Let’s Go Into Narnia #18


Buku tipis ini saya beli tahun 2010 gara-gara kata Narnia. Saya pertama kenal dunia ajaib ini saat SD di Perpus sekolah. Sebuah buku dongeng terbitan Dian Rakyat. Tapi mungkin karena aneh saya tak begitu paham, buku itu bahkan salah satu buku paling jarang dipinjam. Demikian pula saya, saya hanya membacanya di Perpus tanpa membawa pulang sehingga memang tak tuntas.

Tahun 2005 saat filmnya rilis, saya juga tak terlalu mengikuti. Justru setahun berselang, seorang teman satu kos Jemy K membawa VCD film yang dibeli di sebuah swalayan karena kena diskon bersama film National Treasure dan serial Sherlock. Nah di kos Ruanglain_31 itulah saya kembali terkenang masa kecil itu. Adaptasi filmnya menakjubkan sekali. Saya langsung menasbihkan sebagai salah satu film paling berpengaruh.

Mulailah saya berburu bukunya. Di toko buku Store Book Lippo Cikarang tak lengkap tapi kebetulan seri pertama dan kedua ada. Maka saya baca runut satu per satu. Seri ketiga sampai tujuh baru ada beberapa bulan kemudian. Maka saya beli satu per satu dengan membaca runut sesuai serial. Terpesona. Buku itu saya baca bersamaan dengan satu per satu Harry Potter seri lima sampai akhir terbit jadi semacam fantasi saingan. Ditambah The Chronicle of Spiderwick yang dalam bundel serta sebuah maha karya His Dark Materials plus The Hobbit. (Nyaris) lengkap sudah dunia ajaib menemaniku sepanjang tahun 2005-2010. Masa itu saya menyesal gagal merampungkan Trilogy Bartamious dan masterpiece Trilogy The Lord Of The Ring.

Tahun 2008 film kedua rilis, Pangeran Caspian merupakan salah satu viewgasme di bioskop. Saat itu saya sampai berdiri, ikut berteriak ‘For Narnia, For Aslan!’ di ending epic battle. Yang mengejutkanku, seri kedua ternyata dinyatakan gagal memenuhi ekspektasi Disney. Lho, lalu proyek itu terkatung. Tahun 2010 di sebuah bazar buku Lippo Cikarang saya menemukan buku tipis karya Arie Saptaji. Melengkapi koleksi lengkapku. Setahun berselang saya mendapatkan buku CS Lewis lain di sebuah toko buku Kristiani. tahun 2010 pula film ketiga rilis. Lebih sederhana, padahal bukunya paling tebal. Saya sampai terbang ke Bekasi untuk menikmati 3D, nonton sendiri sembari berburu buku. Film ini lebih dikenal sebagai akting memukau sang pemerang Eustace. Dan setelah enam tahun, Narnia vakum. Entah mau ke buku keenam langsung, sebagai setting pertama tahun Narnia ataukan tetap runut ke buku ketiga.

Jadi bagaimana dengan buku ‘Lets Go Into Narnia’. Saat dibaca tujuh tahun lalu lumayan juga menambah informasi dunia Narnia. Oh tahun 2005 majalah film Cinemags juga membahas panjang sekali sejarahnya, jadi saling melengkapi. Tapi kalau dibaca lagi saat ini sudah dengan mudah kita akses di web. Tinggal googling maka sebagian besar apa yang tersaji ada. 

Untuk sebuah buku panduan, apa yang terpampang lebih kepada Narnia fan level pemula. Setelah prakata dan kata pengantar yang berbelit, kita disuguhi endorsm yang menurut saya lebai. Saya paling tak suka komentar pembaca sampai memangkas berlembar-lembar. Endorsm itu cukup satu dua kalimat dalam satu halaman, useless memuji Penulis sampai 12 halaman! Alamak, novel-novel Harry Potter saja tak sepanjang itu yang puji di bukunya.

Barulah pada halaman 31! Kita benar-benar masuk ke materi. Mengenal lebih dekat CS Lewis – Clive Staples Lewis. Lahir di Belfast, 29 November 1898. Dari orang tua yang gemar membaca, hobi itu tentu saja turun kepadanya. Semoga hobi bacaku turun ke Hermione Yumna. Dalam biografinya Leweis berujar, “Buku-buku berserakan di runag belajar, di ruang belajar, di tempat penggantungan jas, di dua rak buku besar, di ruang tidur. Bahkan di loteng bak penampungan air. Buku-pun bertumpuk setinggi bahu saya, bermacam-macam buku bacaan…”

Lewis kecil lebih banyak menghabiskan waktu di rumah keranaselain cuaca Irlandia yang berkabut dan berangin ia lebih suka berteman dengan Beatrix Potter, Sir Conan Doyle, Edith Nesbitt, Henry Wadsworth Longfellow, dan Mark Twain. Saat berumur sepuluh tahun, ibunya meninggal. Sebelum pergi beliau memberi Lewis sebuah al Kitab bertulis, “Dari Mami dengan kasih yang terdalam, Agustus 1980. Efek kejadian ini akan benar-benar terasa lama berselang.

“Gambaran itu muncul saat saya berusia enam belas tahun. Suatu hari ketika saat saya berumur empat puluh tahun, saya bergumam seorang diri ‘coba kita buat cerita tentang itu’”. Dan alhirlah Yhe Lion, The Witch and The Wardrobe. Dan begitu Narnia muncul satu per satu dalam pekembangan.

Let’s Go Into Narnia | oleh Arie Saptaji | copyright 2005 | GB 11005 006 | ISBN 979-3574-08-9 | Penerbit Gradien Books | Cetakan 1 & 2, Juli 2005 | Skor: 2/5

Karawang, 180617 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#18 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku