Pekan 2: Chievo Vs Lazio

Pekan 2: Chievo Vs Lazio

Perkiraan formasi 3-4-2-1

Strakosha

Wallace – De Vrij – Radu

Basta – Parolo – Leiva – Lulic

Luis Alberto – Savic

Immobile

LBP 0-3

Analisis: Kejutan SPAL 2013 membuat hitungan juara sedikit bergeser. Tak boleh terulang dalam laga prestise lawan Keledai. Harus ofensif sejak menit awan untuk jaga asa, Immo jelas pembeda.

Aditandro Nista

Chievo 2-1 Lazio, Inglese

Lazio main tandang. Chievo bakal menang. Fans Roma senang.

Damar IRR

Chievo 0-2 SS Lazio. Immobile

Kuning vs Biru. Kuning akan terhempas oleh birunya laut. Kuning akan tercerai berai dan akhirnya tumbang

Antonio Marazina

Chievo 2-0 Lajio, Inglese

Jink berlanjut. Lajio tumbang. Tower ikut tumbang.

Arief Birsa

Chievo v Lazio 1-1 Birsa Valter

Birsa menjadi figur penting Chievo sejak 2015/16. Kalau Elang mau poin, wajib mematikan Birsa. Birsa, ancaman nomor 1 buat Lazio.

Jabo

Chievo 0-1 Lazio, Immobile

Elang cuma bisa bikin satu gol. Itu juga dengan susah payah. Beruntunglah 3 poin bisa dibawa pulang

Iinmobile

Chievo 1-2 Lazio, Immobile

Pertandingan pertama gagal menang. Pertandingan ke 2 wajib menang. Lazio menang om Budy pun riang.

Nicola Legrottaglie

Chievo 1-1 Lazio, Roberto Inglese

Rasanya Lazio masih akan kesulitan untuk meraih 3 poin pertama mereka di Serie A musim ini. Chievo adalah tim yang kuat di kandang. Draw adalah hasil yang adil bagi kedua tim.

Ari Pake Fin

Chievo 2-2 Lazio, Immobile.

Elang terbang. Lajio imbang. Pulsa bandar melayang.

CEO Streaming Lancar Jaya

Chievo 2-3 Lazio, Immobile

Jika Anda adalah seorang Laziale sejati namun sering dikecewakan stasiun tv lokal karena tim kesayangan Anda tak mendapatkan jatah live, Anda selalu dapat mengandalkan kami. Tonton selalu kiprah tim kesayangan anda hanya di bib1.ml Forza Lazio!

DC

Chievo 1-3 Lazio Immo

Menang tandang. Ini sebagai ganti hasil buruk di laga awal. 3 poin buat Elang.

Bagas Rasiota

Chievo 1-4 Lazio, Ciro

Terlena di pekan pertama menjadi guru yang berharga bagi Elang untuk belajar terbang, kini saatnya membumbung tinggi, hempaskan Chievo. Forza Elang!

Takdir

Chievo 1-1 Lazio Immo

Keledai ‘kan emang selalu bebal. Musim lalu The Great terpelatuk lutut di Olimpico berkat gol menit akhir setelah sepanjang laga Keledai Kuning dipecuti Elang. Big match pertama Lazio musim ini bisa pulang bawa poin sudah prestasi yang membanggakan. Andai gol menit akhir Immo tak terjadi, Cardi Chievo tentunya berpesta.

Widy

Chievo 2-3 Lazio, Leiva

Elang bertemu Chievo. Tandang tidak masalah. Target juara emang harus menang terus di tiap laga sekor akhir 2-3 untuk Elang.

Karawang, 270817

Iklan

And Then There Were None – Agatha Christie

Lelaki Tua: “Berjaga dan berdoalah. Berjaga dan berdoalah. Hari pengadilan sudah dekat.

Buku klasik yang pertama baca saat sekolah. Di tahun 2000 di kelas ada teman yang merekomendasikannya, bersama Inu, CS STM kita ke Perpus Solo. Awalnya kukira berjudul ‘Ten Little Niggers’ dan kovernya sendiri menggambarkan 10 boneka hitam yang berjajar di mana urutan pertama sudah terjatuh. Waktu itu saya benar-benar takjub, sampai bilang kok ada ya novel dengan alur sebrilian ini? Ini adalah buku Agatha pertama yang saya baca. Efeknya luar biasa. Mematri Agatha sebagai Penulis favorit, buku-buku karya beliau pelan namun yakin kebaca. Dan fiksi jadi begitu kugilai, rentetan gelombang pasca baca novel ini panjang, sangat panjang. Dan tentu, And Then There Were None masuk sebagai salah satu novel terbaik sepanjang masa versi saya.

Kalau jeli seharusnya kita bisa menebak siapa dalang pembunuhan beruntun ini. Sayangnya waktu pertama baca saya ga familiar sama sang Penulis, sehingga lengah bahwa poin-poin sederhana pun bisa sangat menentukan. Dan poin itu sudah disebar bahkan sedari awal. Kisahnya tentang sepuluh orang yang diundang ke sebuah pulau kecil nan terpencil dengan cara misterius. Pulau Negro, pulau yang dibeli oleh miliuner Amerika lalu berpindah tangan dari orang kaya satu ke orang kaya lain. Di pusatnya dibangun bangunan megah dan modern dengan beragam advertesi mewah. Sepuluh pendosa diundang lalu Agatha menaruh tragedi di sekitarnya.

Satu: Mantan hakim Tuan Justice Wargrave dalam perjalanan kereta, saat melewati Somerset ia sedang membaca harian The Times. Ia berangkat dari Paddingotn dan akan dijemput di Oakbridge. Ia diundang oleh Constance Culmington, seorang wanita yang suka berpetualang.

Dua: Vera Claythorne, seorang pengajar di masa libur dan sekretaris pribadi. Ia mendapatkan pekerjaan ke Pulau Negro mulai tanggal 8 Agustus dengan gaji yang sesuai harapan, bayangannya tentu saja musim panas di pantai, betapa beruntungnya ia. Vera mendapat undangan pekerjaan yang datang dari Una Nancy Owen. Nyonya rumah?

Tiga: Phillip Lombard, dengan uang seratus guinea sang kapten diundang seorang klien misterius. Tuan Issac Morris menyampaikan pesan itu untuk kepadanya bahwa di Pulau Negro ia baru akan diberitahu tugasnya. “Tidak lebih dari satu Minggu?” Wow, hanya kerja beberapa hari mendapat limpahan uang di pulau impian. Siapa yang berani menolak?

Empat: Miss Emily Blent, berusia enam puluh lima. Mendapat undangan liburan gratis ke Pulau Negro atas ajakan seseorang berinisial U.N.O. Seharusnya ia berprasangka, dari seorang kenalan beberapa tahun lalu di Belhaven Guest House. Walau terasa aneh, ia tetap berniat datang untuk berjemur di pantai tanpa diminta biaya.

Lima: Jenderal Macarthur. Satu-atau-dua orang teman lama Anda datang ingin mengobrol dan mengenang masa lampau. Ia belum begitu kenal siapa si Owen ini. Barangkali teman Spoof Leggard dan Johny Dyer. Ah ia suka nostalgia tentang masa perang di pulau serbamewah seberang Devon.

Enam: Dokter Armstrong. Kesuksesan juga membawa kesulitan. Sebagai dokter dengan pasien melimpah, jamnya benar-benar sibuk. Surat yang diterimanya juga tak begitu jelas, tapi cek di dalamnya tidaklah demikian. Keluarga Owen tentunya orang bergelimang harta, dia diundang untuk memeriksa sang istri yang sakit syaraf. Dengan mobil Morris-nya ia melintasi dataran Salisbury untuk bertugas sekaligus berlibur.

Tujuh: Anthony Marston, seorang pemabuk yang hura-hura. Pemuda berbadan tinggi tegap yang suka pesta. Memandang sinis kehidupan, menyepelekan orang sekitar. Dengan mobil Dalmain-nya ia menuju Pulau Negro atas undangan Owen-who?

Delapan: Tuan Blore yang diminta untuk mendata para tamu ke pulau. “Delapan lebih satu, seharusnya pekerjaan ini cukup mudah.” Ia memandang diri ke kaca, rasanya ia bisa jadi mayor, bukan. Bekas tentara tua? Hhmm… bagaimana dengan Afrika Selatan. Ah tak banyak jenis dan macam koloni, sebagai orang kaya dari Afrika Selatan ia bisa masuk ke klub manapun.

Sembilan-Sepuluh: Mr and Mrs Rogers, sepasang pembantu yang menyambut semuanya. Menyiapkan kamar, memasak dan melayani atas perintah Tuan Owen. Korban tambahan (dalam epilog adalah yang kesepuluh) sebenarnya adalah Morris, tapi ia bukan dalam lingkaran saat serangkain pembunuhan terjadi di pulau.

Setelah semua berkumpul, ada kabar tuan Owen akan datang terlambat sehingga tidak bisa bergabung sesuai waktu yang dijanjikan. Di atas perapian ada kertas persegi yang berisi sajak dengan bingkai krom. Sajak anak-anak yang berbunyi:

Sepuluh anak Negro makan malam; seorang tersedak, tinggal Sembilan | Sembilan anak Negro begadang jauh malam; seorang ketiduran, tinggal delapan | Delapan anak Negro berkeliling Devon; seorang tak mau pulang, tinggal tujuh | Tujuh anak Negro mengapak kayu; seorang terkapak tinggal enam | Enam anak Negro bermain sarang lebah; seorang tersengat tinggal lima | Lima anak Negro pergi ke pengadilan; seorang ke Kedutaan, tinggal empat | Empat anak Negro pergi ke laut; seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga | Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang; seorang terterkam beruang tinggal dua | Dua anak Negro duduk berjemur; seorang hangus tinggal satu | Seorang anak Negro sendirian; menggantung diri habislah sudah

Ternyata bingkai sajak itu bukan hanya di atas perapian tapi juga setiap kamar serta 10 boneka porselen hitam kecil berjajar, satu akan hilang saat satu nyawa melayang. Memberi efek ngeri, tapi dengan santai Vera berteriak, “Lucu! Ada syair Sepuluh Anak Negro di kamar.” Masalah pertama muncul saat acara makan malam. Sang Suara dari gramofon kuno dengan terompet besar tersembunyi terdengar tanpa pemberitahuan, tanpa berperikemanusiaan, menembus tajam…

Tuan-tuan dan nona-nona harap tenang!” Semua orang terkejut dan melihat sekeliling, melihat satu sama lain, melihat ke dinding, siapa yang bicara. Suara itu terdengar lagi, jelas dan tinggi.

