Let’s Change! #8


“Bukan yang terkuat yang mampu bertahan, melainkan yang paling adptif dalam merespons perubahan.” – Teori survival of the fittest Charles Darwin (1809 – 1882)

Saat kuliah dulu saya mendapati sebuah iklan buku di koran Kompas. ‘Change!’ karya Rhenald Kasali. Saat itu saya ingin sekali membelinya. Saat semangat baca buku motivasi masih menggebu dan kecepatan lahap masih kencang. Sayangnya harga buku itu tergolong mahal, dan karena saya suka fiksi maka urung beli sehingga saya hanya baca beberapa lembar di toko buku. Beberapa artikel tentu saja sudah saya baca di surat kabar, beberapa masih baru. Maklum saya bukan pelanggan harian. Nah tahun lalu, kebetulan ada buku Bapak Rhenald yang lain, sebuah sekuel bukan buku yang dulu saya idamkan itu di perpustakaan kantor, berderet dengan buku motivasi lain. Tanpa mikir dua kali tentu saja saya pinjam dan baca cepat. Hasilnya? Memang buku yang bervitamin. Sayangnya agak terlambat karena sudah ga update. Karena ini adalah kumpulan artikel beliau di Kompas. Buku ini disusun tahun 2014 yang berarti artikelnya sudah dimuat beberapa tahun sebelumnya, sehingga kritik untuk Pemerintah itu sudah mentas. Tak apalah, setidaknya saya bisa menikmati keinginan membaca utuh sebuah karya beliau.

Dengan subjudul tiga kata kunci: Kepemimpinan, Keberanian, dan Perubahan kita diajak mengarungi manajemen Perubahan yang panjang dan berliku. Berisi delapan Bab utama sebelum akhirnya dipecah dalam judul artikel yang keras dan menggugah. 

Di bagian pembuka kita disuguhi artikel bagus yang menohok tentang kepemimpinan presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bagaimana Pak Gur Dur yang memimpin Indonesia hanya dua tahun (1999-2000) bisa melakukan 10 Perubahan, sementara Pak SBY yang memimpin selama 10 tahun (2004-2014) hanya melakukan 2 Perubahan. Kok bisa? Nah artikel ini mengupas detailnya. Tanpa banyak berjanji Gur Dur melakukan banyak gebrakan dan tentu saja keberanian tanpa mikir sepuluh perubahan: 1-2. Membubarkan dua kementerian (Penerangan dan Sosial) 3. Menghapus larangan menjalankan tradisi Tingkok 4. Mengganti nama Irian jadi Papua 5. Membangun kementerian HAM 6. Reformasi TNI 7. Menggilir jabatan panglima TNI 8. Menjadikan Imlek libur nasional 9. Mengusulkan diplomatik dengan Israel 10. Menghapus Tap MPRS No XXIX/MPRS/1966 yang melarang ajaran Marxisme dan Leninisme. Pemimpin yang hebat tidak sekedar melakukan perubahan tapi juga mengelolanya dengan manajemen perubahan.

Era itu gaduh, harga-harga terguncang, pengunduran diri dan pemecatan menteri seignifikan,  bahkan pemberontakan. Menurut ilmuwan Mark Lewin, perubahan besar memerlukan tahap pencairan karena orang-orang yang berfikiran lama ingin mempertahankan kekuasaan, wewnang dan rasa nyamannya. Betul juga ya.

Nah SBY hanya melakukan dua perubahan besar: 1. Perdamaian Aceh (2005) dan koversi minyak tanah ke LPG (2009). Keduanya dilakuakn di masa pemerintahan tahap I, di mana sang wakil lebih dominan. Bandingkan periode dua yang senyap. Sebenarnya ide pak SBY banyak tapi ragu dan mentah sehingga lebih sering mundur ketimbang merealisasikannya. Kenaikan BBM yang selalu kandas di tengah jalan adalah bukti ketidaktegasannya. Tapi beliau mendapat pengakuan international. “Saya tidak ingin makin menjadi-jadi konflik dan benturan politik itu yang akhirnya membawa negara kita persis seperti 10, 11, 12, 13 tahun yang lalu…” hhmm, baiklah.

Artikel pembuka yang menghentak. Bagian kedua tentang ibu Sri Mulyani yang berani. Seorang change maker dan achiever. Kalimat menohoknya ada di sini: Kalau kita tidak bisa melakukannya, berhentilah menertawakan mereka. Itu adalah tulisan untuk beliau saat di dalam negeri mendapat kecaman tapi justru direkrut Bank Dunia.

Pak Kasali memang hebat dalam analisis. Tulisan beliau menyorot topik yang hangat dengan pandangan terbuka. “Perubahan belum tentu menjadikan sesuatu lebih baik, tetapi tanpa perubahan tak ada kemajuan, tak ada pembaruan.” Konflik memang meletihkan dan tidak menguntungkan bagi bangsa yang sedang berubag karena konflik terus memicu konflik, sedangkan ekuilibriumnya Cuma sebentar. Selain itu, masyarakat kita beranggapan konflik satu-satunya cara menggapai tujuan. Kata Tomatsu Shibutani (1966), “Informasi dibuthkan manusia untuk meramalkan tindakan.” Tapi Rosnow (1980) menemukan fakta selalu ada pihak yang punya kesenangan membelokkan informasi untuk kepentingannya. Ketidakpastian, pembelokan fakta, dan lemahnya otoritas membuat konflik berkepanjangan. Bagi kaum Hegelian (Van De Ven, 1995) suasana stabil hanya terjadi saat konflik seimbang. Perubahan terjadi saat yang satu berhasil mengalahkan yang lain.

Di Pertamina pergulatan perubahan terjadi pasang surut. Dulu Ibnu Sutowo bisa berkuasa 19 tahun (1957-1978), Faisal Abdoe 10 tahun (1988-1998) namun sejak reformasi pergantain direksi terjadi berulang kali. Soegijanto (9 bulan), Martiono Hadianto (1 tahun 2 bulan), Baihaki Hakim (3 tahun 6 bulan), Ariffi Nawawi (10 bulan), Wijaya Purnama (1 tahun 7 bulan) dan aArif sumarno (2006-2009). Muncullah dogma, ‘buat apa susa-susah berubah, toh sebentar lagi direksinya ganti.’

Kalau semua tangan gatal menahan diri, buakn mustahil Indonesia punya lokomotif ekonomi besar yang powerful. Syaratnya: pilih yang terbaik, beri kepercayaan, tuntaskan perubahan dengan positif aligment!

Dalam setiap perubahan diperlukan percakapan. “Everything happens, throuh conversation” kata Judith G Glaser dalam bukunya the DNA of leadership. Bahsa dan cara-cara yang kita pakai dalam berkomunikasi akan menentukan komunitas, hubungan, perabadan dan masa depan. 

Di zaman sekarang berkarier tak bisa duduk nyaman. Dulu orang bisa menggengam pekerjaan sampai pensiun dalam satu institusi dengan tenang. Sekarang sudah tak bisa. Generasi paruh baya dewasa ini melewati dunia kerja dengan rasa was-was. Tekanan persaingan yang begitu keras telah membuat eksekutif tidak bisa main-main dengan tim kerjanya. Enggan belajar sehingga ketrampilan skillnya usang, ucapkan selamat tinggal. Semua akan jelas saat seseorang menapaki usia kepala empat. Itulah saat di mana akan menjadi jelas apakah seseorang mampu memimpin atau tidak; mampu beradaptasi atau menjadi beban. Sebuah saat, di mana biaya tenaga kerja mulai terasa mahal penuh kompetisi.

Ini kutipan favorit, “Human being is lazy organism.” Kata McGregor. Tapi kini sudah dimodifikasi untuk terdengar lebih optimis, “Human being is a learning organism.” Yang berarti semalas-malasnya manusia, jika dibandingkan makhluk lain, manusia adalag makhluk yang musah belajar. Belajar adalah sarana meperbarui diri. Laiknya pepatah tua bilang, “Hidup akan menjadi mudah jika kita mau kerja keras (sakit) terhadapnya.”

Waktu berlalu kita semua pun turut larut dalam kebiasaan baru, membaca lebih cepat, lebih nyaman, tidak menggangu orang sekitar, lebih banyak celah untuk berisitirahat. 

“Ketika seorang pemenang mencari cara bagaimana menyelesaikan masalahnya, orang-orang yang kalah sibuk mencari alasannya.” Kutipan bagus sekali. Saat kita memasuki bab leadership, kita diajak mengenal lebih dekat apa itu kepemimpinan. Tak banyak pemimpin yang menyadari bahwa mereka telah menjadi bagian dari masalah, bukan solusi. Seorang pemenang selalu menghormati orang-orang yang lebih hebat dan mau belajar. Ia dihormati bukan karena menang atau dicurangi, melainkan karena menghormati kemenangan, menjaga kehormatan. (mendadak saya langsung berbesit pak Ahok). Tidak semua pemimpin itu ‘menjadi’, melainkan dibentuk orang lain.

“Jika mencurigai sesorang berbohong, berpretensilah seakan-akan mempercayainya; kebohongan akan terungkap dengan sendirinya dan topeng akan terbuka,” (Arthur Schopenhauer, 1788 – 1860). Dan begitulah. Buku ini sangat bervitamin. Saya sebenarnya ingin lebih banyak berbagi isi artikel tapi alangkah baiknya kalian menikmatinya sendiri. Karena melahapnya secara utuh tentu saja lebih berasa. 

Seperti kata Albert Einstein, “Kita perlu berubah sebab kita tidak dapat memecahkan masalah dengan alat yang sama yang diciptakan sebelum masalah itu muncul.” Selamat berubah!

“Sebelum rasa sakit seseorang melebihi rasa takutnya ia belum mau berubah.”

Let’s Change! | oleh Rhenald Kasali | copyright 2014 | Penerbit Kompas | KMN: 40205140016 | editor Amanda Setiorini | Perancang grafis A Novi Rahmawanta | x + 278 hlm; 14 cm x 21 cm | ISBN 978-979-709-794-3 | cetakan kelima, 2014 | Skor: 5/5

Karawang, 110617 –Justin Timberlake – Mirrors

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun |  1990 – 2017

#8 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku – terima kasih Perpus NICI  CIF

Iklan

Revolution 2020 #7


Aarti: “Kau seharusnya cari pacar. Jatuh cinta itu menakjubkan. Perasaan yang bahkan lebih dahsyat daripada menemukan panggilan jiwa.” | Gopal: “Jatuh cinta hanya terasa menakjubkan ketika pihak satunya membalas cinta kita.”

Buku baru kedua yang kubeli jelang Ramadan ini kulahap dalam tempo singkat sekalipun jumlah halamannya menyentuh angka 400. Sebuah buku dari India, pengarang ‘3 Idiots’ yang mengklaim sebagai Penulis India terlaris buku berbahasa Inggris sepanjang sejarah!

Kisahnya tentang, seperti yang ditulis dalam subjudul: Cinta, Korupsi, Ambisi. Cerita akan terus berjalan dalam lingkaran tiga kata itu. Cinta segita masa remaja yang berlarut sampai akhirnya sang pujaan harus menentukan kepada siapa cintanya bersandar. Korupsi yang membelit India, tak jauh beda dengan di sini, sudah kronis. Korupsi melumpuhkan integritas di berbagai sendi kehidupan. Dan ambisi, arti sukses tak melulu tentang uang yang melimpah. Bisa menaklukkan gadis pujaan dengan tetap bertegang teguh pada prinsip-pun adalah sukses yang luar biasa. Ambisi pemuda-pemuda India untuk meraih perubahan penuh di tahun 2020, nanti?

Sebuah prolog sederhana sebagai pengantar plot. Bahwa seorang pembicara besar baru saja selesai memberikan kuliah atas undangan universitas ternama. Setelah kalimat penutup, “Mudah-mudahan bukan hanya Anda, melainkan seluruh negeri juga akan terus mengorbankan harapan. Keren rasanya mengatakan bahwa ‘Aku berasal dari negeri dengan semiliaran harapan’”. Chetan lalu diajak pemilik Perguruan Tinggi Gangga Tech untuk bersantai di rumah mewahnya. Gopal Misha, pemuda yang sukses secara materi itu masih lajang. Seorang direktur muda yang dielukan banyak orang, menjamu dengan minuman keras. Nah saking mabuknya keesokan hari mereka tepar di rumah sakit. Saat itulah, Gopal memutuskan bercerita secara mendalam tentang masa lalunya. Tentang aarti – pelita yang dinyalakan di waktu subuh di sepanjang sungai suci Gangga. Tentang Aarti, gadis masa lalunya.

Lalu setelahnya kisah bertutur tentang Gopal. Bagaimana masa sekolah Gopal di Sunbeam School yang nakal bersama sahabat sejatinya, Raghav mencuri makan siang teman-temannya saat upacara. Salah satu siswi yang bekalnya kena adalah gadis dari keluarga kaya Aarti Pratap Pradhan. Empunya kue marah, dan membuat mereka dihukum. Tapi berkat kejadian itu mereka malah akrab. Sangat akrab.

Gopal dari keluarga sederhana. Seorang piatu yang dielukan ayahnya untuk jadi insinyur teknik. Seorang pensiun yang menginginkan anaknya bisa hidup terjamin di kemudian hari. Berseteru dengan saudaranya Paman Dubey yang sengketa warisan tanah pertanian tak kunjung berakhir. Raghav diceritakan seorang anak cerdas kebanggan Varanasi, kota setting kisah bercerita. Ia memenuhi kriteria orang pintar rangking satu sepanjang tahun. Aarti adalah anak politisi bersih yang berkecupukan. Cantik. Manja. Dan bercita-cita jadi pramugari. Di Varanasi tak ada bandara, tapi mimpi akan mengarahkan jalan menuju terwujudnya harapkan?

Nah, konflik pertama muncul saat pengumuman kelulusan dan tes ke Perguruan Tinggi impian AIEEE (All India Engineering Entrace Exam) dan IIT JEE (Indian of Technology Joint Entrace Exam). Raghav tentu saja lulus dengan gemilang. Aarti masuk ke jurusan psikologi di Agrasen College. Kursi mahasiswa hanya tiga ribu diperebutkan empat ratus ribu. Persentase lulus tipis untuk seorang pelajar dengan otak pecundang. Baba langsung meminta Gopal untuk try out tahun depan. Jadi selama setahun diminta belajar, intens di luar kota ke bimbel ternama. Awalnya Gopal menolak karena selain merasa otaknya tak mampu lagian keuangan mereka menipis, dari mana Baba akan mendapatkan uang untuk biaya ini? Namun orang tua mana yang tak mau berkorban demi pendidikan anak? Baba memaksa. Gopal turut. Iapun merantau ke kota untuk try out. 

Nah dalam rantau itulah sesuatu yang buruk terjadi. Hubungan Gopal-Aarti merenggang. Aarti yang awalnya mau berhubungan dengan sahabatnya karena Gopal justru kini mereka semakin dekat. Sahabat ditelikung. Awalnya mereka masih sering berteleponan, chat, tapi berjalannya waktu renggang. LDR emang tak enak. Maka setelah belajar di rantau Gopal mendapati bahwa dua sahabatnya kini berpacaran. Langsung down, marah dan caci maki bermunculan. F###!

Kondisi diperparah setelah belajar mati-matian, Gopal tetap tak lulus. Ketakutan informasi ini disampaikan kepada Baba membuatnya makin dilema. Tekanan yang membuatnya berfikir, mungkin seperti inilah rasa yang ada untuk mahasiswa bunuh diri karena gagal mewujudkan impian orang tua. Maka tamparan Baba memberinya fakta pahit kehidupan. 

Aarti dan Gopal sering menghabiskan waktu dalam perahu untuk menikmati sore atau pagi yang cerah sekedar bercerita di atas sungai. Membayangkan adegan itu saja, kita pastinya akan melonjak romantis. Tapi ingat mereka hanya sahabat, maka saat suatu hari Gopal mencoba mencium gadis pujaannya tentu saja ditolak. Sakit.

Konflik makin menarik saat Baba ditemukan meninggal dalam tidur yang membawa kemarahan terhadap anak semata wayangnya ke alam kubur. Pamannya datang untuk pemakaman, tapi tak lama berselang mereka langsung menawari uang guna menjual hak warisnya. Karena Baba saja menolak tentu saja Gopal bersikukuh menolak juga. Tanah warisan keluarga petani, pantang dijual sekalipun terhadap saudara sendiri. 

Kini hidup Gopal ditentukan oleh pilihannya sendiri, sebatang kara. Mau jadi pemenang atau pecundang selamanya. Maka ia memutuskan akan mendaftar pada perguruan swasta, mencari informasi lewat stan mahasiswa. Membandingkan harga kuliah, mencari yang berprospek bagus. Dan membuat rencana ke depan dengan gamang. Nah dalam prosesnya justru takdir mengantarnya pada seorang pejabat korup Shukla-ji. Pejabat kebanyakan yang gendut dan suka suap. Mengetahui Gopal punya tanah, daripada mencari tempat kuliah yang ga jelas maka muncullah pemikiran untuk membuat perguruan tinggi sendiri. Uang disuplai oleh snag pejabat, sengketa tanah dalam sekejap dibereskan. Karena ini tanah pertanian, maka untuk mendapat izin mendirikan tempat belajar harus mendapat izin dari Pemerintah setempat, suap pun digelontor kesiapa saja para koruptor yang berwenang mengambil kebijakan.

Sementara kedua sahabatnya Aarti dengan Raghav semakin renggang. Karena Raghav seorang mahasiswa teknik justru malah tertarik pada jurnalis, bercita-cita jadi wartawan. Sangat mengejutkan saat lulus bukannya menerima tawaran bekerja di sebuah perusahaan terkemuda di bidang teknologi, malah memilih bergabung dengan koran lokal BHU bergaji pas-pasan. Orang tua marah, ijazahnya tak digunakan. Tapi Raghav adalah seorang idealis, mewujudkan mimpi adalah yang utama.

Nah konflik sesungguhnya kisah ini ada di sini. Raghav mengulas betapa korupnya para pejabat kota Varanasi. Artikelnya lugas dan sangat berani, suatu ketika menyeret Shukla-ji, membuatnya berang. Maka dengan kekuatan uang ia dihukum, Raghav dipaksa PHK oleh redaktur. Pemecatan itu tak menyurutkan niatnya membongkar yang salah. Tersulut untuk terus berkarya, Raghav membuat koran independen Revolution 2020 – ininih yang diambil judul. Awalnya jadi bahan ketawaan, karena selain berisi berita politik mereka menerima iklan kontak jodoh demi kelangsungan hidup di media cetak. Tapi dari cemooh itulah, Raghav memberi pukulan telak. Kasus korupsi proyek sungai suci Gangga dibongkar dengan data akurat, bahwa sebuah Perusahaan milik Shukla-ji telah mencemari lingkungan dan uangnya ditilep. Karena sang pejabat adalah donatur Gopal maka dua sahabat ini akhirnya benar-benar berseteru. Keadaan Varanasi memanas, Shukla-ji dipaksa lengser hingga mendekam dalam penjara. Koran Revolution 2020 – R2020 disorot media India, dan dielukan karena keberaniannya. Namun tak bertahan lama karena kantor mereka besoknya diporakporandakan LSM – preman membuat komputer, printer dan peralatan kantor hancur. Ok, mereka bisa saja menghancurkan sarana tapi tekad menggebu Raghav tak akan hancur. 

Waktu mendesak. Aarti yang setelah lulus bukan jadi pramugari tapi malah menjadi front desk hotel dipaksa orang tuanya segera menikah. Diantara dua sahabatnya yang sama-sama dicinta. Gopal yang kini memiliki uang berlimpah dan mapan ataukan kepada Raghav yang kere dan idealis, bahwa hidupmu akan berarti kalau bermanfaat bagi orang lain. Kepada siapa hati pelita berlabuh?

Well, bagian saat Gopal belajar di kota itu sangat bagus. Memberi nyawa semangat bagi para pembelajar untuk terus menyalakan api harapan. Bagian saat tahu bahwa Raghav tak mau disuap dengan apapun itu sangat luar biasa. Jadi seorang yang lurus memang berat diantara masyarakat korup. Bagian saat Gopal galau terhadap tarik-ulur cinta Aarti itu juga sangat indah dinikmati. Bagaimana cinta sejati itu membunuh perlahan bagi hati yang kesepian. Sayangnya, eksekusi endingnya kedodoran. Apalagi tiba-tiba Gopal melakuakn blunder konyol mengundang dua pelacur, duh sinetron banget. Lalu dengan mudahnya bung Chetan memberi happy ending bagi semua pihak seakan hidup ini samudera pelangi. Anti-klimak. Sayang sekali.

Aarti. Berkat buku ini saya jadi tahu apa itu aarti. Nama yang sejuk didengar. Pelita harapan India menyongsong perubahan besar, dari sekarang berarti 3 tahun lagi. Good luck R2020!

Revolution 2020 | by Chetan Bhagat | diterjemahkan dari Revolution 2020 | terbitan Rupa Publications India Pvt. Ltd., 2011 | Penerjemah Reni Indardini | Penyunting Indar Kumalasari | Perancang sampul Ads studio | Ilustrasi sampul dan isi Upiet | Pemeriksa aksara Septi W.S & Indari dyah P. | Pemeriksa Aksara Endah Adytia | Penerbit Bentang | Cetakan pertama, Oktober 2013 | vii + 436 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-602-7888-70-8 | untuk ibuku – untuk Varanasi – untuk Sungai suci – untuk pelajar India | Skor: 3,5/5

Karawang, 110617 – Backstreet Boys – Just Want You To Know – RIP Jupe

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun |  1990 – 2017

#7 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku