkan sampai Camazotz yang memiliki SATU pikiran. Hebat, The Da Vinci Code ternyata bersinggungan dengan materi gelap. Buku ini menang Newbery Medal, Sequoyah Book Award dan Lewis Carroll Shelf Award. Serta menjadii juara dua Hans Christian Andersen Award. Dan cahaya menyala dalam kegelapan, dan kegelapan tidak mampu menenggelamkannya.

Terakhir, tahun 2018 rencananya akan diadaptasi ke layar lebar. Trailernya sudah muncul di beberapa kesempatan, saya seperti biasa menanti dengan menutup segala info yang masuk. Tahun 2018 tinggal menghitung bulan, sabar. Patut diantisipasi. Jika seseorang tahu lebih banyak, dia akan lebih sedikit bicara.

Kerutan Dalam Waktu | by Madeleine L’Engle | published special arrangement with Square Fish, an imprint of Macmiilan, 2007 | diterjemahkan dari Madeleine L’Engle | Penerjemah Maria M. Lubis | penyunting Ida Wajdi & Jia Effendie | Pewajah Isi Aniza | Penerbit Atria | Cetakan I, Agustus 2010 | ISBN 978-979-024-453-5 | Untuk Charles Wadsworth Camp dan Wallace Collin Franklin | Skor: 5/5

Ruang HRGA CIF – Karawang, 070817 – Sherina Munaf – Click Clock

Felipe – Ciro Padu, Lazio Menang Dominan Meyakinkan

Kiessling: “Sewaktu saya remaja, Lazio adalah salah satu tim terbaik sedunia, sampai hari ini masih klub yang menakjubkan. Jika mereka menghadapi Juventus tanpa rasa takut, mereka bisa juara Super Italia.”

Laiknya seluruh fan sedunia, menuju musim baru selalu memberi semangat baru. Laga pra musim yang sesungguhnya akhirnya dimulai. Apa itu ICC – Indonesia Cawak Club, Emirates, Audi? Bla bla bla… Bah! Kita punya tawa dan cerita sendiri. Setelah karantina dengan rekor clinsit di Auronzo 2017, Lazio keluar kandang, kita terbang ke Austria. Lawan pertama kita tak tanggung-tanggung, tim kuat Bundesliga Bayer Leverkusen. Misi balas dendam kualifikasi UEFA Champion League 2015 dicanangkan. Karena ini momen istimewa, pra musim big match maka Lazio Indonesia Region Karawang (LIRK) ngumpul. Bertepatakn dengan acara hajatan Bro Adit, Minggu malam (30/7) kita beduyun ke Blok ND5. Total ada 10 Laziale, koneksi sempat susah, butuh kesabaran untuk terhubung cari link live yang bagus. dengan seteko kopi pahit (euank ternyata euy) dan sajian kue kering senampan, kita nikmati laga big match pra musim.

Inzaghi mencoba strategi 3-5-2, formasi yang mulai sering dia pakai di kamp Auronzo. Kali ini kita pasang full tim. Strakosha tentu saja pilihan utama bawah mistar. Adamois sudah disekolahkan ke Salernitana, kiper kedua Guido Guerrieri sudah mentas dari perantauan, Vargic setia sama nomor tiga. Eh kemana the legend Marchetti ya? Bastos, De Vrij duet Holland Hoedt. Trio ini adalah andalan solid kita, musim panjang nanti mudah-mudahan fit ketiganya karena pelapis masih meragukan. Sisi tengah diisi Basta, Murgia, Luis Alberto, Savic dan kapten Lulic. Sisi depan sudah beberapa kali mencoba duet Felipe Anderson dan Ciro Immobile. Malam ini duet striker ini luar biasa, padu, saling melengkapi. Patenkan! Starter ini menampilkan pemain lama semua. Tak ada Marusic, Leiva, Gennaro dan rekrutan anyar Felipe Caciedo yang masih proses gabung pasca lulus tes medis . 

Dari sisi Bayer, karena saya asing dengan Liga Jerman (boring boring Muenchen!) maka hanya segelintir yang kukenal. Tak ada Hakan Calhanoglu dan Chicarito, mereka sudah dipreteli. Tak ada monster tua Kiessling, bahkan di cadangan sekalipun. Hanya Mehmedi, momok 2015 yang tersisa untuk kita padamkan. Pakai tim kedua?

Lazio mengenakan jersey utama Eropa warna biru cleret putih. Leverkusen dengan warna hitam merah kebanggaan. Stadion Untersberg Arena, Grodig terlihat lengang di sisi jauh, tapi chant terdengar sangat riuh di sisi utama. Ternyata Ultras Laziale lumayan banyak yang hadir dari kamera berada nantinya saat akhir laga terlihat Laziale telanjang dada dan salah satunya bahkan menato dada kirinya dengan lambang Lazio! Dengan pemandangan sejuk pegunungan Austria, laga dimulai.

Peluang pertama dan kedua beberapa menit berselang tercipta di angka 10. Ciro Immobile setelah tiki taka tinggal berhadapan dengan Leno, sayang gagal. Kemudian Felipe Anderson setelah one two yang manis, sepakannya tipis di samping gawang. Gol benar-benar muncul di menit 19, prosesnya cantik sekali. Luis Alberto dari sisi kiri menyepak jauh depan garis gawang, Alesandro Murgia dengan jeli membelokkan bola dengan dada ke arah Ciro. Dengan liukan maut ia mendorong bola menjauh ke sisi kiri yang coba ditutup maju Leno, dengan ketenangan khasnya Ciro menembak dari sisi sempit dan tentu saja masuk walau sempat kena blok Bender. Gol yang disambut peluk Sergey dan kapten Lulic. Coba perhatikan, setelah gol Ciro sering kali berjalan senyum lalu menarik kaosnya untuk mengusap wajah. Selama pra-musim sering sekali ini.

Lima menit berselang, Savic nyaris menggandakan gol. Sayang berhasil dimentahkan, menit 30 ada water break. Waah di pegunungan sekalipun mereka butuh asupan air lebih. Lima menit kemudian Felipe melakukan shot jarak jauh, nyaris. Peluang pertama Bayer muncul lewat tendangan bebas, bola mengenai mistar. Dominasi Lazio akhirnya berbuah lagi menit 40. Prosesnya keren banget serangan balik cepat, dari sisi tengah lapangan Felipe mengontrol bola sampai dalam kotak memberi umpan Ciro, bek tinggal satu Bender yang terkecoh kebingungan, Ciro langsung kasih balik dan sekali sentak gol. 2-0 menutup babak satu. Bisa saja Lazio unggul 5 gol, tapi 2 ke gawang tim (eks) UCL sudah sangat bagus. Mereka bahkan tak punya shot on goal. Haha..

Karena suara komentator di laptop kurang gahar, saya pulang ambil speaker mini komputer biar lebih mantab. Tengah babak, ngopi dan ngeroti. Saat kembali, babak dua sudah mulai. Bayer melakukan pergantian 8 pergantain langsung, salah satunya menarik Mehmedi mengganti Yurchenko. Kita masih belum memasukkan pemain cadangan.

Thomas melakukan save bagus pertamanya menit 50, lalu serangan Felipe dari kanan dengan menyisir lapangan dihentikan dengan tekel keras di garis kotak. Free kick yang gagal. Babak dua kita tetap dominan, pamer kekuatan. Enak banget lihatnya, kayak lihat tiki taka Barca. Hening seketika.

Gol ketiga hadir menit ke 55. Dari tengah Savic mengirim umpan datar ke sisi kiri, Ciro dengan jeli mengolah bola. Mencari ruang, Felipe maju meminta. Sementara di kanan jauh Basta mengangkat tangan kanannya juga meminta umpan, Ciro lebih prefer ke Felipe yang lebih dekat. Tapi umpan itu hanya disentuh sekali untuk kembali jadi assist, dengan kemampuan hebatnya bola diplesing jarak jauh. Jauh dari jangkauan kiper. Gol itu dirayakan dalam peluk dengan seluruh pemain cadangan yang sedang ngerumpi di pojok.

Menit 64 akhirnya melakukan pergantian, langsung gembruduk 9 pemain. Wallace, Luis Felipe, Radu, Marusic, Parolo yang kini kapten, Leiva yang ternyata nameset di punggung Lucas, Di Gennaro (nomornya 88 cuy), Patric setelah gol cantiknya lawan Trientina kasih kesempatan lagi, Palombi dan si keling Keita. Perombakan pergantian, yasu dahlah unggul tiga gol saatnya coba tim kedua. Keinginan lihat tridente IKA tak terwujud. Dan dimana Lord Djordje suadara sekalian? Pas lawan Triestina kan lumayan tuh, bisa bikin peluang kena mistar setelah umpan bagus Palombi walau tetep saja gagal.

Menit-menit berikutnya lihat aksi pemain baru. Marusic keren. Leiva meyakinkan, satu kartu kuning yang tak perlu. Di Gennaro ternyata mainnya ngotot, ok kita coba. Keita terasa banget sudah ga fokus. Dan di mana Chris Oiko? Wonderkid impian Aussie-Yunani yang selalu kutunggu, plis jangan dipinjamkan lagi.

Salah satu peluang bagus terjadi berkat umpan Keita dari sisi kiri, umpan lambungnya tepat depan gawang sanag sekali gagal dikontrol Parolo, padahal musuh sudah lengah. Bola itu justru melambung. Saat memasuki injury time, akhirnya kita kebobolan. Dari sisi kir pertahanan, bola bergulir cepat melewati Parolo dan Luis Felipe. Serangan sempat dihadang empat pemain dalam kotak, sayang kita lengah ada satu pemain berlari menusuk dalam kotak Vladlen Yurchenko menempatkan bola di pojok kiri yang tak terjangkau Thomas. Gol yang merusak, setelah itu wasit langsung meniup peluit akhir. Setelah kekalahan dari Sandhausen 3-2, kini mereka tumbang lagi 3-1. Leverkusen yang ini jelas bukan klub yang kita lihat beberapa tahun terakhir.