“Anda semua bertanggung jawab atas tuduhan berikut. Edward George Armstrong, apa yang Anda kerjakan pada tanggal 14 Maret 1925 menyebabkan kematian Loiusa Mary Cless. Emily Caroline Brent, pada tanggal 5 November 1931 Anda bertanggung jawab atas kematian Beatrice Taylor. William Henry Blore, Anda menyebabkan kematian James Stephen Landor pada tanggal 10 Oktober 1928. Vera Elizabeth Claytorne, pada tanggal 11 Agustus 1935 Anda membunuh Cyril Ogilvie Hamilton. Philip Lombard, pada bulan Februari 1932 Anda bersalah atas kematian dua puluh satu orang suku Afrika Timur. John Gordon Macarthur, pada tanggal 14 Januari 1917 Anda dengan sengaja membunuh pacar istri anda, Arthur Richmond. Anthony James Marston, pada tanggal 14 November tahun lalu Anda bersalah atas kematian John dan Lucy Combes. Thomas Rogers dan Ethel Rogers, pada tanggal 6 Mei 1929 Anda menyebabkaa kematian Jennifer Brady. Lawrence John Wargrave, pada tanggal 10 Juni 1930 Anda bersalah atas kematian Edward Seton.”

Terdakwa, apakah Anda akan mengajukan pembelaan?”

10 orang di ruangan langsung shock. Suara rekaman itu menghantui, menghujat Tuan Owen yang misterius dan memberi efek saling curiga. Ingat di sini ada kapten, dokter, hakim, pengajar, sampai tukang tipu. Dengan hebat Agatha mencampur berbagai profesi penting untuk menantang Pembaca, siapa dalang drama ini. Sampai akhirnya yang dikhawatirkan terjadi juga. Urutannya (seakan) sama dengan sajak 10 Orang Negro. Kematian pertama menimpa sang pemuda urakan dengan cara tragis menenggak sianida. Persis kiasannya ‘makan malam, tersedak tinggal sembilan.’ Teror itu berlanjut sampai lembar terakhir, mengajak kita untuk terus terpaku dan menebak dan mengira siapa sang pembunuh?

Dengan intimidasi terselubung semua karakter dibuat panik seakan dikejar setan, terjebak tak bisa keluar. Satu per satu meregang nyawa. Kematianku harus terjadi di tengah-tengah kejutan dan guncangan. Aku mau hidup sebelum mati. Jelas ini bukan novel hantu, saat akhirnya polisi Scotland Yard Sir Thomas Legge dan Inspektur Maine tiba mereka hanya menemukan mayat-mayat dan misteri tak terpecahkan. “Tapi semuanya sulit dipercaya.” Jadi bisakah kalian menebak dengan tepat siapa itu ‘Mr. UN Owen?’

Setelah 17 tahun berlalu, buku ini tetaplah karya Agatha yang terbaik. Dulu baca pinjam di Perpus Solo dengan kover jadul. Tahun 2011 di ulang tahun May saya berhasil mendapatkannya di Toko Buku Lippo Cikarang dengan kover beda lagi. Tahun ini baru sempat saya ulas. Novel istimewa dengan perlakuan istimewa. Sejak kecil aku merasa suatu dorongan untuk membunuh yang amat kuat di dalam diriku. “Kita harus waspada.”

“Swan Song”

Lalu Semuanya Lenyap | by Agatha Christie | diterjemahkan dari And Then There Were None | copyright 1939 Agatha Christie Limited, a Chorion Company | alih bahasa Mareta | GM 402 08.016 | Desain sampul dan ilustrasi Satya Utama Jadi | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kesembilan, Februari 2011 | 296 hlm; 18 cm | ISBN 978-979-22-3524-1 | Skor 5/5

Ruang HRGA CIF – Karawang, 240817 – Sherina Munaf – Semoga Kau Datang

Knock Three Times! – Marion St. John Webb

Apa gunanya menyesali kejadian yang sudah lewat dan tidak bisa dirubah? Cuma masa depan yang bisa kita rubah, dan ke sanalah kita harus berfikir dan memperbaiki masa lalu.

Kisah fantasi lagi. Sedari dulu memang fantasi adalah genreku, andalanku. Tahun 2010 saat bacaan fiksi young adult masih begitu atusiasnya, sekarang masih sih tapi usia mengubah jenis bacaan dengan kejam. Tak rumit, seperti kisah fantasi lainnya yang memainkan imaji, Ketuk Tiga Kali premisnya sama, kita diajak memasuki dunia antah yang beda dengan keseharian kita, kebetulan kali ini caranya lewat ketukan sebuah pohon.

Kisahnya bermula dengan ulang tahun Jack dan Molly yang mendapat berbagai hadiah, salah satunya sebuah bantalan jarum berbentuk labu dari bibi Phoebe untuk Molly dan kotak cat untuk Jack. Kalau Jack mendapatkan sesuatu yang sesuai keinginan, Molly heran ia mendapat benda untuk meja hias, bukan gelang pernik. Warnanya abu-abu, untuk mengatasi kekecewaan Molly berasumsi ini ‘benda kecil yang berguna’. Tetapi karena bibi Phoebe-lah Jack dan Molly ikut berpetulang dengan si Labu Kelabu.

Malam itu petualangan dimulai, malam purnama. Bulan bersinar indah, cahayanya menyembur ke dalam ruangan dan membuat malam seterang siang. Saat Molly sedang membayangkan hari esok saat ia belajar naik sepeda dengan Jack ke Brighton, ia melihat labu hadiahnya bergerak, bergoyang ke kanan dan ke kiri serta tumbuh tiga kali dari aslinya. Setiap detik tumbuh semakin besar sampai setara roda sepeda, lalu ia bergoyang dan berguling perlahan di atas meja rias sehingga jatuh. Labu Kelabu menggelinding ke arah pintu lalu berguling keluar, menuruni tangga. ‘dug dug dug…’

Molly heran, apa yang terjadi. Matanya menipu bayang? Ia duduk diam, ragu-ragu sejenak lalu melompat turun menuju kamar Jack, membangunkannya. “Cepat Jack!” mereka mengikuti arah labu, menyusuri kebun, memasuki hutan kecil. Saat sampai di sebuah pohon, ia menabrakkan diri tiga kali lalu berguling ke belakang menunggu. Terdengar suara berderik pelan, dan sisi pohon itu membuka ke luar seperti pintu. Sang Labu masuk. Pintu akan tertutup. Tapi sebelum benar-benar rapat, mereka berhasil menyelinap masuk. Di dalam pohon itu ada penyeberangan menuju sisi lain, setelah sampai diujung mereka mengetuk tiga kali, dan sisi lain itupun membuka pintu mereka keluar ke tempat asing. Kalau di dunia kita sedang malam, maka di sisi lain ini terang. Pintu tertutup, selamat datang di Dunia Mungkin.

Sisi lain ini hampir sama dengan dunia kita, hanya lebih alami. Mereka berjalan dengan ragu, lalu akhirnya bertemu dengan manusia asing yang dengan polosnya bertanya. “Maaf, bisakah kalian memberitahu kami di mana kami berada?” Kedua orang itu lalu mendengar dengan seksama penjelasan aneh Molly. Glan dan ayahnya lalu bertutur bahwa mereka menyebut dunia kita adalah Dunia Mustahil. Karena di dunia kita banyak hal-hal mustahil terjadi. Orang-orang mustahil, ide-ide yang mustahil, hukum yang mustahil, rumah-rumah yang mustahil, ada banyak kesengsaraan dan ketidakadilan yang mustahil, dan pembicaraan yang mustahil sehingga tidak mungkin ada satu makhluk pun yang bisa hidup di sana. Dulu Dunia Mungkin juga merupakan Dunia Mustahil, lalu mereka mengirim Labu, menghukumnya ke dunia kita. Sudah beratus-ratus tahun mereka damai.

Kisahnya lalu dituturkan dengan gamblang. Betapa dulu perang sihir terjadi, ada kekacauan dan kesalahpahaman. Sang raja yang sedih karena putrinya sakit keras, dokter dan tabib terbaik seantero negeri sudah dipanggil hasilnya sama. Ada satu harapan sembuh dengan bantuan kurcaci, setelah tawar-menawar yang panjang nan berbelit. Malam badai itu proses penyembuhan terlambat, sang putri tiada. Raja marah besar, memerintahkan kurcaci untuk ditangkap dan dijebloskan dalam penjara. Malam itu kurcaci ternyata tak bekerja sendirian, sehingga kroni-kroninya juga diburu. Hukuman berat diberikan kepada kurcaci, saat itu di kebun tinggal satu labu. Dengan bantuan sihir, kurcaci itu dimasukkan ke dalamnya. Setelah debat panjang, salah satu penasehat raja akhirnya memberi usulan agar Labu Kelabu dikirim ke Dunia Mustahil. Itu sudah lama sekali. Era sudah berganti, raja sudah berganti. Tapi ada satu orang yang merasa sangat bersalah, sang penasehat raja karena memberi usul buruk, sang penasehat itu adalah ayah Glan.

