Mockingjay – Suzanne Collins

“Apakah kau akan datang ke pohon memakai kalung dari tali, bersamaku bersebelahan. Hal-hal aneh terjadi di sini kita tak kan jadi orang asing, jika bertemu tengah malam di pohon gantung.” – The Hanging Tree song

Beberapa hari yang lalu saya tak sengaja menonton The Hunger Games di sebuah tv swasta, sudah sering ditayangkan. Tapi berkat tayangan ini saya serasa punya hutang review, buku final ini harus segera dikembalikan. Jadi saya kebut baca dan ulas biar tuntas.

Sebuah penutup yang sempurna. Bravo! Bravo! Bravo! Luar biasa, setelah menghentak di seri pertama, menurun secara kualitas di seri kedua, seri pamungkas sungguh memukau. Segala tanya dijawab sudah, inilah akhir perjalanan panjang Katniss Everdeen the rebelion. Beberapa mungkin membosankan, terutama pengantar menuju pemberontakan, namun bsetelahnya adalah Wow, ada bagian yang mengejutkan, keputusan di ending. Saya sampai membayangkan dalam balutan visual bagaimana amunisi panah itu meluncur. Pasti membuat penonton terperangah menyaksikan tawa getir presiden Snow.

Bagian pertama terjudul Abu. Kisahnya langsung menyambung dari ending Tersulut di mana setelah pertarungan The Hunger Games ke tujuh puluh lima yang memporakporandakan kompetisi Katnis Everdeen dan beberapa member diselamatkan ke distrik 13. Keberadaan distrik itu bukan mitos, bahkan saat sampai di sana ternyata kekuatan yang disusun sudah cukup kuat untuk melakukan pemberontakan. Plutarch Heavensbee, kepala juri pertarungan seorang pembelot, ialah yang telah mengorganisasi pemberontkan di Capitol. Pertanyaan saat pertama ketemu Katniss dengan menunjukkan jam berlogo Mockingkay terjawab sudah. Sayangnya Peeta Meelark tersandera ke Capitol. Perpisahan pasangan ini menyulut banyak hal. Katniss sebagai simbol pemberontakan, Peeta sebagai duta damai. Perang hanyalah kerugian semua pihak. “Apakah kau benar-benar percaya pada orang-orang yang bekerja bersamamu?”

Katniss mengunjungi distrik 12 yang kini menyisakan abu, kepulan asap bekas serangan Capitol. Sudah tak ada kehidupan, seluruhnya runtuh. Korban jiwa berjatuhan, perang sudah ditabuh. Beberapa yang selamat dibawa ke pusat distrik 13 yang hidup di bawah tanah. Kunjungan itu hanya sebuah tindakan bayang kenangan masa lalu, ucapan selamat tinggal masa kecil. tak ada yang sia karena Katniss berhasil menemukan kucing Prim yang kebingungan, Buttercup.

Pemberontakan itu dipimpin oleh (calon) presiden Coin. Selama bertahun-tahun menyusun kekuatan, kini saatnya. Momen yang pas untuk revolusi mengakhiri kepemimpinan Snow yang semena-mena. Saat akhirnya Katniss bertatap dengan sang pemimpin, terjadi mutualisme kesepakatan. Katniss mau jadi simbol pemberontakan, menjadi Mockingjay dan siap berakting untuk disiarkan ke seluruh penduduk distrik dalam bentuk Propo bahwa dia hidup dan perlawanan itu nyata. Katniss, dibantu tata rias yang disandera Flavius, Octavia, Venia dan kameramen Cressida serta kru-nya. Ternyata salah satu kelebihan utama Katniss adalah spontanitas, jadi beberapa naskah yang sudah dipersiapkan banyak yang tak sesuai yang hasil akhirnya bagus. Mereka terus mengintimidasi Pemerintah, menyabot siaran televisi melalui hacker nyentrik Beetee. rada aneh juga, siaran resmi Pemerintah dengan mudah dan setiap saat bisa ditembus. Tak penah gagal, IT Capitol dodol atau Beetee yang brilian? “Mari bergabunglah bersama kami!” Tak kusangka, karakter aneh di Quarter Quell ketiga ini jadi begitu sangat penting.

Ada tiga permintaan Katniss sebagai taruhan Mockingjay. Pertama ia dan sahabatnya Gale diperbolehkan untuk tetap berburu. Kedua dibebaskannya segala tuntutan hukum terhadap teman-temannya jika nantinya. erhasil menggulingkan Capitol: Johanna, Ennobaria dan Peeta! Dan syarat terakhir meminta Katniss-lah sang eksekutor hukuman mati untuk presiden Snow. Coin sepakat. 

Untuk memulihkan kepala dan jiwanya, distrik 13 memutuskan melakukan tindakan penyelamatan terhadap Peeta. Misi berat itu sempat juga membuat dahiku berkerut. Kalau mereka berhasil menyusup, menculik sekaligus menyelamatkan Peeta yang kini jadi pion Pemerintah berarti seharusnya mereka sudah sangat perkasa. Sudah hebat, kenapa misi diatur ulang? Serang! Tapi pikiran itu akan dibantahkan otomatis saat akhirnya kita sampai di Bagian akhir, bagian terbaik novel ini.

Konsekuensi pernyataan perang itu adalah serangan besar-besaran di distrik 13. Tapi kini mereka sudah siap. Warga dievakuasi ke gedung bawah tanah yang sudah dibangun dan dipersiapakn untuk hari ini, sebuah bungker evakuasi modern. Jadi saat Capitol membombardir masyarakat sudah dalam posisi aman. Tak heran setelah serangan, saat sudah reda dan berani muncul di atas tanah distrik 13 bak kota mati. Luluh lantak. Kekejaman itu membulatkan tekad Katniss, ia mengajukan diri untuk maju berperang. All hail tim bintang 451!

Semenjak pasukan Katniss diturunkan dalam medan perang, buku ini langsung melonjak dalam andrenalin. Perpindahan holo (semacam GPS) dari pemimpin pasukan Boggs kepada Katniss membuat sitegang. Peeta yang berubah-ubah sifatnya karena sakit membuat banyak perdebatan. Sampai bantuan aneh Tigris. Pacunya terus meningkat, bagian terbaik. Salah satu novel terbaik yang pernah saya baca ada di 1/3 akhir. Luar biasa. Pembaca diajak terus mendebarkan jantungnya, jelas bukan untuk Pembaca berhati lemah. Saat menyusup masuk ke bawah tanah, dikejar Mutt sampai ledakan demi ledakan semua disajikan dengan sangat seru. Sayang sekali saya kena spoiler temanku JJ-Jacob Julian, atas kematian salah satu karakter penting. Huufh. Dengan segala kepentingan tiap pribadi, bagaimana akhir dari perseteruan negara Panem ini?

Salah satu karakter favoritku Finnick, sekutu saat pertarungan dibuat bahagia dengan menikahi kekasihnya. Tapi tak sampai di sana, butuh pengorbanan dan harganya mahal karena Finnick adalah sang pemenang dan pejuang ia turut dalam pemberontakan. Lalu Cinna yang tak muncul sama sekali, adegan akhir di seri Catching Fire saat Katniss dibawa ke arena ia dilumpuhkan bisa jadi adalah kematiannya, sayang sekali. Hiks, ikut sedih. Satu lagi karakter kesukaanku si Haymitch, ini adalah sosok sesungguhnya kita saat terjadi perang saudara. Masa bodoh. Siapapun yang memimpin, ia cuek. Pesimistis mungkin, tapi realistis. Terlihat teler mulu, tapi sesungguhnya sangat cerdas. Sebagai mentor, dirinya tampak meragukan namun siapa sangka setelah melewati tiga buku Haymitch tetaplah Haymitch. Selama ada bir, dunia sudah cukup. Tak butuh yang lain.

Tak banyak buku terbitan milenia abad 21 yang kupuji, dan trilogi Hunger Games jelas yang minoritas ini. Mungkin New York Times Book Review berlebihan dengan berujar, “Trilogi ini merangkum gerakan politik dari novel 1984, kekerasan yang tak terlupa dari A Clockwork Orange, nuansa imajinasi The Chronicles Of Narnia dan daya cipta nan cerdas dari Harry Potter.” Tiga dari empat buku yang disebut sudah saya baca dan ketiganya masterpiece, ada beberapa kecil yang setuju, tapi ya ga mungkin bisa menyamai ketiganya. Satu lagi dasar awal buku ini adalah inspirasi The Royale Battle dari Jepang. Hebat Suzanne, menggabungkan daya pikat karya lama, meramunya jadi young adult mempesona. Patut dinanti karya Suzanne Collins lainnya pasca puncak hype novel ini.

