The Call Of The Wild – Jack London


“Kerinduan mengembara, Lepas dari jerat kebiasaan. Bangun dari tidur panjang, Bangkitkan jiwa yang liar.” – Atavism karya John. M O’Hara dalam majalah Bookman vol. 16 (nov 1902) hal. 229

Akhirnya saya punya kesempatan membaca karya klasik Jack London. Novel aslinya sudah lihat beberapa kali di toko buku, masuk ke daftar novel-novel wajib baca. Tapi menunggu versi terjemahan laamaaa sekali. Lebaran lalu saat mudik, jalan sama keluarga akhirnya nemu di Grammedia Solo. Buku yang saya pegang cetakan pertama tahun 2016 berarti baru tahun lalu dialihbahasakan. Tak terlalu terlambat. Ternyata lebih tipis dari yang kukira, versi English padahal bersampul hard dengan kertas luks di dalamnya.

Kalimat pembukanya absurb, “Buck tidak pernah membaca koran, atau ia tak tahu bakal ada masalah , bukan hanya menimpanya, tetapi juga menimpa semua anjing salju berotot kekar dan berbulu hangat panjang yang berada di Puget Sound hingga San Diego…” Lihatlah, seekor anjing dipersonifikasikan tak pernah baca koran. Walaupun kaitnya ada, karena berita di koran memuat kabar penemuan logam kuning di Kutub Utara tapi jelas pernyataan Buck, anjing kekar rumahan tak update informasi membuat kita langsung diajak berasumi ia bisa berfikir.

Buck tinggal di rumah besar Hakim Miller di Santa Clara Valley yang hangat. Kehidupan nyaman dalam pelukan cinta sebuah keluarga penyayang binatang. Dengan lahan luas bermandikan sinar mentari ia menghabiskan masa empat yang bahagia. Hidup dengan anjing peliharaan lain, Toots seekor pug Jepang. Ysabel, anjing Meksiko tak berbulu dan beberapa fox terrier. Buck adalah ‘raja’, ia suka menceburkan diri ke tangki renang atau pergi berburu bersama Putra-putri sang Hakim mengawal Mollie dan Alice saat berjalan-jalan di senja yang panjang dan penjelajahan pagi-pagi, atau pada malam-malam musim dingin berbaring di bawah kaki sang Hakim di depan perapian perpustakaan yang berkobar. Ia membiarkan dirinya ditunggangi cucu-cucu sang Hakim, atau menggulingkan mereka di rumput dan mengawasi gerak-gerik mereka melakukan petualangan liar hingga ke mata air di halaman kandang, bahkan lebih jauh lagi ke tempat pedok-pedok dan kebun arbei mungil berada. Buck berjalan angkuh di depan anjing-anjing terrier dan sepenuhnya mengabaikan Toots dan Ysabel, karena ialah sang raja – sang raja di antara semua makhluk yang merayap, melata, terbang di rumah Hakim Miller, termasuk manusia.

Buck terlahir dari anjing st. Bernard besar bernama Elmo dan ibunya hanya anjing penggembala Scotch bernama Shep. Kombinasi itu menghasilkan tubuh yang kokoh bak bangsawan dengan berat tujuh puluh kilo. Semenjak kecil, hingga usia empat tahun ia menjalani kehidupan aristokrat serba kecukupan. Begitulah gaya hidup Buck pada musim gugur tahun 1897. Semua itu lenyap saat demam emas di Klondyke, Alaska menarik pria-pria dari penjuru dunia untuk memasuki dunia Utara yang diselimuti es. Manuel, pembantu tukang kebun keluarga Miller penyebab utamanya. Ia seorang pejudi lotre Cina yang kepercayaannya pada system membuatnya terjatuh membuatnya tak bisa mengontrol uang.

Malam penghianatan tak terlupa itu, sang Hakim sedang menghadiri pertemuan Asosiasi Penanam Kismis, dan putranya sibuk mengorganisasi kelab atletik. Buck tak curiga saat diajak berjalan, ia tak pernah berprasangka buruk terhadap orang sekitar yang sudah dikenal. Tapi saat sampai di stasiun kereta api, uang berpindah tangan, tali kekang yang melingkar di lehernya ikut berpindah kepada orang asing. “Seharusnya kau bungkus dulu barang itu sebelum mengirimnya.”

Segera saja ia mengamuk dan meloncat ke arah pria asing dan hampir menerkam lehernya, namun dengan liukan tangkas pria itu terjungkal sambil menarik pengerat leher Buck sekuat tenaga. Berusaha melawan, tapi kencangnya lilitan tali itu membuatnya lemas terengeh-engah tanpa daya. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya mendapat perlakuakn seburuk itu. Kekuatannya mengendur serta matanya mengabut, ia tak mengingat apapun saat kereta berhenti di stasiun berikutnya setelah melihat isyarat bendera, dua pria melemparnya ke gerbong barang. “Aku disuruh bosku mengantarnya ke San Fransisco.”

Berikutnya Buck beberapa kali berpindah kereta dan tangan, dalam transaksi jual beli anjing hingga akhirnya ia melihat salju untuk pertama kalinya di pantai Dyea. Bersama anjing lain, Curly, Spitz, Dave, Billiee dan Joe serta anjing besar pemimpin kereta salju Sol-leks. Mereka di bawah bos Francois dan Perrault. Di tempat itulah ia mengenal hukum pemukul dan taring. Curly yang tak siap adaptasi, tewas dalam sekejap membuat Buck tersadar ia kini di dunia yang keras. Maka saat akhirnya ia mendapat tugas pertamanya menarik kereta salju dalam rombongan, ia putuskan all out bersama teman-teman barunya. Awalnya kompak, namun perseteruan muncul dengan sang pemimpin Sol-leks. Dalam sebuah puncak pemilihan tampuk pemimpin, mereka beradu dan Buck menunjukkan bahwa ia memang perkasa.

Selanjutnya ia berpindah tangan lagi, kedua bos pertama yang sebenarnya baik terpaksa melepas Buck karena butuh uang. Bos baru Buck sangar buruk, memperlakukan binatang tanpa kasih sayang. Menggunakan lecutan cambuk sebagai instruksi dan revolver sebagai ancaman. Benar-benar penyiksaan. Hari-hari kelam itu suatu hari berakhir berkat seorang pria yang menyelamatkannya. Pria bernama John Thornton memberinya kebebasan setelah sebuah kecelakaan tragis terjadi.

Sang majikan baru menumbuhkan harapan besar, ia menemukan cinta laiknya pemilik pertama sang Hakim Miller. Pria itu menyelamatkan hidupnya, dan yang paling berarti ia adalah tuan yang ideal. Orang-orang memperhatikan kesejahteraan anjing-anjing mereka sebagai suatu kewajiban dan berdasarkan manfaat finansialnya. John Thornton memperlakukan anjing bak anak-anaknya sendiri. Karena itu memang sifatnya, ia tak pernah lupa memberikan sapaan lembut dan ucapan penyemangat dan ia suka mengobrol panjang lebar (obrolan ngalur-ngidul). Ia punya cara khusus untuk memegang kepala Buck dengan dua tangan, lalu menyandarkan kepalanya sendiri ke tubuh Buck, ia suka mengguncang-guncangkan tubuh Buck seraya memanggilnya dengan nama-nama buruk yang di telinga Buck seperti ucapan sayang. Tak ada yang lebih membuat bahagia Buck selain dekapan kasar dan gumaman umpatan tuannya setiap tubuhnya dipeluk yang membuat jantungnya nyaris meloncat. Kasih sayang ini dibalas Buck dengan setia menjaga John. Beberapa kali membalas cinta tuannya dengan menyelamatkannya dari bahaya. Tapi sampai kapan? Jack London lalu merangkai tragedi, kisah ini menemui titik ngeri menjelang akhir saat suku Yeehats dilibatkan. Apa yang terjadi?

Ini adalah salah satu buku tentang binatang terbaik yang pernah saya baca. Tahun lalu saya membaca kisah The Incredible Journey karya Sheila Burnford yang bercerita perjalanan sekelompok binatang dalam petualangan di alam liar. Yapi ini, tingkatannya jauh lebih tinggi, kalau The Incredible lebih kepada perjuangan bertahan hidup atas inisiatif binatangnya sendiri yang memulai, The Wild lebih kepada keadaan yang memaksa Buck beradaptasi ke alam liar. Dipaksa ikuti intuisi atau mati. Keduanya sangat bagus, tapi Wild memang luar biasa. Menempatkan sang protagonis pada situasi sulit, perjuangan hidup-mati di dinginnya kutub Utara sampai eksekusi ending yang luar biasa. Walau nasib akhirnya tertebak, ya saya menebaknya seperti itu tapi keputusan untuk mematikan tokoh penting (saya tak membocorkan siapa ya!) lebih masuk akal dan sangat amat bisa diterima ketimbang happy ending. Saya ikut terhanyut sedih atas final battle yang menyeret suku asli, Ya memang buku bagus adalah buku yang berhasil mengaduk emosi pembaca.

Terakhir, saya mengucapkan terima kasih pada Gramedia yang akhirnya menterjemahkan buku klasik dengan bagus, ayoo yang lain-lain buku-buku klasik kejar. Cetakan bagus, kertas hvs dengan kover keren. Beberapa ditemukan typo, tapi tak mengurangi kenikmatan secara keseluruhan. Sangat layak masuk koleksi, dipajang di rak perpus keluarga berjajar dengan buku hebat lain. 

“Oh Tuhan, seandainya kau bisa bicara!” Sebuah ekspresi cinta John Thornton kepada Buck. Buku wajib baca bagi pecinta binatang. Lima bintang!

Panggilan Alam Liar| by Jack London | diterjemahkan dari The Call Of The Wild | GM 616189006 | alih bahasa Eko Indriantanto | editor Tanti Lesmana | desain sampul Eduard Iwan Mangopang | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-602-03-3291-8 | 160 hlm; 20 cm | Skor: 5/5

Ruang HRGA CIf – Karawang, 280717 – Sherina Munaf – Jagoan​

Iklan

One thought on “The Call Of The Wild – Jack London

  1. Wah, kisahnya unik ya. Membaca resensinya membuat berpikir, sepertinya Buck itu punya perasaan yang halus layaknya manusia. Mungkin habis membacanya kita semakin dibuat sadar kalau binatang itu juga harus diperlakukan baik seperti makhluk lainnya. Ah, saya jadi penasaran dengan buku2 klasik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s