Dengan kembalinya Labu ke Dunia Mungkin maka kewaspadaan ditingkatkan. Informasi menyebar dengan sangat cepat, “Labu itu tentu sudah melakukan hal-hal buruk sampai semua orang takut padanya. Pembalasan dendam yang keji kepada orang-orang tak bersalah.” Kurcaci tak pernah keluar dari labu, apa yang ia lakukan hanya menangkap sesorang. Berguling ke arahnya dan menyentuh mereka – menabrakkan diri – lalu sesuatu yang aneh bakal terjadi. Mereka bisa menjadi binatang aneh, atau menyusut sampai berukuran beberapa sentimeter atau mereka menghilangkan hidung atau pengelihatan. Atau hal-hal buruk lainnya. Kemalangan yang disebabkan labu itu tidak bisa dibayangkan, dan sering kali tidak bisa disembuhkan.

Kepanikan massal itu harus segera ditangani. Nenek Nancy adalah orang kepercayaan yang dulu mengirimnya ke Dunia Mustahil. Ada satu cara untuk menghentikan si Labu. Semua orang di negeri ini tahu caranya. Waktu kurcaci dimasukkan ke dalam labu, ada satu tanaman yang berubah hitam. Selama tiga belas hari warnanya akan terus begitu. Ada selembar daun raksasa yang berwarna hitam. Lalu menghilang. Setiap tahun, daun itu akan tumbuh di tempat yang berbeda-beda di negeri ini. Kami belum menemukan dalam beberapa tahun terakhir karena merasa memang belum diperlukan. Tapi sekarang kita memerlukannya. Karena kalau kalian menemukannya, lalu memetik Daun Hitam itu kalian tinggal menghadap ke Barat dan mengucapkan mantra ini, ‘Datanglah kepadaku, Labu Kelabu! Kuperintahkan kau atas nama Daun Hitam!’ Maka Labu Kelabu akan datang menghampiri, kalian tinggal menyentuhkannya maka ia akan menyerah.

Kisah sesungguhnya ada di sini, pencarian Daun Hitam oleh seluruh penduduk Negeri Mungkin. Kebetulan saat ini purnama maka tumbuhan itu kini sudah muncul entah di mana. Dikejar waktu karena hanya memiliki tiga belas hari, petualangan yang menakjubkan terpampang di depan. Jack dan Molly mendapat bekal sama dari Nenek Nancy sebuah amplop tertutup berisi sekotak korek api, bungkusan kecil berisi dadu-dadu berwarna cokelat yang sepertinya permen karamel. Bekal ini ajaib karena korek api saat dinyalakan kobarannya akan memberi arah solusi yang benar dan karamel itu akan mengenyangkan sekalipun tak makan banyak hari itu. Berhasilkan mereka menemukan Daun Hitam tepat waktu? Bisakan mereka kembali ke Dunia Mustahil?

Kovernya bagus ya, minimalis dengan ilustrasi ‘megah’ Jack, Molly dan Labu Kelabu. Dengan latar utama kuning pucat, daun-daun maple serta pohon sebagai portal ke Dunia Mungkin kita mendapat kesan klasik yang Indah. Terjemahan Atria sepuas biasa, tak pernah mengecewakan. Kisah ini bisa saja familiar macam Narnia, Alice di Negeri Ajaib atau petulangan Harry Potter di dunia sihir. Namun tetap istimewa karena konfliknya ternyata tak cemen, Molly sampai frustasi dan Jack tertawan. Kawan dan lawan terlihat sama, sehingga Pembaca diajak mengalami dilema dan keraguan. Endingnya mungkin tertebak, tapi keseruan petualangan tetaplah menawan.

Para pendatang sering kali beruntung, tertawalah saat sedang sial. Lima bintang untuk kisah seru di dunia antah ini.

Knock Three Times! | Marion St. John Webb | diterjemahkan dari Knock Three Times | Penerbit Serambi | Penerjemah Mutia Dharma | Penyunting Jie Effendie | Penyelaras Ida Wadji | Pewajah Isi Siti | Cetakan I, Mei 2010 | ISBN 978-979-1411-99-8 | Skor: 5/5

Ruang HRGA CIF, Karawang, 220817 – Sherina Munaf – Ayo Indonesia Bisa

Therese Raquin – Emile Zola

Membaca novel membuka wawasan baru untuknya, selama ini ia hanya mencintai dengan darah dan dagingnya, sekarang ia mencintai dengan pikirannya. – Therese

Di Minggu malam pasca merayakan ulang tahun Hermione ketiga (6/8/17) di McD Galuh Mas, sekeluarga jakan-jalan ke Resinda Mall untuk menonton Doraemon show. Sore sebelumnya, kita juga ke McD lain Agung Podomoro merayakan ulang setahun Yumna. Setelah Magrib yang penuh, sekeluarga ke aula utama untuk melihat Doraemon dkk, saya tentu saja tak minat acara gituan, langsung ke toko buku Agung di lantai 2. Setelah dua jam muter di rak fiksi, padahal luas toko tak lebih dari 10×10 meter saya putuskan ambil novelnya Emile Zola. Sempat juga menimang In Cold Blood dan Emma yang sudah kunanti lama, tapi karena terbentur budget maka saya ambil yang harganya dibawah 60 ribu. Setelah Isya, acara masih berlangsung saya terpaksa menyingkir cari tempat sepi. Terbesitlah ke depan mal, ditemani dengung nyamuk dan sesekali kendaraan lewat saya memulai petualangan kisah aneh ini, lumayan sepulangnya dapat ¼ buku. Sisanya saya selesaikan kurang dari seminggu.

Kisah akan terus berkutat di sekitar Selasar Passage du Pont-Neuf, Paris akhir abad 19. Temanya adalah perselingkuhan, pembunuhan dan permainan psikologis tiada henti. Bukunya lumayan tebal, untuk sebuah kisah minim setting tempat, minim karakter dan sodoran konflik yang berbelit, jalinannya menembus 300 halaman jelas terasa panjang. Novel ini kontroversial di zamannya, terlalu vulgar, terlalu jahat.

Buku dibuka dengan pengantar ‘sanggahan’ sang Penulis di cetakan kedua (1868). Jadi ceritanya saat pertama dicetak, novel ini diserang berbagai kalangan karena dinilai vulgar dan terlampau buruk tindakan pasangan selingkuh sehingga Emile Zola perlu menjelaskan duduk perkara. Kritikus sampai gusar dan berang. Bahkan saat itu ada yang melabelinya, ‘bacaan busuk’. Dalam tanggapannya, “There Raquin adalah studi kasus yang luar biasa tentang drama kehidupan modern jiwa jauh lebih ringan, tidak sekeji dan segila itu. Kasus-kasus semacam ini selayaknya dipindahkan ke dalam latar belakang novel. Sang Pengarang tak ingin kehilangan satu pun hasil observasinya, mengemukakan dengan rinci sehingga memberikan ketegangan dan kekerasan lebih banyak…” Berisi 5 lembar penuh pembelaan bahwa sang Penulis tentu saja mencoba memberi tafsir apa adanya. Dan waktu juga yang menjawab sebuah kualitas kerena demi cinta akan kejelasan saya telah berbuat dosa dengan menulis Pendahuluan maka saya memohon maaf kepada Pembaca cerdas yang bisa melihat jelas tanpa seorang pun perlu menyalakan lampu untuk mereka di siang bolong yang terang benderang.

Mme Raquin adalah seorang janda yang mempunyai anak lelaki rapuh Camille, ia adalah mantan penjual peralatan baju jahit dari Vernon. Tinggal di toko kecil yang sepi dan membosankan, tanpa pernah merasakan kenikmatan dan kepedihan duniawi. Ia pada dasarnya menciptakan kedamaian dan kebahagiaan pada diri sendiri. Selama lima belas tahun, Mme Raquin merawat dan membesarkan Camille, menjauhkan dari berbagai penyakit jahanam sehingga sukses mengalahkan penyakit dengan penuh sabar, perhatian dan pengabdian. Ia selalu takjub memandangi wajah putranya yang mungil, pucat dan sakit penuh kelembutan.

“Ambillah anak ini, kau bibinya. Ibunya sudah meninggal, dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan dengannya. Aku ingin kau merawatnya” Ujar kapten Degans. Therese saat itu berusia delapan belas tahun, akhirnya bergabung dengan keluarga rapuh ini. Dengan sehelai akta lahir yang diserahkan jadilah ia bernama Therese Raquin, sang kapten kembali berangkat perang dan tewas di Afrika.

Mme punya rencana agung dengan menikahkan mereka. Anak-anak itu sudah tahu mereka akan disatukan, saat akhirnya mereka dewasa dan menikah, tak banyak kata, berdua sepakat. Seminggu setelahnya Camille ingin tinggal di Paris. Awalnya sang ibu menolak, tapi keinginan besar sang putra tak bisa dielak, maka akhir bulan itu mereka berangkat ke ibu kota setelah menjual semua yang tersisa di Vernon dan memulai kehidupan baru di kota. Mereka membeli murah toko kecil seharga dua ribu franc, ongkos sewa toko dan lantai pertama hanya seribu dua ratus franc. Ketika Therese menginjakkan kakinya di toko sempit tempat ia akan menghabiskan sisa hidupnya nanti, ia seolah-olah tersedot ke perut bumi yang lembab dan lengket. Camille mencari kerja, dan berhasil mendapatkannya di sebuah Perusahaan kereta api Orleans. Mme dan menantunya menjaga toko menghadapi hari-hari yang lengang.