Gol menit akhir itu merusak rekor bersih pra musim. Setelah menang meyakinkan 16-0 lawan tim Auronzo, menghempaskan 3-0 Triestina, dan mendepak Spal 2-0 dalam trofeo the cime di lavaredo. Skor 3-1 membuat Thomas gagal cleanset lagi. Malam ini (1/8) kita akan bermain dengan tim divisi 3 Austria FC Kufstein. Hura-hura jelang ke Spanyol 5 Agustus 2017 menyongsong Malaga dalam turnamen Costa Del Sol di stadion LA Rosaleda.

Catatan dari laga ini. Duet lini serang kita SANGAT bisa andalkan Felipe-Ciro. Keren sekali, saat melakuakn serangan seakan mereka sudah tahu ke arah mana mengisi ruang. Dengan skill di atas rata-rata, ada peluang kecil nan sempit bisa mengubah skor. Percobaan memajukan Felipe pantas dicoba, semiga sukses. Caicedo yang datang dengan rekor meragukan dari Espanyol bisa saja melapis, tapi rasanya butuh pelapis yang lebih hebat. Saga Sardar Azmoun — Messi dari Iran sudah memasuki dua bulan, setelah sangat dekat pekan lalu kini malah suram. The biggest target musim ini, striker Iran rasanya sulit terwujud. Falcinelli juga menjauh. Palombi, Rossi rasanya juga butuh waktu poles. Padahal drama Keita makin panjang, malam ini ia tak bisa menunjukkan performa. Pergilah Nak, saranku keluar Serie A. Kalaupun itu West Ham atau Brighton sekalipun, jadikan batu loncatan ke tim impianmu Barcelona. Asal jangan ke Juventus apalagi Inter, suram Nak. Dan kalian, ya kalian jangan pernah berharap pada Brahimi, kemahalan. Lotito tak akan mau keluar uang segitu. Mari kita tunggu suara Gianluca Di Marzio, moga kabar-kabar positif.

Sisi belakang, masih mengkhawatirkan tim keduanya. Setelah De Vrij ditarik, sisi bek sentral benar-benar harus diantisipasi. Kabar resminya Martin Caceres bergabung harusnya menjadi solusi tepat, anehnya malah langsung dipinjamkan 6 bulan ke Verona. Patric masih saja segitu tawaran Benevento dan Lisbon ditolaknya karena merasa berdarah Lazio (salut buat setia dan semangatmu Nak), Wallace mungkin ada kemajuan tapi blunder kadang kumat, Luiz Felipe yang diciduk dari Brazil masih sangat muda butuh menit tanding (patut dinanti aksinya) yang justru berkebalikan sama Radu yang ngos-ngosan saking setianya (tua).

Lini tengah banjir talenta. Marusic larinya kencang juga. Gennaro yang tukang pindah klub, layak dinanti, kasih kesempatan sebagai New Mauri. Leiva setelah 10 tahun berpuasa, mungkin kini saatnya juara Liga. Parolo-Keita ada beberapa peluang tapi memang miss, emosi si Keling harus direda. Untuk Savic jelas tak diragukan lagi. Kertas tawaran 70 Juta Juve pantas sekali kita sobek-sobek. Kita sedang menyusun klub juara, jangan ganggu!

Untuk kiper rasanya mutlak tak ada perdebatan, kesuksesan mempromosikan kiper tak ber KTP DonaWho di Milan bisa saya pastikan akan menjalar di Thomas Stakosha. Albania punya cerita di ibu kota, mari catat sejarah manis di sini. Scudetto 2017/2018 bukan angan-angan.

Persiapan matang menuju perebutan piala Super Italia melawan Juventus 14 Agustus 2017. Laga sesungguhnya! Kami tidak takut. Forza Lazio! Thx Laziale hadir: Kambing, Abe, Adiet, Nda, Satria, Xanafi, Nur, Setiadi, Reye, and Me. #AvantiLazio

Lazio 3-1 Bayer Leverkusen

Immobile 19, 56, Felipe Anderson 41; Yurchenko 91. 

Lazio: Strakosha; Bastos (Wallace 64), De Vrij (Luiz Felipe 66), Hoedt (Radu 64); Basta (Marusic 64), Murgia (Parolo 64), Luis Alberto (Lucas Leiva 64), Milinkovic-Savic (Di Gennaro 64), Lulic (Patric 64); Felipe Anderson (Palombi 65), Immobile (Keita 64)

Bayer Leverkusen: Leno; Henrichs (Kohr 46), Tah (Dragovic 46), S Bender (Ramalho 46), Wendell; L Bender (Bellarabi 46), Kampl (Baumgartlinger 46), Mehmedi (Yurchenko 46), Brandt (Bailey 46); Volland, Havertz (Pohjanpalo 46)

Karawang, 010817 – American Authors – Best Day of My Life

Di dini hari sepi sunyi ini, dalam membuat catatan ini ternyata saya sudah muter lagu American Authors lebih dari sepuluh kali, keren banget ternyata Best Day of My Life iki. Jadikan soundtrack musim 2017/2018 ah.

#GWSAderson, kami bersamamu.