Kolam Darah #6


Nyi Imas: “Semua berawal dari penghianatan. Pertama tentu saja Nyi Katon, yang ketika dijadikan gundik tak memberitahukan bahwa dirinya keturuan penyihir. Dan juga di dalam darahnya mengalir kekuatan jahat dari para pendahulunya.”

Tak kusangka cerita misteri horror sederhana seperti ini bisa membuatku begidik. Selesai baca dalam sekali duduk di malam selepas taraweh, sendiri dalam remang yang membuat bulu roma berdiri. Salut, awalnya. Pondasi cerita sudah sangat bagus. Memberi pembaca aura takut akan lukisan seabad yang seakan hidup. Memberi kita sebuah keris, pusaka jaman dulu yang mistis. Menantang kita dalam pusaran kehidupan dimensi lain, sehingga bumbu perebutan warisan ala sinetron dan cinta usang itu bisa disulap jadi balutan cerita misteri berbobot. Saya sempat takut ke dapur, melihat pisau yang tergeletak malam itu, apalagi lampunya tewas sehingga remang mencipta bayang kabur. Yah, pada dasarnya kisah horror adalah fiksi yang paling jarang saya nikmati. Keputusan menikmatinya sekedar memenuhi janji, bahwa saya pelahap semua genre. Dan tak kapok.

Kalimat pembukanya, “Itu mungkin dosa. Dosa yang manis sekaligus aneh dan membingungkan”. Suharyadi adalah seorang juragan teh yang dilanda rasa bersalah. Seorang alkoholik yang malam itu dirundung dilema. Ia seorang duda yang terbebani dosa. Suatu malam saat bercinta dengan istrinya dalam keadaan mabuk di depan lukisan mendiang. Sang istri menolak dan minta dihentikan. Percintaan kedua di kamar, Ningsih lebih menerima dalam kesedihan. Di rumahnya yang besar tergantung lukisan tua ayahnya Anggadireja, pendiri perkebunan. Dengan kostum kebangsawanan gemerlap. Posisi tangan menggenggam keris berbentuk ular yang terselip di pinggang, keris patigemi. Sorot matanya tajam menusuk, dan senyum bibirnya seakan mengejek. Di depan lukisan itu terdapat tungu menyan yang baunya menyengat. Malam itu Suharyadi ditemukan tewas di halaman rumah dengan luka lubang di lambung, luka berbentuk liukan keris. Sepasang pembantunya, Ardi dan istrinya Sarijah yang mendengar teriakan itu mencari juragannya di kamar. Namun baru sadar salah tempat karena tubuh Suharyadi sudah merenggang nyawa di depan rumah. 

Agus adalah anak angkat Suharyadi yang diminta pulang segera karena kabar itu. Agus adalah pekerja tambang di Batam, sebagai anak pembantu yang diangkat juragannya ia adalah anak kesayangan. Ia diberi kabar oleh Maharani, putri pertama almarhum. Sesampainya di rumah duka, ada Rudi, adik Maharani yang marah-marah terhadapnya. Ardi kini justru mendekam di penjara karena dituduh melakukan pembunuhan. Rudi arogan, pemabuk yang selalu menyalahkan keadaan. Istrinya Elisa kini sedang sakit parah. Sementara suami Maharani, Suherman terlihat aneh juga. Keluarga ini janggal, tak satupun memiliki anak. 

Di kantor polisi, Agus bertemu dengan teman sekolahnya Hindarto. Kini temannya menjadi Kepala Sektor Kepolisian. Ini adalah kasus pertamanya, dan sangat janggal. Ia khawatir gagal, gagal membuat kesan bagus pada bosnya. Nah saat mereka akhirnya bertemu, saling sapa dan senyum. Agus menyampaikan maksud. Sulit, karena Agus minta ayahnya dibebaskan dengan syarat. Jaminan adalah Agus, sahabatnya sendiri. Ia takkan menghilangkan barang bukti atau kabur. Awalnya menolak, tapi demi persahabatan ia mau. Apalagi selama interogasi, Ardi selalu mengelak dan bilang hal-hal berbau mistis bahwa yang membunuh juragannya adalah mendiang yang ada dalam lukisan, juragan besar Anggadireja.

Sesampainya di rumah bukan sambutan hangat yang diterima justru pertengkaran. Mayat Suharyadi masih diotopsi di rumah sakit, lubang kuburnya masih belum ditutup. Keluarga ini sudah bertengkar tentang warisan. Rudi menuduh ada sekongkol dari keluarga Ardi, tentu saja keluarga Ardi membantah bahwa kematian itu bunuh diri atau dibunuh arwah sang ayah. Perseteruan itu berujung, pada kaburnya Rudi karena kena tampar istri. Keluarga Ardi berencana pergi setelah acara pemakaman esok sebagai bukti mereka tak berminat warisan.

Tapi kisah ini justru baru mulai di sini. Suherman yang melerai menerima ‘bisikan’ tak bertuan, “Kau penipu.” Dan kilas dibalik plot pun dibuka. Suherman bersekongkol dengan dukun Ki Somawinata. Dukun jahat itu ingin warisan (dan dendam lama terbalas). Melalui sebuah keris ajaib di mana bisa berdiri dan memancarkan cahaya di mata ularnya, Suherman bisa ‘tamasya’ ke alam lain. Mengantar Rudi yang sedang di lobi hotel bersama pelacur untuk bergegas ke kuburan. Terjadi tragedi babak kedua, mayat Rudi ditemukan di lubang kubur ayahnya dengan salah satu kakinya terjulur ke atas.

Maka dalam satu hari itu terjadi upacara duka ganda anak-ayah. Setelah selesai, kisah perang gaib yang membuat ngeri terjadi lebih intens. Masa lalu diungkap, masa lalu sang pendiri perkebunan. Dendam dengan gundiknya, mantra udang di sungai yang terpendam ratusan tahun dipanggil. Dan seteru perebutan warisan ini hanya sempalan menuju klimak malam berdarah. Siapa selamat dalam perang teluh ini?

Well, separuh awal kisah ini sangat bagus. takjub juga pada penuturan awal bagaimana arwah bisa ‘melintas’ memberi bisikan gaib yang mengantar Rudi pada kolam darah. Ikut begidik saat keris itu dibawa melayang mencari korban, takut pada karakter penting yang kena tusukannya. Tapi setelah itu kisah langsung drop. Sampai di bagian makan udang itu mulai mengendur. Kegagalan menjaga tensi terus terjadi sampai akhir saat ‘nostalgia’ para sesepuh bersatu. Sosok dan darah yang dituturkan juga sangat sinetron. Ala kadarnya untuk membuat happy ending. Harusnya bisa lebih berani. Matikan saja tokoh utama, tokoh penting yang kharisma atau bahkan si anak emas Maharani. Sayangnya bung Harahap tak berani mengambil resiko sad ending, sehingga ketakjuban itu runtuh bersamaan.

Lebih disayangkan lagi, nukilan di backcover berisi spoiler berat. Aduh, bagaimana bisa penjelasan penting ditaruk di sana. Dibagian “… dan terus bergetar semakin kuat. Membuat lantai maupun benda apa saja yang ada di ruang duduk itu – termasuk mayat Suherman dan Elisa, tam[akmikut bergetar..” duh, celaka poin penting bocor sehingga sampai akhirnya sampai di sana tak ada kejutan.

Ini adalah buku pertama bung Harahap yang saya baca. Melihat promo buku lainnya di halaman belakang ‘Misteri Sebuah Peti Mati’ ada dua seri rasanya memang beliau ahli dibidang takut-menakuti pembaca. Yah kalau ada kesempatan lagi, mungkin bisa saya lahap juga. Seakan aura seram mengelilingi kita, menyebar di udara saat membacanya.

Kolam Darah | oleh Abdullah Harahap | GM 412 0113 0003 | Sampul oleh Eduard Iwan Mangopang | diterbirkan pertama kali oleh PT. Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, 2013 | 256 hlm; 18 cm | ISBN 978-979-22-9972-4 | Novel Dewasa | Skor: 3,5/5

Karawang 100617 – Ronan Keating ft. LeAnn Rimes – Last Thing on My Mind 

#6 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

*) buku ini saya beli pada tanggal 1 November 2016 di Gramedia Pejaten saat malam santai training Seven Habbits by Steven Covey

Iklan

Catching Fire #5

Gale: “Selamat untuk apa? Kelaparan? Bekerja seperti budak? Mengirimkan anak-anak mereka untuk hari pemungutan? Kau tidak menyakiti siapapun – kau memberi mereka kesempatan. Mereka hanya cukup untuk berani mengambilnya. Sudah ada omongan di tambang. Orang-orang ingin berjuang. Ini sedang terjadi, akhirnya terjadi! Jika terjadi pemberontakan di distrik delapan kenapa tidak juga di sini? Kenapa tidak di semua tempat. Kita harus bergabung dengan perjuangan ini.”

Collins berhasil menulis buku kedua yang lebih bagus daripada buku pertama. – The New York Times. Untuk kualitas secara keseluruhan saya kurang sepakat. The Hunger Games masih lebih bagus. Lebih intens dan mendebarkan. Untuk Catching Fire, karena polanya sama dimana jagoan diturunkan ke arena untuk saling bunuh jadi tak terlalu membuat impresif. Tapi memang masih ini buku yang bagus, sebagai pengantar final. Bisa dinikmati dengan lebih tenang. Kenapa? Karena ada buku ketiga, bagaimana-pun juga jagoan utama pasti selamat sekalipun tersudut di tempat paling berat. Karena buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama, kita diajak ikut berfikir langkah-langkah apa berikutnya untuk diambil.

Katniss Everdeen kembali dari pertarungan the Hunger Games dengan kemenangan bersama Peeta. Untuk pertama kalinya games itu dimenangkan oleh dua orang. Karena aturannya dari 24 remaja yang ke arena, seharusnya hanya satu yang selamat. Keputusan game ke 74 itu membuat sang presiden Panem, Presiden Snow geram. Apalagi dua pemenang dari distrik 12 karena alasan cinta, klasik. 

Katniss memulai kehidupan barunya dengan limpahan makanan dan kekayaan. Tinggal di desa pemenang. Mereka sedang bersiap melakukan tur kemenangan ke semua distrik hingga ibukota Capitol. Dibantu penata rambut nyentrik sekaligus sahabat Cinna. Pelatih pemabuk berat Haymitch. Dan jajaran penata penampilan aneh: Flavius, Octavia, Venia.

Suatu ketika Presiden Snow melakukan kunjungan mendadak ke rumah Katniss. Presiden kejam dan angkuh itu terlihat marah, namun meredamnya. Ia langsung bertemu Katniss, “Kalau ketua juri pertarungan, Seneca Crane punya otak, seharusnya dia meledakkanmu sampai berkeping-keping di arena. Tapi sayangnya dia bersikat sentimentil. Jadi kau ada di sini sekarang. Bisa kautebak di mana ia sekarang.” Dan secara tersirat diminta untuk melakukan akting cinta dengan Peeta dengan lebih meyakinkan.

“Aku tahu. Aku akan melakukannya. Aku akan meyakinkan semua orang di distrik-distrik bahwa aku tidak melawan Capitol, bahwa aku jatuh cinta setengah mati.”

Akting yang setengah hati. Karena cinta Katniss untuk Gale, pemuda setempat yang sudah menemaninya berburu, teman sepermainannya sejak kecil. Apalagi saat di hutan terjadi ciuman (yang diketahui pihak berwenang) maka makin sulit mewujudkan pura-pura. 

Suatu hari saat di hutan, di sebuah danau Katniss bertemu dengan orang asing dari distrik 8, Twill dan Bonnie. Mereka sedang melarikan diri guna menyusun kekuatan ke distrik 13 yang konon sudah hancur. Pertemuan itu memberi kesan bahwa Capitol harus dirobohkan, revolusi adalah jawaban untuk menghentikan ketidakadilan. Apalagi Katniss sudah menyulutnya. Simbol pin mochingjay sudah dijadikan pegangan. Tapi apakah mereka sudah siap? Awalnya Katniss ragu atas kebenaran bahwa distrik 13 masih ada, tapi dalam sebuah tayangan televisi yang rutin tiap tahun terlihat gambar kehancuran distrik 13 dengan frame yang sama. Membuat kita ikut terfikir, berarti potongan gambar itu palsu bukan live.

Tur kemenangan Katniss dan Peeta sendiri berakhir dengan kurang bagus. Terjadi huru-hara, pemberontakan kecil, pembunuhan terhadap pejuang. Jelas ini tak bagus untuk Katniss yang mencoba meyakinkan sang presiden. Akhir dari tur di ibukota Capitol, Katniss bertemu dengan ketua juri baru, pengganti Seneca, Plutach. Dalam pertemuan itu secara implinsit memberi tanda sebuah jam dengan simbol mochingjay yang tentu saja membuat Katniss terkejut. The Hunger Games kali ini akan menjadi spesial. Pada seri ke 25 peserta bukan diundi tapi dipilih oleh warga sendiri yang menunjuk orang-orang disekitar yang tertinggi itulah pesertanya, Quarter kedua seri 50 lebih gila lagi, pesertanya dilipatgandakan jadi 48. Nah di seri inilah si pelatih Katniss menang. Nantinya ada video yang harus mereka pelajari, yang jadi kunci penting. Adegan di jurang itu!

Saat The Hunger Games ke 75 akhirnya kembali dibuka. Sebuah kejutan dilontarkan. “Dan kita sekarang menghormati Quarter Quell ketiga”. Siapapun yang membuat sistem Quarter Quell sudah siap untuk berabad-abad hunger games. Sang presiden mengambil amplop yang bersampul jelas bertuliskan 75. Tanpa ragu ia membacanya, “Pada perayaan yang ketujuh puluh lima. Sebagai pengingat bagi para pemberontak bahwa bahkan yang terkuat pun takkan bisa mengalahkan kekuatan Capitol, para lelaki dan perempuan akan dipilih dari nama-nama pemenang yang masih hidup.”

Ibu memekik kaget dan Prim mengatupkan kedua tangan ke wajah tapi Katniss merasa seperti orang-orang di kerumunan di televisi. Tercengang, distrik 12 hanya memiliki tiga pemenang yang masih hidup. Satu perepuan dua laki-laki. Itu artinya, Katniss kembali ke arena!

Nah, sampai di sini saya langsung teringat akan poster filmnya. Jennifer Lawrence membelakangi kita, berbaju balutan hitam, rambur dikepang, dengan punggung berisi amunisi isi panah dan busur di kiri. Ternyata inilah penyebab ia harus kembali. Hebat. Ada saja ide yang mengharuskan sang jagoan untuk lagi-lagi bertarung.

Maka tak ada pilihan lain. Peeta dan Katniss maju. Ulangan buku sebelumnya. Berlatih, pamer gaya, wawancara, bersekutu. Dalam pamer gaya terjadi sesuatu yang membuat juri begidik, karena Katniss malah menggantung boneka bertulis ‘Seneca Crane’. Lalu kejadian yang lebih menghebohkan adalah pas wawancara akhir, Peeta dengan akting meyakinkan bilang bahwa mereka sudah menikah dan saat ini Katniss sedang mengandung! Wow, tentu saja menggemparkan. Seorang wanita hamil ada dalam arena bunuh-membunuh. 

Malam terakhir itu mereka menghabiskan di atap gedung, bercengkrama, menyusun strategi. Saat akhirnya kita dibagian akhir, kita disuguhi sebuah judul aneh, ‘Sang Musuh’. Yang ternyata mereka harus menerka mana musuh mana sekutu. Arena hunger game ke 75 sendiri hanya berisi 1/3 bagian. Saat Katniss sudah dalam ruang kaca, Cinna sahabatnya dilumpuhkan karena mendukung pemberontakan. Dan hingga akhirnya Cornucopia terlihat, peluit kick off pun terdengar. Adakah kesempatan kedua untuk mereka selamat? Pertarungan kali ini lebih seru, menyeret teknologi sebuah pelindung fatamorgana. Laut yang membatasi, senjata minim dan bantuan yang tipis. Dengan amarah meluap, panitia sebisa mungkin membuat para jagoan terlihat lemah, semakin cepat peserta habis semakin bagus. Namun ada kejutan besar di penutup. Siapakah juara sejatinya?

Bagusnya buku ini adalah ada rencana tersembunyi yang tak diketahui sang protagonis sehingga ia seakan pion yang berjuang sendiri. Padahal ada banyak dukungan berkat simbol mochingjay yang diperkenalkannya. Ada beberapa bagian yang membuat mual, saat pertarungan. Ada beberapa yang dengan bagus diungkap dengan kejut, terutama bagian tengah saat jelang pengumuman peserta. Ada beberapa yang mulai bosan, terutama akting kekasih yang terus berulang. Tapi secara menakjubkan, kisah ini terus bergerak. Sekalipun pertarungannya sendiri adalah ulangan. 

Kisah pemberontakan sudah sering sekali dibuat. The Hunger Games: Cathing Fire hanya jembatan untuk eksekusi final kisah ini. Saya masih menutup mata dan telinga untuk mengakhiri petualangan Miss Everdeen. Semoga menghentak. Api sudah dinyalakan, dan pemberontakan besar sudah dimulai. All hail the king!

Tersulut | by Suzanne Collins | copyright 2009 | diterjemahkan dari Catching Fire | alih bahasa Hetih Rusli | GM 322 01 10 0009 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan ketujuh, Mei 2012 | 424 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-5981-0 | untuk orang tuaku Jane dan Micahel Collins, dan mertuaku Dixie dan Charles Pryor | Skor: 4/5

Karawang, 100617 – Westlife – Season In The Sun

#5 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

Thanks to Widy Satiti untuk pinjaman bukunya.