Knock Three Times! – Marion St. John Webb

Apa gunanya menyesali kejadian yang sudah lewat dan tidak bisa dirubah? Cuma masa depan yang bisa kita rubah, dan ke sanalah kita harus berfikir dan memperbaiki masa lalu.

Kisah fantasi lagi. Sedari dulu memang fantasi adalah genreku, andalanku. Tahun 2010 saat bacaan fiksi young adult masih begitu atusiasnya, sekarang masih sih tapi usia mengubah jenis bacaan dengan kejam. Tak rumit, seperti kisah fantasi lainnya yang memainkan imaji, Ketuk Tiga Kali premisnya sama, kita diajak memasuki dunia antah yang beda dengan keseharian kita, kebetulan kali ini caranya lewat ketukan sebuah pohon.

Kisahnya bermula dengan ulang tahun Jack dan Molly yang mendapat berbagai hadiah, salah satunya sebuah bantalan jarum berbentuk labu dari bibi Phoebe untuk Molly dan kotak cat untuk Jack. Kalau Jack mendapatkan sesuatu yang sesuai keinginan, Molly heran ia mendapat benda untuk meja hias, bukan gelang pernik. Warnanya abu-abu, untuk mengatasi kekecewaan Molly berasumsi ini ‘benda kecil yang berguna’. Tetapi karena bibi Phoebe-lah Jack dan Molly ikut berpetulang dengan si Labu Kelabu.

Malam itu petualangan dimulai, malam purnama. Bulan bersinar indah, cahayanya menyembur ke dalam ruangan dan membuat malam seterang siang. Saat Molly sedang membayangkan hari esok saat ia belajar naik sepeda dengan Jack ke Brighton, ia melihat labu hadiahnya bergerak, bergoyang ke kanan dan ke kiri serta tumbuh tiga kali dari aslinya. Setiap detik tumbuh semakin besar sampai setara roda sepeda, lalu ia bergoyang dan berguling perlahan di atas meja rias sehingga jatuh. Labu Kelabu menggelinding ke arah pintu lalu berguling keluar, menuruni tangga. ‘dug dug dug…’

Molly heran, apa yang terjadi. Matanya menipu bayang? Ia duduk diam, ragu-ragu sejenak lalu melompat turun menuju kamar Jack, membangunkannya. “Cepat Jack!” mereka mengikuti arah labu, menyusuri kebun, memasuki hutan kecil. Saat sampai di sebuah pohon, ia menabrakkan diri tiga kali lalu berguling ke belakang menunggu. Terdengar suara berderik pelan, dan sisi pohon itu membuka ke luar seperti pintu. Sang Labu masuk. Pintu akan tertutup. Tapi sebelum benar-benar rapat, mereka berhasil menyelinap masuk. Di dalam pohon itu ada penyeberangan menuju sisi lain, setelah sampai diujung mereka mengetuk tiga kali, dan sisi lain itupun membuka pintu mereka keluar ke tempat asing. Kalau di dunia kita sedang malam, maka di sisi lain ini terang. Pintu tertutup, selamat datang di Dunia Mungkin.

Sisi lain ini hampir sama dengan dunia kita, hanya lebih alami. Mereka berjalan dengan ragu, lalu akhirnya bertemu dengan manusia asing yang dengan polosnya bertanya. “Maaf, bisakah kalian memberitahu kami di mana kami berada?” Kedua orang itu lalu mendengar dengan seksama penjelasan aneh Molly. Glan dan ayahnya lalu bertutur bahwa mereka menyebut dunia kita adalah Dunia Mustahil. Karena di dunia kita banyak hal-hal mustahil terjadi. Orang-orang mustahil, ide-ide yang mustahil, hukum yang mustahil, rumah-rumah yang mustahil, ada banyak kesengsaraan dan ketidakadilan yang mustahil, dan pembicaraan yang mustahil sehingga tidak mungkin ada satu makhluk pun yang bisa hidup di sana. Dulu Dunia Mungkin juga merupakan Dunia Mustahil, lalu mereka mengirim Labu, menghukumnya ke dunia kita. Sudah beratus-ratus tahun mereka damai.

Kisahnya lalu dituturkan dengan gamblang. Betapa dulu perang sihir terjadi, ada kekacauan dan kesalahpahaman. Sang raja yang sedih karena putrinya sakit keras, dokter dan tabib terbaik seantero negeri sudah dipanggil hasilnya sama. Ada satu harapan sembuh dengan bantuan kurcaci, setelah tawar-menawar yang panjang nan berbelit. Malam badai itu proses penyembuhan terlambat, sang putri tiada. Raja marah besar, memerintahkan kurcaci untuk ditangkap dan dijebloskan dalam penjara. Malam itu kurcaci ternyata tak bekerja sendirian, sehingga kroni-kroninya juga diburu. Hukuman berat diberikan kepada kurcaci, saat itu di kebun tinggal satu labu. Dengan bantuan sihir, kurcaci itu dimasukkan ke dalamnya. Setelah debat panjang, salah satu penasehat raja akhirnya memberi usulan agar Labu Kelabu dikirim ke Dunia Mustahil. Itu sudah lama sekali. Era sudah berganti, raja sudah berganti. Tapi ada satu orang yang merasa sangat bersalah, sang penasehat raja karena memberi usul buruk, sang penasehat itu adalah ayah Glan.

Dengan kembalinya Labu ke Dunia Mungkin maka kewaspadaan ditingkatkan. Informasi menyebar dengan sangat cepat, “Labu itu tentu sudah melakukan hal-hal buruk sampai semua orang takut padanya. Pembalasan dendam yang keji kepada orang-orang tak bersalah.” Kurcaci tak pernah keluar dari labu, apa yang ia lakukan hanya menangkap sesorang. Berguling ke arahnya dan menyentuh mereka – menabrakkan diri – lalu sesuatu yang aneh bakal terjadi. Mereka bisa menjadi binatang aneh, atau menyusut sampai berukuran beberapa sentimeter atau mereka menghilangkan hidung atau pengelihatan. Atau hal-hal buruk lainnya. Kemalangan yang disebabkan labu itu tidak bisa dibayangkan, dan sering kali tidak bisa disembuhkan.

Kepanikan massal itu harus segera ditangani. Nenek Nancy adalah orang kepercayaan yang dulu mengirimnya ke Dunia Mustahil. Ada satu cara untuk menghentikan si Labu. Semua orang di negeri ini tahu caranya. Waktu kurcaci dimasukkan ke dalam labu, ada satu tanaman yang berubah hitam. Selama tiga belas hari warnanya akan terus begitu. Ada selembar daun raksasa yang berwarna hitam. Lalu menghilang. Setiap tahun, daun itu akan tumbuh di tempat yang berbeda-beda di negeri ini. Kami belum menemukan dalam beberapa tahun terakhir karena merasa memang belum diperlukan. Tapi sekarang kita memerlukannya. Karena kalau kalian menemukannya, lalu memetik Daun Hitam itu kalian tinggal menghadap ke Barat dan mengucapkan mantra ini, ‘Datanglah kepadaku, Labu Kelabu! Kuperintahkan kau atas nama Daun Hitam!’ Maka Labu Kelabu akan datang menghampiri, kalian tinggal menyentuhkannya maka ia akan menyerah.

Kisah sesungguhnya ada di sini, pencarian Daun Hitam oleh seluruh penduduk Negeri Mungkin. Kebetulan saat ini purnama maka tumbuhan itu kini sudah muncul entah di mana. Dikejar waktu karena hanya memiliki tiga belas hari, petualangan yang menakjubkan terpampang di depan. Jack dan Molly mendapat bekal sama dari Nenek Nancy sebuah amplop tertutup berisi sekotak korek api, bungkusan kecil berisi dadu-dadu berwarna cokelat yang sepertinya permen karamel. Bekal ini ajaib karena korek api saat dinyalakan kobarannya akan memberi arah solusi yang benar dan karamel itu akan mengenyangkan sekalipun tak makan banyak hari itu. Berhasilkan mereka menemukan Daun Hitam tepat waktu? Bisakan mereka kembali ke Dunia Mustahil?

Kovernya bagus ya, minimalis dengan ilustrasi ‘megah’ Jack, Molly dan Labu Kelabu. Dengan latar utama kuning pucat, daun-daun maple serta pohon sebagai portal ke Dunia Mungkin kita mendapat kesan klasik yang Indah. Terjemahan Atria sepuas biasa, tak pernah mengecewakan. Kisah ini bisa saja familiar macam Narnia, Alice di Negeri Ajaib atau petulangan Harry Potter di dunia sihir. Namun tetap istimewa karena konfliknya ternyata tak cemen, Molly sampai frustasi dan Jack tertawan. Kawan dan lawan terlihat sama, sehingga Pembaca diajak mengalami dilema dan keraguan. Endingnya mungkin tertebak, tapi keseruan petualangan tetaplah menawan.

Para pendatang sering kali beruntung, tertawalah saat sedang sial. Lima bintang untuk kisah seru di dunia antah ini.

Knock Three Times! | Marion St. John Webb | diterjemahkan dari Knock Three Times | Penerbit Serambi | Penerjemah Mutia Dharma | Penyunting Jie Effendie | Penyelaras Ida Wadji | Pewajah Isi Siti | Cetakan I, Mei 2010 | ISBN 978-979-1411-99-8 | Skor: 5/5

Ruang HRGA CIF, Karawang, 220817 – Sherina Munaf – Ayo Indonesia Bisa