Sisters Red #17


Scarleet March: “Aku kembali ke sini dengan pikiran akan tidur selama dua jam lalu keluar lagi untuk mencoba melakukan sesuatu, tapi aku malah mendapati rekan dan adikku Cuma duduk-duduk. Bagaimana kalian bisa duduk? Bagaimana kalian bisa santai padahal kalian tahu bahwa ada monster di dunia ini, monster yang mampu kalian hentikan?”

Kovernya bagus. Dengan warna merah menyala dicermin atas bawah warna hitam. Yang merah salah satu matanya tertutup satu, yang hitam dengan kombinasi ikal sehingga tampak cantik. Dengan tatapan marah sang serigala, inilah kisah panjang sepasang saudara melawan gempuran mahkluk manusia serigala.

Kisah tentang pemburu serigala. Prolognya bercerita tentang alasan mengapa mereka harus melakukan itu. tentang neneknya yang berkorban demi mereka. Seorang tamu yang bertandang memporakporandakan rumah mereka. Oma March lalu berujar, “Scarlett, jangan khawatirkan aku. Bawa Rossie dan bersembunyilah.” Tamu tersebut adalah fenris, manusia serigala pemangsa manusia. Setelah membunuh neneknya Scarlett maju. Dan mantra itu terus berdengung. Cuma tinggal aku sendiri yang tersisa untuk bertempur. Jadi sekarang aku harus membunuhmu.

Setiap berganti bab kita akan diajak untuk berganti sudut pandang antara dua saudari. Sang kaka Scarlett March adalah gadis pemberani yang penuh dendam. Malam berdarah itu membuat luka di wajahnya, salah satu matanya rusak. Ia selalu bertudung yang fungsinya ganda. Warnay memancarkan gairah seks dan nafsu cabul yang sama sekali tidak bisa ditolak serigala dan bahan kainnya menyembunyikan sebuah alat pembunuh. Jadi Sacrlett bermula mengundang pemuda fenris untuk berjalan mengejarnya. Lalu saat fanris berubah wujud ia membantainya. Trik berburu klasik sekali, ‘kalau kau lari dari seekor binatang, maka ia akan mengejarmu.’ Setelah fenris mati, ia akan menjadi abu dan lenyap berasap.

Sudut pandang kedua adalah dari sang adik, Rossie March lebih kalem. Dengna wajah cantik bak seorang putri. Tentu saja setiap jalan, pesona Rossie terpancar. Menjadi bungsu yang coba selalu diselamatkan membuatnya tak enak hati. Ia selalu ingin ikut berburu, ikut dalam setiap petualangan. Ia mungkin gadis manja, tapi selalu dilindungi membuatnya marah.

Karakter utama ketiga adalah seorang pemuda gagah, tetangga mereka. Silas yang tampan, anak Pa Reynold. Ia dicipta memang untuk membuat dua karakter saudari ini saling cemburu. Silas seusia Scarlett, teman bermain dan belajar, teman seperjuangan berburu. Ia kembali dari jalan-jalannya ke California untuk melepas rindu Ellison, rumah mereka.

Lalu kita diajak mengenal keseharian dua saudari ini. Bagaimana mereka menghabiskan waktu dengan nonton film, melepas kenangan buruk malam itu dengan belajar berkelahi untuk berjaga-jaga. Dengan sebuah kapak atau tangan kosong mereka harus membela diri. Mempelajari sifat-sifat fenris yang harus dimusnahkan. membunuh mereka bukan hanya untuk menjaga kota dari serangan monster tapi juga untuk membalas dendam. Seperti kata Scarlett, ‘aku berniat menjadi orang terakhir yang pernah dilihat mosnter itu sebelum mati. Merahnya darah dan amarah telah mengubahku selamanya. Sebuah obsesi.’

Rosie lebih seperti gadis kebanyakan. Tak bisa menyetir mobil, dalam keluarga mereka hanya ibu yang bisa karena pesan sang nenek, obil hanyalah buang uang. Mereka lebih suka berjalan. Aku merasa seolah sedang berjalan dalam sebuah buku cerita, yang sama sekali tidak nyata. Nah konflik pertama muncul saat mulai tumbuh benih-benih cinta pada Silas. Pemuda, teman akrab yang kakak itu telah mencuri hatinya. Rasa tidak enak hati dan malu menyergapnya.

