Therese Raquin – Emile Zola

Membaca novel membuka wawasan baru untuknya, selama ini ia hanya mencintai dengan darah dan dagingnya, sekarang ia mencintai dengan pikirannya. – Therese

Di Minggu malam pasca merayakan ulang tahun Hermione ketiga (6/8/17) di McD Galuh Mas, sekeluarga jakan-jalan ke Resinda Mall untuk menonton Doraemon show. Sore sebelumnya, kita juga ke McD lain Agung Podomoro merayakan ulang setahun Yumna. Setelah Magrib yang penuh, sekeluarga ke aula utama untuk melihat Doraemon dkk, saya tentu saja tak minat acara gituan, langsung ke toko buku Agung di lantai 2. Setelah dua jam muter di rak fiksi, padahal luas toko tak lebih dari 10×10 meter saya putuskan ambil novelnya Emile Zola. Sempat juga menimang In Cold Blood dan Emma yang sudah kunanti lama, tapi karena terbentur budget maka saya ambil yang harganya dibawah 60 ribu. Setelah Isya, acara masih berlangsung saya terpaksa menyingkir cari tempat sepi. Terbesitlah ke depan mal, ditemani dengung nyamuk dan sesekali kendaraan lewat saya memulai petualangan kisah aneh ini, lumayan sepulangnya dapat ¼ buku. Sisanya saya selesaikan kurang dari seminggu.

Kisah akan terus berkutat di sekitar Selasar Passage du Pont-Neuf, Paris akhir abad 19. Temanya adalah perselingkuhan, pembunuhan dan permainan psikologis tiada henti. Bukunya lumayan tebal, untuk sebuah kisah minim setting tempat, minim karakter dan sodoran konflik yang berbelit, jalinannya menembus 300 halaman jelas terasa panjang. Novel ini kontroversial di zamannya, terlalu vulgar, terlalu jahat.

Buku dibuka dengan pengantar ‘sanggahan’ sang Penulis di cetakan kedua (1868). Jadi ceritanya saat pertama dicetak, novel ini diserang berbagai kalangan karena dinilai vulgar dan terlampau buruk tindakan pasangan selingkuh sehingga Emile Zola perlu menjelaskan duduk perkara. Kritikus sampai gusar dan berang. Bahkan saat itu ada yang melabelinya, ‘bacaan busuk’. Dalam tanggapannya, “There Raquin adalah studi kasus yang luar biasa tentang drama kehidupan modern jiwa jauh lebih ringan, tidak sekeji dan segila itu. Kasus-kasus semacam ini selayaknya dipindahkan ke dalam latar belakang novel. Sang Pengarang tak ingin kehilangan satu pun hasil observasinya, mengemukakan dengan rinci sehingga memberikan ketegangan dan kekerasan lebih banyak…” Berisi 5 lembar penuh pembelaan bahwa sang Penulis tentu saja mencoba memberi tafsir apa adanya. Dan waktu juga yang menjawab sebuah kualitas kerena demi cinta akan kejelasan saya telah berbuat dosa dengan menulis Pendahuluan maka saya memohon maaf kepada Pembaca cerdas yang bisa melihat jelas tanpa seorang pun perlu menyalakan lampu untuk mereka di siang bolong yang terang benderang.

Mme Raquin adalah seorang janda yang mempunyai anak lelaki rapuh Camille, ia adalah mantan penjual peralatan baju jahit dari Vernon. Tinggal di toko kecil yang sepi dan membosankan, tanpa pernah merasakan kenikmatan dan kepedihan duniawi. Ia pada dasarnya menciptakan kedamaian dan kebahagiaan pada diri sendiri. Selama lima belas tahun, Mme Raquin merawat dan membesarkan Camille, menjauhkan dari berbagai penyakit jahanam sehingga sukses mengalahkan penyakit dengan penuh sabar, perhatian dan pengabdian. Ia selalu takjub memandangi wajah putranya yang mungil, pucat dan sakit penuh kelembutan.

“Ambillah anak ini, kau bibinya. Ibunya sudah meninggal, dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan dengannya. Aku ingin kau merawatnya” Ujar kapten Degans. Therese saat itu berusia delapan belas tahun, akhirnya bergabung dengan keluarga rapuh ini. Dengan sehelai akta lahir yang diserahkan jadilah ia bernama Therese Raquin, sang kapten kembali berangkat perang dan tewas di Afrika.

Mme punya rencana agung dengan menikahkan mereka. Anak-anak itu sudah tahu mereka akan disatukan, saat akhirnya mereka dewasa dan menikah, tak banyak kata, berdua sepakat. Seminggu setelahnya Camille ingin tinggal di Paris. Awalnya sang ibu menolak, tapi keinginan besar sang putra tak bisa dielak, maka akhir bulan itu mereka berangkat ke ibu kota setelah menjual semua yang tersisa di Vernon dan memulai kehidupan baru di kota. Mereka membeli murah toko kecil seharga dua ribu franc, ongkos sewa toko dan lantai pertama hanya seribu dua ratus franc. Ketika Therese menginjakkan kakinya di toko sempit tempat ia akan menghabiskan sisa hidupnya nanti, ia seolah-olah tersedot ke perut bumi yang lembab dan lengket. Camille mencari kerja, dan berhasil mendapatkannya di sebuah Perusahaan kereta api Orleans. Mme dan menantunya menjaga toko menghadapi hari-hari yang lengang.

Setiap malam Jumat, saudara dan teman-teman lama dari Vernon yang kebetulan juga merantau ke Paris akan berkumpul untuk sekedar ngobrol, ngeteh dan main dadu. Ada mantan komisaris Polisi Michaud yang menikmati masa pensiunnya di Rue de Seine. Kemudian mengajak putranya, Oliver yang sudah menikah dengan Suzanne. Camille mengajak teman kerjanya Grivet yang sudah veteran sebagai pekerja kereta api. Konflik benar-benar digulirkan ketika suatu Kamis malam kita kedatangan tamu lain, teman Camille, tetangga mereka saat di Vernon, Laurent. Seorang Pemuda kekar, dengan leher kuat, jangkung, dan terlihat bugar. Pertama bertemu, Therese langsung penasaran dan membandingkan dengan suaminya yang ringkih. Laurent seorang pemalas, berpikiran praktis dan cita-citanya menganggur dengan uang melimpah. Hobi lukis ala kadarnya, dan tinggal di flat kecil nan kumuh di Rue Saint-Victor. Nah, kehadiran pemuda itu merusak segalanya, suatu malam saat melukis Camille, Therese mengamatinya, hatinya berdebar. Saat akhirnya mereka akhirnya tinggal berdua di lantai atas, kesempatan selingkuh itu mereka manfaatkan. Mereka saling tatap sesaat, lalu sentakan kasar, Laurent mendekap wanita muda itu rapat-rapat. Ia menggerus bibir wanita itu dengan bibirnya, Therese berusaha melepas diri, memberontak liar, lalu, mendadak, menyerah pasrah, terjatuh ke lantai. Mereka tidak saling bertukar kata, perbuatan ini dilakukan dengan hening dan brutal.

Sedari awal perselingkuhan ini mereka anggap sebagai sesuatu yang diperlukan, tak bisa dielak dan benar-benar alami. Mengatur pertemuan-pertemuan. Siang Laurent akan datang ke Selasar, izin keluar kantor, masuk gang yang mengarah ke balkon, dan Therese akan membukakan jendela. Rencana ini sungguh berani dan dijamin berhasil. Ada wanita penjual perhiasan imitasi di gang tersebut, Laurent akan menunggunya lengah sebelum ke balkon. “Aku mencintaimu. Aku sudah mencintaimu sejak saat ketika Camille mendesakmu masuk ke dalam toko, mungkin kau tak menghormatiku, karena aku menyerahkan diri padamu, sepenuhnya, sekaligus… kehadiranmu membuat syaraf-syaratfu menegang, nyaris putus, benakku menjadi hampa dan seperti ada kabut merah tipis yang berkelebat di depan mataku. Oh, betapa besar penderitaanku, tapi justru aku merindu penderitaan ini. Aku selalu menunggu-nunggumu. Aku tahu aku kelihatan memohon untuk dicium dan aku malu akan kelemahanku, merasa aku akan sakit seandainya kau menyentuh diriku sedikit saja. Tapi aku menyerah pada rasa takutku, dan menggeletar kedinginan saat dirimu mengambil keputusan untuk mendekapku dalam pelukkan.”

Efek selingkuh ini panjang, sangat panjang. Laurent jatuh hati, Therese tak bisa mengenyahkan pikiran darinya. Saling mengisi, tak bisa dipisahkan. Gairah cinta tak kenal batas yang akhirnya menjerumuskan ke dalam tindakan kriminal yang akan menghantui mereka selamanya. Therese ingin jaminan hidup, jauh dari suaminya yang rapuh dan penyakitan. Laurent ingin jaminan hidup, bisa bermalasan dengan seorang pendamping sekalipun itu harus menusuk temannya sendiri dari belakang. Pasangan selingkuh ini lalu melakukan keputusan ekstrem yang dulu tak pernah disangkanya. Dosa satu merenteng dosa lainnya, sampai kapan?

Buku yang berbahaya. Jelas ini buku 18+, kalau dibaca remaja resikonya tinggi. Tak vulgar namun apa yang ditampilkan adalah kejahatan besar yang mendoleng menuju kejahatan tingkat satu. Pantas saja kontroversial di zamannya, namun untuk ukuran modern tentu saja banyak novel sejenis yang dicipta lebih panas. Untuk karya abad 19, wajar banyak yang menentangnya. Pembelaan Emile sendiri seperti hanya bola salju yang menggelinding, sulit dibendung. Ending-nya ekstrem, menjaring pikiran kotor, sebuah punishment yang sepadan? Untuk sebuah buku yang minim karakter, minim setting dan minim konflik jelas ini hebta, masterpiece psikologi. Menghantui pembaca, megintimidasi, permainan pikiran.

Tokoh utamanya empat karakter dengan empat sifat manusia yang menurut teori Galen terdiri dari Koleris, Plegmatis, Sanguinis, Melankolis. Dalam diri manusia terdiri atas dua sifat yang dominan gabungan darinya. Kovernya bagus, minimalis dengan sebuah potret perempuan dalam cermin elips. Lebih artistik ini ketimbang dari KGP. Sayangnya kualitas jilidnya buruk, baru kubuka mulai baca dua halaman pertama rontok, lemnya lemah. Untuk teknis terjemahan tak banyak keluhan, bisa dinikmati tiap kalimatnya.

Ini adalah karya Emile Zola pertama yang saya baca, awalnya mau ambil Germinal yang luar biasa tebal (baca mahal) tapi ketunda terus. Rasanya buku beliau lain tinggal tunggu waktu untuk saya nikmati. Kebetulan saya pekan lalu baru saja menyelesaikan baca Penulis Perancis lain, Victor Hugo: Les Miserables yang sama-sama kerennya.

Ia merasakan penyesalan yang egois dan mengatakan pada diris sendiri bahwa ini mungkin cara terbaik untuk menenangkan dan menyenangkan Camille. Bak wanita-wanita religius yang mengira diri mereka bisa menipu Tuhan dan mendapatkan pengampunan melalui doa-doa yang mereka ucapkan serta memasang sikap penuh penyesalan. – Therese.

Therese Raquin | by Emile Zola | diterjemahkan dari Therese Raquin | 6 16 1 89 005 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | alih bahasa Julanda Tantani | desain sampul Martin Dima | cetakan kedua, Agustus 2016 | 336 hlm; 20 cm | ISBN 978-602-03-3256-7 | Skor: 5/5

Karawang, 13 – 200817 – Elli Goulding – Burn Final Super Italia LazJuv 3-2.

One thought on “Therese Raquin – Emile Zola

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s