Dan Brown: a Biography – Lisa Rogak

Ini adalah buku yang saya tunggu-tunggu sejak dua tahun lalu. Sempat menimang-nimang untuk kubawa pulang dari toko buku, tapi urung karena terbentur harga. Sehingga saat awal Ramadan 2017 ketika ke Gramedia Karawang sedang ada diskon sehingga harga bisa terpangkas separuhnya tanpa pikir dua kali langsung saya ambil. Kisah Novelis yang diklaim paling kontroversial abad 21 ini sungguh bervitamin. Perjalanan hidup penuh liku dari seorang lulusan universitas terkemuka, mencoba menjadi musisi, menikahi istri yang lebih tua sampai meledakkan diri dalam novel fenomenal Da Vinci Code.

Saya sudah menonton tiga adaptasi filmnya, dua pertama luar biasa seru memicu andrenalin. Sayangnya tahun lalu Inferno limbung, dengan pola nyaris sama, dan kejutan yang tak terlalu mengejutkan, bahkan plotnya terlihat konyol, sayang sekali. Di buku ini hanya sepintas disinggung proses menuju film, kita akan lebih banyak diajak mengarungi perjalanan karir sang Penulis. Saya baru baca satu buku Dan Brown, satu lagi ga selesai karena bentuk pdf pemberian teman, yang lain rasanya kalau ga kena diskon atau pinjam ga akan kebaca. Kemarin teman kerja bilang punya Inferno, waaa bisa-bisa saya pinjam.

Biografi ini saya baca kilat-se-hari dalam perjalanan pulang-pergi Selasa, 8 Agustus 2017 CIF – Citarasa Indonesia Factory, Karawang dari ke HO – Head Office, Jakarta untuk pre-implementasi SAP Training dan Benefit Asuransi, saya membaca di samping sopir memanfaatkan waktu perjalanan 2,5 jam berangkat, 3 jam pulang serta 1 jam istirahat di Grand Wisata, Bekasi. Hasilnya, lumayan seru. Tak sia-sia penantian panjang itu, tak rugi mengikuti seluk beluk bagaimana proses novel itu akhirnya tercipta.

Setelah prolog 21 halaman, semua ini dimulai di Exeter, New Hampshire. Dan Brown dibesarkan dalam rumah di mana teka-teki dan kode menjadi salah satu cara bersenang-senang. Kode merupakan gabungan antara matematika, musik dan bahasa. Di saat Natal, kado akan disembunyikan lalu Dan dan adik perempuan Valerie serta si bungsu Gregory akan berburu. Dan dibesarkan dikelilingi oleh berbagai klub rahasia di universitas-universitas Ivy League, pondok-pondok Masonic dari Para Pendiri Bangsa dan selasar tersembunyi pada kekuasaan di masa awal. New England punya tradisi panjang klub pribadi elit, kelompok persaudaraan dan rahasia. Salah satu alasan Dan merasa sangat nyaman dengan beberapa bidang ilmu sekaligus adalah dua subjek yang oleh orang lain dianggap sangat bertolak belakang – sains dan agama – hidup berdampingan dalam damai, bahkan berkembang di dalam keluarga Brown. Ayahnya mengajar dan menulis tentang matematika sedangkan ibunya memainkan musik sakral dan organ. Mereka saling melengkapi dengan harmonis. Pernyataan itu disampaikannya suatu ketika, “Mengingat aku tumbuh sebagai Putra seorang ahli matematika dan seorang pemain organ Gereja, aku tersesat sejak awal. Jika sains menawarkan berbagai bukti menarik mengenai pengakuannya, agama jauh lebih banyak menuntut.”

Saat lulus kuliah, Dan punya dua kecintaan: menulis fiksi dan menulis lagu. Tahun 1982 ia memiliki pengalaman tak terlupa saat menghabiskan musim panas berkunjung ke Amherst College, Spanyol. Benih awal Dan Vinci ditanamkan profesornya melalui sebuah presentasi slide tentang The Last Supper, lukisan kedua terkenal Leonardo Da Vinci setelah Monalisa Smile. Dengan santai berseru bahwa sosok yang duduk di samping kanan Yesus di dalam lukisan bukanlah John seperti kisah umum yang kita tahu. Melainkan sosok wanita yang lebih tepatnya Maria Magdalena. Lalu sang profesor menunjukkan rahasia-rahasia dia dalam lukisan itu, termasuk fakta tak ada cangkir anggur di bagian manapun. Dan inilah katalis imajinasi Dan Brown, termasuk lukisan Madonna of the Rock dan Adoration of the Magi.

Poin paling menakjubkan dari biografi ini tentu saja kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas. Singkat kisah Dan adalah dari keluarga berada, lulusan kampus bergengsi, punya tekad untuk jadi musisi ternama sehingga hijrah ke Hollywood, tempat berjuta mimpi berada. Menikah dengan wanita yang lebih tua 12 tahun, dengan tatapan miring kolega hal ini hanya untuk mendongkrak popularitas karena Blythe adalah salah satu orang penting dunia industri hiburan. Album pertama yang biasa kalau tak mau dibilang gagal, album musik berikutnya yang lebih terpuruk, dan langkah penting mengambil keputusan hidup untuk menepi menjauhi segalanya untuk memulai dari awal. Saat berlibur ke Tahiti, ketika tanpa sengaja menemukan buku Sidney Sheldon, Doomsday Conspiracy ia berseru bisa membuat yang seperti ini. ‘Hei aku bisa juga melakukannya’.

Sebuah kontrak buku perdana, buku 187 Men To Avoid yang benar-benar biasa sebagai panduan bergaul. Terbit tahun 1995, dari judul dan genre nya saja sudah terdengar konyol, sehingga keputusan ini awalnya terdengar buruk. Karya itu ditulis oleh Dannielle Brown. Buku kedua The Bald Book bisa saja lebih baik, di bawah nama Blythe Brown. Namun tetap sambutan tak semeriah yang diharap.

Akhirnya menekuni serius dalam fiksi novel. Tahun 1998 Digital Fortress muncul ketika dunia komputer sedang naik daun. Dan informasi bahwa keamanan email kita tak serahasia yang kita duga membuat sambutan novel debut ini bisa diterima. Lalu Angels and Demons yang memperkenalkan Robert Langdon lumayan sukses. Menyusul kemudian tahun 2001 adalah novel dingin Deception Point yang bersetting di Kutub Utara. Dan mereka kembali gagal membuat sesuatu yang wow, bahkan ini novel terpuruk di pasaran.

Maka novel keempat adalah sebuah pertaruhan. Peristiwa 11 September menghentikan semuanya. Dan Brown mempersiapkan dengan lebih detail, kembali melihat ke belakang apa yang salah dan apa yang perlu dikembangkan. Maka keputusan kembali memperkenalkan Robert Langdon adalah keputusan brilian. “Untuk setiap halaman yang dibaca pembaca dalam the Da Vinci Code, ada sepuluh halaman yang berakhir di bak sampah. Bagaimanapun ini adalah thriller dan aku berusaha untuk menggunakan informasi yang mendukung cerita dan membantu jalannya plot.”

Satu lagi yang mendukung ledakan novel ini adalah kepindahan Penerbit dan kepercayaan editor barunya. Jejak Dan di Pocket Books kurang mengesankan maka kepindahannya ke Doubleday bersama editor kawakan Jason Kaufman merupakan campur tangan Tuhan untuk menjadikan Da Vinci Code terwujud. Akhirnya ia berada di jalan yang benar.

Dan seperti yang kita tahu, Da Vinci Code yang kontroversial malah mendongkrak reputasinya. Review positif di hari peluncuran novel dari kritikus Janet Maslin di New York Times mendorong lebih jauh lagi, “Kata yang tepat adalah wow…” sebuah pembuka ulasan yang tentu saja membuat semua Penulis melonjak kegirangan. Sisanya adalah perjalanan emas novel ini. Adaptasi film tahun 2005 dengan bintang besar Tom Hanks dan sutradara hebat Ron Howard. Persidangan melelahkan karena dituduh plagiat. Dan kemunculan novel kelima The Lost Symbol yang molor jauh dari jadwal karena kekagetan instan efek Da Vinci.

Biografi ditutup tahun 2013 dengan dirilisnya novel keenam Inferno, yang tahun lalu diadaptasi gagal ke layar lebar. “Tujuanku adalah kau mencapai halaman terakhir dengan perasaan senang dan setelah menutup sampulnya kau menyadari,Wow, coba pikir betapa banyak yang sudah kupelajari.’

Link yang kusuka dalam biografi ini adalah Dan Brown terpengaruhi oleh salah satu novel klasik Wrinkle In Time karya Madeleine L’Engle, buku tentang dimensi lain itu begitu membuatnya terpesona sehingga beberapa bagian novelnya seakan mengajak bersinggungan dengan histori waktu. Buku itu dibacanya empat kali, dan konsep mengagumkan tentang tesseracts membuatnya berfikir tentang alam semesta.

Seperti kata Mr. Jack Heath, dosen bahasa Inggris Dan di Exeter: ‘Lebih sederhana lebih baik.’ Dan inilah dia Dan Brown, Penulis hebat dari New Hampshire!

Bisakah kau memecahkan kode ini: YAOROVSEUEETHNCS

Dan Brown: a Biography | by Lisa Rogak | Terbitan Thomas Dunne Books an imprint of st. Martin’s Press, New York, 2013 | diterjemahkan dari Dan Brown: The Unauthorized Biography | cetakan pertama, Juni 2014 | Penerjemah Harisa Permatasari | ilustrasi sampul Jajang Windaya | desain sampul Dosi Rosadi | Pemeriksa aksara Yunni Y.M. | Penata aksara Ahmad Taufik Lubis | Penerbit Bentang | 248 hlm; 20.5 cm | ISBN 978-602-291-041-1 | Untuk kota New Hampshire dan penduduknya meski sudah berusaha, aku tetap tak bisa pergi dari kalian | Skot: 4/5

Ruang HRGA CIF – Karawang, 110817 – Sherina Munaf – Kutunggu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s