Uncle Tom’s Cabin #9


Tom: “Aku lebih baik memiliki rumah yang jelek, baju yang jelek, semuanya yang jelek, asalkan semua itu milikku bukan milik orang lain.”

Kisah panjang yang membawa perubahan. Ini adalah buku klasik yang banyak mempengaruhi karya-karya yang bersinggungan dengan perbedaan warna kulit. Dicipta oleh Penulis asli Connecticut apa yang dituliskan memang seakan tampak nyata. Saat itu Amernika Utara dan Selatan isu paling penting adalah tentang perbudakan. Orang Utara memandang perbudakan di Selatan sebagai sesuatu yang penting bagi ekonomi Nasional, walaupun mereka tahu itu tak adil dan tak bermoral. Pria memegang kekuasaan sedang wanita lebih religius dan patuh. Stowe lebih sering menulis artikel dan cerita pendek di Washington Post sebelum menulis novel ini. Uncle Tom adalah cerita panjang pertamanya yang terinspirasi dari kekejaman perbudakan serta adanya undang-undang Budak Pelarian yang mana negara-negara bagian Utara wajib mengembalikan budak yang melarikan diri ke Selatan.

Kisahnya sendiri sebenarnya ditulis secara sederhana, beberapa dramatisasi ada tapi tak wow. Tentang seorang budak bernama Tom di kota Kentucky. Tom adalah negro pekerja keras, jujur, bisa mengatur peternakan dengan baik, bisa diandalkan. Nah cerita dibuka dengan rencana penjualan Tom dari Shelby kepada pedagang budak Haley karena terlilit hutang. Nah saat presentasi Tom, muncullah Harry kecil seorang anak budak yang bisa menyanyi. Haley terkesan makan ia berniat membeli Tom dan Harry, memisahkannya dari Eliza, ibunya. Sebagai tuan yang baik Shelby menolak demi rasa kemanusiaan, tapi lilitan hutang membuatnya menyerah. Bisnis adalah bisnis. Maka dengan pahit, Eliza dibuat nyelimur dan anaknya akan dibawa. Kejam, penculikan cara kuno yang benar-benar kejam.

Eliza menikah dengan George Harris, budak dari bos perkebunan dan pabrik kapas. Karena George seorang pekerja keras ia jadi rebutan dari tanah pertanian. Tapi di tanah pertanian itulah ia pertama bertemu Eliza hingga mereka akhirnya menikah dan memiliki anak Harry. Keluarga negro ini lalu terombang-ambing ke banyak sudut masalah. “Eliza, kau tahu aku bukan orang Kristen. Aku tidak dapat percaya pada Tuhan ketika hidup ini sangat sulit. Kau bahkan belum mendengar hal yang terburuk.” Maka dengan segala kesulitan mereka berencana suatu hari kelak kabur ke Selatan. Ke Kanada dan kebebasan. Tapi sebelum rencana terwujud George harus pergi karena pindah kepemilikan. 

Lalu fokus cerita kembali kepada Tom yang memiliki pondok, sebuah bangunan kecil terbuat dari balok kayu di belakan rumah majikannya. Di sana tinggal bibi Chloe, Pete dan Mose. Tom diajari baca tulis oleh tuan muda George, putra dari tuan Shelby. Walau sebagai budak, Tom hidup senang karena keluarga ini memperlakukan dengan baik. Paman Tom dihormati dan ia seperti pemimpin agama di antara mereka. Dalam Bahasa yang lebih sederhana, ia sering memimpin doa dan diselingi teriakan di antara mereka. Kehidupan tenang ini suatu hari tercoreng, karena seperti adegan di awal kisah. Tuan Shelby terpaksa menjual Tom karena kesuliatn uang. “Aku ingin kau berjanji untuk tidak menjual Tom pada seseorang yang akan memperlakukan buruk.” Yang namanya penjual budak tentu saja berkata manis.

Maka tuan Shelby berujar kepada Emily, istrinya bahwa kesepatan sudah dibuat ia akan menjual Tom dan Harry kecil. Emily tentu saja terkejut. “Ini buruk sekali.” Segala debat mentah. Karena Shelby malah mengutip kalimat dari pendeta. “Pemimpin agama id Gereja memiliki pendapat yang lenih baik tentang perbudakan dan ia adalah orang Kristen.” Nah transaksi ini terdengar oleh Eliza. Tahu anaknya akan diambil, maka dia dengan kekuatan kasih seorang ibu memutuskan kabur pagi esoknya. Dengan berbekal seadanya, menggendong Harry kecil ia pergi ke Selatan. Ia menitipkan pesan kepada mereka andai bertemu dengan suaminya. 

Pelarian Eliza membuat berang tuan Haley. Ia lalu meminta bantuan kepada orang-orang yang melihat seorang ibu bersama anak kecil yang berciri Eliza untuk menyerahkannya. Salah dua orang yang siap membantunya adalah Marks dan Tom Loker, yang dengan senang hati membantu mengejar. Tuan Haley meminta Harry kecil, mereka meminta Eliza. Sepakat. Pengejaran pun digelar.

Sementara itu Senator Bird mencoba membuat Undang-Undang yang menyatakan bahwa untuk menghentikan pelarian budak dari Kentucky ke Selatan menyatakan bukan tersebut harus dikembalikan. Hal ini jelas menguntungkan negara Utara. Dan sama busuknya bilang bahwa kita dilarang memberikan sesuatu pada orang kelaparan, kelelahan, kedinginan sehingga membuat para pelarian sengsara. Nah saat berdebat dengan istrinya mengenai kebijakan ini, Eliza terdampar di sana. Nyanyo Bird lebih peduli tapi Tuan Mark kesal. Tapi akhirnya membantu Eliza lolos, dipertemukan dengan Van Trompe yang baru membebaskan budak-budaknya. “Aku sangat lelah mendengar para Pendeta justru membela perbudakan dan perdagangan budak, aku mulai menentang mereka.”

Dan akhirnya Tom pun ikut berkemas meninggalkan pondoknya. Menuju tuan baru, yang tak tentu arah. Semakin tipis halaman yang tersisa semakin berbahaya nasib yang tokoh utama. Sampai akhirnya ia kembali mendapat tuan yang baik yang menjanjikan kebebasan. Menjadi manusia bebas. Tapi sekali lagi ada pertentangan, hingga ia kembali terseret di persimpangan jalan. “Aku akan melakukan apa saja yang kau suruh siang dan malam, tapi aku tidak akan melakukan hal-hal yang menurutku salah.” Bagaimana akhir perjalanan hidup Tom? Akankah ada kesempatan untuk Eliza dan George bersatu lagi, selamat dengan si kecil?

Akibat dari novel ini sangat panjang. Perang Saudara (1861-1865) tersulut lebih panas karena banyak dibaca politisi, bahkan Presiden Lincoln mengkritisinya. Terjadi pro-kontra, Paman Tom seorang karakter dangkal, lalu banyak kritik penggunaan dialek kurang pas sampai komplain kisah semacam ini ditulis wanita. Apapun itu, waktu merajut warisan Stowe melaju seabad kemudian sampai sekarang. Warisan buku lain dari Stowe adalah Dred (1856), The Minister Wooing (1859), the Pearl Of Orr’s Island (1862) sampai Oldtown Folks (1869). Beliau meninggal pada tahun 1896.

Penerbit Narasi terlalu sederhana menyajikan sebuah novel besar. Terjemahan ala kadarnya, beberapa bahkan tak sesuai EYD, typo di mana-mana, dan untuk kualitas kertas HVS sangat disayangkan tak disertai kualitas isi. Harusnya buku terjemahan klasik bisa lebih diperlakukan manusiawi. Bagaimana mau masuk ke koleksi kalau kualitas macam gini?

Buku ini mengingatkanku pada kisah 12 Years A Slave. Secara histori buku tersebut jelas terinspirasi dari ini. Tapi karena berdasarkan kisah nyata maka feel-nya dapat. Sementara Pondok Paman Tom lebih ke kepada protes Amerika abad ke 18. Dan yah, kisahnya sederhana tak banyak kejutan dan standar kisah masa lalu.

Benarkah kebebasan itu tidak baik untuk semua orang?

Pondok Paman Tom | by Harrier Beecher Stowe | Diterjemahkan dari Uncle Tom’s Cabin | Diceritakan kembali oleh Brett Thomas | alih bahasa Olenka Munif | Penyunting Windy Afiyanti | Perancang sampul Jube’ | Diterbitkan oleh Penerbit Narasi | ISBN 979-168-017-5 | Cetakan pertama, 2007 | 156 hlm; 13 x 19 cm | Skor: 4/5

Ruang HRGA NICI CIF – Karawang, 120617 – Sherina Munaf – Sebuah Rahasia​

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s