“Jika kami terbakar, kau terbakar bersama kami!”

Mockingjay | by Suzanne Collins | diterjemahkan dari Mockingjay | copyright 2010 | alih bahasa Hetih Rusli | GM 322 01 12 0001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan ketujuh, Mei 2012 | 432 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-7843-9 | untuk Cap, Charlie, dan Isabel | Skor: 5/5

Karawang, 270717 – Wet Wet Wet – Sweet Surrender

Thx to Widy Satiti untuk pinjamannya

Iklan

The Call Of The Wild – Jack London


“Kerinduan mengembara, Lepas dari jerat kebiasaan. Bangun dari tidur panjang, Bangkitkan jiwa yang liar.” – Atavism karya John. M O’Hara dalam majalah Bookman vol. 16 (nov 1902) hal. 229

Akhirnya saya punya kesempatan membaca karya klasik Jack London. Novel aslinya sudah lihat beberapa kali di toko buku, masuk ke daftar novel-novel wajib baca. Tapi menunggu versi terjemahan laamaaa sekali. Lebaran lalu saat mudik, jalan sama keluarga akhirnya nemu di Grammedia Solo. Buku yang saya pegang cetakan pertama tahun 2016 berarti baru tahun lalu dialihbahasakan. Tak terlalu terlambat. Ternyata lebih tipis dari yang kukira, versi English padahal bersampul hard dengan kertas luks di dalamnya.

Kalimat pembukanya absurb, “Buck tidak pernah membaca koran, atau ia tak tahu bakal ada masalah , bukan hanya menimpanya, tetapi juga menimpa semua anjing salju berotot kekar dan berbulu hangat panjang yang berada di Puget Sound hingga San Diego…” Lihatlah, seekor anjing dipersonifikasikan tak pernah baca koran. Walaupun kaitnya ada, karena berita di koran memuat kabar penemuan logam kuning di Kutub Utara tapi jelas pernyataan Buck, anjing kekar rumahan tak update informasi membuat kita langsung diajak berasumi ia bisa berfikir.

Buck tinggal di rumah besar Hakim Miller di Santa Clara Valley yang hangat. Kehidupan nyaman dalam pelukan cinta sebuah keluarga penyayang binatang. Dengan lahan luas bermandikan sinar mentari ia menghabiskan masa empat yang bahagia. Hidup dengan anjing peliharaan lain, Toots seekor pug Jepang. Ysabel, anjing Meksiko tak berbulu dan beberapa fox terrier. Buck adalah ‘raja’, ia suka menceburkan diri ke tangki renang atau pergi berburu bersama Putra-putri sang Hakim mengawal Mollie dan Alice saat berjalan-jalan di senja yang panjang dan penjelajahan pagi-pagi, atau pada malam-malam musim dingin berbaring di bawah kaki sang Hakim di depan perapian perpustakaan yang berkobar. Ia membiarkan dirinya ditunggangi cucu-cucu sang Hakim, atau menggulingkan mereka di rumput dan mengawasi gerak-gerik mereka melakukan petualangan liar hingga ke mata air di halaman kandang, bahkan lebih jauh lagi ke tempat pedok-pedok dan kebun arbei mungil berada. Buck berjalan angkuh di depan anjing-anjing terrier dan sepenuhnya mengabaikan Toots dan Ysabel, karena ialah sang raja – sang raja di antara semua makhluk yang merayap, melata, terbang di rumah Hakim Miller, termasuk manusia.

Buck terlahir dari anjing st. Bernard besar bernama Elmo dan ibunya hanya anjing penggembala Scotch bernama Shep. Kombinasi itu menghasilkan tubuh yang kokoh bak bangsawan dengan berat tujuh puluh kilo. Semenjak kecil, hingga usia empat tahun ia menjalani kehidupan aristokrat serba kecukupan. Begitulah gaya hidup Buck pada musim gugur tahun 1897. Semua itu lenyap saat demam emas di Klondyke, Alaska menarik pria-pria dari penjuru dunia untuk memasuki dunia Utara yang diselimuti es. Manuel, pembantu tukang kebun keluarga Miller penyebab utamanya. Ia seorang pejudi lotre Cina yang kepercayaannya pada system membuatnya terjatuh membuatnya tak bisa mengontrol uang.

Malam penghianatan tak terlupa itu, sang Hakim sedang menghadiri pertemuan Asosiasi Penanam Kismis, dan putranya sibuk mengorganisasi kelab atletik. Buck tak curiga saat diajak berjalan, ia tak pernah berprasangka buruk terhadap orang sekitar yang sudah dikenal. Tapi saat sampai di stasiun kereta api, uang berpindah tangan, tali kekang yang melingkar di lehernya ikut berpindah kepada orang asing. “Seharusnya kau bungkus dulu barang itu sebelum mengirimnya.”

Segera saja ia mengamuk dan meloncat ke arah pria asing dan hampir menerkam lehernya, namun dengan liukan tangkas pria itu terjungkal sambil menarik pengerat leher Buck sekuat tenaga. Berusaha melawan, tapi kencangnya lilitan tali itu membuatnya lemas terengeh-engah tanpa daya. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya mendapat perlakuakn seburuk itu. Kekuatannya mengendur serta matanya mengabut, ia tak mengingat apapun saat kereta berhenti di stasiun berikutnya setelah melihat isyarat bendera, dua pria melemparnya ke gerbong barang. “Aku disuruh bosku mengantarnya ke San Fransisco.”

Berikutnya Buck beberapa kali berpindah kereta dan tangan, dalam transaksi jual beli anjing hingga akhirnya ia melihat salju untuk pertama kalinya di pantai Dyea. Bersama anjing lain, Curly, Spitz, Dave, Billiee dan Joe serta anjing besar pemimpin kereta salju Sol-leks. Mereka di bawah bos Francois dan Perrault. Di tempat itulah ia mengenal hukum pemukul dan taring. Curly yang tak siap adaptasi, tewas dalam sekejap membuat Buck tersadar ia kini di dunia yang keras. Maka saat akhirnya ia mendapat tugas pertamanya menarik kereta salju dalam rombongan, ia putuskan all out bersama teman-teman barunya. Awalnya kompak, namun perseteruan muncul dengan sang pemimpin Sol-leks. Dalam sebuah puncak pemilihan tampuk pemimpin, mereka beradu dan Buck menunjukkan bahwa ia memang perkasa.

Selanjutnya ia berpindah tangan lagi, kedua bos pertama yang sebenarnya baik terpaksa melepas Buck karena butuh uang. Bos baru Buck sangar buruk, memperlakukan binatang tanpa kasih sayang. Menggunakan lecutan cambuk sebagai instruksi dan revolver sebagai ancaman. Benar-benar penyiksaan. Hari-hari kelam itu suatu hari berakhir berkat seorang pria yang menyelamatkannya. Pria bernama John Thornton memberinya kebebasan setelah sebuah kecelakaan tragis terjadi.

Sang majikan baru menumbuhkan harapan besar, ia menemukan cinta laiknya pemilik pertama sang Hakim Miller. Pria itu menyelamatkan hidupnya, dan yang paling berarti ia adalah tuan yang ideal. Orang-orang memperhatikan kesejahteraan anjing-anjing mereka sebagai suatu kewajiban dan berdasarkan manfaat finansialnya. John Thornton memperlakukan anjing bak anak-anaknya sendiri. Karena itu memang sifatnya, ia tak pernah lupa memberikan sapaan lembut dan ucapan penyemangat dan ia suka mengobrol panjang lebar (obrolan ngalur-ngidul). Ia punya cara khusus untuk memegang kepala Buck dengan dua tangan, lalu menyandarkan kepalanya sendiri ke tubuh Buck, ia suka mengguncang-guncangkan tubuh Buck seraya memanggilnya dengan nama-nama buruk yang di telinga Buck seperti ucapan sayang. Tak ada yang lebih membuat bahagia Buck selain dekapan kasar dan gumaman umpatan tuannya setiap tubuhnya dipeluk yang membuat jantungnya nyaris meloncat. Kasih sayang ini dibalas Buck dengan setia menjaga John. Beberapa kali membalas cinta tuannya dengan menyelamatkannya dari bahaya. Tapi sampai kapan? Jack London lalu merangkai tragedi, kisah ini menemui titik ngeri menjelang akhir saat suku Yeehats dilibatkan. Apa yang terjadi?

