Sapta Siaga : Menerima Tanda Jasa – Enid Blyton

Colin: “Yah – ada satu kejadian aneh! Kita bisa saja menyelidiki siapa yang mengerek kursi Kepala Sekolah kita di atas tiang bendera di halaman sekolah, benar-benar gila. Ketika kami datang ke sekolah hari Rabu yang lalu, kursi itu sudah tergantung di situ!”

Buku-buku Enid Blyton berserakan di toko buku. Bersama karya Tere Liye yang bejibun, L Hubborn dari angkatan Pulp Fiction, sampai novel-novel KKPK yang daftarnya panjang. Dulu pas SD pernah baca beberapa, bersama Empat Sekawan dan kisah-kisah wajib Balai Pustaka, tapi untuk Sapta Siaga nyaris tak berbekas karena memang kurang mengena. Kisah-kisah petualangan anak-anak yang standar, kala itu. Lalu bagaimana dengan sekarang? Yah, kalau bacaan anak dibaca anak-anak saja kurang mengesankan, bagaimana bacaan anak dibaca dewasa? Drop.

Ini adalah buku Enid pertama yang saya review. Dari buku tukar pinjam dengan teman May, Melly Potter saya pinjamkan seri empat Eragon saya menyandera 4 buku. Salah satunya buku tipis ini yang kubaca kilat di jam istirahat kerja. Hasilnya? Standar sekali, apalagi saya semalam baru saja mneyelesaikan Ordeal By Innocence-nya Agatha Christie. Kisah pembunuhan kelas berat, jadi setelah berpusing ria membaca buku sederhana seakan bersepeda turun bukit. Tanpa perlu mengayuh, roda menggelinding dengan sendirinya.

Berisi 12 bab pendek-pendek, kisahnya anak-anak sekali. Laiknya sebuah kelompok anak yang mengimpikan kisah detektif. Sebuah petualangan seru bak pramuka Siaga dengan jiwa ceria. Sapta Siaga terdiri dari: Peter, Janet, Pam, Barbara, Jack, Colin, George. Di sampul belakang disertai foto close up wajah-wajahnya. Beserta anjing spinel nyentrik bernama Skippy. Dengan kode SS – The Secret Society – pas bener dicocokin terjemahan sama Sapta Siaga, kali ini kisahnya tentang pencarian lencana seorang veteran yang hilang. Karena judul terjemahannya spoiler berat, ‘menerima tanda jasa’ maka sedari pembuka saya sudah tahu, pasti lencana tanda jasa itu akan ketemu. Nah lo kalian juga kena spoiler.

Kisahnya bermula dengan masa liburan, Serikat Sapta Siaga mengadakan pertemuan di gudang keluarga Peter dan adiknya Janet. Pertemuan rutin dengan suguhan special biscuit cokelat sekaleng penuh, hadiah dari bibi Lou. Karena momen liburan, maka kata sandi ketika mereka masuk ke gudang untuk pertemuan adalah ‘liburan’. Malam itu saat semua member sudah berkumpul, Skippy menggongong ke arah Jack. Aneh sekali, seakan Skippy tak mengenal anggota SS. Saat mereka mencoba menenangkannya, terbukalah kedok. Ternyata yang masuk dalam perkumpulan adalah Susie, adiknya. Mereka punya perawakan yang mirip. Bukan anggota, tentu saja diusir. Saat di luar gudang, muncul pula bocah nakal satu lagi, Binkie yang mengguyurkan seember air. Meeting malam itu batal. Duh, Susie yang nakal.

“Aduh! Aku tidak bisa menemukan ide bagus bila disuruh. Kalau aku mendapat ide bagus datangnya selalu tiba-tiba.”

Besoknya, rundingan kembali digelar dan memutuskan dua kesepakatan. Pertama, kasus yang akan meleka pecahkan adalah hilangnya medali-medali Jenderal Branksome yang dicuri beberapa hari yang lalu. Jenderal tua yang menangis saat tahu tanda jasanya lenyap dari atas perapian. Satu lagi, mengawasi sarang burung di hutan Bramley. Rupanya akhir-akhir ini ada gerombolan anak yang merusak sarang burung yang baru menetas, serta mengambil telurnya. “Sebenarnya kedua tugas itu sama sekali tak berhubungan, tapi siapa tahu?”

Karena Colin bertetangga dengan sang jenderal dan memang dia yang menusulkan kasus ini untuk dipecahkan maka tugas mengorek informasi diserahkan padanya. Dengan cerdas Colin melempar bola masuk ke halaman rumah tetangga dan meminta izin mengambilnya dengan berharap diajak bersapa ngopi sore. Dan ternyata sang jenderal ramah, malah mengajaknya minum limun. Dari obrolan itu, ada kunci penting. Bahwa tangan sang pencuri kecil, karena masuk ke rumah dengan memecah kaca jendela dengan lubang kecil untuk melepas gerendel. 

Sementara tiga anggota lain ke hutan Bramley: Jack, Barbara dan George. Setelah berjalan tanpa tujuan, mereka melihat tiga anak laki-laki yang bersiap mengambil telur burung jalak. “Kalian tentunya tahu, kita semua diminta agar tidak mengambil telur burung dari sarangnya pada musim semi ini. Tahun lalu begitu banyak sarang yang dicuri hingga burung-burung pergi dari daerah ini…” Jack memperingatkan.

Anak lelaki yang di atas pohon melempari Jack telur yang tepat mengenai wajah. Terjadilah perkelahian, karena SS ada ceweknya dan mereka kalah dewasa, mereka meminta Barbara untuk lari sembari teriak minta tolong. Kebetulan tak jauh dari situ ada seorang lelaki yang sedang membaca buku (bah semua serba kebetulan), laki-laki yang berhasil membuat para pencuri ketakutan kabur. Kemudian mereka berkenalan. Awalnya baik sekali lelaki bernama Tom Smith ini. Seorang terpelajar yang sedang menyusun buku tentang pohon dan burung. 

Namun dari diskusi lebih lanjut dan dari pengakuan tim SS bahwa mereka dalam misi mencari medali yang hilang, Tom ternyata tahu di mana medali itu berada. Bahwa medali disimpan di lubang pohon sekitar situ, Mengajak untuk berbagi hasil imbalan, 400 Dollar untuknya, 100 Dollar untuk SS. Tentu saja penawaran ga masuk akal ini ditolak. Cek cok itu membuat mereka berseberangan.

The SS lalu mengadakan rapat lagi rindakan apa yang akan diambil berikutnya. Petunjuk bahwa medali ada di sekitar hutan tempta kejadian menyempitkan opsi. Letaknya yang di dalam lubang pohon tempat sarang burung menyempitkan opsi. Dan mereka kini tinggal menentukan waktu. Keputusan itu menghasilkan, mereka malam itu akan mengintai. Ketujuh pasukan plus Skippy akan menyebar di sekitar lokasi, menunggu Tom dan musuh. Dengan senter, syal dan baju hangat mereka menanti. Ada yang naik pohon, ada yang sembunyi di belakang semak, ada yang hanya ngumpet belakang pohon. Misi mendebarkan ini diberkahi bulan sedang purnama. Akankah berhasil ataukan menanti kesia-an? Bisakah medali itu dikembalikan kepada sang jenderal? Ataukah Skippy yang diminta diam akhirnya menggonggong?

Ini jelas buku anak yang mudah ditebak. Dibaca sambil lalu. Fiksi sederhana, tak banyak kejutan. Mempersiapkan plot jalur tol dengan hanya sedikit kerikil, bukan tanjakan apalagi benturan keras konflik. Tapi setidaknya ini karya klasik yang patut diapresiasi. Sebuah buku bisa bertahan tembus 30 tahun tentunya bukan sembarangan. Buku Enid lain? Boleh, asalkan pinjaman lagi.

“Aku kepengin bisa mengajar anjing seperti itu! Kalau aku besar nanti, aku ingin berlatih menjadi pawang anjing!”

Sapta Siaga : Menerima Tanda Jasa | by Enid Blyton | diterjemahkan dari Look Out Secret Seven | alih bahasa Agus Setiadi | GM 310 01.579 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan ketiga, Februari 2001 | 128 hlm; 18 cm | Sapta Siaga #15 | ISBN 979-655-579-4 | Skor: 2/5

Ruang HRGA CIF, Karawang, 180717 – Sherina Munaf – Demi Kamu Dan aku​

Terima kasih Melly Potter yang telah meminjamkan buku ini. 

Iklan

One thought on “Sapta Siaga : Menerima Tanda Jasa – Enid Blyton

  1. bro buddy, Buku-buku enid blyton adalah peneman saya waktu SD dulu, cukup menghibur waktu itu sebelum saya pindah ke Trio Detektif yang lumayan cukup berat untuk anak SD sebelum akhirnya ke novel-novel panjang Michael Crichton dan John Grisham. Ciri khas Enid Blyton adalah liburan sekolah hehehe seperti Lima Sekawan, Seri Petualangan, Kecuali Malory Towers yang memang cerita sekolah dan asramanya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s