My Sweet Heart #30

My Sweet Heart #30

Huray! Akhirnya catatan ke 30 dari 30 sampai juga. Sesuai target 15 buku lokal dan 15 buku terjemahan selama bulan Juni dalam event #30HariMenulis #ReviewBuku dengan berbagai kendala dan keseruan yang menyelingkupi. Dengan segala kelelahan dan berbagai kenekadan, inilah catatan akhir itu. Tulisan di mulai tepat tanggal 1 Juni di Karawang dalam laptop Meyka dan diakhiri di Palur dalam laptop Wildan. Dipost antara perjalanan mudik dan arus balik yang macet. Ditulis dalam kekhusukan Ramadhan penuh berkah. Di sela-sela usaha tetap berlomba cari pahala. Dengan optimisme ala optimis prime, bisa tepat berakhir di akhir bulan. Sampai jumpa bulan Juni 2018.

Sekali lagi dari KKPK – Kecil Kecil Punya Karya punya ponakan Winda LI. Dibeli kemarin saat ke Gramedia Solo, saat Wildan cari buku psikotest untuk persiapan tes masuk Angkatan Laut, dibeli saat saya cari novel Jack London, The Call Of Wild. Winda membeli tiga buku KKPK. Buku setipis ini dengan kecepatan santaipun seharusnya bisa diselesaikan sekali duduk. Tapi tidak, tadi pagi saya baca di Jatipuro ketika antar ibu ke Pasar Jatipuro dapat dua bab, sisanya saya baca siang ini di Palur. Draft sudah saya siapkan untuk perjalanan arus balik esok ke kota Karawang.

Untuk sebuah buku KKPK sejauh ini My Sweet Heart adalah salah satu yang terbaik. Pantaslah masuk Gold Edition: Best Seller. Kisahnya mungkin sederhana tapi untuk buku anak-anak jelas plotnya lucu. Apalagi ending-nya yang menggantung menggemaskan. Saya sendiri tersenyum menggerutu. Kata Winda, ada buku KKPK lain yang juga menarik. Sayangnya program ini sudah berakhir hari ini. Mungkin tahun depan?

Ceritanya ya tentang keseharian sang Penulis dibumbui daya khayal anak SD – Sekolah Dasar. Tiras adalah si Salim – sok alim karena dalam keseharian sekolah mengenakan hijab. Padahal ia tomboi suka main game battle dan play station. Nah hari itu Tiras ditinggal sendirian di rumah, membaca komik Detective Conan menunggu mang Kiki tapi via telpon ia ga jadi datang. Adegan mengunci pintu dua kali klik dan adegan angkat telpon yang wajarnya biasa bisa dibuat lucu. Hebat dik! Berteman akrab dengan Sarry yang di hari pertama sekolah naik angkot, turun bersama dan berlomba lari.

Nah, kisah sesungguhnya ada di di sini. Dari Kang Ginanjar, Amira tahu ada tiga orang di dunia in berwajah mirip dengan pribadi kita. Dia berujar bahwa ia tahu ada seorang anak yang mirip dengan Tiras, via rekaman HP sedang bermain bulu tangkis. Anak itu bernama Mei Ling. Dari namanya jelas keturunan Cina. Tiras lalu diajak bertemu langsung saat turnamen bulu tangkis. Keluarga ini datang terlambat, untungnya pertandingan Mei ada di akhir jadi aman. Mereka mendukung di tribun penonton, “Ayooo Mei Ling, sikat! Smash!”

Sayangnya menjelang akhir laga, Mei cidera. Wasit memberi waktu untuk pemulihan, saat itulah Tiras kebelet pipis. Tak disangka mereka bertemu langsung, saling terkejut. Dan terbesitlah ide untuk melanjutkan pertandingan, Tiras yang maju. Kesepakatan diraih, mereka bergegas bertukar kostum. Tiras yang hanya tahu pengetahuan dasar bulu tangkis mencoba melawan. Tapi karena Mei sudah leading jauh, dan sang lawan mulai mengejar akhirnya mereka ada di skor dramatis 14-14. Dengan sistem lama di mana sang pemenang adalah yang pertama cetak skor 15, pertandingan dibuat dramatis dan yak! Betul Tiras palsu menyudahi perlawanan Erwin dengan jurus crazy ball.

Kesepakatan bertukar tempat ternyata tak sampai di sini. Mereka setuju, sampai hari Minggu mereka akan menjalani kehidupan baru. Tiras di rumah Mei bersama bunda Fu Jin Siao dalam kehidupan kelas atas yang gemerlap. Rumah bak istana, mobil Mercedez Benz dengan sopir pribadi, sekolah elite di mana ketika masuk dengan sidik jari, dan kehidupan orang kaya lain di mana koneksi internet bisa diakses setiap saat. All hail game online!

Sementara Mei hidup dalam keseharian sederhana di mana setiap hari adalah keseruan. Pulang sekolah main lumpur, membaur dengan teman-teman tanpa tekanan berlebih dari orang tua. Konflik baru muncul saat di sekolah Tiras sangat kurang dalam aljabar, sementara Mei kurang dalam pelajaran bahasa. Mei Ling sampai dapat julukan Ratu Buta Bahasa dari bu guru Esti, sementara Tiras dengan julukan salim. Penyesuaian diri itu awalnya sulit, tapi dengan segala keseruan khas anak-anak tentu saja dapat teratasi. Tapi tak sampai di sana saja, karena akan ada masalah lain yang akan menghadang mereka. Bisakah kali ini diatasi? Kisah ditutup dengan sebuah informasi dari Mang Ginanjar, sesuatu yang unik. Renang?

Sampulnya unik. Ilustrasi cantik Mei Ling. Bak sebuah gambar kartun, cantik sekali Mei yang mengacungkan dua jari ‘peace’ sementara Tiras memberi kode telunjuk di depan mulut yang berarti ‘sssttt…’ dengan kombinasi cerita bagus, ilustrasi oke jelas ini termasuk KKPK yang sukses. Ayoo Winda cari lagi buku Amira dan saya numpang baca lagi. Lho. Hehehe…

My Sweet Heart | oleh Amira Budi Mutiara | ilustrasi isi Agus Willy | ilustrasi sampul Nur Cililia | penyunting naskah Dadan Ramadhan | penyunting ilustrasi Iwan Yuswandi | design isi dan sampul tumes | pengarah design Anfevi | layout dan setting isi Tim Pracetak | Penerbat DAR! Mizan | Cetakan III, Maret 2017 | 116 hlm.; illust.; 21 cm | ISBN 978-602-420-170-8 | Skor: 3,5/5

Palur, 290617 – Pink – Just Give Me A Reason – Subuh dan diposting di Gemuh kota Kendal

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#30HariMenulis #ReviewBuku​

Iklan

Tom Little #29

Buku pertama Lafayette Ronald Hubbard yang saya baca dan review. Bukunya tipis, sebuah novela menarik tentang dunia sirkus. Buku-buku Hubbard sebenarnya sudah lama sekali lihat di toko buku. Berserakan karena memang banyak dan tipis-tipis. Tapi baru benar-benar saya beli bulan puasa lalu. Sempat kebaca pas mudik, separuh dibaca di Palur separuh dibaca di Jatipuro. Dibaca cepat untuk mengejar event #30HariMenulis. 

Buku dibuka dengan penjelasan apa itu pulp fiction? Sebelum membaca buku ini saya jelas akan jawab itu adalah judul film Quentin Tarantino. Masterpiece yang berbuah best screenplay di Oscar. Tapi ternyata ada arti yang lain. Arti sesungguhnya. Bahwa pulp fiction adalah era emas fiksi yang dicetak di kertas pulp cokelat murahan di Amerika masa tahun 1930an sampai 1940an. Masa penuh gairah dan berseminya gelombang membaca, angka baca per kapita tertinggi sepanjang sejarah Amerika. Kios-kios majalah dipenuhi publikasi berpotongan kasar, gambar sampul serampangan, harga per edisiyang murah karena dicetak di kertas pulp murahan – kesenangan yang dipegang tinggi.

Saya sendiri kalau beli buku mending yang kertas buram, ketimbang hvs cerah yang hambur uang. Ga masalah buat koleksi kertas biasa, yang utama adalah isi. Saya punya koleksi buku Friedrich Nietzsche terbitan Narasi yang mana kertasnya buram, ga masalah. Kena harganya murah, yang penting jilid kuat. Mending kualitas kertas biasa isi keren ketimbang buku kertas luk kualitas kopong dengan harga selangit.

Era pulp fiction melahirkan PenulisPenulis: H.P Lovecraft, Edgar Rice Burroughs, Robert E. Howard, Max Brand , Loius L’Amour, Elore Lenard, Dashiell Hammett, Raymond Chandler, Erle Stanley Gardner, John D. MacDonald, Ray Bradbury, Issac Asimov, Robert Heinin dan tentu saja L Ron Hubbard. 

Seperti tradisi Penulis hebat lainnya seperti Herman Melville, Mark Twain, Jack London dan Ernest Hemingway, Ron benar-benar menjalani petualangan yang dikagumi karakter-karakternya sendiri. Entah sebagai etnologis di tengah suku-suku prmitif, sebagai insinyur, maupun sebagai kapten kapal yang menyeberangi samudera. Bahkan Ron menulis satu seri artikel untuk Argosy berjudul ‘Hell Job’ untuk itu ia melakoni sendiri sebagai profesi berbahaya dan menceritakan pada pembaca. 

Lantara era pulp fiction dicetak di kertas murahan maka banyak yang akhirnya dicetak ulang saat era itu berakhir. Kisah-kisah dari Masa Keemasan karya Ron menawarkan sesuatu untuk berbagi selera pembaca. Kisah ini akan membawa kita ke masa itu. Era itu terhenti saat Perang Dunia II karena kelangkaan kertas. Yang bertahan sampai kini tentu saja yang karya berkualitas, salah satunya adalah yang saya baca.

Bukunya terdiri dari dua cerita. Laiknya cerpen, tapi agak panjang. Yang pertama adalah Tom Si Kecil kedua Tetes Terakhir. Tom bercerita tentang seorang kerdil yang selalu dilecehkan bosnya di arena sirkus. Nah suasana sirkus menjadi mencekam saat kematian sang profesor. Seorang peramal yang hebat itu menghembuskan nafas terakhirnya dengan memberi warisan kepada Tom. Buku-buku sihir untuk dipelajari. “Dengan kekuatan semacam itu aku meninggalkan dunia ini yang lebih baik, karena aku tahu persis ke mana aku pergi. Tetapi aku pergi tidak dengan menyisakan bangkai permata, karena sesuatu yang kumiliki untukmu. Kau akan memiliki kekuatan utnuk menjalankan dan menguasai semua tahap ilmu sihir,”

Buku tiu dipelajari Tom dengan giat. Dan dia menemukan sebuah mantra untuk berpindah tubuh. Dimana ia bisa bertukar jiwa dengan orang lain. Kekuatan itu dicoba kepada Maizie dengan menatap mata lalu membaca mantra. Berhasil, Tom masuk ek tubuh Maizie dan Maizie ke tubuh Tom. Bertukar jiwa ini sungguh membahagiakan Tom karena dari dulu dia sudah muak bertubuh 30 cm. Keinginan untuk bertubuh normal akhirnya ditujukan kepada sang pembaca acara sirkus Herman Schmidt. Seorang sombong yang suka melecehkannya.

Saat ia berhasil bertukar jiwa, segalanya tak sesuai yang dibayangkan. Herman tukang selingkuh yang kini dikejar suami Betty. Sudah tunangan tapi tak berniat menikahi sang gadis. Seorang koruptor pertunjukan. Dibenci banyak orang. Sengan kekhawatiran memuncak, karena kini Herman ada di tubuh Tom berhasilkah ia kembali ke tubuhnya sebelum terlambat?

Tom Si Kecil | by L. Ron Hubbard | copyright 2007 | pertama terbit berjudul If I were You | diterjemahkan dari Tom Little | pewajah sampul Apung Donggala- Ufukkreatif design | Ilustrasi sampul Roni Setiawan | pewajah isi EMW14@ufukkreatif Design | penerjemah Leinovar Bahfein | Proofreader Helena Theresia | cetakan I, Februari 2012 | Penerbit Ufuk Publishing House | ISBN 978-602-9346-32-9 | Skor: 4/5

Jatipuro, 290617 – Sherina Munaf – Ku Mau Kau Mau – diposting di Palur

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#29 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

AKU #28

Aku #28

Kalau sampai waktuku | ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu | Tidak juga kau | Tak perlu sedu sedan itu | Aku ini binatang jalang | Dari kumpulannya yang terbuang | Biar peluru menembus kulitku | Aku tetap meradang menerjang | Luka dn bisa kubawa lari | Berlari | Hingga hilang pedih peri | Dan aku akan lebih tidak peduli | Aku mau hidup seribu tahun lagi | Maret 1943

Siapa yang tak kenal puisi ini? Semua pelajar Indonesia pasti tahu, karena masuk dalam buku-buku pelajaran. Kalaupun tak tahu setidaknya pernah membacanya sekilas. Kalaupun belum membacanya, pasti pernah mendengarnya sekelebat. Kalau masih belum dengar juga, berarti bolos saat mata pelajar Bahasa Indonesia, eh pas bahas puisi ini. 

Buku yang kubeli karena booming film Ada Apa dengan Cinta? Sudah 12 tahun tertata rapi di rak. Dulu sih carinya susah, sekarang sudah banyak di toko buku. Buku kumpulan puisi yang difotocopy Cinta ini memang bagus, beberapa sudah sangat dikenal karena puisi Chairil Anwar memang sudah ada yang dikutip di buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia. Makanya saat dunia puisi kembali naik saat film rilis, otomatis buku ini ikut terangkat. 

Penyair lokal yang paling dibicarakan ini menjadi lebih dekat setelah membaca buku ini. Kisah hidupya yang mati muda, bagaimana ia mencinta, punya seorang putri lalu becerai dikisahkan dengan gaya sastra. Untuk seorang yang suka biografi buku ini bisa dibaca santai karena halamannya tak lebih dari 200, tak banyak narasi. Lebih kepada nukilan kehidupan dengan disertai proses-proses terciptanya buku. 

Buku karya Sjuman Djaya yang mengisahkan perjalanan hidup sang penyair Chairil Anwar. Bentuknya bak skenario film dengan gaya sastra dimana sajak sang penyair selalu disertai. Buku dibuka dengan puisi ‘Bom atom pertama meledak di kota Hiroshima. Langit berselaput awan cendawa berbisa. Letika memburai awan ini, bumi laksana ditimpa hujan salju ganas… lalu menganalogikan ada seekor kuda yang mengamuk di tengah peron stasiun kereta api. Berikutnya kita diajak berkenalan dengan Chairil Anwar secara pribadi.

Ayahnya menikah lagi dengan perempuan muda. Momen itu ditangkap saat ia memenangkan turnamen badminton. Ayahnya pergi ke Medan meninggalkan ibu dan dia. Sebagai kutu buku ia membawa serta buku ke manapun, semasa sudah dewasa ia mengembara. Pergi dari rumah, tak pulang yang membuat ibunya khawatir. Tapi dalam perjalanan itu ia menerima kabar melalui surat ibunya bahwa neneknya meninggal, membuatnya terpukul. Ia sangat dekat dengan sang nenek.

Sejak remaja Chairil sudah bertekad menjadi seniman. Sehingga sejak hijrah ke Batavia (Jakarta) ia makin mengbulatkan tekad. Buku-buku orang besar dilahapnya dari Hendrik Marsmn, Edgards du Perron, Reiner Maria Rilke. Dari orang-orang inilah ia terpengaruh. Beberapa ada yang bilang, ia meniru. Pada masa pendudukan Jepang, karyanya tak banyak diterbitan. Nah saat Indonesia mewujudkan proklamasi barulah muncul.

Chairil menikah tahun 1946 dengan Hapsah Wiraredja dan memiliki anak Evawani Alissa. Pernikahannya hanya bertahan dua tahun. Tahun 1949 beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Taman Makam Umum Karet Bivak, Jakarta. 

Skenario film ini ditutup dengan ironi tulisan kapital: AKU MAU HIDUP SERIBU TAHUN LAGI!

Well, kisah dan skenario film yang bagus ini tak pernah terwujud karena sang Penulis dan Sutradara sudah tiada. Niatnya untuk mewariskan semangat penyair yang dikaguminya dalam bentuk gambar gerak tak pernah tercapai. Tapi tetap ini adalah salah satu karya besar Sjuman Djaya yang menempatkannya dalam jajaran seniman besar Indonesia. 

Saya yakin. Saya sangat yakin suatu hari nanti akan ada yang membeli hak buku ini untuk diangkat ke layar lebar. Suatu hari nanti…

“Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku…”

Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup Dan Karya Penyair Chairil Anwar | oleh Sjuman Djaya | Pengantar Rendra | Tata letak isi Muhammad Roniyadi | Desain sampul Sushanto | ilustrasi S. Malela | Diterbitkan pertama kali Pustaka Utama Grafiti, 1987 | Terbitan kedua oleh Metafor Inter Media Indonesia, 2003 | ISBN 979-3019-12-3 | 9 11 13 15 16 14 12 10 8 | xii + 155 hlm.; 19,7 cm | Skor: 5/5

Jatipuro, 280617 – Peter Pan – Kukatakan Dengan Indah

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#28 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku​