Uje: Berdakwah Dengan Hati #10

Uje: “Kebaikan akan mengantar sesorang kepada kebenaran dan kebenaran akan mengantar seseorang kepada puncak pengetahuan lalu menjadi rendah hati.”

Sebagai pendakwah nomor satu, kepergiannya yang mendadak membuat kejut seluruh umat. Di usia 40 tahun Ustadz Jefri Al-Buchori meninggal dunia. Pagi itu, Jumat 26 April 2013 beliau meninggalkan kita semua. Sebulan sebelumnya tanggal 13 Marer 2013 ia membuat status di Path bertuliskan: “Pada akhirnya semua akan menemukan yang namanya titik jenuh. Dan pada saat itu.. kembali adalah yang terbaik. Kembali kepada siapa? Kepada “DIA” pastinya. Bismika Allahumma ahya wa amuuut…” 

Dahwah Uje adalah warisan terbaik untuk masyarakat muslim Indonesia. Pria dengan empat anak itu menyampaikan dahwah dengan tutur bahasa gaul dan lantunan ayat-ayat Al Quran dibawakan merdu yang membuat isi ceramah mudah dicerna generasi muda dan berbagai kalangan. Kita kehilangan seorang pemuka agama dan publik figur tanah air yang manjadi contoh teladan. 

Saat itu media massa serentak memberitakan kepergian beliau. Ratusan ribu orang berbondong-bondong ke masjid Istiqlal, Jakarta untuk menyolatkan dan mengantar jenazah Uje ke pemakaman di Karet Bivak setelah sholat Jumat. Ramainya di upacara pemakaman memberi bukti bahwa betapa mulianya kepergian seorang pendahwah sejati, memiliki hidup penuh warna yang menginspirasi ribuan orang utnuk menjalankan kehidupan lebih baik.

Ustadz Jefri Al Buchori Modal lahir pada tanggal 12 april 1973. Masa kecil dan remaja dihabiskan di daerah Pangeran Jayakarta, Jakarta yang mana dekat bar dan diskotek. Namun anak ketiga dari lima bersaudara ini berada di lingkungan yang taat beragama. Terlahir dari pasangan H. Ismail Modal (Alm) dan Dra. H. Tatu Mulyana. Ayahnya asli Ambon dan ibunya dari Banten. Kombinasi ayah yang keras, disiplin dengan ibu yang lembut dan sabar.

Uje kecil sudah pandai membaca Al quran, saat kelas 5 Sd ia menjadi prestasi MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) hingga tingkat provinsi. Saat kelas 3 ia bisa langsung loncat ke kelas 5 karena kecerdasannya hingga bisa sekelas dengan kakaknya Aswan Faisal di SD 07 Karang Anyar. Uje menimba ilmu agama di Pesantren modern Daar Al Qolam, Gintung, Balaraja, Tangerang. Tapi di masa itu ia sering berontak. Jarang ikut ngaji atau sholat malam, bolos sekolah hingga kabur nonton bioskop. Hukumannya ia sering dibotaki, tapi itu tak pernah membuatnya jera. 

Kenakalan itu tetap diimbangin prestasi. Ia juara pertama lomba Adzan, MTQ dan qosidah. Tapi akhirnya ia harus drop out dari pesantren saat memasuki tahun keempat, hingga ayahnya menyekolahkannya ke MA (Madrasah Aliyah). Tapi justru makin terperosok karena di kantin MA inilah ia mengenal narkoba. Dan lagi-lagi ia dikeluarkan dari sekolah. Uje pun lalu beberapa kali berpindah sekolah. Di usia 16 tahun ia mengenal dunia malam, berpetualang dari satu diskotek ke diskotek lain. 

Kegemarannya menari di klub malam mengantar kepada tarian modern hingga membuatnya jadi best dancer. Dengan sekolah yang amburadul ia tetap lulus SMA tahun 1990 dan melanjutkan karier menari hingga tercatat di Dufan tahun 1990-1991 dan di Taman Ismail Marzuki. Lalu ia merambah dunia fashion show sembari meneruskan kuliah di broadcasting, Rawamangun. Uje sempat mencoba akting tapi gagal, ditertawakan. Makin ditertawakan makin kuat tekadnya. Ia tercatat main sinetron Pendekat Halilintar, Sayap Patah, Sebening Kasih, Opera Tiga Jaman dan Kerinduan serta film Macan Terbang dan Pukulan Berantai. Film kelas B. Ayahnya menentang karir di dunia hiburan. Tapi ibunya seuatu ketika bangga, “Waktu pertama kali melihat anak saya muncul di TV sebagai pemain saya menangis. Sata itu dia muncul memakai kemeja kotak-kotak merah. Dia ga hanya bagus berakting tapi juga mendapatkan piala.” Dari dunia hiburan inilah Uje mengenak pil koplo dan miras. Geng Uje sampau dijuluki YPS – Yayasan Pesta Selalu. 

Ayah Uje meninggal tahun 1992, Uje berdiri di samping tempat tidur sambil menangis dan ia ingat nasehat ayahnya, “Laki-laki tidak boleh menangis. Laki-laki pantang keluar air mata.” Kematian ayahnya dan dunia narkoba menjadi titik balik buatnya. Suatu ketika ia bermimpi, “Aku pernah bermimpi sangat aneh, berdiri di puncak satu tangga bersama anak kecil. Aku melihat dunia luluh lantak..” Saat itu usia Uje 27 tahun, sudah matang. Uje jadi takut mati lalu bersimpuh di kaki ibundanya meminta maaf dengan tulus lalu ibunya mengajak umrah. Di situlah ia semakin sadar dosa-dosa masa lalu. 

Tahun 1997 di Menteng uje bermula bertemu Pipik Dian Irawati, mantan gadis sampul Aneka tahun 1995 asal Semarang. Waktu itu Uje berambut gondrong sedang Pipik bersama Gugun Gondrong. Awalnya Uje sadar diri seorang PK (penjahat Kelamin) tapi memang yang namanya jodoh. Suatu ketika di acara buka bersama mereka kembali bertemu di rumah Pontjo Sutowo. “Jujur saja saat itu saya cinta karena kecantikannya atau kebaikannya bukan karena allah. Cinta yang berdasarkan kecantikan itu disisipi nafsu.” Tak ada acara ‘menembak’, jalinan itu mengalir apa adanya.

Awalnya mereka jalan, makan, nonton bioskop dan ala kadarnya masa muda. Semakin lama semakin dekat. Setelah pacaran beberapa bulan, Pipik yang punya masalah dengan pemilik kos memutuskan tinggal di rumah Uje. Pada tanggal 7 September 1999, keduanya menikah siri yang dihadiri teman-teman lama. Setelah menikah siri mereka tinggal seatap dengan ibunda selama 4-5 bulan lalu menikah resmi ke KUA di Semarang. Setelah menikah Uje sempat masih pakai putau tapi Pipik-lah yang mengajaknya kembali lurus. 

Selama menikah karena pengangguran mereka juga diombang-ambing ekonomi. Mereka bahkan pernah menjual kue, kacang, panganan untuk keliling mengantar ke warung-warung. Kehidupan rumah tangga mereka baru mulia membaik ketika memasuki dunia dahwah tahun 2000an. Dan perlahan tapi pasti mereka pun terkenal seperti yang kita kenal.

Buku ini lalu mengajak kita menelusuri hidup beliau dari berbagai sudut. Dari cara berdahwanya, pengalamannya bersama orang-orang penting Pemerintahan sampai kumpulan twit dahwah. Salah satu yang dicita-citakan adalah mengabulkan keingina kedua orang taunya membangun sebuah tempat pendidikan di lahan seluas setengah hektar di daerah Nagrak, Cikeas.

Selamat jalan legenda. semoga nilai yang disebar menginspirasi kita semua. 

 “Tidak mungkin semua orang menyukai kita. Walau kita berbuat baik maksimal. Tidak usah aneh dan kecewa, terus saja berbuat baik karena itu yang akan kembali kepada kita.”

Uje: Berdahwah Dengan Hati | oleh Kanka Nadia |copyright 2013 | Penyunting Subhan Fauzi | Konsep dan pengembangan desain Aditya | Eksekusi Aditya (desain & lay out) Cetakan pertama, Mei 2013 | ISBN 978-602-7618-45-9 | Penerbit Rexa Pustaka | Skor: 3/5

Ruang HRGA NICI CIF – Karawang, 130617 – Sherina Munaf – Primdona

#HBDSherinaKu #10 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku​

Uncle Tom’s Cabin #9


Tom: “Aku lebih baik memiliki rumah yang jelek, baju yang jelek, semuanya yang jelek, asalkan semua itu milikku bukan milik orang lain.”

Kisah panjang yang membawa perubahan. Ini adalah buku klasik yang banyak mempengaruhi karya-karya yang bersinggungan dengan perbedaan warna kulit. Dicipta oleh Penulis asli Connecticut apa yang dituliskan memang seakan tampak nyata. Saat itu Amernika Utara dan Selatan isu paling penting adalah tentang perbudakan. Orang Utara memandang perbudakan di Selatan sebagai sesuatu yang penting bagi ekonomi Nasional, walaupun mereka tahu itu tak adil dan tak bermoral. Pria memegang kekuasaan sedang wanita lebih religius dan patuh. Stowe lebih sering menulis artikel dan cerita pendek di Washington Post sebelum menulis novel ini. Uncle Tom adalah cerita panjang pertamanya yang terinspirasi dari kekejaman perbudakan serta adanya undang-undang Budak Pelarian yang mana negara-negara bagian Utara wajib mengembalikan budak yang melarikan diri ke Selatan.

Kisahnya sendiri sebenarnya ditulis secara sederhana, beberapa dramatisasi ada tapi tak wow. Tentang seorang budak bernama Tom di kota Kentucky. Tom adalah negro pekerja keras, jujur, bisa mengatur peternakan dengan baik, bisa diandalkan. Nah cerita dibuka dengan rencana penjualan Tom dari Shelby kepada pedagang budak Haley karena terlilit hutang. Nah saat presentasi Tom, muncullah Harry kecil seorang anak budak yang bisa menyanyi. Haley terkesan makan ia berniat membeli Tom dan Harry, memisahkannya dari Eliza, ibunya. Sebagai tuan yang baik Shelby menolak demi rasa kemanusiaan, tapi lilitan hutang membuatnya menyerah. Bisnis adalah bisnis. Maka dengan pahit, Eliza dibuat nyelimur dan anaknya akan dibawa. Kejam, penculikan cara kuno yang benar-benar kejam.

Eliza menikah dengan George Harris, budak dari bos perkebunan dan pabrik kapas. Karena George seorang pekerja keras ia jadi rebutan dari tanah pertanian. Tapi di tanah pertanian itulah ia pertama bertemu Eliza hingga mereka akhirnya menikah dan memiliki anak Harry. Keluarga negro ini lalu terombang-ambing ke banyak sudut masalah. “Eliza, kau tahu aku bukan orang Kristen. Aku tidak dapat percaya pada Tuhan ketika hidup ini sangat sulit. Kau bahkan belum mendengar hal yang terburuk.” Maka dengan segala kesulitan mereka berencana suatu hari kelak kabur ke Selatan. Ke Kanada dan kebebasan. Tapi sebelum rencana terwujud George harus pergi karena pindah kepemilikan. 

Lalu fokus cerita kembali kepada Tom yang memiliki pondok, sebuah bangunan kecil terbuat dari balok kayu di belakan rumah majikannya. Di sana tinggal bibi Chloe, Pete dan Mose. Tom diajari baca tulis oleh tuan muda George, putra dari tuan Shelby. Walau sebagai budak, Tom hidup senang karena keluarga ini memperlakukan dengan baik. Paman Tom dihormati dan ia seperti pemimpin agama di antara mereka. Dalam Bahasa yang lebih sederhana, ia sering memimpin doa dan diselingi teriakan di antara mereka. Kehidupan tenang ini suatu hari tercoreng, karena seperti adegan di awal kisah. Tuan Shelby terpaksa menjual Tom karena kesuliatn uang. “Aku ingin kau berjanji untuk tidak menjual Tom pada seseorang yang akan memperlakukan buruk.” Yang namanya penjual budak tentu saja berkata manis.

Maka tuan Shelby berujar kepada Emily, istrinya bahwa kesepatan sudah dibuat ia akan menjual Tom dan Harry kecil. Emily tentu saja terkejut. “Ini buruk sekali.” Segala debat mentah. Karena Shelby malah mengutip kalimat dari pendeta. “Pemimpin agama id Gereja memiliki pendapat yang lenih baik tentang perbudakan dan ia adalah orang Kristen.” Nah transaksi ini terdengar oleh Eliza. Tahu anaknya akan diambil, maka dia dengan kekuatan kasih seorang ibu memutuskan kabur pagi esoknya. Dengan berbekal seadanya, menggendong Harry kecil ia pergi ke Selatan. Ia menitipkan pesan kepada mereka andai bertemu dengan suaminya. 

Pelarian Eliza membuat berang tuan Haley. Ia lalu meminta bantuan kepada orang-orang yang melihat seorang ibu bersama anak kecil yang berciri Eliza untuk menyerahkannya. Salah dua orang yang siap membantunya adalah Marks dan Tom Loker, yang dengan senang hati membantu mengejar. Tuan Haley meminta Harry kecil, mereka meminta Eliza. Sepakat. Pengejaran pun digelar.

Sementara itu Senator Bird mencoba membuat Undang-Undang yang menyatakan bahwa untuk menghentikan pelarian budak dari Kentucky ke Selatan menyatakan bukan tersebut harus dikembalikan. Hal ini jelas menguntungkan negara Utara. Dan sama busuknya bilang bahwa kita dilarang memberikan sesuatu pada orang kelaparan, kelelahan, kedinginan sehingga membuat para pelarian sengsara. Nah saat berdebat dengan istrinya mengenai kebijakan ini, Eliza terdampar di sana. Nyanyo Bird lebih peduli tapi Tuan Mark kesal. Tapi akhirnya membantu Eliza lolos, dipertemukan dengan Van Trompe yang baru membebaskan budak-budaknya. “Aku sangat lelah mendengar para Pendeta justru membela perbudakan dan perdagangan budak, aku mulai menentang mereka.”

Dan akhirnya Tom pun ikut berkemas meninggalkan pondoknya. Menuju tuan baru, yang tak tentu arah. Semakin tipis halaman yang tersisa semakin berbahaya nasib yang tokoh utama. Sampai akhirnya ia kembali mendapat tuan yang baik yang menjanjikan kebebasan. Menjadi manusia bebas. Tapi sekali lagi ada pertentangan, hingga ia kembali terseret di persimpangan jalan. “Aku akan melakukan apa saja yang kau suruh siang dan malam, tapi aku tidak akan melakukan hal-hal yang menurutku salah.” Bagaimana akhir perjalanan hidup Tom? Akankah ada kesempatan untuk Eliza dan George bersatu lagi, selamat dengan si kecil?

Akibat dari novel ini sangat panjang. Perang Saudara (1861-1865) tersulut lebih panas karena banyak dibaca politisi, bahkan Presiden Lincoln mengkritisinya. Terjadi pro-kontra, Paman Tom seorang karakter dangkal, lalu banyak kritik penggunaan dialek kurang pas sampai komplain kisah semacam ini ditulis wanita. Apapun itu, waktu merajut warisan Stowe melaju seabad kemudian sampai sekarang. Warisan buku lain dari Stowe adalah Dred (1856), The Minister Wooing (1859), the Pearl Of Orr’s Island (1862) sampai Oldtown Folks (1869). Beliau meninggal pada tahun 1896.

Penerbit Narasi terlalu sederhana menyajikan sebuah novel besar. Terjemahan ala kadarnya, beberapa bahkan tak sesuai EYD, typo di mana-mana, dan untuk kualitas kertas HVS sangat disayangkan tak disertai kualitas isi. Harusnya buku terjemahan klasik bisa lebih diperlakukan manusiawi. Bagaimana mau masuk ke koleksi kalau kualitas macam gini?

Buku ini mengingatkanku pada kisah 12 Years A Slave. Secara histori buku tersebut jelas terinspirasi dari ini. Tapi karena berdasarkan kisah nyata maka feel-nya dapat. Sementara Pondok Paman Tom lebih ke kepada protes Amerika abad ke 18. Dan yah, kisahnya sederhana tak banyak kejutan dan standar kisah masa lalu.

Benarkah kebebasan itu tidak baik untuk semua orang?

Pondok Paman Tom | by Harrier Beecher Stowe | Diterjemahkan dari Uncle Tom’s Cabin | Diceritakan kembali oleh Brett Thomas | alih bahasa Olenka Munif | Penyunting Windy Afiyanti | Perancang sampul Jube’ | Diterbitkan oleh Penerbit Narasi | ISBN 979-168-017-5 | Cetakan pertama, 2007 | 156 hlm; 13 x 19 cm | Skor: 4/5

Ruang HRGA NICI CIF – Karawang, 120617 – Sherina Munaf – Sebuah Rahasia​