Dramatis, Lazio Jungkalkan Juve Di Final Super Coppa 2017

Lotito: “Scudetto? Saya memikirkan tentang Leicester City, dan saya (optimis) sepakat ‘kenapa tidak?’”

Boom! Saat itu skor menit injury time adalah 2-2, Lazio dikadalii wasit pinalti diving di menit pamungkas. Terlihat jelas Marusic tak mengusik Alex Sandro yang terguling-guling di depan Thomas padahal jelas tak ada sentuhan. Bayang-bayang 10 kekalahan beruntun menyemayami pikiran Laziale, tapi malam itu keadilan ditegakkan. Prosesnya ciamik, bikin Romanisti muntah-muntah saking kagetnya. Orgasme tingkat dewa, bagaimana tidak saat injury time memasuki menit ketiga. Serangan dari kanan oleh Jordan Lukaku menusuk melewati Mattia De Sciglio yang limbung kocar kacir, lalu dengan hebat mengumpan ke tengah kotak pinalti di mana Alessandro Murgia sukses mengkonversi gol kemenangan. Boom! Laziale menggila, semua orang tercengang Lazio sukses menjungkalkan Siena di final.

Beberapa saat sebelum dimulainya laga final Super Coppa 2017 yang mempertemukan juara Serie A dan runner up Coppa Italia 2017, kita dapat vitamin skor 1-4. AS Roma lagi-lagi menorehkan noda Eropa setelah ditekuk Sevilla 2-1, kini giliran Celta Vigo yang menertawakan. Skor telak 1-4 seakan menggarisluruskan keputusan Simone Inzaghi untuk mendepak si nomor punggung 14. Keita Balde Diao. Setengah hari sebelum laga seru ini, Inzaghi menegaskan bahwa hanya yang pemain pikirannya 100% untuk Lazio The Great yang layak bermain. Keita dalam proses transfer, yang mengoyang gosip calon lawan, jelas Simone tak mau ambil resiko. Keputusan yang membuat si Keling meradang “Kegagalan pemanggilan saya untuk final Coppa menyakitkanku. Ini adalah pertandingan pertama yang penting musim ini yang telah saya siapkan. Keputusan klub tampaknya tak berkaitan dengan sportivitas, menimbulkan tekanan yang tak nyaman yang rasanya tak bisa diterima.” Keputusan yang menuai pro-kontra itu terbukti tepat, sangat tepat! Salute Inzaghi, salute Lotito. Tak ada yang lebih besar dari Klub. Kita harus melepas pemain dengan harga diri.

Lazio mengenakan jersey utama Biru dengan sponsor musim ini Selecco. Dengan tulisan tambahan di bawah nomor punggung ‘Easy Life’. Setelah bertahun-tahun polos dan sesekali disewakan iklan akhirnya ada orang waras menaruh produk di bawah logo kebanggaan kami. Inzaghi mempraktekkan strategi baru dengan pola 3-5-2. Seakan ngepur Juve dengan mencoret Keita dan mencadangakn Felipe Bale Anderson. Thomas sah kiper utama, Guido siap setiap saat dan Vargic 55 selalu dapat gaji buta. Wallace di kanan, Mbah Radu di kiri. Sentral ada di Stefan ‘Stefrank’ De Vrij yang makin hari makin aduhai. Sisi tengah, Lucas beri debutnya sebagai gelandang angkut aer. Alberto dan Marco menemaninya di kedua sisi. Sayap kanan ada si Pirang Basta, sayap kiri sang kapten Lulic. Savic sejatinya ada di belakang Immobile, percobaan duet ini rentan karena Savic adalah sang pendobrak bukan main goal-getter. Yah, resiko Lord Djordje mandul dan Simone ‘Vieri’ Palombi butuh pengalaman menit bermain. Juve bisa saja meradang karena Trio BBC sedang tak ber-BBC, tapi tak bisa jadi alesan juga keles, karena kita juga kehilangan sang Kapten. Mereka menerapkan strategi 4-2-3-1. Kali ini bukan Netto yang jadi momok final Coppa, bukan pula Wojcblabla Szczblabla apalagi Mulyadi Pletuk. Mereka menurunkan kiper terbaiknya Buffon Superman Gianluigi. BBC bajakan Barzaglia-‘BENATIA’-Chiellini berdiri manyun di depan Superman bersama Alex Sandro. Khedira dan si Maleslem Pjanic muncul berikutnya, Marjuki di kiri Cuadrado di kanan. Belakang striker Higu ada Paulo Dybala – satu-satunya pemain musuh yang malam ini tampil mempesona. Pertama kali pakai jersey nomor keramat Alex Del Piero. Kalau Barca gagal mencomotnya, wajib antisipasi ini orang.

Diluardugaku, laga final ini tak ada nobar. LIRK – Lazio Indonesia Region Karawang memastikan Senin dini hari ini tidak ada acara kumpul karena yang konfirmsi tak lebih dari dua member. Sementara JCI – Juventus Club Indonesia chapter Karawang nobar di MOR – sebelah GOR, yang lumayan jauh dari rumah. Nyesel ga ikut nobar mereka lagi, gol menit akhir itu saya pasti jingkrak-jingkrak salto depan gemuruh chant mereka yang belum reda pasca Dybala Mask. Serangkaian keputusan ini memaksaku duduk sendiri di kamar KGV-V5/23 striming Yalla Shoot.

Saat Massa meniup peluit mulai sepak, laga langsung bergerak cepat. Seperti final Coppa lalu, semua pemain berderap seakan di alas sepatunya ada paku. Menit ketiga Juve punya peluang pertamanya. Alex Sandro menyisir kanan pertahanan, melewati Basta dan mengirim umpan manis ke Coudrado yang tepat di depan Thomas, sontekannya mengenai kaki sang kiper yang untungnya melesat keluar dihalau off Basta. Hufh, degub jantung berdetak cepat. Semenit berselang, lagi-lagi Thomas melakukan good save. Umpan jauh Cuad disundul jauh Radu yang diterima Higuain, langsung melakukan shoot jarak jauh dari luar kotak, Thomas bergaya. Setengah pertama Juve spartan, seperti yang sudah-sudah coba leading lalu defensif. Tapi kali ini kita lebih siap. Peluang bagus pertama Lazio hadir menit ke tujuh belas, dari sisi kanan Radu menendang jauh ke dalam kotak, Lucas Leiva beradu badan dengan Benatia, Lucas melakukan salto shoot yang diklaim kena tangan, Ciro meminta pinalti tapi game on. Menit dua puluh Sembilan, Savic coba membuka asa via tendangan jarak jauh, melambung 29 meter dari tiang. Percobaan menembak burung kedua beruntun setelah sebelumnya Luis Alberto melakukan hal yang sama.

Akhirnya menit ke tiga puluh adegan layar laptop menampilkan sesuatu yang paling kutunggu. Serangan dari tengah, serangan gagal Juve direspon super cepat oleh skuat, Savic memberi umpan terobosan di sela tembok lawan, Immobile memasuki kotak pinalti, mendorong bola ke kiri lalu Buffon terpaksa menghentikannya dengan tangan. Pen! Dan kiper kawakan kena kuning. Eksekusi itu sukses sekalipun Buffon tahu tebakan menjatuhkan diri ke kiri, bola meluncur tiga seperampat inci dari ujung jarinya. Gooool! 0-1. Selebrasi khas Ciro, berlari merentangkan kedua tangan menuju tribun, melompati banner dikejar pasukan Biru. Inzaghi sumringah, dua Lazialita montok tersenyum riang, dan jingkrak-jingkrak mentul-mentul. Obat ngantuk!

Menit ketiga puluh delapan, Lazio punya peluang bagus lagi. Prosesnya cantik, sentuhan pertama dari Thomas, mengalir ke tengah lapangan bola menapaki dari kaki ke kaki. Dari kiri Lulic meneroboskannya ke Parolo yang melakukan shot unik datar, yang anehnya malah kena kaki Basta. Buffon maju menutup ruang, Basta yang tak siap karena membelakangi gawang shot tinggi, kena burung lagi deh. Leiva dapat kartu kuning pertamanya di Italia kemudian. Jelang istirahat separuh babak Basta harusnya bisa menggandakan keunggulan. Dari kanan serangan meramu dalam kemelut, Savic mengontrol bola dalam keketatan penjagaan Giorgio Chiellini dan Mario Marjuki, mengecoh keduanya dengan umpan beckhil, diterima si Pirang yang kini tinggal head-to-head sama Buffon. Bola itu ditendang kencang, yang sayangnya tepat ke arah kiper. Buffon yang sudah gemetaran panik berhasil bloking, ah sayang seribu Sembilan ratus kali sayang. Bola muntahnya diambil Lucas yang lagi-lagi menambah catatan sasaran manuk.

Babak pertama ditutup dengan segelas kopi dan update pasukan COC – Bandanoantrindo. Ganti tetring wifi HP May yang koneksi Pasti lebih stabil. Cek grup WA – FOC (Football On Chat) dan otak-atik Facebook. Laga besar ini ternyata kalah glamor dengan el clasico di trending topic twitter yang bahkan baru akan mulai. Payah nih! Babak pertama bisa saja kita unggul lima gol, Juventus bertahan gemetaran total setelah bikin dua peluang awal.

Babak kedua, kedua tim tak melakukan banyak perubahan. Tiga menit berjalan, Juve punya peluang, bola dihalau De Vrij. Menit lima satu Marjuki kena kuning setelah adegan saling dorong sama Basta, komplain Massa dapat hadiah. Setelah sembilan menit berjalan tenang, seisi Olimpico bergemuruh lagi. Prosesnya istimewa, gol sundulan Immo itu tercipta via umpan Marco Budy Parolo. Dari kanan, Marco mengirim umpan lambung dalam kotak. Ada tiga pemain The Great, dua diantaranya Savic dan Immobile lomba lompat di sela-sela Benatia dan Barzagli. Penempatan bola jauh dari daya jangkau Buffon menggetarkan jalan mengubah skor 0-2. Immo selebrasi ke Laziale, melompati banner (lagi) dikejar Sergej dan membentuk pelukan segita Luis Alberto yang kemudian disusul skuat. Senyuman mereka adalah kebahagian kami.

Allegri merespon ketinggalan dengan melakukan double sub. Benatia yang main ‘bagus’ dan Coudrado yang main ‘saru’ ditarik, masuk De Sciglio dan Douglas Costa. Mereka benar-benar panik sekarang. Menit ke lima puluh sembilan harusnya sudah leading tiga gol, Lulic yang main tiki-taka sudah di depan Buffon. Bukannya langsung tembak, malah diumpan ke Immo yang keburu ditutup lagi. Hebat, Juventus ketar-ketir. Ini benaran lawan Juve apa pre season, sparing tanding Siena ya? Peluang Juve baru ada lagi menit enam puluh empat. Setelah pelanggaran di depan garis kotak Lazio, pagar betis ditata. Dybala dan Pjanic ambil ancang-ancang, si Pjanik yang ambil tendangan bebas itu tipis tujuh belas meter di atas gawang, Thomas bergaya terbang biar dikira tendangannya bagus. Enam puluh tujuh dari sisi kiri pertahanan Costa melakukan tendangan tepat ke arah Thomas. Tangkapan mudah itu cuma direspon memberi tanda lima jari ke Lulic seakan bilang, “tendangan opooo iki, amatir!” Dua menit kemudian dari sisi yang sama Mattia dan Costa memainkan si kulit bundar untuk mengirim umpan aneh, Marco butuh dua kali lompat untuk menghalau. Bola muntah langsung ditendang, Thomas pura-pura kesulitan menangkap bola datar, seakan bilang ‘tendangan kelas teri’. Menit tujuh puluh sang kapten kena kuning yang tak perlu, beberapa detik berselang Costa kasih umpan lambung, Higuain tak siap menerima bola, out. Waahh sampai menit-menit ini Juve terlihat mulai panas, untung Costa hanya cadangan kalau dari menit awal sangar ini. Inisiatif serangan mulai terbangun, namun ngaco ga focus. Menit tujuh puluh dua Marjuki yang mati kutu dijagain Radu akhirnya ditarik, Bernar-sopo masuk. Pemain yang digadang-gadang Juventini yang kecewa transfer memujinya bak Messi (serius Messi yang itu bukan yang ini-kan?), malam ini tak kasih banyak andil. Semenit kemudian Pjanic kena kuning keempat.

Menit tujuh puluh lima Inzaghi merefresh pasukan, langsung dua. Adam Marusic dan Jordan Lukaku masuk, Dusan ‘Bosan Dusta’ Basta dan kapten keluar. Ban kuning berpindah ke si Brewok Parolo. Lima menit kemudian Lucas terlihat pincang, waaah cidera? Jangan dong Former Liverpool, kompetisi bahkan baru akan mulai. Kita yang pengen banget lihat aksi Felipe Bale Anderson, justru tak kesampaian. Pergantian terakhir itu justru pemuda tanggung Allesandro Murgia. Waaah Inzaghi beneran ngepur Juve ini, setelah Keita bermasalah, kini bintang besar Felipe pun tak dikasih menit. Melecehkan Siena, eh Juventus. T-E-R-L-A-L-U.

Menit delapan empat, Juve dapat lagi tendangan depan garis, setelah pelanggaran tak perlu Parolo yang berbuah kuning. Prosesnya free kick sama menit-menit sebelumnya, tapi kali ini yang ambil adalah Dybala bukan si Panik. Beda sama Jpanik yang amat sangat jelek banget, tendangan Dybala brilian. Tendangan lengkung pisang yang bikin Sinisa Mihajlovic menjerit takjub itu mengecilkan skor 1-2. Si Bernar-sopo langsung ambil bola untuk segera diletakkan di tengah. Saya sedikit was-was, tapi durasi laga ‘kan tinggal lima menit, wajarnya bek setangguh De Vrij tak mungkin membiarkan tulisan sejarah dicoret.

Tapi ini Juventus bung! Ada banyak hal tak wajar dari wasit terjadi menjelang peluit panjang. Kecuekanku direspon Alex Sandro yang diving-nya ngalahi Sergio Busquets. Prosesnya Costa Douglas umpan ke Alex di sisi kanan, coba merangsek masuk melewati Adam, bola disepak ke dalam kerumuman dan mental kembali ke arah mereka berdua. Adam yang coba membuang bola malah ditabrakan diri Alex dari belakang yang lalu terjungkal bak kesangkut jemuran. Dengan alibi drama itu, Massa dengan senang hati menunjuk titik putih, seolah dapat sinyal satelit dari FIGC. Kejadian itu di menit 90. Menit akhir yang membuat Bayern menangis bersimpuh di depan MU. Tentu saja kita komplain, tapi percuma. Adam sampai mengangkat kedua jari telunjuk menggoyangkannya berulang kali seakan bilang, ‘tidak tidak tidak, tidak ada kontak lho’. Wallace memberi applaus kepada wasit. De Vrij, Thomas, Marusic mengelilingi sang pengadil minta penjelasan. Sergej ikut berkomentar sambil kerkacak pinggang. Immobile yang protes keras diacungi kuning. Dan VAR – Video Assistant Ruventus – seharusnya menertawa momen ini. Dybala menyamakan kedudukan menit 91. Laziale lemes, seolah bilang ‘nah kejadian lagi kan’. Selebrasi Dybala Mask dipraktekkan. DC – De Coy upadate WA-FOC, Siena 2-2. Asemik! Pesta nyaris gagal setelah sepanjang laga pasukan Allegri gemetar ketakutan.

Tapi keadilan akhirnya ditegakkan. Prosesnya tak perlu dibantu wasit. Bahkan dewi fortuna yang coba menarik panahnya pun gagal menghadang lalu linglung karena sasaran tembaknya yang seharusnya ke Zebra malah meleset. Malaikat Mikail tentu sudah bertemu Olimpia di angkasa malam itu guna mencipta drama indah, bikin janji sehingga Jordan jadi begitu seperkasa Herkules yang membawa berkat ke hadapan Nabi Murgia. Dan boom! Klimak tiada dua. Murgia dipaksa barter sama Christiano Ronaldo-pun pasti kita tolak, pasti Lotito tolak (iya kalee). Man can’t beat Lazio with the whole Italian system behind you! Tendangannya di menit 93 itu mengubah segalanya, dari pemuda tampan lugu menjadi titisan Chinaglia.

Selebrasi Murgia dalam pelukan cium Luis Alberto membentuk ‘love’ seperti Bale atau Di Maria, yah kamu masih muda. Masih banyak gaya pilihan nanti ke depannya Nak. Pilih gayamu sendiri yang lebih ikonik ya, patut dinanti gol-gol indahmu. Murgia berlari ke tribun, berbalap dengan Sergej melompati banner, disusul rekan sejawat. Allegri geram, marah-marah sama asistennya. Bilang: “!@#$%^&*()_+….” Inzaghi menggila, lost his mind. Berlari kegirangan memeluk pasukan kebanggaan. Melanggar garis batas Coach ikut dalam euforia Murgia dkk. Seluruh pasukan ikut dalam peluk ceria, termasuk cadangan dan ofisial tim, andai Lotito dan Tare ga di tribun pasti ikut salto-salto dalam kerumunan, tak ada Keita apalagi Biglia di sana. Laziale di Olimpico bergemuruh, bahkan ada yang menangis sambil memegang kedua kepala saking tak percayanya kita juara. Komentator bahasa Arab berteriak-teriak histeris bak kesurupan atau doa ya? Entahlah, ada kata istigfar di rentetan komentar Yalla. Saya lebih kalem, karena anak-istri sedang tidur di sampingku. Hermione bahkan ngorok, cuek ayahnya dalam suka cita. Hanya, ketik ‘Gooool!’ di WA-FOC. 15 tahun lagi saat video gol ini dibuka dan putar ulang dalam catatan karir Murgia yang pensiun, pasti akan membuat tangis haru. Saat itu mungkin Murgia adalah kapten Lazio yang pamit menggantung sepatu, yang sudah sukses mengantar Biancoceleste juara di banyak kompetisi, dan timnas Italia. 15 tahun lagi, di tempat yang sama. Aaaaamiiiin. Ayo dong amin-kan.

Menit injury sudah lewat dari tambahan empat menit yang dijanjikan, tapi wasit belum juga meniup sah akhir laga. Buffon ikut merangsek naik saat tendangan pojok, iseng coba peluang, kita sudah siap selebrasi. Radu merajuk manja minta peluk ke Massa untuk segera menutup pertandingan. Dan Duuuer! Saat akhirnya sah, Olimpico dibanjiri Laziale. Amazing. Speechless. Romanista megap-megap.

Parolo jadi orang pertama dikalungi gelar, lalu Radu, Immo, Savic dst. Presiden Lotitio tersayang sampai turun lapangan untuk ikut dikalungi medali. Waah dasar buncit! Mana ada presiden sampai ikut dalam penyerahan dan perayaan juara. Langka! Terakhir sang Kapten Lulis, dan sang allenatore. Dalam taburan convetti yang Indah bak lukisan Leonardo Da Vinci, Lazio resmi juara Super Italia 2017. Grande festa per la Lazio grande. Tak ada gambar yang lebih Indah ketimbang gambar perayaan Lazio juara. Dipimpin De Vrij membawa piala ke Curva Nord, berganti kaos juara yang sudah disiapkan (ayoo dong PO). Kita berpesta. Setelah ini apa?

Optimisme Pak Haji

Hari ini (15/8) di briefing motivasi pagi, Pak Endang – Factory Manager kami yang tahun lalu berangkat haji ‘mengklaim’ bahwa apakah gelar juara ini berkat andil doanya di depan Ka’bah? Bisa ya, bisa juga tidak. Segala daya dan upaya saya kerahkan untuk menjadikan Lazio bergelar. Termasuk yang satu ini. Percaya ga percaya, tahun lalu banyak karyawan titip doa ‘standar’ dari enteng jodoh, enteng rejeki, enteng beban hidup sampai enteng masalah. Well, tentu saja doa saya tidak standar. Saya menemui khusus dan sambil bersalaman titip doa Lazio juara tahun 2017. Setelah dipastikan itu bukan Serie A, awalnya kukira Tuhan akan mencipta dalam Coppa, tapi meleset dikit ke SuperCoppa. Kalian semua Laziale bisa optimism musim 2017/2018 karena minggu lalu, saat Kepala Satpam Pak Usman akan berangkat haji, saya titip doa yang jauh lebih spesifik dan tak mungkin salah ucap karena dalam bentuk tulisan kertas berbunyi, “Lazio Scudetto 2018”. Walau Mbah Usman kebingungan, apa itu Lazio? Saya hanya minta, baca saja kertas ini di Arab nanti. Nah, wahai rival semenjana, alarm sudah kami bunyikan, kali ini benar-benar ‘Kalian Berhak Panik!’

Treble Winner

Banyak yang bilang Lucas Biglia adalah Mr Runner Up. Timnas Argentina sudah membuktikannya, Lazio sudah beberapa kali membuktikannya. Entah kebetulan atau tidak, transfer Biglia ke Milan senilai 17 juta itu berefek ke gelar juara. Bukan hanya satu, tapi tiga hanya beberapa hari setelah dia diperkenalkan ke publik San Siro. Pertama piala Trofeo The Cime di Auronzo. Sebuah wilayah pegunungan tempat pusat latihan Lazio jelang musim baru ini memberi skor 2-0, merontokkan SPAL 2013. Setelah sparing menang gilang gemilang 3-1 lawan Leverkusen di Austria, kita berkompetisi versus Malaga. Dan menghasilkan sebiji gol Ciro, gelar kedua Costa Del Sol di LA Rosaleda. Dan yang terbaru ya ini, menjungkalkan Juve dengan elegan. TrebleWinner ini hanyalah awal, rentetan gelar juara berikutnya coming soon hadir. Siapkan sampanye Laz.

Cengir Lukaku

“Jika saya tidak cidera di final Coppa musim lalu, mungkin hasilnya akan berbeda.” Lukaku adalah rekrutan terbaik musim lalu setelah Ciro Immobile. Immo sudah pemain jadi, kesuksesan dari bebagai klub adalah bukti. Lukaku belajar banyak, sesekali mungkin bikin salah tapi jelas lebih cepat adaptasi Jordan ketimbang Wallace Fortuna. Musim kedua akan jadi pembuktian sang Predator, siap beradu dengan Kolor-off. Kontrak sampai 2019, kado kemenangan ini adalah kontraknya dalam proses diperpanjang 2022. Ayoo Jordan jadilah bagian dari kita, kita tulis sejarah indah di Lazio!

Ciro

CV klub Ciro Immobile panjang, sangat panjang malah. Maka saat menjebol gawang mantan, ia tak akan selebrasi. Atitut baik seorang olahragawan. Lulusan tim Juventus junior ini moncer saat berbaju Pescara, menjadi mengerikan saat di Torino dan dibeli mahal oleh Dortmund. Sempat down sama Sevilla, Lazio menyelamatkan karir sang Attacante. Musim pertama berbaju The Great sukses melewati target 15 gol. “This tim gave absolutely everything!” Immo dan Lazio jelas harus saling berterima kasih. Malam ini dua gol penting dicipta, semakin memantabkan diri sebagai pemain penting (juga untuk timnas Italia). Seakan lupa, dia tak pernah selebrasi gol saat lawan mantan. Begitu sukses menanduk bola ke jala Buffon, Ciro berlari meraya tak terkendali. Yah, di Juve dia memang hanya numpang belajar dan kurang dihargai. Jadi wajar, sangat wajar kostum Hitam Putih tak berkesan. “Malam ini kita mengirimkan sinyal penting kepada pesaing, tak ada yang mustahil. Dan musim kedua kami akan jauh lebih optimis.”

Bantuan Milan

Benarkah piala ini berkat andil Milan yang kini jadi klub kaya baru? Dengan menyekrut Mr Runner Up maka kutukan itu hilang. Dengan merekrut Bonnuci, maka lini pertahanan Juve jadi begitu longgar. Bayangkan, juara bertahan selama 90 menit tak punya peluang yang benar-benar emas. Bek kocar-kacir bak tim yoyo, kalau The Great bisa tenang bisa itu gawang Buffon setengah lusin bobol. Ingat juga, kita tak menurunkan Keita dan Felipe. Bisa bayangkan tridente IKA bersatu malam itu? Porak-poranda. Juventini bisa masuk goa Senin kelabu. Dan dua gol mereka berproses dalam bola mati. Milan bisa saja mencipta Milanisti baru berkat uang melimpah (apa kabar Citizen?), tapi Lazio akan terus mencipta Lazialita baru berdasar cinta.

Anomali Prediksi LIRK

Malam sebelum kick-off Nda bikin kuis tebak skor. Hanya tebak skor dengan komposisi Lazio juara, kuis mudah yang seharusnya tembus. Nyaris semua kombinasi hasil akhir wajar disebut: 1-2, 0-1, 0-2, 1-3, 1-1, 0-3, 1-4, 0-0, 2-2. Tak ada yang menebak kemenangan 2-3! Ada sih Saya dan Xanafi, tapi tahu kita punya skor sama 2-3 dan 3-2 dia mengganti dan saya-pun juga. Awalnya tak ada yang mau mengalah, tapi saat satu mengalah malah langsung keduanya. Dan siapa sangka, takdir mencipta skor bagus itu yang muncul.

Super Lazio Ahi Ahi

Juve Keesokan harinya La Gazzeta Dello Sport memuat headline kemenangan Lazio. Il primo trofeo deciso da un gol al 93’ (3-2). Disisipkan artikel Dovi Show yang Minggu malam itu juara dramatis di MotoGP, Perisic yang memutuskan menolak Mourinho serta tarik ulur Aubameyang ke Milan. Halaman utama Koran lokal itu menampilkan tiga adegan utama: Gol pisang Dybala, Murgia berlari selebrasi dan gambar frustasi Cuadrado yang menutup wajah dengan tangan kanan di depan muka muram Higuain. Gambar utamanya? Tentu saja skuat The Great mengangkat piala dalam taburan convetti. Sementara koran lain Corriello Dello Sport memberi judul headline-nya lebih kalem: Favo Lazio. La supercoppa e Biancoceleste Juve batota 3-2. Gambar utamanya lebih lebar dalam lanscape Pasukan Lazio mengangkat piala. Ahi ahi Juve. Hihi, ahi ahi aki.

Scudetto

Scudetto jelas piala nomor satu, andai diberi opsi pilih juara 12 kali beruntun Liga Champion (menyamai Madrid) atau juara Serie A satu kali dalam 12 tahun? Jelas saya pilih yang kedua. Snob! Mengalahkan Juventus setelah 10 laga minus hasil, malam menakjubkan ini patut dikenang dan dirayakan, piala hanya bonus. Target utama tetap Juara Serie A. Europa League hanya hiburan malam Jumat, hura-hura cari duit karena untuk juara rasanya langkahnya terlalu panjang nan berbelit, kurang prestise dan mustahil ketemu Barca, kecuali Barcelona mau mendegradasikan diri dari UCL. Coppa hanya piala penghibur, target cadangan. “Scudetto Nomor Satu”, begitu judul artikel Bola tahun 1999 yang ditulis oleh kontributor Rayana Djaka Surya. Saat itu Lazio sedang pahit disingkirkan Inter Milan di Coppa dengan cara aneh, leg dua berjalan penuh absurb karena Christian Vieri yang dilanggar keras sampai tak bangun, wasit tak memberi tendangan bebas, bola on dan gol kemenangan untuk Inter terjadi. Tersingkir, lalu kita beralibi itu kompetisi kedua. Tahun ini wajib optimis, fan semangat, pemain hebat, pelatih luar biasa dan presiden merestui. Kekuatan semesta akan berkonspirasi mewujudnya?

LU71C

Ini adalah partai resmi Lazio dalam jadwal FIGC pertama Senad Lulic mengkapteni Lazio. Manis sekali, William Shakespeare pun akan takjub dengan cerita seindah ini. Datang, main, kapten, menang. Masih ingatkah kalian proses menjadi juara Coppa 2013? Laga final yang gila, yang dikenang sebagai LU71C day itu prosesnya lebih menakjubkan lagi. Semifinal-nya lawan Juve proses lolosnya sangat dramatis mirip dengan laga final ini. Saya sudah mencipta tulisan khusus 3 bulan lalu (dalam note ‘On This Day’ yang akan saya publish tahun depan) berikut saya kutip satu paragrafnya: Lazio melaju ke final dengan susah payah menyingkirkan Siena via adu pinalti di 16 besar setelah sundulan Michael Ciani dibalas. Babak 8 besar menang mutlak 3-0 mengKO Catania, gol pembukanya Radu! Dan salah satu penampilan terbaik Hernanes yang salto, ketika ditarik dapat applaus serta pelukan Petkovic. Di semifinal ketemu lawan berat Juventus, Marchetti menunjukkan bintangnya. Salah satu tendangan Matri ditepis dengan terbang. Leg kedua berjalan dengan sangat-amat seru. Conte memainkan strategi ofensif, beruntung sebuah tandukan Alvaro Gonzales membuat kita leading. Saat pertandingan akan berakhir Vidal bisa menyamakan kedudukan. Tapi mental Skuat Elang sedang tinggi sehingga, tekanan di penghujung laga itu tak membuat drop. Melalui sepak sepak pojok kemelut itu mencipta skor, protagonisnya Flocarri. Biava sampai melepas kaos menuju tribun saking emosionalnya. Saat additional time, nyaris saja Juve menyamakan 2-2 untung Marchetti melakukan save di menit 95! Inilah musim terbaik sang kiper. Kepastian finale disambut gegap gempita. Bendera biru dan Italia berkibar seantero Olimpico. Arremba Sempre!

Subtitusi Tepat

Marusic, Murgia, Lukaku. Tiga pergantian Lazio sangat tepat, semuanya berpengaruh dalam menentukan hasil akhir. Marusic menjaga keseimbangan belakang, yang terkejut akan hadiah pinalti aneh Juve (selamat datang di Serie A, Adam!) Lukaku membalas dengan satu assist sensasionalnya (tusukannya bikin kita pengen kecup-kecup kamu), dan Murgia mencipta Boom! Itu. Inzaghi memang belum sampai satu setengah musim mengajar Lazio senior. Tapi keputusan-keputusan mantan striker ini banyak yang harus diacungi jempol. Malam ini kita harus benar-benar berterima kasih kepadanya.

Skuat Juara

Transfer window tinggal setengah bulan lagi. Kehebatan musim lalu akan meningkat tajam di musim baru ini andai tak banyak perubahan. Please, jangan pecah kekuatan Lazio yang sudah padu nan rupawan. Kita gagal mempertahankan Biglia, kini Keita sedang terusik dan De Vrij dalam proses perpanjangan atau keluar. Saya sih ingin kedua bintang tanda tangan kontrak lagi karena jelas mereka adalah kunci. Keita mungkin somsom, tapi si Keling ini saat on fire mengerikan, tiga tahun lagi bisa jadi pemain termahal dunia. Dia adalah korban rayuan Nyonya Tua. Lagi trend kan Pemuda kepincut nenek-nenek, nah Balde sedang kena jampi-jampi sehingga menolak semua proposal tim lain dan hanya mau sama Juve, yang memberi tawaran kecil jauh di bawah harga pasaran. Persis seperti remaja jatuh hati kena gendam, konyol. Mending bekukan, suruh muhasabah di bawah kaki gunung Alpen lalu diminta tobat dan mainkan! Tak mau juga, biarkan beku. Sang presiden sudah janji Keita tak akan bernasib sama dengan Pandev. Kehebatan De Vrij terbukti lagi semalam, Marjuki dan Higuain plonga-plongo depan gawang macam striker Serie C. Ini jelas andil besar duo Stefan yang disiplin dan lugas menghalau bola. Wesley Hoedt sedang diusik Soton 17 juta, BIG No. Setelah sukses mendatangkan pemain bagus Lucas Leiva, Adam Marusic sampai Davide Di Gennaro (saya ga berani bilang Felipe Caicedo ya). Harusnya kita bisa menghasilkan gelar di akhir musim. Skuat hebat ini ditambah promosi alumni primavera Palombi dan Guido yang kembali dari masa pinjam Salerno sampai bek muda menjanjikan Luiz Felipe. Tangguh di bawah, kuat di belakang, menakjubkan di tengah dan tajam barisan depan. Apalagi? Mental juara sudah ada. Coba tambahkan Christopher James Ikonomidis, maka bersiapkan berdingin diri di puncak klasemen.

Pemuda Asli Formello – 96

Sulit melupakan Cataldi? Tak usah berlarut. Semudah kita melupakan Muoustapha Seck, pemain tak loyal harus dienyahkan dari kepala. Atitute Danilo saat skor 2-2 Genoah akan jadi noda karirnya, melakukan pelukan aib dengan Pandev itu sudah jadi keputusan pribadi. Setelah digadang-gadang jadi kapten masa depan, dan kini semakin hari semakin buram warna itu, rasanya kita harus move on, dan jawaban diberikan dengan aksi memikat Alessandro Murgia. Putra daerah yang memulai karir di Lazio Junior sejak 2012 ini adalah salah satu bintang Class of 2015 yang memberi bukti gelar Primavera. Tahun lalu sudah sesekali masuk line up, 14 kali main (sebagian besar sebagai pengganti) dan mencipta dua gol, salah satunya dramatis. Dan diulang lagi di partai puncak. 9 Agustus lalu berulang tahun ke 21, 3mpat hari berselang jadi pahlawan. Kado yang sangat manis. Murgia pasca laga berujra, “Kami pantas mendapatkannya!” Malam ini kita bisa sematkan kepada Wonder Kid Murgia sebagai harapan BESAR sebagai next captain. “Kamu pantas mendapatkannya!” Sepakat?

Juventus 2-3 Lazio

Immobile pen 31, 54, Murgia 93; Dybala 85, pen 91

Juventus: Buffon; Barzagli, Benatia (De Sciglio 56), Chiellini, Alex Sandro; Khedira, Pjanic; Cuadrado (Douglas Costa 56), Dybala, Mandzukic (Bernardeschi 72); Higuain

Lazio: Strakosha; Wallace, De Vrij, Radu; Basta (Marusic 74), Parolo, Lucas Leiva (Murgia 79), Luis Alberto, Lulic (Basta 74); Milinkovic-Savic, Immobile Ref: Massa

Ruang HRGA – KGV#V5/23 – Karawang, 14-15 Agustus 2017 – Sherina Munaf – Kembali Ke Sekolah – Ku Bahagia

Note1: satu jam kemudian setelah pesta juara, di Nou Camp Ronaldo selebrasi gol kemenangan jemur baju. Barcelona luluh lantak di leg 1 final Super Spanyol. Alarm meraung, Barca sedang down. Bisalah secepatnya diadu dengan kita. Hening.

Note2: Saya mengetik tulisan ini dengan keceriaan membuncah ditemani semua album keren Sherina Munaf, rasanya sejuta ribu kata juga kurang untuk mendeskripsikan kebahagian Lazio Juara. Namun setelah dua hari begadang, istirahat kerja saya alokasikan duduk depan komputer bukannya baca buku atau khusuk molor di Mushola tapi saya dedikasikan sepenuhnya untuk mencipta ini. Peluk cinta untuk Lazio.

#BisognaVincere #AvantiLazio #ForzaLazio #LazioPerSempre #LazioTiAmo #FromKawarangWithLove

Iklan

One thought on “Dramatis, Lazio Jungkalkan Juve Di Final Super Coppa 2017

  1. Berterima kasih kepada milan ada benarnya hlo.
    Pertama, bonucci dibeli milan. Ini jelas melemahkan juve.
    Kedua, mattia de sceglio, pemain (ndobos) milan yg dibeli juve, bermain ndobos. Sampai2 lukaku bisa melewati dengan mudah.
    Milan punya andil?
    Milanisti bilang “SETUJU”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s