Awalnya rasa itu disembunyikannya. Silas sendiri juga cuek dan tetap cool seperti biasanya. Berjalannya waktu, sering berjalan bersama baik bertiga atau berdua ada getaran yang dirasa Silas. Dan dalam sebuah adegan seru yang memacu andrenalin, mereka menyatakan jadian. Tanpa setengetahuan Scarlett mereka jadi kekasih. “Cuma karena kau bersikap menyebalkan tidak berarti aku akan menelantarkanmu.”

Setelah merencana matang, mereka bertiga ke San Fransisco untuk menumpas fenris di kota tersebut. Dengan sebuah mobil Silas mereka berpetualang, pergi jauh meninggalkan kampung halaman tercinta Allison. Di sebuah apartemen reyot dan murah mereka lalu menyesuaikan diri. Scarlett menempa latihan, dan berburu adalah obsesi tiada henti. Aliran andrenalin yang sudah tidak asing bagiku kembali memenuhi diriku. Itu merupakan tanda cintaku pada kegiatan berburu, pada tujuan hidupku. Rosie diam-diam ikut kursus dengan keuangan seadanya dia nekad menyibukkan diri untuk hal remeh itu. aku tidak bodoh, aku pasti memilih tango daripada manusia serigala. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Silas menyibukkan diri membantu. Aku pasti keliru. Aku tidak melihat hal yang kukira sudah aku lihat. Berhasilkah mereka menyelamatkan dunia? Bagaimana akhirnya hubungan cinta terlarang itu saat sang kakak tahu?

Well, bukunya tebal. Berat sekali menyelesaikan baca buku tebal yang membosankan. Saya butuh perjuangan ekstra. Ini adalah kisah fantasi remaja yang minim konflik. Minim kejutan. Dan mengalir lurus tanpa banyak kelokan berat. Dengan bertambahnya pengetahuan maka bertambah pula tanggung jawab kita. Scarlett merupakan karakter yang monoton. Di pikirannya hanya berburu dan beburu. Jadi wajar apa yang terjadi di akhir. Kalimat yang menohok itu sangat menyakitkan, “Bisakah kau melihatku sebagai seorang istri? Seorang ibu?” kalimat frustasi dan permohonan putus asa yang sedih tapi memang ada benarnya.

Ada kejutan kecil saat eksekusi ending. Jati diri Silas yang disembunyikan karena kita terus berfokus pada dua kakak-beradik ini membuat kita terkecoh pada misi yang sebenarnya. Karena pemburuan bukan sekedar membunuh fenris tapi ada sosok utama yang harus ditaklukan. Silas sendiri tak tahu, kita pun tak tahu. Karena ternyata ada pola waktu fenris mencapai puncak berbahaya, saat waktu menipis berhasilkah mereka menyadarinya?

Untuk sebuah buku terbitan Atria, ditemukan beberapa typo sungguh aneh. Atria, seperti yang sudah pernah saya singgung adalah penerbit fantasi favoritku. Semua buku yang diterbitkan selalu menarikku. Sekalipun kini beberapa mulai tak sesuai dengan harapan, mungkin lebih karena usia tapi tetap fantasi Atria adalah magnet. Sisters Red tetaplah buku young adult layak baca, temanya membunuh serigala sangat bagus dipikrkan. Karena saya adalah Elang maka membaca kata ‘bunuh serigala’ jadi begitu lebih menggigit. Tentu saja fantasi itu tak sampai ke Italia, tapi tetap senang rasanya ketika Scarlett memukulkan sebilah kapak pada pasukan serigala ibu kota. Ada rasa puas, ada rasa ceria. Ikut senang serigala mati. Semoga selamanya. #1900

Dan aku merasa kesepian dibanding sebelumnya.

Dua Saudari Bertudung Merah | by Jackson Pearce | copyright 2010 | diterjemahkan dari Sisters Red | terbitan Little, Brown and Company | Penerjemah Ferry Halim | Penyumting Ida Wadji | Pewajah sampul Aniza Pujiati & Hadi | Penerbit Atria | Cetakan I: Februari 2011 | ISBN 978-979-024-464-1 | Untuk saudariku | Skor: 3/5

Ruang HRGA NICI CIF, Karawang, 150617 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#17 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

* diposting di masjid Al Muhajirin, Jababeka – Cikarang saat ngumpul konco di rumah Lelur

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s