No Country For Old Men #21


Sewaktu dia bangun dia tau mungkin dia harus membunuh orang. Dia hanya belum tahu siapa yang harus dibunuh.

Inilah novel pegangan film nominasi Oscar tahun 2006, hanya kalah dari There Will Be Blood yang fenomenal itu. Film yang mengahantui dengan gaya ramput belah pinggir itu akhirnya bisa saya nikmati versi original. Dan ternyata yang di buku jauh lebih dahsyat. Detailnya lebih hebat. Kita diajak berpetualang di negeri para bandit dengan seluk beluk kehidupannya. 

Kisahnya tentang seorang sherif tua di negara perbatasan Amerika dan Meksiko. Di daerah Texas yang gersang, dimana para pencuri ternak berganti profesi menjadi kurir obat terlarang dan kota-kota kecil menjadi zona bebas tembak. Sang sherif yang seorang veteran perang seakan terjebak dalam situasi serba salah. Membantu warga yang kesulitan, menegakkan hukum dan berpusar dalam kejahatan rumit narkoba. 

Sedari awal saya sudah tahu bahwa Llewllyn Moss, seorang warga negara yang baik dan taat hukum suatu hari menemukan sebuah truk pick-up yang dikelilingi oleh beberapa mayat. Sejumlah heroin dan uang kontan dua juta Dollar dalam koper tergeletak. Ia memutuskan mengambil uang, membawanya kabur mencoba mencari tempat aman dan serangkaian sulut reaksi kekerasan dan pembunuhan yang tak bisa ditangani hukum terjadi. Karena yang mengejar adalah orang gila, si rambut belah pinggir assassin the legendary Chigurh. Seperti itulah yang disajikan dalam film, dan dalam novel tak jauh beda.

Sudut pandang kisah berganti-ganti sesuai karakter yang dikisahkan. Tapi tokoh utamanya adalah sang sherif Bell. Dia akan bercerita dalam paragraf dengan front miring. Mengenai masa lalunya yang (dianggap) gagal sampai terhenpas di Texas. Bagaimana awal dia dikirm perang, bagaimana kehidupan seorang polisi yang makin canggih era makin beringas para penjahatnya. Bagaimana rekan-rekan kerjanya tewas dalam tugas, partner kerja mati semuda itu. Bagaimana keluarga tanpa anak ini menjalani kehidupan, dan dukungan penuh seorang istri Loretta. Endingnya, saya kasih tahu mengambil sepenuhnya isi kepala Bell yang sangaaaat manis. Salah satu ‘happy ending’ terbaik yang pernah saya baca.

Sedari awal saat sudut pandang beralih kepada sang pemburu Chigurh, kiat sudah diwanti-wanti ini adalah karakter istimewa. Bagaimana bisa ia meloloskan diri dari seorang polisi yang sudah menangkapnya. Dengan borgol kedua tangan di belakang, ia bisa mengecoh sang deputi malang. Pembunuh berdarah dingin. Chigurh mengusap tangannya dengan sapu tangan, Cuma tidak ingin mengotori mobil dengan darah korban! Selain ciri rambut dan lemparan koin keberuntungan, karakter ini dikenal dengan sebuah apar – alat pemadam api ringan yang digunakan untuk membuka paksa pintu hotel. Dan ya, adegan itu dicomot plek dari buku. Dulu kukira ide itu mengada-ada, tapi ternyata penjelasannya terbaca masuk akal. Ada yang berani coba menembakkan apar pada pintu? Setiap gedung yang memenuhi standar safety pasti ada tabung apar di beberapa sudut, dan setelah membaca buku ini, setiap lihat tabung merah itu jadi takut.

Kau akan hidup sampai berumur seratus tahun. Moss adalah binatang buruannya. Semua orang mungkin akan berfikir bahwa suatu senja saat ia berburu rusa di bukit tapi malah menemukan sekoper uang dan bertumpuk heroin, plus bergelimpang mayat adalah anugerah. Sebuah keberuntungan. Dalam bayang kita, tentu tkp – tempat kejadian perkara itu adalah tempat transaksi terlarang, tapi tak terjadi deal hingga saling bunuh, entah siapa yang pertama menarik pelatuk. Moss tanpa pikir dua kali tentu saja membawa lari koper duit. Sesampai di rumah truk, ia meminta istrinya, Carla Jean untuk pergi secepatnya ke orang tuanya di Odessa. “Aku punya firasat buruk, Llewlyn.” Dari kekhawatiran istri ini harusnya Moss mau befikir ulang rencana besar mereka, tapi uang sebesar itu tentu saja sulit ditolak. Maka Moss memutuskan kabur, Carla pulang. Adegan demi adegan berikutnya adalah pemburuan koper dari satu hotel ke hotel lain. Dengan naluri binatang pemangsa Chigurh melawan seorang petarung sejati Moss, kepada siapa koper itu akhirnya berlabuh?

Covernya keren sekali. Orange menyala dengan latar matahari senja di mana bayangan seorang koboi berlari di pandang pasir dengan tangan kanan membawa koper (penuh uang) dan tangan kiri menenteng senjata. Catchy. Salah satu pemilihan cover buku terbaik yang pernah saya punya. Pernuturannya tanpa tanda petik sama sekali, sekalipun dalam dialog kalimat langsung? Yup. Bukan buku pertama dengan pola semacam ini, tapi ketiadaan tanda itu semakin membuat kita berfikir keras. Menantang imajinasi Pembaca untuk menebak ini kalimat siapa dan ditunjukkan kepada siapa. Sukses menyusup dalam daya khayal itu, berarti sukses menejawantah intinya. Syukurlah, ini jenis buku yang tak perlu banyak berkerut kening. Semua jelas tanpa penafsiran ganda. Hebatnya lagi, kejutan-kejutan dicipta tanpa berlebihan namun pas sekali. Karena saya sudah menonton filmnya maka, apa yang disampaikan tak terlalu membuat saya berdegub khawatir nasib karakter.

Saya membaca novel ini tahun 2009, mendapatnya di sebuah pameran buku di Solo bareng Grandong dan Afifah. Saat itu saya membaca dalam banyak kebimbangan, justru saya bisa menyelesaikan baca The Fight Club dan Million Dollar Baby tapi tidak dengan ini, saya terhenti di tengah karena pusingnya. Beberapa tahun berselang barulah, saya baca ulang sampai selesai. Dua buku yang saya sebut tentu saja buku fantastis, tapi novel ini sama menakjubkannya.

Ada empat adegan yang luar biasa di buku ini yang menurutku patut dibagikan. Pertama, penuturan Carla Jean tentang masa lalunya kepada sherif, bagaimana pertama ia bertemu dengan Moss. Sebagai gadis penjaga toko jatuh hati pada pandangan pertama pada pemuda yang mengajaknya kencan, itu keren sekali penyampaiannya. Kedua, bagian saat Moss menyimpan koper uangnya di saluran air lalu menariknya dengan gantungan baju. Wow, bisa-bisanya ada ide adu sembunyi semenegangkan ini!

Ketiga saat Chigurh menepi untuk isi bensi dan cari camilan, ia menanyakan penjaga tokonya tutup jam berapa lalu ada nada jesal hingga muncullah Kutipan favorit: Sembilan belas lima puluh delapan. Koin ini sudah berjalan-jalan selama dua puluh dua taun untuk sampai di sini. Dan sekarang koin ini ada di sini. Dan akau ada di sini. Dan tanganku menutupinya. Bisa kepala bisa ekor. Dan kau harus mengatakannya. Tebaklah!

Keempat adalah adegan endingnya. Sherif tua itu mimpi ataunya di alam nyata? Terbaca biasa, tapi coba baca ulang di bagian ini: Aku tau bahwa dia akan terus berjalan dan dia akan membuat api unggun di tengah udara gelap dan dingin dan aku tau bahwa jika aku sampai di sana dia akan tetapi berada di sana. Dan kemudian aku terbangun. 

Dari mimpi? Dari gelap dan dingin lalu terganggu cahaya api unggun? Tunggu dulu, kalimat itu perlu ditelaah lagi. Tuhan itu hidup dalam keheningan yang menggosok tanah ini dengan abu.

Salah satu novel terbaik yang pernah saya baca.

No Country For Old Men | by Cormac McCarthy | copyright 2005 | diterjemahkan dari No Country For Old Men: A Novel | Penerjemah Rahmani Astuti | Penyunting Setiadi R. Saleh | design sampul Prasajadi | Tata letak Tito F Hidayat | Montase Ruslan Abdul Gani | Penerbit Q-Press | Cetakan I, November 2007 | ISBN 978-979-1174-31-2 | Santa Fe Institute | Skor: 5/5

Karawang, 210617 – Nikita Willy – Pantas Untukku (Solo version) – mudik day 

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#21 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku​

Iklan

2 thoughts on “No Country For Old Men #21

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s