Setiap malam Jumat, saudara dan teman-teman lama dari Vernon yang kebetulan juga merantau ke Paris akan berkumpul untuk sekedar ngobrol, ngeteh dan main dadu. Ada mantan komisaris Polisi Michaud yang menikmati masa pensiunnya di Rue de Seine. Kemudian mengajak putranya, Oliver yang sudah menikah dengan Suzanne. Camille mengajak teman kerjanya Grivet yang sudah veteran sebagai pekerja kereta api. Konflik benar-benar digulirkan ketika suatu Kamis malam kita kedatangan tamu lain, teman Camille, tetangga mereka saat di Vernon, Laurent. Seorang Pemuda kekar, dengan leher kuat, jangkung, dan terlihat bugar. Pertama bertemu, Therese langsung penasaran dan membandingkan dengan suaminya yang ringkih. Laurent seorang pemalas, berpikiran praktis dan cita-citanya menganggur dengan uang melimpah. Hobi lukis ala kadarnya, dan tinggal di flat kecil nan kumuh di Rue Saint-Victor. Nah, kehadiran pemuda itu merusak segalanya, suatu malam saat melukis Camille, Therese mengamatinya, hatinya berdebar. Saat akhirnya mereka akhirnya tinggal berdua di lantai atas, kesempatan selingkuh itu mereka manfaatkan. Mereka saling tatap sesaat, lalu sentakan kasar, Laurent mendekap wanita muda itu rapat-rapat. Ia menggerus bibir wanita itu dengan bibirnya, Therese berusaha melepas diri, memberontak liar, lalu, mendadak, menyerah pasrah, terjatuh ke lantai. Mereka tidak saling bertukar kata, perbuatan ini dilakukan dengan hening dan brutal.

Sedari awal perselingkuhan ini mereka anggap sebagai sesuatu yang diperlukan, tak bisa dielak dan benar-benar alami. Mengatur pertemuan-pertemuan. Siang Laurent akan datang ke Selasar, izin keluar kantor, masuk gang yang mengarah ke balkon, dan Therese akan membukakan jendela. Rencana ini sungguh berani dan dijamin berhasil. Ada wanita penjual perhiasan imitasi di gang tersebut, Laurent akan menunggunya lengah sebelum ke balkon. “Aku mencintaimu. Aku sudah mencintaimu sejak saat ketika Camille mendesakmu masuk ke dalam toko, mungkin kau tak menghormatiku, karena aku menyerahkan diri padamu, sepenuhnya, sekaligus… kehadiranmu membuat syaraf-syaratfu menegang, nyaris putus, benakku menjadi hampa dan seperti ada kabut merah tipis yang berkelebat di depan mataku. Oh, betapa besar penderitaanku, tapi justru aku merindu penderitaan ini. Aku selalu menunggu-nunggumu. Aku tahu aku kelihatan memohon untuk dicium dan aku malu akan kelemahanku, merasa aku akan sakit seandainya kau menyentuh diriku sedikit saja. Tapi aku menyerah pada rasa takutku, dan menggeletar kedinginan saat dirimu mengambil keputusan untuk mendekapku dalam pelukkan.”

Efek selingkuh ini panjang, sangat panjang. Laurent jatuh hati, Therese tak bisa mengenyahkan pikiran darinya. Saling mengisi, tak bisa dipisahkan. Gairah cinta tak kenal batas yang akhirnya menjerumuskan ke dalam tindakan kriminal yang akan menghantui mereka selamanya. Therese ingin jaminan hidup, jauh dari suaminya yang rapuh dan penyakitan. Laurent ingin jaminan hidup, bisa bermalasan dengan seorang pendamping sekalipun itu harus menusuk temannya sendiri dari belakang. Pasangan selingkuh ini lalu melakukan keputusan ekstrem yang dulu tak pernah disangkanya. Dosa satu merenteng dosa lainnya, sampai kapan?

Buku yang berbahaya. Jelas ini buku 18+, kalau dibaca remaja resikonya tinggi. Tak vulgar namun apa yang ditampilkan adalah kejahatan besar yang mendoleng menuju kejahatan tingkat satu. Pantas saja kontroversial di zamannya, namun untuk ukuran modern tentu saja banyak novel sejenis yang dicipta lebih panas. Untuk karya abad 19, wajar banyak yang menentangnya. Pembelaan Emile sendiri seperti hanya bola salju yang menggelinding, sulit dibendung. Ending-nya ekstrem, menjaring pikiran kotor, sebuah punishment yang sepadan? Untuk sebuah buku yang minim karakter, minim setting dan minim konflik jelas ini hebta, masterpiece psikologi. Menghantui pembaca, megintimidasi, permainan pikiran.

Tokoh utamanya empat karakter dengan empat sifat manusia yang menurut teori Galen terdiri dari Koleris, Plegmatis, Sanguinis, Melankolis. Dalam diri manusia terdiri atas dua sifat yang dominan gabungan darinya. Kovernya bagus, minimalis dengan sebuah potret perempuan dalam cermin elips. Lebih artistik ini ketimbang dari KGP. Sayangnya kualitas jilidnya buruk, baru kubuka mulai baca dua halaman pertama rontok, lemnya lemah. Untuk teknis terjemahan tak banyak keluhan, bisa dinikmati tiap kalimatnya.

Ini adalah karya Emile Zola pertama yang saya baca, awalnya mau ambil Germinal yang luar biasa tebal (baca mahal) tapi ketunda terus. Rasanya buku beliau lain tinggal tunggu waktu untuk saya nikmati. Kebetulan saya pekan lalu baru saja menyelesaikan baca Penulis Perancis lain, Victor Hugo: Les Miserables yang sama-sama kerennya.

Ia merasakan penyesalan yang egois dan mengatakan pada diris sendiri bahwa ini mungkin cara terbaik untuk menenangkan dan menyenangkan Camille. Bak wanita-wanita religius yang mengira diri mereka bisa menipu Tuhan dan mendapatkan pengampunan melalui doa-doa yang mereka ucapkan serta memasang sikap penuh penyesalan. – Therese.

Therese Raquin | by Emile Zola | diterjemahkan dari Therese Raquin | 6 16 1 89 005 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | alih bahasa Julanda Tantani | desain sampul Martin Dima | cetakan kedua, Agustus 2016 | 336 hlm; 20 cm | ISBN 978-602-03-3256-7 | Skor: 5/5

Karawang, 13 – 200817 – Elli Goulding – Burn Final Super Italia LazJuv 3-2.

Pekan 1: Lazio Vs Spal 2013

Pekan 1. Serie A liga lambat telah kembali. Musim baru semangat baru. Prediksi Lazio Vs SPAL, live Jak TV malam ini 01:30 WIB.

Prakiraan formasi (3-5-2)

Strakosha

Wallace-De Vrij-Radu

Basta-Parolo-Luis Alberto-Savic-Lulic

Palombi-Immobile

LBP 3-0

Analisis: Keita beku, tridente IKA mulai mengabur. Ga masalah, pemain datang dan pergi saya tetap Laziale. Kesempatan emas untuk Simone ‘Vieri’ Palombi kasih bukti. Dilihat dari segi manapun Lazio menang. Tak masalah satu atau lima gol yang terpenting tiga poin. Duo Stefan sudah bisa diandalkan di lini tahan. #AvantiLazio

Arief

Lazio v SPAL Skor 2-0 Skorer Immobile

Kemenangan di ajang supercoppa menghadirkan keyakinan besar di kubu Lazio. Lazio ada di atas SPAL dalam hal tradisi di serie A. Musim ini adalah musim pertama dalam 47 tahun terakhir buat SPAL tampil di serie A. Tak ada alasan gagal menang bagi Lazio.

Adityawarman Pangeran Kutai

Lazio vs SPAL : 3-1, Immobile Lazio menang lagi. Wajib bantai lagi. Aku sedih lagi. Imoenk Milanisti Lazii 2-1 Spal, Immobille Wah partai pembuka. Sepertinya bakalan seru nich. Lazio bakal punya semangat 45, setelah berhasil mengalahkan Siena, eh Juventus di piala super. Yaaa bisa dibilang Lazio cukup super kok.

DC

Lazio 4-0 Spal Immo

Main kandang. Match pertama. Dan 3 poin awal buat Lazio.

Takdir

Lazio 2-2 Spal, Sergio Flocarri

Analisis: Circolo Ars et Labor alias SPAL adalah klub tua 1907, lebih tua dari klub ibukota merah. Societa Polisportiva Ars et Labor alias SPAL sudah ada di Serie A tahun 1920, yang itu belum lahir. Societa Sportiva Dilettantistica Real S.P.A.L (S.S.D Real S.P.A.L) alias SPAL adalah tim yang luar biasa, bangkrut bangkit bangkrut lagi bangkit lagi, bangkrut lagi dan bangkit kemudian. Pasang surut yoyo yang hanya Spallini sejati yang mengikuti setia, jelas tak cocok untuk jadi jagoan Para Milineal Citizen. Roberto Benasciutti adalah junjungan kita yang mereformasi segalanya sehingga berubah jadi SPAL 2013 yang setelahnya jadi klub digdaya sampai akhirnya di habitat sesungguhnya, Serie A tahun ini. 40 tahun berjuang, this is it! Sayangnya laga pertama langsung ketemu The Great, di Olimpico pula. SPAL akan unggul dulu selama Marios Oikonomou dimainkan penuh, tapi The Great tak akan nirpoin di laga pembuka. Dengan semangat Estensi, rasanya kalau hanya kualifikasi EL bisalah, Ayoo kita ramaikan ke Kelurahan Ferrara.

Father of Dragons

Lazio 4-1 SPAL, Immobile.

Analisis: Lazio lagi percaya diri banget. Karena baru memenangkan super coppa atas musuh bebuyutan Siena. Skor 4-1 sudah selayaknyalah 🤙 Widy Lazio 3-1 Spal, Immobile Apalah nama club Spal dibanding Lazio yang baru juara dan dapat piala. Skor 3-1 menang Lazio. Waspadalah!

Damar Irr

Spal 0-1 SS Lazio, Savic

Kemenangan atas Juventus akan menjadi kurang fokusnya skuat Lazio malam ini. Skuat Lazio akan terlena akan euforia pertandingan kemarin. Pada babak kedua Lazio akan kembali fokus dan 1 gol Immobile akan menjadi penyebab kemenangan team ibu kota

Mrs Reus

Lazio 1-0 SPAL Immobile

Lazio di atas angin setelah menjuarai super coppa. 3 poin layak didapatkan Elang ibukota. Lazio menang, om Budy riang.

Naruto Shiprapden

Lazio 2-3 Spal, Immobile

Baby shark do do do (4x) Mommy shark do do do (4x) Daddy shark do do do (4x) Grandma shark do do do (4x) Grandpa shark do do do (4x) Let’s go hunt do do do (4x) Run away do do do (4x) Safe at last do do do (4x) It’s the end do do do (4x)

Karawang, 200817

Dramatis, Lazio Jungkalkan Juve Di Final Super Coppa 2017

Lotito: “Scudetto? Saya memikirkan tentang Leicester City, dan saya (optimis) sepakat ‘kenapa tidak?’”

Boom! Saat itu skor menit injury time adalah 2-2, Lazio dikadalii wasit pinalti diving di menit pamungkas. Terlihat jelas Marusic tak mengusik Alex Sandro yang terguling-guling di depan Thomas padahal jelas tak ada sentuhan. Bayang-bayang 10 kekalahan beruntun menyemayami pikiran Laziale, tapi malam itu keadilan ditegakkan. Prosesnya ciamik, bikin Romanisti muntah-muntah saking kagetnya. Orgasme tingkat dewa, bagaimana tidak saat injury time memasuki menit ketiga. Serangan dari kanan oleh Jordan Lukaku menusuk melewati Mattia De Sciglio yang limbung kocar kacir, lalu dengan hebat mengumpan ke tengah kotak pinalti di mana Alessandro Murgia sukses mengkonversi gol kemenangan. Boom! Laziale menggila, semua orang tercengang Lazio sukses menjungkalkan Siena di final.

Beberapa saat sebelum dimulainya laga final Super Coppa 2017 yang mempertemukan juara Serie A dan runner up Coppa Italia 2017, kita dapat vitamin skor 1-4. AS Roma lagi-lagi menorehkan noda Eropa setelah ditekuk Sevilla 2-1, kini giliran Celta Vigo yang menertawakan. Skor telak 1-4 seakan menggarisluruskan keputusan Simone Inzaghi untuk mendepak si nomor punggung 14. Keita Balde Diao. Setengah hari sebelum laga seru ini, Inzaghi menegaskan bahwa hanya yang pemain pikirannya 100% untuk Lazio The Great yang layak bermain. Keita dalam proses transfer, yang mengoyang gosip calon lawan, jelas Simone tak mau ambil resiko. Keputusan yang membuat si Keling meradang “Kegagalan pemanggilan saya untuk final Coppa menyakitkanku. Ini adalah pertandingan pertama yang penting musim ini yang telah saya siapkan. Keputusan klub tampaknya tak berkaitan dengan sportivitas, menimbulkan tekanan yang tak nyaman yang rasanya tak bisa diterima.” Keputusan yang menuai pro-kontra itu terbukti tepat, sangat tepat! Salute Inzaghi, salute Lotito. Tak ada yang lebih besar dari Klub. Kita harus melepas pemain dengan harga diri.

Lazio mengenakan jersey utama Biru dengan sponsor musim ini Selecco. Dengan tulisan tambahan di bawah nomor punggung ‘Easy Life’. Setelah bertahun-tahun polos dan sesekali disewakan iklan akhirnya ada orang waras menaruh produk di bawah logo kebanggaan kami. Inzaghi mempraktekkan strategi baru dengan pola 3-5-2. Seakan ngepur Juve dengan mencoret Keita dan mencadangakn Felipe Bale Anderson. Thomas sah kiper utama, Guido siap setiap saat dan Vargic 55 selalu dapat gaji buta. Wallace di kanan, Mbah Radu di kiri. Sentral ada di Stefan ‘Stefrank’ De Vrij yang makin hari makin aduhai. Sisi tengah, Lucas beri debutnya sebagai gelandang angkut aer. Alberto dan Marco menemaninya di kedua sisi. Sayap kanan ada si Pirang Basta, sayap kiri sang kapten Lulic. Savic sejatinya ada di belakang Immobile, percobaan duet ini rentan karena Savic adalah sang pendobrak bukan main goal-getter. Yah, resiko Lord Djordje mandul dan Simone ‘Vieri’ Palombi butuh pengalaman menit bermain. Juve bisa saja meradang karena Trio BBC sedang tak ber-BBC, tapi tak bisa jadi alesan juga keles, karena kita juga kehilangan sang Kapten. Mereka menerapkan strategi 4-2-3-1. Kali ini bukan Netto yang jadi momok final Coppa, bukan pula Wojcblabla Szczblabla apalagi Mulyadi Pletuk. Mereka menurunkan kiper terbaiknya Buffon Superman Gianluigi. BBC bajakan Barzaglia-‘BENATIA’-Chiellini berdiri manyun di depan Superman bersama Alex Sandro. Khedira dan si Maleslem Pjanic muncul berikutnya, Marjuki di kiri Cuadrado di kanan. Belakang striker Higu ada Paulo Dybala – satu-satunya pemain musuh yang malam ini tampil mempesona. Pertama kali pakai jersey nomor keramat Alex Del Piero. Kalau Barca gagal mencomotnya, wajib antisipasi ini orang.

Diluardugaku, laga final ini tak ada nobar. LIRK – Lazio Indonesia Region Karawang memastikan Senin dini hari ini tidak ada acara kumpul karena yang konfirmsi tak lebih dari dua member. Sementara JCI – Juventus Club Indonesia chapter Karawang nobar di MOR – sebelah GOR, yang lumayan jauh dari rumah. Nyesel ga ikut nobar mereka lagi, gol menit akhir itu saya pasti jingkrak-jingkrak salto depan gemuruh chant mereka yang belum reda pasca Dybala Mask. Serangkaian keputusan ini memaksaku duduk sendiri di kamar KGV-V5/23 striming Yalla Shoot.

Saat Massa meniup peluit mulai sepak, laga langsung bergerak cepat. Seperti final Coppa lalu, semua pemain berderap seakan di alas sepatunya ada paku. Menit ketiga Juve punya peluang pertamanya. Alex Sandro menyisir kanan pertahanan, melewati Basta dan mengirim umpan manis ke Coudrado yang tepat di depan Thomas, sontekannya mengenai kaki sang kiper yang untungnya melesat keluar dihalau off Basta. Hufh, degub jantung berdetak cepat. Semenit berselang, lagi-lagi Thomas melakukan good save. Umpan jauh Cuad disundul jauh Radu yang diterima Higuain, langsung melakukan shoot jarak jauh dari luar kotak, Thomas bergaya. Setengah pertama Juve spartan, seperti yang sudah-sudah coba leading lalu defensif. Tapi kali ini kita lebih siap. Peluang bagus pertama Lazio hadir menit ke tujuh belas, dari sisi kanan Radu menendang jauh ke dalam kotak, Lucas Leiva beradu badan dengan Benatia, Lucas melakukan salto shoot yang diklaim kena tangan, Ciro meminta pinalti tapi game on. Menit dua puluh Sembilan, Savic coba membuka asa via tendangan jarak jauh, melambung 29 meter dari tiang. Percobaan menembak burung kedua beruntun setelah sebelumnya Luis Alberto melakukan hal yang sama.

Akhirnya menit ke tiga puluh adegan layar laptop menampilkan sesuatu yang paling kutunggu. Serangan dari tengah, serangan gagal Juve direspon super cepat oleh skuat, Savic memberi umpan terobosan di sela tembok lawan, Immobile memasuki kotak pinalti, mendorong bola ke kiri lalu Buffon terpaksa menghentikannya dengan tangan. Pen! Dan kiper kawakan kena kuning. Eksekusi itu sukses sekalipun Buffon tahu tebakan menjatuhkan diri ke kiri, bola meluncur tiga seperampat inci dari ujung jarinya. Gooool! 0-1. Selebrasi khas Ciro, berlari merentangkan kedua tangan menuju tribun, melompati banner dikejar pasukan Biru. Inzaghi sumringah, dua Lazialita montok tersenyum riang, dan jingkrak-jingkrak mentul-mentul. Obat ngantuk!

Menit ketiga puluh delapan, Lazio punya peluang bagus lagi. Prosesnya cantik, sentuhan pertama dari Thomas, mengalir ke tengah lapangan bola menapaki dari kaki ke kaki. Dari kiri Lulic meneroboskannya ke Parolo yang melakukan shot unik datar, yang anehnya malah kena kaki Basta. Buffon maju menutup ruang, Basta yang tak siap karena membelakangi gawang shot tinggi, kena burung lagi deh. Leiva dapat kartu kuning pertamanya di Italia kemudian. Jelang istirahat separuh babak Basta harusnya bisa menggandakan keunggulan. Dari kanan serangan meramu dalam kemelut, Savic mengontrol bola dalam keketatan penjagaan Giorgio Chiellini dan Mario Marjuki, mengecoh keduanya dengan umpan beckhil, diterima si Pirang yang kini tinggal head-to-head sama Buffon. Bola itu ditendang kencang, yang sayangnya tepat ke arah kiper. Buffon yang sudah gemetaran panik berhasil bloking, ah sayang seribu Sembilan ratus kali sayang. Bola muntahnya diambil Lucas yang lagi-lagi menambah catatan sasaran manuk.

Babak pertama ditutup dengan segelas kopi dan update pasukan COC – Bandanoantrindo. Ganti tetring wifi HP May yang koneksi Pasti lebih stabil. Cek grup WA – FOC (Football On Chat) dan otak-atik Facebook. Laga besar ini ternyata kalah glamor dengan el clasico di trending topic twitter yang bahkan baru akan mulai. Payah nih! Babak pertama bisa saja kita unggul lima gol, Juventus bertahan gemetaran total setelah bikin dua peluang awal.

Babak kedua, kedua tim tak melakukan banyak perubahan. Tiga menit berjalan, Juve punya peluang, bola dihalau De Vrij. Menit lima satu Marjuki kena kuning setelah adegan saling dorong sama Basta, komplain Massa dapat hadiah. Setelah sembilan menit berjalan tenang, seisi Olimpico bergemuruh lagi. Prosesnya istimewa, gol sundulan Immo itu tercipta via umpan Marco Budy Parolo. Dari kanan, Marco mengirim umpan lambung dalam kotak. Ada tiga pemain The Great, dua diantaranya Savic dan Immobile lomba lompat di sela-sela Benatia dan Barzagli. Penempatan bola jauh dari daya jangkau Buffon menggetarkan jalan mengubah skor 0-2. Immo selebrasi ke Laziale, melompati banner (lagi) dikejar Sergej dan membentuk pelukan segita Luis Alberto yang kemudian disusul skuat. Senyuman mereka adalah kebahagian kami.

Allegri merespon ketinggalan dengan melakukan double sub. Benatia yang main ‘bagus’ dan Coudrado yang main ‘saru’ ditarik, masuk De Sciglio dan Douglas Costa. Mereka benar-benar panik sekarang. Menit ke lima puluh sembilan harusnya sudah leading tiga gol, Lulic yang main tiki-taka sudah di depan Buffon. Bukannya langsung tembak, malah diumpan ke Immo yang keburu ditutup lagi. Hebat, Juventus ketar-ketir. Ini benaran lawan Juve apa pre season, sparing tanding Siena ya? Peluang Juve baru ada lagi menit enam puluh empat. Setelah pelanggaran di depan garis kotak Lazio, pagar betis ditata. Dybala dan Pjanic ambil ancang-ancang, si Pjanik yang ambil tendangan bebas itu tipis tujuh belas meter di atas gawang, Thomas bergaya terbang biar dikira tendangannya bagus. Enam puluh tujuh dari sisi kiri pertahanan Costa melakukan tendangan tepat ke arah Thomas. Tangkapan mudah itu cuma direspon memberi tanda lima jari ke Lulic seakan bilang, “tendangan opooo iki, amatir!” Dua menit kemudian dari sisi yang sama Mattia dan Costa memainkan si kulit bundar untuk mengirim umpan aneh, Marco butuh dua kali lompat untuk menghalau. Bola muntah langsung ditendang, Thomas pura-pura kesulitan menangkap bola datar, seakan bilang ‘tendangan kelas teri’. Menit tujuh puluh sang kapten kena kuning yang tak perlu, beberapa detik berselang Costa kasih umpan lambung, Higuain tak siap menerima bola, out. Waahh sampai menit-menit ini Juve terlihat mulai panas, untung Costa hanya cadangan kalau dari menit awal sangar ini. Inisiatif serangan mulai terbangun, namun ngaco ga focus. Menit tujuh puluh dua Marjuki yang mati kutu dijagain Radu akhirnya ditarik, Bernar-sopo masuk. Pemain yang digadang-gadang Juventini yang kecewa transfer memujinya bak Messi (serius Messi yang itu bukan yang ini-kan?), malam ini tak kasih banyak andil. Semenit kemudian Pjanic kena kuning keempat.

Menit tujuh puluh lima Inzaghi merefresh pasukan, langsung dua. Adam Marusic dan Jordan Lukaku masuk, Dusan ‘Bosan Dusta’ Basta dan kapten keluar. Ban kuning berpindah ke si Brewok Parolo. Lima menit kemudian Lucas terlihat pincang, waaah cidera? Jangan dong Former Liverpool, kompetisi bahkan baru akan mulai. Kita yang pengen banget lihat aksi Felipe Bale Anderson, justru tak kesampaian. Pergantian terakhir itu justru pemuda tanggung Allesandro Murgia. Waaah Inzaghi beneran ngepur Juve ini, setelah Keita bermasalah, kini bintang besar Felipe pun tak dikasih menit. Melecehkan Siena, eh Juventus. T-E-R-L-A-L-U.

Menit delapan empat, Juve dapat lagi tendangan depan garis, setelah pelanggaran tak perlu Parolo yang berbuah kuning. Prosesnya free kick sama menit-menit sebelumnya, tapi kali ini yang ambil adalah Dybala bukan si Panik. Beda sama Jpanik yang amat sangat jelek banget, tendangan Dybala brilian. Tendangan lengkung pisang yang bikin Sinisa Mihajlovic menjerit takjub itu mengecilkan skor 1-2. Si Bernar-sopo langsung ambil bola untuk segera diletakkan di tengah. Saya sedikit was-was, tapi durasi laga ‘kan tinggal lima menit, wajarnya bek setangguh De Vrij tak mungkin membiarkan tulisan sejarah dicoret.

Tapi ini Juventus bung! Ada banyak hal tak wajar dari wasit terjadi menjelang peluit panjang. Kecuekanku direspon Alex Sandro yang diving-nya ngalahi Sergio Busquets. Prosesnya Costa Douglas umpan ke Alex di sisi kanan, coba merangsek masuk melewati Adam, bola disepak ke dalam kerumuman dan mental kembali ke arah mereka berdua. Adam yang coba membuang bola malah ditabrakan diri Alex dari belakang yang lalu terjungkal bak kesangkut jemuran. Dengan alibi drama itu, Massa dengan senang hati menunjuk titik putih, seolah dapat sinyal satelit dari FIGC. Kejadian itu di menit 90. Menit akhir yang membuat Bayern menangis bersimpuh di depan MU. Tentu saja kita komplain, tapi percuma. Adam sampai mengangkat kedua jari telunjuk menggoyangkannya berulang kali seakan bilang, ‘tidak tidak tidak, tidak ada kontak lho’. Wallace memberi applaus kepada wasit. De Vrij, Thomas, Marusic mengelilingi sang pengadil minta penjelasan. Sergej ikut berkomentar sambil kerkacak pinggang. Immobile yang protes keras diacungi kuning. Dan VAR – Video Assistant Ruventus – seharusnya menertawa momen ini. Dybala menyamakan kedudukan menit 91. Laziale lemes, seolah bilang ‘nah kejadian lagi kan’. Selebrasi Dybala Mask dipraktekkan. DC – De Coy upadate WA-FOC, Siena 2-2. Asemik! Pesta nyaris gagal setelah sepanjang laga pasukan Allegri gemetar ketakutan.

Tapi keadilan akhirnya ditegakkan. Prosesnya tak perlu dibantu wasit. Bahkan dewi fortuna yang coba menarik panahnya pun gagal menghadang lalu linglung karena sasaran tembaknya yang seharusnya ke Zebra malah meleset. Malaikat Mikail tentu sudah bertemu Olimpia di angkasa malam itu guna mencipta drama indah, bikin janji sehingga Jordan jadi begitu seperkasa Herkules yang membawa berkat ke hadapan Nabi Murgia. Dan boom! Klimak tiada dua. Murgia dipaksa barter sama Christiano Ronaldo-pun pasti kita tolak, pasti Lotito tolak (iya kalee). Man can’t beat Lazio with the whole Italian system behind you! Tendangannya di menit 93 itu mengubah segalanya, dari pemuda tampan lugu menjadi titisan Chinaglia.

Selebrasi Murgia dalam pelukan cium Luis Alberto membentuk ‘love’ seperti Bale atau Di Maria, yah kamu masih muda. Masih banyak gaya pilihan nanti ke depannya Nak. Pilih gayamu sendiri yang lebih ikonik ya, patut dinanti gol-gol indahmu. Murgia berlari ke tribun, berbalap dengan Sergej melompati banner, disusul rekan sejawat. Allegri geram, marah-marah sama asistennya. Bilang: “!@#$%^&*()_+….” Inzaghi menggila, lost his mind. Berlari kegirangan memeluk pasukan kebanggaan. Melanggar garis batas Coach ikut dalam euforia Murgia dkk. Seluruh pasukan ikut dalam peluk ceria, termasuk cadangan dan ofisial tim, andai Lotito dan Tare ga di tribun pasti ikut salto-salto dalam kerumunan, tak ada Keita apalagi Biglia di sana. Laziale di Olimpico bergemuruh, bahkan ada yang menangis sambil memegang kedua kepala saking tak percayanya kita juara. Komentator bahasa Arab berteriak-teriak histeris bak kesurupan atau doa ya? Entahlah, ada kata istigfar di rentetan komentar Yalla. Saya lebih kalem, karena anak-istri sedang tidur di sampingku. Hermione bahkan ngorok, cuek ayahnya dalam suka cita. Hanya, ketik ‘Gooool!’ di WA-FOC. 15 tahun lagi saat video gol ini dibuka dan putar ulang dalam catatan karir Murgia yang pensiun, pasti akan membuat tangis haru. Saat itu mungkin Murgia adalah kapten Lazio yang pamit menggantung sepatu, yang sudah sukses mengantar Biancoceleste juara di banyak kompetisi, dan timnas Italia. 15 tahun lagi, di tempat yang sama. Aaaaamiiiin. Ayo dong amin-kan.

Menit injury sudah lewat dari tambahan empat menit yang dijanjikan, tapi wasit belum juga meniup sah akhir laga. Buffon ikut merangsek naik saat tendangan pojok, iseng coba peluang, kita sudah siap selebrasi. Radu merajuk manja minta peluk ke Massa untuk segera menutup pertandingan. Dan Duuuer! Saat akhirnya sah, Olimpico dibanjiri Laziale. Amazing. Speechless. Romanista megap-megap.

Parolo jadi orang pertama dikalungi gelar, lalu Radu, Immo, Savic dst. Presiden Lotitio tersayang sampai turun lapangan untuk ikut dikalungi medali. Waah dasar buncit! Mana ada presiden sampai ikut dalam penyerahan dan perayaan juara. Langka! Terakhir sang Kapten Lulis, dan sang allenatore. Dalam taburan convetti yang Indah bak lukisan Leonardo Da Vinci, Lazio resmi juara Super Italia 2017. Grande festa per la Lazio grande. Tak ada gambar yang lebih Indah ketimbang gambar perayaan Lazio juara. Dipimpin De Vrij membawa piala ke Curva Nord, berganti kaos juara yang sudah disiapkan (ayoo dong PO). Kita berpesta. Setelah ini apa?

Optimisme Pak Haji

Hari ini (15/8) di briefing motivasi pagi, Pak Endang – Factory Manager kami yang tahun lalu berangkat haji ‘mengklaim’ bahwa apakah gelar juara ini berkat andil doanya di depan Ka’bah? Bisa ya, bisa juga tidak. Segala daya dan upaya saya kerahkan untuk menjadikan Lazio bergelar. Termasuk yang satu ini. Percaya ga percaya, tahun lalu banyak karyawan titip doa ‘standar’ dari enteng jodoh, enteng rejeki, enteng beban hidup sampai enteng masalah. Well, tentu saja doa saya tidak standar. Saya menemui khusus dan sambil bersalaman titip doa Lazio juara tahun 2017. Setelah dipastikan itu bukan Serie A, awalnya kukira Tuhan akan mencipta dalam Coppa, tapi meleset dikit ke SuperCoppa. Kalian semua Laziale bisa optimism musim 2017/2018 karena minggu lalu, saat Kepala Satpam Pak Usman akan berangkat haji, saya titip doa yang jauh lebih spesifik dan tak mungkin salah ucap karena dalam bentuk tulisan kertas berbunyi, “Lazio Scudetto 2018”. Walau Mbah Usman kebingungan, apa itu Lazio? Saya hanya minta, baca saja kertas ini di Arab nanti. Nah, wahai rival semenjana, alarm sudah kami bunyikan, kali ini benar-benar ‘Kalian Berhak Panik!’

Treble Winner

Banyak yang bilang Lucas Biglia adalah Mr Runner Up. Timnas Argentina sudah membuktikannya, Lazio sudah beberapa kali membuktikannya. Entah kebetulan atau tidak, transfer Biglia ke Milan senilai 17 juta itu berefek ke gelar juara. Bukan hanya satu, tapi tiga hanya beberapa hari setelah dia diperkenalkan ke publik San Siro. Pertama piala Trofeo The Cime di Auronzo. Sebuah wilayah pegunungan tempat pusat latihan Lazio jelang musim baru ini memberi skor 2-0, merontokkan SPAL 2013. Setelah sparing menang gilang gemilang 3-1 lawan Leverkusen di Austria, kita berkompetisi versus Malaga. Dan menghasilkan sebiji gol Ciro, gelar kedua Costa Del Sol di LA Rosaleda. Dan yang terbaru ya ini, menjungkalkan Juve dengan elegan. TrebleWinner ini hanyalah awal, rentetan gelar juara berikutnya coming soon hadir. Siapkan sampanye Laz.

Cengir Lukaku

“Jika saya tidak cidera di final Coppa musim lalu, mungkin hasilnya akan berbeda.” Lukaku adalah rekrutan terbaik musim lalu setelah Ciro Immobile. Immo sudah pemain jadi, kesuksesan dari bebagai klub adalah bukti. Lukaku belajar banyak, sesekali mungkin bikin salah tapi jelas lebih cepat adaptasi Jordan ketimbang Wallace Fortuna. Musim kedua akan jadi pembuktian sang Predator, siap beradu dengan Kolor-off. Kontrak sampai 2019, kado kemenangan ini adalah kontraknya dalam proses diperpanjang 2022. Ayoo Jordan jadilah bagian dari kita, kita tulis sejarah indah di Lazio!

Ciro

CV klub Ciro Immobile panjang, sangat panjang malah. Maka saat menjebol gawang mantan, ia tak akan selebrasi. Atitut baik seorang olahragawan. Lulusan tim Juventus junior ini moncer saat berbaju Pescara, menjadi mengerikan saat di Torino dan dibeli mahal oleh Dortmund. Sempat down sama Sevilla, Lazio menyelamatkan karir sang Attacante. Musim pertama berbaju The Great sukses melewati target 15 gol. “This tim gave absolutely everything!” Immo dan Lazio jelas harus saling berterima kasih. Malam ini dua gol penting dicipta, semakin memantabkan diri sebagai pemain penting (juga untuk timnas Italia). Seakan lupa, dia tak pernah selebrasi gol saat lawan mantan. Begitu sukses menanduk bola ke jala Buffon, Ciro berlari meraya tak terkendali. Yah, di Juve dia memang hanya numpang belajar dan kurang dihargai. Jadi wajar, sangat wajar kostum Hitam Putih tak berkesan. “Malam ini kita mengirimkan sinyal penting kepada pesaing, tak ada yang mustahil. Dan musim kedua kami akan jauh lebih optimis.”

Bantuan Milan

Benarkah piala ini berkat andil Milan yang kini jadi klub kaya baru? Dengan menyekrut Mr Runner Up maka kutukan itu hilang. Dengan merekrut Bonnuci, maka lini pertahanan Juve jadi begitu longgar. Bayangkan, juara bertahan selama 90 menit tak punya peluang yang benar-benar emas. Bek kocar-kacir bak tim yoyo, kalau The Great bisa tenang bisa itu gawang Buffon setengah lusin bobol. Ingat juga, kita tak menurunkan Keita dan Felipe. Bisa bayangkan tridente IKA bersatu malam itu? Porak-poranda. Juventini bisa masuk goa Senin kelabu. Dan dua gol mereka berproses dalam bola mati. Milan bisa saja mencipta Milanisti baru berkat uang melimpah (apa kabar Citizen?), tapi Lazio akan terus mencipta Lazialita baru berdasar cinta.

Anomali Prediksi LIRK

Malam sebelum kick-off Nda bikin kuis tebak skor. Hanya tebak skor dengan komposisi Lazio juara, kuis mudah yang seharusnya tembus. Nyaris semua kombinasi hasil akhir wajar disebut: 1-2, 0-1, 0-2, 1-3, 1-1, 0-3, 1-4, 0-0, 2-2. Tak ada yang menebak kemenangan 2-3! Ada sih Saya dan Xanafi, tapi tahu kita punya skor sama 2-3 dan 3-2 dia mengganti dan saya-pun juga. Awalnya tak ada yang mau mengalah, tapi saat satu mengalah malah langsung keduanya. Dan siapa sangka, takdir mencipta skor bagus itu yang muncul.

Super Lazio Ahi Ahi

Juve Keesokan harinya La Gazzeta Dello Sport memuat headline kemenangan Lazio. Il primo trofeo deciso da un gol al 93’ (3-2). Disisipkan artikel Dovi Show yang Minggu malam itu juara dramatis di MotoGP, Perisic yang memutuskan menolak Mourinho serta tarik ulur Aubameyang ke Milan. Halaman utama Koran lokal itu menampilkan tiga adegan utama: Gol pisang Dybala, Murgia berlari selebrasi dan gambar frustasi Cuadrado yang menutup wajah dengan tangan kanan di depan muka muram Higuain. Gambar utamanya? Tentu saja skuat The Great mengangkat piala dalam taburan convetti. Sementara koran lain Corriello Dello Sport memberi judul headline-nya lebih kalem: Favo Lazio. La supercoppa e Biancoceleste Juve batota 3-2. Gambar utamanya lebih lebar dalam lanscape Pasukan Lazio mengangkat piala. Ahi ahi Juve. Hihi, ahi ahi aki.

Scudetto

Scudetto jelas piala nomor satu, andai diberi opsi pilih juara 12 kali beruntun Liga Champion (menyamai Madrid) atau juara Serie A satu kali dalam 12 tahun? Jelas saya pilih yang kedua. Snob! Mengalahkan Juventus setelah 10 laga minus hasil, malam menakjubkan ini patut dikenang dan dirayakan, piala hanya bonus. Target utama tetap Juara Serie A. Europa League hanya hiburan malam Jumat, hura-hura cari duit karena untuk juara rasanya langkahnya terlalu panjang nan berbelit, kurang prestise dan mustahil ketemu Barca, kecuali Barcelona mau mendegradasikan diri dari UCL. Coppa hanya piala penghibur, target cadangan. “Scudetto Nomor Satu”, begitu judul artikel Bola tahun 1999 yang ditulis oleh kontributor Rayana Djaka Surya. Saat itu Lazio sedang pahit disingkirkan Inter Milan di Coppa dengan cara aneh, leg dua berjalan penuh absurb karena Christian Vieri yang dilanggar keras sampai tak bangun, wasit tak memberi tendangan bebas, bola on dan gol kemenangan untuk Inter terjadi. Tersingkir, lalu kita beralibi itu kompetisi kedua. Tahun ini wajib optimis, fan semangat, pemain hebat, pelatih luar biasa dan presiden merestui. Kekuatan semesta akan berkonspirasi mewujudnya?

LU71C

Ini adalah partai resmi Lazio dalam jadwal FIGC pertama Senad Lulic mengkapteni Lazio. Manis sekali, William Shakespeare pun akan takjub dengan cerita seindah ini. Datang, main, kapten, menang. Masih ingatkah kalian proses menjadi juara Coppa 2013? Laga final yang gila, yang dikenang sebagai LU71C day itu prosesnya lebih menakjubkan lagi. Semifinal-nya lawan Juve proses lolosnya sangat dramatis mirip dengan laga final ini. Saya sudah mencipta tulisan khusus 3 bulan lalu (dalam note ‘On This Day’ yang akan saya publish tahun depan) berikut saya kutip satu paragrafnya: Lazio melaju ke final dengan susah payah menyingkirkan Siena via adu pinalti di 16 besar setelah sundulan Michael Ciani dibalas. Babak 8 besar menang mutlak 3-0 mengKO Catania, gol pembukanya Radu! Dan salah satu penampilan terbaik Hernanes yang salto, ketika ditarik dapat applaus serta pelukan Petkovic. Di semifinal ketemu lawan berat Juventus, Marchetti menunjukkan bintangnya. Salah satu tendangan Matri ditepis dengan terbang. Leg kedua berjalan dengan sangat-amat seru. Conte memainkan strategi ofensif, beruntung sebuah tandukan Alvaro Gonzales membuat kita leading. Saat pertandingan akan berakhir Vidal bisa menyamakan kedudukan. Tapi mental Skuat Elang sedang tinggi sehingga, tekanan di penghujung laga itu tak membuat drop. Melalui sepak sepak pojok kemelut itu mencipta skor, protagonisnya Flocarri. Biava sampai melepas kaos menuju tribun saking emosionalnya. Saat additional time, nyaris saja Juve menyamakan 2-2 untung Marchetti melakukan save di menit 95! Inilah musim terbaik sang kiper. Kepastian finale disambut gegap gempita. Bendera biru dan Italia berkibar seantero Olimpico. Arremba Sempre!

Subtitusi Tepat

Marusic, Murgia, Lukaku. Tiga pergantian Lazio sangat tepat, semuanya berpengaruh dalam menentukan hasil akhir. Marusic menjaga keseimbangan belakang, yang terkejut akan hadiah pinalti aneh Juve (selamat datang di Serie A, Adam!) Lukaku membalas dengan satu assist sensasionalnya (tusukannya bikin kita pengen kecup-kecup kamu), dan Murgia mencipta Boom! Itu. Inzaghi memang belum sampai satu setengah musim mengajar Lazio senior. Tapi keputusan-keputusan mantan striker ini banyak yang harus diacungi jempol. Malam ini kita harus benar-benar berterima kasih kepadanya.

Skuat Juara

Transfer window tinggal setengah bulan lagi. Kehebatan musim lalu akan meningkat tajam di musim baru ini andai tak banyak perubahan. Please, jangan pecah kekuatan Lazio yang sudah padu nan rupawan. Kita gagal mempertahankan Biglia, kini Keita sedang terusik dan De Vrij dalam proses perpanjangan atau keluar. Saya sih ingin kedua bintang tanda tangan kontrak lagi karena jelas mereka adalah kunci. Keita mungkin somsom, tapi si Keling ini saat on fire mengerikan, tiga tahun lagi bisa jadi pemain termahal dunia. Dia adalah korban rayuan Nyonya Tua. Lagi trend kan Pemuda kepincut nenek-nenek, nah Balde sedang kena jampi-jampi sehingga menolak semua proposal tim lain dan hanya mau sama Juve, yang memberi tawaran kecil jauh di bawah harga pasaran. Persis seperti remaja jatuh hati kena gendam, konyol. Mending bekukan, suruh muhasabah di bawah kaki gunung Alpen lalu diminta tobat dan mainkan! Tak mau juga, biarkan beku. Sang presiden sudah janji Keita tak akan bernasib sama dengan Pandev. Kehebatan De Vrij terbukti lagi semalam, Marjuki dan Higuain plonga-plongo depan gawang macam striker Serie C. Ini jelas andil besar duo Stefan yang disiplin dan lugas menghalau bola. Wesley Hoedt sedang diusik Soton 17 juta, BIG No. Setelah sukses mendatangkan pemain bagus Lucas Leiva, Adam Marusic sampai Davide Di Gennaro (saya ga berani bilang Felipe Caicedo ya). Harusnya kita bisa menghasilkan gelar di akhir musim. Skuat hebat ini ditambah promosi alumni primavera Palombi dan Guido yang kembali dari masa pinjam Salerno sampai bek muda menjanjikan Luiz Felipe. Tangguh di bawah, kuat di belakang, menakjubkan di tengah dan tajam barisan depan. Apalagi? Mental juara sudah ada. Coba tambahkan Christopher James Ikonomidis, maka bersiapkan berdingin diri di puncak klasemen.

Pemuda Asli Formello – 96

Sulit melupakan Cataldi? Tak usah berlarut. Semudah kita melupakan Muoustapha Seck, pemain tak loyal harus dienyahkan dari kepala. Atitute Danilo saat skor 2-2 Genoah akan jadi noda karirnya, melakukan pelukan aib dengan Pandev itu sudah jadi keputusan pribadi. Setelah digadang-gadang jadi kapten masa depan, dan kini semakin hari semakin buram warna itu, rasanya kita harus move on, dan jawaban diberikan dengan aksi memikat Alessandro Murgia. Putra daerah yang memulai karir di Lazio Junior sejak 2012 ini adalah salah satu bintang Class of 2015 yang memberi bukti gelar Primavera. Tahun lalu sudah sesekali masuk line up, 14 kali main (sebagian besar sebagai pengganti) dan mencipta dua gol, salah satunya dramatis. Dan diulang lagi di partai puncak. 9 Agustus lalu berulang tahun ke 21, 3mpat hari berselang jadi pahlawan. Kado yang sangat manis. Murgia pasca laga berujra, “Kami pantas mendapatkannya!” Malam ini kita bisa sematkan kepada Wonder Kid Murgia sebagai harapan BESAR sebagai next captain. “Kamu pantas mendapatkannya!” Sepakat?

Juventus 2-3 Lazio

Immobile pen 31, 54, Murgia 93; Dybala 85, pen 91

Juventus: Buffon; Barzagli, Benatia (De Sciglio 56), Chiellini, Alex Sandro; Khedira, Pjanic; Cuadrado (Douglas Costa 56), Dybala, Mandzukic (Bernardeschi 72); Higuain

Lazio: Strakosha; Wallace, De Vrij, Radu; Basta (Marusic 74), Parolo, Lucas Leiva (Murgia 79), Luis Alberto, Lulic (Basta 74); Milinkovic-Savic, Immobile Ref: Massa

Ruang HRGA – KGV#V5/23 – Karawang, 14-15 Agustus 2017 – Sherina Munaf – Kembali Ke Sekolah – Ku Bahagia

Note1: satu jam kemudian setelah pesta juara, di Nou Camp Ronaldo selebrasi gol kemenangan jemur baju. Barcelona luluh lantak di leg 1 final Super Spanyol. Alarm meraung, Barca sedang down. Bisalah secepatnya diadu dengan kita. Hening.

Note2: Saya mengetik tulisan ini dengan keceriaan membuncah ditemani semua album keren Sherina Munaf, rasanya sejuta ribu kata juga kurang untuk mendeskripsikan kebahagian Lazio Juara. Namun setelah dua hari begadang, istirahat kerja saya alokasikan duduk depan komputer bukannya baca buku atau khusuk molor di Mushola tapi saya dedikasikan sepenuhnya untuk mencipta ini. Peluk cinta untuk Lazio.

#BisognaVincere #AvantiLazio #ForzaLazio #LazioPerSempre #LazioTiAmo #FromKawarangWithLove

Final Super Italia 2017

Juventus Vs Lazio

LBP 0-3

Analisis: Setelah jawara dalam pra musim di Auronzo dan Costa Del Sol, kini saatnya menjadikan treble. Kabar dibekukan Keita hanya 12 jam sebelum kick off menjadi ujung dua mata pisau, tapi kabar dipastikan Felipe Bale Anderson jelas menjadikan optimis tinggi. Duetnya dengan Ciro sudah terbukti bisa memporakporandakan Leverkusen. Minimal tiga gol bisalah. Ayo #LazioJuara

Ngadit FPL Dulu

Juventus vs Lazio Skor : 2-1 Scorer : Dybala Card : Parolo

Analisis: Juve menang. Lazio tumbang. Aku senang.

Djokovic

Jupe 3-0 Lajio Skorer Higuain Card Parolo

Juve berjaya. Lazio tak berdaya. Om Joko ya ya ya.

DC

Juve 2-0 Lazio Mandzukic Card Parolo

Seperti biasa. Ini laga yang gampang diprediksi hasilnya. Juve juara.

Jatuh geduprap Juve 2-0 Lazio; Gol: Higuain; Card: Wallace

Glory glory Lazio! KTSBFFH, keep the sky blue flag flying high! COYL, come on you Laz!

Arifin Juve vs Lajio Skore : 2-0 Skorer : Higuain Cadr : Leiva

Analisis: Gawang Lajio jeboll. Bandar jeboll. Om pulsa om.

Damar

Juve 1 – 2 Lazio Card: Higuain Scorer: Immobile

Analisis: Simone Inzaghi akan mengeluarkan strategi yang jitu dalam menghadapi team terkuat di Italia. Hoedt, De Vrij akan kembali dimainkan dan Immobile akan mengacak-acak pertahanan Juve yang ditinggal Bonuchi. Grande Lazio, #BisognaVincere

Christian

Juventus 4-0 Lazio Scorer: Dybala Card: Chielini

Adu tanding yang tidak seimbang antar team serie A, dimana Juve sepertinya masih akan melanjutkan dominasinya terhadap tim tim Serie A. Dengan kedalamaan Squad Lazio saat ini walau Juve ditinggal Bonnuci ke Milan, barisan pertahanan masih sanggup menghadapi daya gedor dari Immobile dkk.

Agostino calciopoli

Juve 3 – 1 Lazio Gol Higuain Card Parolo

Partai tidak bergensi digelar kembali. Lazio tak pantas melakoni. Sungguh ironi kalo piala super ini jatuh kepada runner up copa.

Arief

Juve v Lazio 2-0 Skorer : Dybala Card : Wallace

Jika Juve menang, akan mengumpulkan 8 gelar, lebih banyak 1 ketimbang Milan. kalo Lazio juara, maka akan menjadi 4 trofi. Lazio tentu ingin balas dendam atas kekalahan di final coppa musim lalu.

Takdir

Juve 1-3 LAZIO Skorer Milinkovic Sapin Card Parolo

Penantian panjang kuis The Great berakhir sudah. Kesabaran itu harus berbuah gelar, berakar historis dan berdaun biru. Pembantaian di Olimpico, dikiranya ini masih pre season lawan Siena. Selamat Lazio treble winnee 2017. 👏👏👏

Bagas

Juve 1 – 2 Lazio Scorer: Immo Card : Parolo

Waktunya kita juara. Kalau tidak sekarang kapan lagi. Forza elang!!!

JJ

Lajio 2-3 Jupe Skor Dybala Kartu Sandro

Laga yang sulit. Sayang nona meener pailit. Jon snow diperanin namanya Kit.

Dicky

Lazio 0-2 Juve Skorer Bernadeschi

Kartu Marchisio Keita kembali goyah. Segera ingin pindah. Ke nyonya tua tentunya.

Karawang, 130817 – FOC prediction