Ini adalah salah satu buku tentang binatang terbaik yang pernah saya baca. Tahun lalu saya membaca kisah The Incredible Journey karya Sheila Burnford yang bercerita perjalanan sekelompok binatang dalam petualangan di alam liar. Yapi ini, tingkatannya jauh lebih tinggi, kalau The Incredible lebih kepada perjuangan bertahan hidup atas inisiatif binatangnya sendiri yang memulai, The Wild lebih kepada keadaan yang memaksa Buck beradaptasi ke alam liar. Dipaksa ikuti intuisi atau mati. Keduanya sangat bagus, tapi Wild memang luar biasa. Menempatkan sang protagonis pada situasi sulit, perjuangan hidup-mati di dinginnya kutub Utara sampai eksekusi ending yang luar biasa. Walau nasib akhirnya tertebak, ya saya menebaknya seperti itu tapi keputusan untuk mematikan tokoh penting (saya tak membocorkan siapa ya!) lebih masuk akal dan sangat amat bisa diterima ketimbang happy ending. Saya ikut terhanyut sedih atas final battle yang menyeret suku asli, Ya memang buku bagus adalah buku yang berhasil mengaduk emosi pembaca.

Terakhir, saya mengucapkan terima kasih pada Gramedia yang akhirnya menterjemahkan buku klasik dengan bagus, ayoo yang lain-lain buku-buku klasik kejar. Cetakan bagus, kertas hvs dengan kover keren. Beberapa ditemukan typo, tapi tak mengurangi kenikmatan secara keseluruhan. Sangat layak masuk koleksi, dipajang di rak perpus keluarga berjajar dengan buku hebat lain. 

“Oh Tuhan, seandainya kau bisa bicara!” Sebuah ekspresi cinta John Thornton kepada Buck. Buku wajib baca bagi pecinta binatang. Lima bintang!

Panggilan Alam Liar| by Jack London | diterjemahkan dari The Call Of The Wild | GM 616189006 | alih bahasa Eko Indriantanto | editor Tanti Lesmana | desain sampul Eduard Iwan Mangopang | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-602-03-3291-8 | 160 hlm; 20 cm | Skor: 5/5

Ruang HRGA CIf – Karawang, 280717 – Sherina Munaf – Jagoan​

Does My Bum Look Big In This? – Arabella Weir

“Aku orang yang sangat berharga dan punya banyak kelebihan.”
Chicklit, being single and happy. Ah lama sekali saya tak baca teenlit atau chicklit – chick literature (bacaan cewek). Dulu pernah baca dua atau tiga novel tapi memang kurang berkesan. Untuk seri ini adalah buku tukar pinjam, kurasa saya tak setuju, single-happy. Kenapa? Karena terlihat jelas sang tokoh utama tak bahagia. Wanita gendut, usia matang 30an, single, dan betapa tersiksanya melawan berat badan dan mencari jodoh. Isinya mayoritas keluhan. Di Inggris, yah tak jauh beda sama di sini. Bagaimana orang tua mengkhawatirkan masa depan anaknya yang tak segera nikah. Bagaimana seluk beluk sang wanita karir ini menghadapi hari esok. Disajikan dalam bentuk diary, kita akan tahu segala apa yang ada di pikiran, apa yang membuatnya was-was.

Buku ini laiknya sebuah tulisan blog pribadi, seakan curhatan bebas. Dari pembukanya sudah terlihat sangat narsis, si Penulis Jacqueline M. Pane – dipanggil Jack atau lebih suka Jackie atau Jacqueline. Karena ini buku terjemahan maka tentu saja bukan orang Batak dengan marga Pane, tapi orang British yang manggilnya mister atau miss. Jack seorang lajang berusia 33 tahun yang bertekad kurus. Kisahnya dimulai di bulan Januari dan akan berlangsung selama setahun penuh. Dia baru saja ditinggal pergi pacarnya si Perfect Peter yang merantau ke New York. Pergi tanpa kejelasan. Nantinya ia menjuluki sang mantan dengan Bajingan Pembohong, karena suatu ketika Peter mudik ke Inggris mengajak bertemu dan dengan bodohnya terjerat lalu mencampakkannya lagi dan tak lama berselang menikah dengan orang lain.

Sebagai Koordinator Senior bagian konferensi di Perusahaan Pellet Corporation, perusahaan perangkat dan pemasok komputer terbesar di Inggris (Skotlandia termasuk tidak ya? Ah tak jadi masalah). Keseharian berangkat-pulang kerja dari flatnya yang kecil naik bus. Dia mungkin merasa tak terlalu guna di kantor, tapi ternyata suatu ketika saat ia tak masuk ada telpon dari bos Bowyer berujar, “Pekerjaan tak bisa jalan tanpamu, Jacqueline. Kau satu-satunya yang bisa menangani klien-klien besar dan kehadiranmu sangat penting di kantor.” Oh ya, benar penting yang membangkitkan tawa orang-orang yang melihat betapa gendutnya, atau penting karena akan membuat orang lain tampak lebih baik saking jeleknya dirinya. Nah, pikiran negatif kan, kalau orang bahagia tak begitu. Harusnya tagline buku ini ‘being single and sad’.

Di kantor ada karyawan baru bagian marketing, Andi si keren. Jack memanggilnya ANKE – Andy Keren. Seorang yang menangani account Pozzi. Si gendut naksir habis, di depannya salting berusaha tampil seanggun mungkin. Berteman dengan si Ceking Clare, bagian penjualan. Yang awalnya bikin bête karena dekat Andy, ternyata ia sudah tunangan, yang membuatnya lega. Ah kisah remaja sekali ya, pesaing perebut cowok sudah punya pacar dan gitu doang lega. Masalahnya yang penutur bukan remaja lagi, jadinya terdengar gmana gitu, mual.

Untuk mengatasi berat badan, Jack mengikuti kelas gym yang sudah tiga tahun tak tampak perubahan. Ia bahkan ke psikiater, yang anehnya psikolognya jauh lebih gendut darinya. Yang membuatnya tertawa tertahan, gagal. Pola makan sudah coba dijaga, tapi tetap saja saat lepas landas ia menghantam segala makan ketika kalap. Pengen ketawa rasanya saat tiap pulang kerja bisa sukses tanpa mampir ke McD yang dilewati. Ikut kelas Percaya Diri, walau voucher gratis dari ibunya tapi tetap saja tak signifikan. Segala upaya dan daya dikerahkan untuk membentuk tubuh ideal, dan kita tahu pasti gagal. Orang tua Jack bercerai enam tahun lalu, kini ia memiliki saudara tiri dan ayah tiri dari ibunya yang menikah lagi. Ibunya cerewet sekali. Setiap berkunjung akhir pekan, pertanyaan wajib selalu muncul, ‘kapan nikah?’ membuatnya muram.

Sahabat sejatinya bernama Sally yang bertunangan dengan si ganteng Dan, tempat curhat dan keluh kesah. Maka saat Andy mengajaknya makan malam di hari Valentine, ia meminta saran kepadanya. Dengan persiapan beberapa hari sebelum hari H, Jack mencoba tampil sebaik mungkin. Sayangnya, malam itu berjalan kacau. Sangat kacau. Sebelum acara makan malam yang dirancang romantis, ia malah menghabiskan berbotol-botol wine, tiga vodka dan tonik yang membuatnya teler. Sisa malam itu tak tahu, karena paginya ia sudah terbaring di kamar. Memalukan bukan? Tanda tanya, apakah andy yang membawanya pulang? Berarti Andy pula yang mengganti bajunya, tapi tak ada seks, yang membuat Jack berfikir berarti Andy ‘cowok baik’. Benarkah?

Suatu hari ia mendapat kesempatan wawancara di sebuah majalah wanita, majalah karir yang saat itu bertema ‘gendut bukan masalah’. Ada tiga narasumber, yang pertama si Jack, kedua pramugari dan yang ketiga seorang manajer toko pakaian. Sang wartawan majalah Spare Tyre, Rachel Lowe mewawancari mereka. Terasa biasa, tapi ternyata ketika terbit artikelnya luar biasa. Efeknya ternyata banyak, pembacanya luas sehingga setelah muncul di majalah ia mendapat tawaran lain untuk sebuah acara yang lebih besar!

Waa.. rasanya masa depan karir Jackie terlihat cerah. Namun tak semulus yang dikira, ayahnya suatu ketika mengumumkan bahwa ibu tirinya yang sudah berusia 45 tahun akan memiliki momongan. Kabar baik itu berat sekali disampaikan kepada ibu. Lalu Andy, cowok yang paling diidamkannya pernah diputusnya karena galau. Diperparah Andy pindah tugas ke luar kota, makin jauh. Jodohnya makin tak tentu. Tapi yah, akhir manis ditulis. Sebuah mimpi yang jadi realita. Apakah itu?

