A Wrinkle In Time – Madeleine L’Engle

Salah satu novel klasik tentang permainan dimensi terbaik yang saya baca. Saat membaca ending Bartimaeus Trilogy di mana sang jagoan akhirnya memasuki dunia lain yang gelap dalam pemadatan materi, saya langsung teringat buku ini. Saya membacanya tujuh tahun lalu, saat merayakan kebebasan masa muda bersama teman-teman GF – Gila Film: Zulk, Dien, B Sukendo, Deni, dkk di tanggal 10-10-10 ke Senayan dalam pameran buku. Karena Atria tidak mencantumkan cetakan asli awal terbitnya, kukira dicetak pertama tahun 2007. Hebat juga, buku terbitan milenial bisa semegah ini, ternyata sudah ditempa waktu karena aslinya terbit tahun 1963 dan mulai tahun 1979 ada ilustrasinya yang dikerjakan oleh Leo dan Diane Dillon. Sungguh menakutkan sekaligus menarik saat menemukan bahwa materi dan energy adalah hal yang sama, ukuran hanyalah suatu ilusi dan waktu adalah subtansi materi. 

Buku anak-anak tapi tak sepenuhnya buat anak, isinya filosofis memainkan dimensi bak sebuah ilmu sains yang rumit. Kisahnya dibuka dengan malam penuh badai, di dalam kamar tidurnya di loteng, sang protagonist Margaret Murry dalam tidurnya terganggu. Ia memperhatikan pepohonan yang bergoyang di tengah tempaan angin yang dahsyat. Terbungkus dalam selimut, Meg gemetaran. Dia lalu turun ke dapur untuk membuat minuman. Bagaimana seluruh keluarganya bisa tidur? Sepanjang hari di radio terdengar peringatan-peringatan tentang badai? Di bawah tangga dia mendengar Fortinbras, anjing hitam besar, menggonggong. Fortinbras tak pernah menggonggong tanpa sebab. Saat sampai di dapur, tenyata ada adiknya Charles Wallace yang sedang memanaskan susu, “Aku sudah menuggumu. Aku tahu kau akan turun.” Bagaimana ia selalu tahu tentang Meg? Sungguh aneh mereka tidak mampu mengungkapkan apa yang sepertinya mereka sendiri ketahui kepada kita.

Meg adalah si sulung. Adiknya kembar Sandy dan Dennys (dalam kisah ini porsi tentang mereka sangat kecil yang membuatku menebak nasib karakter utama jangan jangan sad ending), dan si bungsu yang nyentrik Charles Wallace. Orang tua mereka adalah ilmuwan. Ibunya akan dengan senang hati menghabiskan waktu berhari-hari di laboratorium, meneliti. Mrs Murry bukan hanya cantik, tapi cantik jelita. Ayahnya menghilang saat melakukan penelitian dalam tugas Negara. Nah poin kisah bisa saja adalah ini, kemana perginya Mr Murry? Walau sejatinya masalah dunia lain yang berlapis tapi tetap kisahnya ada dalam misi penyelamatan. Di sekolah banyak yang menyindir, tetangga banyak yang bergosip, dan nada-nada miring itu membuat Meg tak nyaman. Hanya ada sedikit sekali perbedaan antara ukuran mikroba terkecil dengan galaksi terbesar. Dan saat sedang marah, kita tidak memiliki ruang untuk rasa takut.

Charles Wallace baru berusia lima tahun, tapi sudah terlihat jenius sedari balita. Awalnya ia sulit bicara, terlambat untuk berdiri dan lambat tumbuh. Tapi saat akan menginjak usia emapt tahun, ia langsung hebat. “Tak usah mengkhawatrikan Charles Wallace, Meg. Tidak ada masalah dengan pikirannya. Dia hanya melakukan hal-hal dengan cara dan waktunya sendiri.” Dan benar, tiba-tiba Wallace tanpa sedikit pun cadel yang biasa terdengar dalam omongan bayi, dan menggunakan kalimat lengkap. Betapa bangganya keluarga Murry mengetahui itu. Waspadalah dengan kebanggaan dan kesombonganmu, karena itu bisa menghianatimu.

Di kota mereka ada penghuni aneh yang tinggal di hutan. Mrs Whatsit dan dua orang temannya. Penampilan yang acak-acakan membuat mereka bak gelandangan. Siang itu di kantor pos ramai membicarakan tentang gelandangan yang mencuri seprei Mrs Buncombe. Tindakan tersebut tentu saja salah, tapi nanti akan ada penjelasan kenapa mereka membutuhkan seprei. Nah malam itu Mrs Whatsit masuk ke rumah Murry. “Jalan menuju neraka dilapisi oleh niat-niat baik.” Dan betapa terkejutnya Mrs Murry saat tahu mereka paham tesseract.

“Segala hal tentangku membuatku tahu.” Calvin O’Keefe adalah siswa Sekolah Regional yang keren, panggilannya si sport karena memang ahli di olahraga terutama basket. Anak ketiga dari sebelas bersaudara ini suatu malam bisa berduaan dengan Meg, saling mengenal. Di sekolah padahal Meg adalah orang aneh yang tak suka membaur, kontras dengan Calvin yang cool. 

Lalu diperkenalkanlah karakter berikutnya yang tak kalah nyentrik, Mrs Who dimana saat bicara selalu mengutip kalimat orang-orang terkenal dari masa lalu dari bahsa aslinya. Kalau kutipan dari Inggris ya pakai English, kalau dari Jerman pakai Jerman kalau dari Amerika Selatan ya pakai Latin, dst dst. Khusus untuk Mrs Who kutipan yang diucap bisa dibuat dalam catatan tersendiri saking bagus dan banyaknya. Auf frischer tat ertappt. Jerman. In flagrante delicto. Latin. Caught in the act. Inggris. Tertangkap Tangan. Bahasa. Hihi.. unik ya. Oh mengapa kalian harus membuatku melihat hal-hal yang tidak menyenangkan saat masih banyak sekali hal-hal menyenangkan yang bisa dilihat?

Kau tak tahu betapa beruntungnya dirimu karena dicintai. Karakter ketiga dari ibu-ibu itu adalah Mrs Which. Dalam pengenalannya ia berjalan di atas tembok dengan memakai seprei! Hanya karena kita tidak mengerti tidak berarti penjelasan itu tidak ada. Sore cerah dan dalam hitungan detik semua berubah. Ini adalah sore yang paling mustahil dan paling membingungkan dalam kehidupan Meg, tapi ia tak bingung atau sedih, ia hanya merasa bahagia. Mengapa? Seberkas angin lemah berhembus, dedaunan berkeresak karenanya, pola-pola cahaya bulan berubah dan dalam lingkaran, sesuatu berkilau, bergetar dan suara itu berkata, “Kupppikkkirrrr akkku tidaaaak akkkan mewwwwuuujud ddddeeengaan sempppurnnrna. Akkku merrrasaaa itttuuu sangaaaattt mellleeelaaahhhkannn, dannn kitttaaa memmmilikkkkii bbbaaanyakkk hall yang haaaarrrrusss dilakukkan.”

Sebuah konsep melompati ruang dan waktu, tesseract. Trio aneh itu membawa Meg, Calvin dan Charles ke dimensi lain. Aku sedang tertidur, aku sedang bermimpi buruk, aku ingin terbangun. Biarkan aku terbangun. Kegelapan memiliki suatu kualitas yang terukur. Ia mirip dengan keheningan, di dalam kehampaan itulah mereka berpindah ruang dan waktu. Tersedot bak sebuah perjalanan memusingkan. Mereka baru saja melakukan tesser, atau kita bisa menyebutnya mengerut. Nah dari sinilah judul buku diambil, kerutan dalam waktu. Di mana kita melintas bisa hingga ke lima dimensi. Dalam buku ini digambarkan kedua tangan terentang benang, seekor semut berjalan dari satu tangan ke tangan lain, butuh waktu. Tesser adalah mendekatkan kedua tangan, sehingga jarak benang jadi taka da dan semut itu bisa berpindah dalam sekejap. Perumpamaan yang bisa dinalar, ya?! Kita harus mencari jalan pintas kapan pun kita menemukan kemungkinan itu.

Adegan demi adegan berikutnya adalah sebuah fantasi tingkat tinggi. Melintas antar dunia, menyelip dalam kehampaan sampai mengukur betapa terbatasnya suatu proto plasma. Semacam ramuan mimpi yang aneh dan membingungkan, mereka lalu berpetualang hingga batas-batas fantasi pengetahuan alam. Saat akhirnya mereka bertemu dengan ayah mereka Mr Murry, mereka harus berhadapan dengan ITU. Suatu makhluk penguasa dimensi, berhasilkah mereka menyelamatkannya? Keyakinan adalah saudari keadilan, percayalah kepada kami!

WWalaupun ending hanya begitu tapi jelas ini novel tak biasa. Beberapa hari yang lalu saat baca biografi Dan Brown, A Wrinkle In time disebut. Bagaimana beliau terinspirasi dengan cerita tentang The Dark thing, dunia antah yang menakjubkan sampai Camazotz yang memiliki SATU pikiran. Hebat, The Da Vinci Code ternyata bersinggungan dengan materi gelap. Buku ini menang Newbery Medal, Sequoyah Book Award dan Lewis Carroll Shelf Award. Serta menjadii juara dua Hans Christian Andersen Award. Dan cahaya menyala dalam kegelapan, dan kegelapan tidak mampu menenggelamkannya.

Terakhir, tahun 2018 rencananya akan diadaptasi ke layar lebar. Trailernya sudah muncul di beberapa kesempatan, saya seperti biasa menanti dengan menutup segala info yang masuk. Tahun 2018 tinggal menghitung bulan, sabar. Patut diantisipasi. Jika seseorang tahu lebih banyak, dia akan lebih sedikit bicara.

Kerutan Dalam Waktu | by Madeleine L’Engle | published special arrangement with Square Fish, an imprint of Macmiilan, 2007 | diterjemahkan dari Madeleine L’Engle | Penerjemah Maria M. Lubis | penyunting Ida Wajdi & Jia Effendie | Pewajah Isi Aniza | Penerbit Atria | Cetakan I, Agustus 2010 | ISBN 978-979-024-453-5 | Untuk Charles Wadsworth Camp dan Wallace Collin Franklin | Skor: 5/5

Ruang HRGA CIF – Karawang, 070817 – Sherina Munaf – Click Clock

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s