Seharusnya buku ini dilabeli 18+, karena beberapa bagian menampilkan cerita seks bebas. Kebiasaan Barat yang dengan gamblang diceritakan. Lebih bijaknya sih bagian itu bisa kena skip saat alih bahasa, kenapa? Jelas, andai dibaca remaja atau wanita ¼ abad apa yang ada di pikiran Jack tak semua patut diserap.

Bagusnya, buku ini semakin mendekati akhir kisah semakin seru. Lucu, kata endorn sampil belakang awalnya kukira bohong. Tapi ternyata Weir dengan jeli menaruh joke yang pas. Seperti saat Jack akan naik pesawat yang ketika diperiksa berat badan, dengan membawa tas berisi pasir dan batu! Lalu bagian artikel majalah yang mengklaim ‘Jack paling kurus’ itu mungkin sederhana tapi berefek signifikan. Kombinasi lucu dan kasihan. Bagian-bagian itulah penyelamat skor akhir. Yang pasti kalau diminta beli buku chicklit, saya bilang NO. Kalau dipinjami bolehlah, tak ada ruginya baca gratis. Ini bukan akhir-kan?

“Aku minta maaf atas kelakuanku kemarin, waktu itu aku sedang terserang emboli.”

Well, ada yang tahu apa itu emboli? Weir menjelaskan dengan singkat dan lucux!

Besar Itu Indah | by Arabella Weir | diterjemahkan dari Does My Bum Look Big In This? | copyright 1997 | first published in Great Britain by Hodder & Stoughton | alih bahasa Monika Edita Indriani | GM 402 03.021 | sampul oleh eM Te | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan keempat, November 2004 | 272 hlm; 18 cm | ISBN 979-22-0436-9 | Skor: 3/5

Karawang, 240717 – Sherina Munaf – Semoga Kau Datang

Thx: Melly Potter

War For The Planet Of The Apes: Sad End To a Trilogy

Apes. Together. Setrooooong.

Caesar: I did not start this war. I offered you peace. I showed you mercy, but now you’re here. To finish us off for good.

Akhir yang buruk untuk the trilogy reboot Apes. Rise begitu mempesona sehingga saya kasih nilai sempurna, Dawn ada penurunan tapi perang dan special efeknya sangat bagus jadi masih sangat layak dinikmati. War benar-benar terjun bebas. Tak ada sesuatu yang luar biasa di sini. Perang? Perang apa? Plot? Aduh, berantakan. Villain utama sang Kolonel kelihatan sangar doang, saat akhirnya head-to-head malah memble. Bahkan motif yang disodorkan tak kuat, drama yang datar. Anti-klimak. Yaah, apes deh nonton di hari pertama nonton Apes.

Selasa kemarin saya sudah antisipasi nonton jauh hari, acara lari sore yang harusnya Rabu kita majukan di Selasa, dari jadwal di web CGV Festive Walk tertera 19:00 masih kekejar. Awalnya berencana nonton berdua sama Ghofur, rekan kerja dari Accounting tapi muncul satu nama lagi untuk join Sekar Ayu. Di saat kita lari, Sekar ke bioskop cari tiket, karena ini hari pertama tayang takut kehabisan. Faktanya banyak tempat duduk kosong, antusiasme manusia kera kalah sama manusia laba-laba yang kini sudah 3 pekan dan masih bertahan. Aneh sekali, bahkan telak dari film lokal Mars Meets Venus!

Dengan sebotol TeaFresh rasa Maskissa kesukaan di setiap tangan, kita arungi babak final perseteruan manusia lawan kera. Pembuka film menampilkan catatan dari dua film sebelumnya. 15 tahun sejak virus ALZ-113 – Simian Flu menyebar dan membunuh banyak manusia muncullah kera dengan intelegensi tinggi, Caesar (Andy Serkis), lalu saat kawanan kera membentuk komunitas terpisah dengan manusia malah terjadi seteru internal yang dipimpin pemberontak Koba (Toby Kebbell). Uniknya tulisan pengantar kisah ini kata ‘Rise’ dan ‘Dawn’ dicetak tebal warna merah darah, lalu disusul kata ‘War’. Sangat menarik.

Klan monyet sembunyi di hutan Muir Woods, manusia mencoba membumihanguskan. Pasukan Alpha-Omega mengusiknya. Variasi tulisan di helm justru memberi trivia seru. Pembuka film sesuai ekspektasi, sangat menjanjikan. Rentetan peluru, teriakan pasukan di antara letusan bom bak sebuah Perang Dunia Kedua. Ditunjang sound menggelegar dan visual jernih di mana tembakan sebuah peluru memberi lintas sinar ngeri. Ternyata klan monyet jauh lebih siap, karena serangan itu bisa digagalkan. 63 manusia tewas dalam misi, tiga ditangkap hidup-hidup bersama seekor monyet pembelot Red (Ty Olsson). Caesar tak membunuh tahanan, justru memberi ampun kebebasan. Memberi mereka pesan perdamaian, untuk gencatan senjata dan hidup bersisian. Sayang, Red kabur setelah mengalahkan Winter (Aleks Paunovic). Tak lama, anak Caesar Blue Eyes (Max Llyid-Jones) kembali, pulang dibebaskan lalu bertemu dengan Lake (Sara Canning). Keluarga monyet yang kini tampak sempurna bisa berkumpul lagi dengan pasangan Caesar, Cornelia dan Putra bungsu Cornelius. Malam itu Caesar memutuskan rencana klan ini harus pergi membentuk koloni baru yang jauh dari manusia, lebih aman. Dan muncullah tagline yang sudah wara-wiri sepanjang tahun 2017: Apes. Together. Strong.

Sayang malam itu damai yang diharap lenyap, tragedi dicipta. Pasukan Alpha-Omega yang dipimpin oleh Kolonel McCullough (Woody Harrelson) melakukan penyerbuan saat para monyet tidur. Serangan instan lewat air terjun dengan tali yang menjuntai itu membuat layar tangis, sang kolonel berhasil membunuh Cornelia dan Blue Eyes, lalu kabur. Dalam adegan dramatis dan tatapan bengis Caesar coba mengejar. Gagal. Kematian anggota keluarga itu membara kepala Caesar. Esoknya saat koloni bersiap untuk migrasi ke tempat baru, Caesar mengambil jalan berlawanan. Balas dendam! Suatu sifat antagonis milik Koba, dan yah Caesar memahami kini ia mirip mantan team-matenya. Ada dendam yang harus dituntaskan.

Saat Caesar menunggang kuda berpanggul senjata sendirian, tiga rekannya mengikuti. Mereka siap berkorban menemani. Orangutan bijak Maurice (Karin Konoval), Rocket (Terry Notary) dan gorilla Luca (Micahel Adamthwaite). Tentu saja awalnya menolak, tapi mereka memaksa. Perjalanan pun dimulai. Pertama mereka menemukan kamp militer yang terbengkelai, muncul tentara, sikat! Di dalam bangunan tersebut ada seorang gadis kecil tanpa identitas yang ketika ditanya tak bisa bicara. Maurice memutuskan membawanya, ketimbang ditinggal tak terurus mati. Nantinya gadis itu diberi nama Nova (Amiah Miller) karena suatu survenir besi bertulis ‘Nova’. Menarik fakta bahwa nama Nova sudah pernah dipakai di versi original yang diperankan oleh Linda Harrison. Berikutnya saat sedang memantau di ujung tiang listrik, kuda mereka dicuri mahkluk bertudung. Pengejaran itu menuju sebuah bangunan tua tak berpenguni. Terdesak, sang mahkluk melempar senjata tanda menyerah. Ternyata seekor monyet. Bad Ape (Steve Zahn). Kocak sekali monyet ini, scene stealer. Dengan memakai sweeter trendy ia ikut dalam misi. Dari penuturan Bad, kita tahu pasukan manusia sedang bersatu menunggu di perbatasan California di mana akan ada kamp karantina. Bantuan menuju utara untuk bergabung dengan Alpha-Omega, mereka siap melawan pasukan kera.

Berikutnya mereka menemukan tiga manusia sekarat, ditembak oleh pasukannya sendiri. Saat ditanya, tentara itu tak bisa menjawab. Hanya menggunakan isyarat. Dari sinilah kita mulai diajak menebak, ada apa gerangan? Manusia mulai tak bisa ngomong? Virus itu membuat monyet menjadi cerdas? Perang besar sepertinya ada di depan.

Naas, saat akhirnya kamp di mana kolonel tinggal ditemukan. Ada pasukan yang mengetahui pengintaian, pertarungan itu membuat salah satu jagoan kita tewas. Sedih sekali. Maurice sekali lagi menawarkan kepada Caesar, untuk mundur bergabung dengan rombongan klan mumpung belum terlambat. Namun ia menolak, sejengkal lagi harus maju terus! Benar, kini sifat Koba sudah merasukinya. Di kamp ada sedikit kejutan karena sudah menunggu kawanan kera melakukan kerja paksa dan Caesar terperangkap. “Wellington and Napoleon, Grant and Lee, Custer and Sitting Bull”. Ditambah lagi, kera-kera penghianat ‘Donkey’ lah pengawas kerja paksa itu. Waktu menipis, sebelum pasukan bantuan masuk Caesar dalam posisi tertahan harus menuntaskan dendam. Dan perang yang dimaksud (walau tak seperti yang kumaksud) pun pecah, siapa unggul?

Untuk sebuah film dengan judul ‘Perang’ apa yang ditampilkan tak seperti perang yang diharapkan. Hanya sekumpulan kera versus sepasukan manusia. Tak sesuai harapan. Jelas ini penurunan dari dua seri yang memukau. Untuk drama juga tak bagus, terlalu lemah. Saya sempat terkantuk-kantuk saat Caesar dkk dalam misi penyelamatan. 

Untuk teknologi berkali-kali Sekar bilang capture wajah Caesar luar biasa, mirip sekali manusia. Tapi karena kita sudah menyaksikannya teknologi mo-cap dalam topeng Smeagol dan dua seri sebelumnya, ini hanya pengulangan. Dua karakter yang menarik perhatian, jelas pemeran Nova. Cantik natural, sayangnya peran tak berkembang. Mungkin maksudnya bergabungnya Nova memberi arti perbedaan adalah suatu yang biasa, dia beberapa kali membantu namun tetap saja monoton. Karakter tanpa dialog? Tunggu dulu, ada dua tiga patah kata akhirnya muncul namun terlambat. Karakter satu lagi yang saru adalah si Bad Ape, lucu sekaligus konyol. Acungan jempol, senyum ceria, kekhawatiran serta tuturan nasehat bak kakek-kakek pikun. Salah satu yang bikin geram, teropong terbalik! Ah sayang si Bad Ape secara keseluruhan gagal menolong keseriusan Caesar.

Di tanki kamp kalau kalian jeli akan menemukan sebuah grafiti bertulis, ‘Ape-ocalypse Now’ sebuah tribut untuk film perang legendaris Apocalypse Now dimana karakter kolonel mengikuti seramnya kolonel Kurtz. Lalu tulisan ‘We are the beginning and the end’ yang berarti sesuai alfabet Yunani di mana Alpha adalah huruf pertama dan Omega seri terakhir. Ekspresi klasik ‘if someone stands between the beginning and the end then it includes everything.’

Seperti biasa, saya selalu menikmati credit title. Kali ini ditemani, fakta bahwa film ini melibatkan lebih dari 15,000 orang sungguh luar biasa. Paling banyak jelas dialokasikan ke spesial efek, di mana dalam tulisan berjalan bahkan dipecah landscape lima baris! Wow, untuk sebuah film tentu saja fantastis. Film diproduksi di beberapa negara dan salah satunya tentu saja Selandia Baru, tempat fantasi berujung. Saoundtracknya hanya diberi tiga judul, distribusi jelas ke Sony Klasik. Mungkin bagi sebagian orang ini info sederhana tak penting, tapi bagiku sebuah magnet penghormatan bagi orang-orang di balik layar.

Well, kabar film akan dibuat lagi seri empat sudah tak membuatku antusias. Ending bahagia yang berakhir buruk ini kurasa cukup. 

This is the complete let down. Enough!

War For The Planet Of The Apes | Year 2017 | Directed by Matt Reeves | Screenplay Mark Bomback, Matt Reeves | Cast Andy Serkis, Woody Harrelson, Steve Zahn, Karil Konoval, Amiah Miller, Terry Notary, Micahel Adamthwaite, Toby Kebbell, Sara Canning | Skor: 2,5/5

Ruang HRGA CIF – Karawang, 260717 – Sherina Munaf – Singing Pixie

Terima kasih buat Sekar Ayu dan Abdul Ghofur (duo akuntan keren) yang menemani nonton di tengah pekan. Berikut penilaian singkat mereka:

Ghofur: “Kalau menurut aku sih konfliknya kurang wow gitu ya, kemudian eerrggg… alurnya terlalu sederhana dan boring-lah, tak seperti yang sebelumnya. Apalagi yang kedua itu bagus banget. Rate? Lima! Lima per sepuluh? Hhmmn.. enam deh. Enam per sepuluh. Kalau diurutkan dari yang terbaik: yang paling kusuka seri Dua, lalu Satu dan yang terakhir Tiga.”

Sekar: “Bagus. Visualisasinya bagus, Cuma ceritanya terlalu apa ya, terlalu biasa ajah. Menurut aku kerenan Baywatch! Haha. Saya belum nonton yang satu-dua, tapi ceritanya sudah dapat. Yang ketiga cerita biasa saja, mungkin karena jalan cerita, apa ya molor (durasinya) gitu ya. Nilainya enam deh.”​

Spider-Man: Homecoming – Laba-Laba Hura-Hura

Adrian Toomes: You need to understand, I will do anything to protect my family. I know you know what I’m talking about.
Yeah, jarang-jarang saya menonton film se-update ini. Hari pertama rilis menyempatkan diri ke CGV Blitz Festive Walk Karawang. May ga mau ikut, cuma ingin dibeliin copcorn. Walhasil setelah mampir ke Gramedia dengan 3 buku baru, Magrib yang mepet saya berhasil menyusup dalam keramaian bioskop tengah pekan. Dapat kursi bagian depan ketiga. Penuh euy, hebat antusiasme menyambut manusia laba-laba. So here we go, spiderwebb!

Sebelum film rilis saya sudah menutup mata dan telinga, sedikit sekali info yang masuk. Dan tentu saja saat beberapa easter eggs muncul, daya kejutnya berasa gmana gitu. Kisahnya nyambung sama dunia Marvel yang lain. Dari pembuka kita disuguhi akhir film The Avengers pertama yang berbagai alien meluluhkan kota New York berkat undangan si evil Tom Hiddleston. Bangkai pesawat alien itu dibereskan kontraktor nyentrik Adrian Toomes (Michael Keaton) dkk. Ada banyak benda-benda berdaya sumber tinggi yang akan membuat Madura kegirangan. Rongsok itu punya daya jual bagus. Tapi dalam prosesnya mereka dihentikan oleh pihak berwajib, proyek itu diambil alih. Adrian ynag sudah menginvestasikan uang untuk program ini kecewa. Perintah untuk menyerahkan segalanya tak digubris, beberapa benda yang sudah diangkut lalu diotak-atik yang ternyata jadi benda hebat sebagai senjata. “Business is good.”

Lalu film resmi dibuka. Tanpa judul sama sekali. Memperlihatkan para jagoan Marvel seolah membuka lembar-lembar komik, opening song-nya khas Spidey. Itu tuh lagu yang pernah dinyanyikan nenek-nenek di Spider-Man 2 ketika Spidey menghilang. Lagu klasik Spider-man versi orchestra yang pertama rilis tahun 1967 oleh Paul Francis Webber dan Robert ‘Bob’ Harris. Sebuah tribute yang baik. Delapan tahun berselang, kita disambungkan dengan klimak to the maxx Civil War di Berlin. Di bandara yang riuh penuh aksi gila itu kita diajak melihat dari sudut pandang Spidey karena pembuka film berujar ‘a Film by Peter Parker’. Seusai perang riuh itu, Peter Parker (Tom Holland) kembali ke rutinitas. Seorang anak SMU yang memcoba menyembunyikan alter-ego. Peter yang ingin diakui member Avengers, kontaknya ke Tony hanya lewat asisten Happy Hogan (diperankan sangat unik dengan facelessnya Jon Favreau).

Seperti Parker versi lainnya, kali ini tetap nerd dan humoris. Suka main lego Death Star, bareng konco kentalnya Ned (diperankan dengan sangat lucu oleh Jacob Batalon) sekaligus jadi sidekick-nya. Sedari awal kita sudah disuguhi identitas Spidey bocor sama Ned, jadi sepanjang film di film ada teman sekolah yang tahu siapa manusia laba-laba. Ketika pulang, masuk lewat jendela, menutup pintu dan melepas kostum. Ned ternyata ada di dalam kamar Peter. Waaa… selanjutnya ya mereka saling mengisi. Saking banyaknya kata, ‘awesome, cool, wow’ yang diucapkan Ned seakan mewakili fan seandainya sang idola berada dalam kehidupan sekitar. Yup, kalau kalian berteman dengan pahlawan super tentu ekspresinya akan seperti Ned, ‘kan?

Aksi pertama muncul saat di sebuah pojok gedung di ruang mesin ATM terjadi pembobolan. Ada tulisan ‘Bagley’ di dinding dalam bentuk pilox-an. Sebuah penghormatan untuk Mark Bagley. Empat penjahat yang mengenakan topeng anggota Avengers membobol mesin dengan senjata canggih. Di mana lasernya bisa menembus benda padat. Aksi itu memporakporandakan bangunan sekitar, termasuk toko roti langganan Peter. Dalam sebuah acara pesta remaja di rumah Liz (Laura Harrier) yang ditaksir Peter, awalnya Spidey akan muncul di tengah hingar bingar musik yang dimainkan si tukang bully Flash (Tony Revolori), saat sang laba-laba bersiap show-off malah melihat sebuah tembakan cahaya di tengah kota. Seakan ingin memberi bukti pada Tuan Stark (Robert Downey Jr), ia ke TKP. Di sana ada transaksi jual-beli senjata ilegal. Hajar sana-sini. Keributan itu membuat bos Toomes marah. Delapan tahun tak pernah bermasalah, kini muncul bocah ingusan yang coba mengacaukan bisnisnya. Dan Toomes itu adalah sang manusia burung, Birdman aka Vulture. Pertarungan seru disajikan. Mendesak Peter dalam gudang, terpenjara sampai esok. Adegan lucu saat Spider-man ada di tengah perumahan, taka da gedung tinggi yang memaksanya berlari. Ya iyalah, jaringnya tak bisa digunakan di antara rumah warga. Lucux sekali melihatnya berlari kesal.

Sajian paling heboh ditampilkan di monument Washington. Inilah bagian terbaik Homecoming. Sebuah benda akan meledak di puncak, membawa rekan-rekan sekolahnya yang baru saja memenangkan kompetisi cerdas-cermat. Spidey dikejar waktu untuk mencegah. Melalui dinding monument, merangkak dengan gaya, masuk lewat jendela dalam serangan pesawat penjaga. Peter dengan dramatis melempar jaringnya tepat saat elevator turun, menyelamatkan Liz. Wuuih, deg-degan juga karena mengingatkanku pada nasib Emma Stones.

Bersama Karen (Jennifer Connelly) si pemandu personalnya, Spidey terus mengejar penjahat dan coba menguak jati diri Vulture. Sementara di kehidupan asli, si Peter tetap siswa aneh. Maka saat acara homecoming (ternyata ini semacam acara reuni) aneh sekali Liz mau diajaknya jalan. Kejutan menarik muncul ketika ia datang menjemput ke rumah Liz, wow. Pasti penonton ikut terhenyak. Setelahnya ketegangan terus dijaga, sampai di akhir, eh ralat maksudnya menjelang akhir. Misi utama penjahat adalah membajak pesawat yang membawa benda-benda canggih milik Stark. Perpindahan gedung Stark industries itu coba digagalkan Vulture dkk. Berhasilkah Spidey menghantam sang villain?

Jennifer Connelly menyumbang suara dalam diri Karen, mengikuti suaminya Paul Bettany sebagai Jarvis. Suara seksinya akan menemani Spidey laiknya Jarvis memandu Iron-Man. Ada dua kejutan saru dalam film ini, pertama identitas ayah Liz dan siapa karakter MJ yang disimpan terus sampai akhirnya dibuka sesaat di akhir. Jelas ini akan jadi semakin menarik bagaimana cinta Peter akhirnya berlabuh. Nantikan Homecoming 2 yang rencana rilis Mei 2019. Sayangnya akhir film anti-klimak. Setelah hancur-hancuran di museum dan penyelamatan di kapal seharusnya saat pertarungan di pesawat bisa lebih memukau. Apes sekali, justru terjun bebas. Gagal mempertahankan tempo. 

Pemilihan Michael Keaton menjadi Birdman juga unik. Menyambungkan film Oscar Birdman yang juga dibintanginya, ataukan menyindir Batman yang lampau? Lalu permainan Jon Favreau yang muncul mengesalkan selalu sebagai asisten Iron-Man sukses bikin ngakak. Sutradara favorit ini pas banget jadi orang yang merasa terganggu sama bocah tengil, tahun depan ditunggu sekuel The Jungle Book. Ayoo hebohkan Jon!

Untuk sebuah franchise besar Marvel, Homecoming adalah film hura-hura. Dibanding dua Spidey sebelumnya, jelas kalah. Original Tobey tetap yang terbaik. Trilogy itu rasanya akan sulit digoyahkan karena memang menakjubkan. Reboot versi Andrew Garfield sebenarnya sangat bagus, sayang saja beberapa pengulangan sehingga seakan mengambil template. Dan anehnya ending Amazing 2 yang hebat itu tak dilanjutkan. Dan kini, setelah menggoyang Civil Wars, Spidey tampil sendiri. Ini murni film khas remaja. Tak ada air mata, sama sekali tak ada scene menyentuh hati. Tak ada cinta-cintaan, kisahnya menggejar Liz juga hambar. Kecuali ending identitas MJ, plot cinta remaja di Homecoming benar-benar tak kuat. Bahkan trailer Peter mencium Liz di film dihilangkan. 

Homecoming juga menampilkan Spidey dengan teknologi mewah dimana semua gadget canggih dikedepankan. Jaringnya modifikasi Stark industry, ga harus digigit laba-laba untuk bisa melontarkan jaring. Ada mode bom, mode interogasi sampai mode kekuatan perekat. Kostumnya bisa menggembung lalu mengetat menyesuaikan tubuh. Apakah semakin canggih semakin bagus? Ah tidak juga, Spidey terlanjur melekat sebagai pahlawan kere, jadi dipadu peralatan canggih membuat kita berkerut dahi. 

Spoiler – Spoiler – Spoiler

Khas Marvel movie setelah selesai film kita ditawari scene after credit. Saya menikmati semua tulisan berjalan itu. Untuk Homecoming ada dua, yang pertama adalah kode untuk kemunculan master villain Sinister Six di mana Adrian Toomes ngegoliam ditunggu seseorang. Kode bakalan muncul Mysterio dan atau Kraven? Yang kedua banyak yang bilang, fak scene di mana Captain America bilang sabar adalah kunci. Sabar menunggu apa? “probably a war criminal now”. Bah! Jelas criminal kau Kapten, bikin kita misuh-misuh. Aggghh.., silakan dinikmati.

Saya tak mau komentar tentang Marisa Tomei. Jangankan kita,  pelayan restoran freak aja terkesan. Cukup May!

Spider-Man: Homecoming | Year 2017 | Director by Jon Watts | Screenplay Jonathan Goldstein, John Francis Daley, Jon Watts, Christopher Ford, Chris McKenna, Erik Sommers | Cast Tom Holland, Michael Keaton, Robert Downey Jr., Marisa Tomei, Jon Favreau, Gwyneth Paltrow, Zendaya, Donald Glover, Jacob Batalon, Laura Harrier, Jennifer Connelly, Stan Lee | Skor: 3.5/5

Ruang HRGA NICI CIF – Karawang, 060717 – Sherina Munaf – Impian Kecil


Dunkirk: A Technical Masterpiece

Komandan Bolton: Home”

Catat! Saya menjagokan skoring Dunkirk untuk best skoring Oscar 2018. Juara utama film terbaru Nolan adalah skoring yang sangat bagus. Mengintimidasi, membuat kubu cekam menjadi begitu nyata. Sepanjang film tak henti alunan nada-nada merdu Hans Zimmer memberi dukungan untuk memberi kepuasan cinema, audio visual cinema yang sesungguhnya. Rekomendasi, tonton di Atmos atau IMAX untuk memaksimalkan sektor indra. Sepanjang film iringan skor yang saya maksud bukan sekedar mayoritas menit berjalan, tapi benar-benar dari awal sampai akhir kalian akan ditemani nada film tiada dua, dari hentakan perang dalam rentetan peluru sampai scene-scene sendu tanpa dialog yang memilu, skoring akan nyala terus, TERUS! Seperti bukan film Nolan yang biasanya kuat dalam script, kali ini beliau mengandalkan visual dan audio untuk didorong ke masa depan sejauh mungkin.

Seperti biasa sebelum menonton film, apalagi sespesial Nolan, saya akan menutup mata dan telinga serapat mungkin. Sempat kena sedikit bocor, apa maksud Dunkirk dan misi yang diemban, tapi langsung saya stop dan syukurlah tak merusak keseluruhan. Setelah panas-dingin seminggu terakhir menanti Jumat bekah, eh malah dapat kabar duka #RIPChester, akhirnya sepulang kerja, lari sore (welcom to the klub RyanCP), cek jadwal minta ss di grup Bank Film, plot itu ada di jam 20:15, setelah Isya seorang diri langsung jalan kaki ke Festive Walk, Karawang. Ini Nolan bro, takut kehabisan, 40 menit sebelum kick-off saya beli tiket dan ternyata dugaanku meleset jauh sekali karena tak seramai yang kukira. Banyak kursi kosong, tinggal tunjuk kursi manapun bisa. Aneh sekali, This is Nolan lho. Bahkan kalah sama ramainya hari pertama Spidey yang terpaksa saya dapat kursi ketiga dari depan. Kepastian tiket, menanti setengah jam saya alokasikan untuk cuci mata di toko buku Kharisma, KCP. Dapat novel Gabriel Garcia Marquez: The Chronicle of a Death Foretold.

Dengan sebotol air teh dingin saya siap mengarungi perang. Setelah logo Warner Bros Film muncul, disusul RatPac-Dune dan Syncopy. Tulisan judul tercetak putih di atas hitam, sederhana. Kisah dimulai dengan sebuah catatan, di Dunkirk di Perang Dunia II pasukan sekutu, terutama Perancis dan Inggris terdesak. Serangan gencar musuh dari darat, laut dan udara membuat mereka harus mundur. Menanti keajaiban. Dari kota, kita diajak berkenalan dengan pasukan yang kocar-kacir. Mencari air, menanti bantuan. Sekelompok pasukan dalam tebaran kertas selebaran itu tiba-tiba diberondong peluru, menyisakan pemuda imut Tommy (Fionn Whitehead) yang berlari menjauh menuju pantai. 

Dengan setting waktu 26 Mei – 4 Juni 1940 di mana kekalahan Perancis dari Jerman mendesak sekutu untuk mengevakuasi pasukan. Gambaran di pantai lebih mencekam lagi. Beberapa antrian panjang, sangat panjang barisan mengular dari bibir pantai ke daratan terbentuk. Tapi tak ada kapal yang tertambat, mereka menanti. Mayat-mayat bergelimpangan, yang terluka ditandu untuk diangkut. Yang tewas dibiarkan, satu dua dikubur. Paramedis menjadi begitu sibuknya. Ada tiga catatan muncul, sebuat durasi set perang plot non linier: 1. The Mole – one week, 2. The Sea – one day, 3. The Air – one hour. Untuk menjaga kenyamanan menonton Anda, saya tak akan menjelaskan detail ini.

Di dermaga pantai Dunkirk kita diajak bertemu komandan angkatan laut Bolton (Kenneth Branagh), kekhawatiran tampak dari wajah dan gestur. Pasukan sulit masuk, bala bantuan yang minim serta serangan setiap saat mengancam merusak harapan. Di mole tersebut, disaring. Yang terluka yang bisa naik ke kapal dan prioritas untuk pasukan Inggris. Nah, jagoan kita si Tommy berstrategi untuk bisa menyelinap masuk kapal membawa seorang pasukan terluka bersama rekan dadakannya membawa tandu dengan kecepatan menakjubkan. Adegan cepat tanggap itu dibuat mendebarkan, sampai menit akhir mereka bisa mencapai kapal, tapi setelah menaruh yang terluka mereka diminta kembali. Mereka ngumpet di bawah bendungan, dan menanti tanpa kepastian. Eh tak lama berselang, kapal karam. Ada serangan udara yang meluluhlantakan, kembali mereka berlomba ke darat. Kasihan yang luka tadi, malah mendekati maut. Bagian ini sungguh mencekam. Naik ke kapal bukan berarti selesai sudah perjuangan, karena setiap saat ada serangan kapal selam Torpedo yang lagi-lagi membuat karam tumpangan. 

Sementara di dermaga seberang tampak puluhan kapal warga siap diberangkatkan, sebuah panggilan Negara. Kita diajak bertemu Tuan Dawson (Mark Rylance) dan putranya Peter (Tom Glynn-Carney). Kapal sipil yang difungsikan bantuan itu saat tambat dilepas, tiba-tiba George (Barry Keoghan) ikut naik. “Saya akan berguna, Sir.” Ok pelayaran penyelamatan dimulai. Di tengah laut, mereka menemukan sebuah pesawat jatuh dan tampak sang pilot yang harus diselamatkan. Pilot itu (diperankan dengan aneh oleh Cillian Murphy) awalnya menolak, teh disamplok, ngambek ngomong. Dan dia semakin kesal ketika tahu arah kapal, “Kalian warga sipil tak seharusnya ada dalam perang, putar arah!” Tentu Dawson bergeming. Perdebatan itu menghasilkan cek cok yang berujung pada salah satu karakter terluka. Luka parah, pendarahan dan coba dihentikan. Misi terus dilanjutkan. Nantinya mereka akan kembali menyelamatkan seorang pilot yang ditampikan dengan sangat dramatis.

Dari udara kita bersapa dengan pasukan. Ada tiga pesawat tempur Royal Air Force yang coba menghalau musuh. Tak lama satunya terjatuh, menyisakan pilot Collins (Jack Lowden) dan Farrier (Tom Hardy). Dari tiga penjuru perang inilah bagian menakjubkan film. Serangan efektif dari udara. Kepuasan visual cinema ada di sini. Karena seringnya kamera di tempatkan mengarah pesawat lawan sehingga saat saling serang tembak. Penonton diajak berguling, miringkan kepala kanan-kiri mengikuti ayunan stir pilot. Saat pesawat musuh kena tembak jatuh menuju laut. Kita bisa menikmati kepulan asap yang mengekor. Suguhan yang menawan. Bukannya tak bermasalah juga di udara, mereka harus menghitung dengan cermat sisa bahan bakar selama mengudara. Ditambah spido nya rusak, hitungan meleset akan sangat mengkhawatirkan. 

Perrasakan penonton akan ikut berkecamuk, seakan disertakan dalam ketidakpastian nasib. Serba salah mau lari ke mana saja terancam, karena setiap saat serangan torpedo datang, serangan udara yang paling mengerikan siap menjatuhkan bom, dan lari ke darat jelas mustahil. Dengan naskah sejarah, tentu saja pertanyaannya bukan seberapa banyak pasukan sekutu yang bisa diselamatkan? Tapi seberapa seru perjuangan itu ditampilkan. Dengan CV Nolan yang biasanya menantang pikiran, kali ini kita tak terlalu perlu banyak mengerutkan dahi. Seakan ini film Bay yang penuh ledakan, tapi tingkatannya dikali lima. Nah!

Ini adalah penyutradaraan yang secara teknik luar biasa. Pamer skill. Tak ada surealis, tak ada absurb penuh perdebatan, tak ada twist. Jalan baru untuk sang master WTF-moment. Karena sebelum nonton sudah digadang-gadang diminta ke IMAX, maka rasanya sangat patut dicoba. Menggunakan kombinasi kamera 15/70mm IMAX film dan Super Panavision 65mm. Di Karawang hari pertama hanya show 2D. Jadi yah, saya sih minimal tak ketinggalan. Andai ada IMAX di sini, pasti kutonton lagi. Cast-nya juga tak istimewa. Aktor besar yang muncul tak ada yang dominan. Mayoritas menggunakan sipil untuk adegan evakuasi memberi gambaran nyata. Tom Hardy yang sepanjang film hanya duduk dalam kemudi, cuma sekilas menampilkan wajahnya. Mau diperankan Tom Hanks atau Tom Holland pun tak akan jauh beda. Yang mencuri perhatian jelas, aktor muda Fionn Whitehead. Debut cinema yang membuka jalan untuk film besar lainnya. Tercatat hyanya pernah mini seri Him tahun lalu. Jelas masa depan cerah membentang.

Untuk jadi best picture Oscar mustahil. Visual efek bisa saja, tapi rasanya akan tergusur film lain. Cinematografi luar biasa, bisa jadi masuk. Tapi seperti yang saya tulis di pembuka, juaranya skoring. Kalau sekedar masuk nominasi pasti. Menang, sangat layak. 10 kali nominasi, sekali menang. Kudoakan ini akan jadi yang kedua!

Seperti biasa saya orang terakhir yang keluar bioskop sekalipun tahu tak ada scene afetr credit. Saya nikmati tulisan naik dengan damai karena memang skoringnya nyaman sekali. Tak ada kejutan apapun dalam credit, soundtrack-nya bahkan tak ada judul. Hanya pembagian tugas abak buah Zimmer. Dan film ini didedikasikan untuk orang-orang yang kena dampak kejadian Dunkirk. Sebuah persembahan sempurna film historical pertama Nolan untuk dunia.

It’s a great adventure in cinema, just go for it!

Dunkirk | Year 2017 | Directed by Christopher Nolan | Screenplay Christopher Nolan | Cast Mark Rylance, Tom Hardy, Fionn Whitehead, Damien Bonnard, Aneurin Barnard, Harry Styles, Cillian Murphy, Miranda Nolan | Skor: 4/5

Karawang, 220717 – Linkin Park – Somewhere I Belong

#RIPChester


Sapta Siaga : Menerima Tanda Jasa – Enid Blyton

Colin: “Yah – ada satu kejadian aneh! Kita bisa saja menyelidiki siapa yang mengerek kursi Kepala Sekolah kita di atas tiang bendera di halaman sekolah, benar-benar gila. Ketika kami datang ke sekolah hari Rabu yang lalu, kursi itu sudah tergantung di situ!”

Buku-buku Enid Blyton berserakan di toko buku. Bersama karya Tere Liye yang bejibun, L Hubborn dari angkatan Pulp Fiction, sampai novel-novel KKPK yang daftarnya panjang. Dulu pas SD pernah baca beberapa, bersama Empat Sekawan dan kisah-kisah wajib Balai Pustaka, tapi untuk Sapta Siaga nyaris tak berbekas karena memang kurang mengena. Kisah-kisah petualangan anak-anak yang standar, kala itu. Lalu bagaimana dengan sekarang? Yah, kalau bacaan anak dibaca anak-anak saja kurang mengesankan, bagaimana bacaan anak dibaca dewasa? Drop.

Ini adalah buku Enid pertama yang saya review. Dari buku tukar pinjam dengan teman May, Melly Potter saya pinjamkan seri empat Eragon saya menyandera 4 buku. Salah satunya buku tipis ini yang kubaca kilat di jam istirahat kerja. Hasilnya? Standar sekali, apalagi saya semalam baru saja mneyelesaikan Ordeal By Innocence-nya Agatha Christie. Kisah pembunuhan kelas berat, jadi setelah berpusing ria membaca buku sederhana seakan bersepeda turun bukit. Tanpa perlu mengayuh, roda menggelinding dengan sendirinya.

Berisi 12 bab pendek-pendek, kisahnya anak-anak sekali. Laiknya sebuah kelompok anak yang mengimpikan kisah detektif. Sebuah petualangan seru bak pramuka Siaga dengan jiwa ceria. Sapta Siaga terdiri dari: Peter, Janet, Pam, Barbara, Jack, Colin, George. Di sampul belakang disertai foto close up wajah-wajahnya. Beserta anjing spinel nyentrik bernama Skippy. Dengan kode SS – The Secret Society – pas bener dicocokin terjemahan sama Sapta Siaga, kali ini kisahnya tentang pencarian lencana seorang veteran yang hilang. Karena judul terjemahannya spoiler berat, ‘menerima tanda jasa’ maka sedari pembuka saya sudah tahu, pasti lencana tanda jasa itu akan ketemu. Nah lo kalian juga kena spoiler.

Kisahnya bermula dengan masa liburan, Serikat Sapta Siaga mengadakan pertemuan di gudang keluarga Peter dan adiknya Janet. Pertemuan rutin dengan suguhan special biscuit cokelat sekaleng penuh, hadiah dari bibi Lou. Karena momen liburan, maka kata sandi ketika mereka masuk ke gudang untuk pertemuan adalah ‘liburan’. Malam itu saat semua member sudah berkumpul, Skippy menggongong ke arah Jack. Aneh sekali, seakan Skippy tak mengenal anggota SS. Saat mereka mencoba menenangkannya, terbukalah kedok. Ternyata yang masuk dalam perkumpulan adalah Susie, adiknya. Mereka punya perawakan yang mirip. Bukan anggota, tentu saja diusir. Saat di luar gudang, muncul pula bocah nakal satu lagi, Binkie yang mengguyurkan seember air. Meeting malam itu batal. Duh, Susie yang nakal.

“Aduh! Aku tidak bisa menemukan ide bagus bila disuruh. Kalau aku mendapat ide bagus datangnya selalu tiba-tiba.”

Besoknya, rundingan kembali digelar dan memutuskan dua kesepakatan. Pertama, kasus yang akan meleka pecahkan adalah hilangnya medali-medali Jenderal Branksome yang dicuri beberapa hari yang lalu. Jenderal tua yang menangis saat tahu tanda jasanya lenyap dari atas perapian. Satu lagi, mengawasi sarang burung di hutan Bramley. Rupanya akhir-akhir ini ada gerombolan anak yang merusak sarang burung yang baru menetas, serta mengambil telurnya. “Sebenarnya kedua tugas itu sama sekali tak berhubungan, tapi siapa tahu?”

Karena Colin bertetangga dengan sang jenderal dan memang dia yang menusulkan kasus ini untuk dipecahkan maka tugas mengorek informasi diserahkan padanya. Dengan cerdas Colin melempar bola masuk ke halaman rumah tetangga dan meminta izin mengambilnya dengan berharap diajak bersapa ngopi sore. Dan ternyata sang jenderal ramah, malah mengajaknya minum limun. Dari obrolan itu, ada kunci penting. Bahwa tangan sang pencuri kecil, karena masuk ke rumah dengan memecah kaca jendela dengan lubang kecil untuk melepas gerendel. 

Sementara tiga anggota lain ke hutan Bramley: Jack, Barbara dan George. Setelah berjalan tanpa tujuan, mereka melihat tiga anak laki-laki yang bersiap mengambil telur burung jalak. “Kalian tentunya tahu, kita semua diminta agar tidak mengambil telur burung dari sarangnya pada musim semi ini. Tahun lalu begitu banyak sarang yang dicuri hingga burung-burung pergi dari daerah ini…” Jack memperingatkan.

Anak lelaki yang di atas pohon melempari Jack telur yang tepat mengenai wajah. Terjadilah perkelahian, karena SS ada ceweknya dan mereka kalah dewasa, mereka meminta Barbara untuk lari sembari teriak minta tolong. Kebetulan tak jauh dari situ ada seorang lelaki yang sedang membaca buku (bah semua serba kebetulan), laki-laki yang berhasil membuat para pencuri ketakutan kabur. Kemudian mereka berkenalan. Awalnya baik sekali lelaki bernama Tom Smith ini. Seorang terpelajar yang sedang menyusun buku tentang pohon dan burung. 

Namun dari diskusi lebih lanjut dan dari pengakuan tim SS bahwa mereka dalam misi mencari medali yang hilang, Tom ternyata tahu di mana medali itu berada. Bahwa medali disimpan di lubang pohon sekitar situ, Mengajak untuk berbagi hasil imbalan, 400 Dollar untuknya, 100 Dollar untuk SS. Tentu saja penawaran ga masuk akal ini ditolak. Cek cok itu membuat mereka berseberangan.

The SS lalu mengadakan rapat lagi rindakan apa yang akan diambil berikutnya. Petunjuk bahwa medali ada di sekitar hutan tempta kejadian menyempitkan opsi. Letaknya yang di dalam lubang pohon tempat sarang burung menyempitkan opsi. Dan mereka kini tinggal menentukan waktu. Keputusan itu menghasilkan, mereka malam itu akan mengintai. Ketujuh pasukan plus Skippy akan menyebar di sekitar lokasi, menunggu Tom dan musuh. Dengan senter, syal dan baju hangat mereka menanti. Ada yang naik pohon, ada yang sembunyi di belakang semak, ada yang hanya ngumpet belakang pohon. Misi mendebarkan ini diberkahi bulan sedang purnama. Akankah berhasil ataukan menanti kesia-an? Bisakah medali itu dikembalikan kepada sang jenderal? Ataukah Skippy yang diminta diam akhirnya menggonggong?

Ini jelas buku anak yang mudah ditebak. Dibaca sambil lalu. Fiksi sederhana, tak banyak kejutan. Mempersiapkan plot jalur tol dengan hanya sedikit kerikil, bukan tanjakan apalagi benturan keras konflik. Tapi setidaknya ini karya klasik yang patut diapresiasi. Sebuah buku bisa bertahan tembus 30 tahun tentunya bukan sembarangan. Buku Enid lain? Boleh, asalkan pinjaman lagi.

“Aku kepengin bisa mengajar anjing seperti itu! Kalau aku besar nanti, aku ingin berlatih menjadi pawang anjing!”

Sapta Siaga : Menerima Tanda Jasa | by Enid Blyton | diterjemahkan dari Look Out Secret Seven | alih bahasa Agus Setiadi | GM 310 01.579 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan ketiga, Februari 2001 | 128 hlm; 18 cm | Sapta Siaga #15 | ISBN 979-655-579-4 | Skor: 2/5

Ruang HRGA CIF, Karawang, 180717 – Sherina Munaf – Demi Kamu Dan aku​

Terima kasih Melly Potter yang telah meminjamkan buku ini.