Planetes: Memburu Tongkat Silex Luminar! #4

Lapendrengr: “Kau tahu, sebenarnya topi ini juga dibuat dari bulu Cunnindrottin. Tapi kalian yakin mau kembali bersama Maer? Maer tidak punya kekuatan sihir tanpa Silex Luminar.”

Buku pertama karya Ziggy Zezsyazeovienna Zabrizkie yang saya baca. Kesan pertama lihat nama Penulis ini nyeleneh, namanya susah dieja. Awalnya kukira ini nama Pena, tapi ternyata (katanya) asli. Kreatif juga ortu-nya. Justru Ginger Elyse Shelley adalah nama penanya. Buku baru yang kubeli jelang puasa ini kelahap dengan kilat. Diluardugaku, lumayan bagus. Serasa membaca buku kelas international. Dengan dunia fiksi genre fantasi, Bung Ziggy mencipta tata surya versi sendiri. Hebat juga ada Penulis lokal rasa luar negeri.

Kisah Planetes dibuka dengan sebuah prolog ‘aturan’ main yang akan kita nikmati. Bahwa zaman dahulu kala bumi tidaklah bulat. Dunia dibagi dalam tiga area. Nirwana Caelum. Neraka Atyra. Dan makhluk fana Terra. Zaman itu keajaiban masih banyak terjadi. Ada penyihir, naga, kurcaci, peri. Di utara yang dingin tinggallah peri. Pantai timur yang hangat tempat para siren tinggal, penjaga lautan. Di selatan yang kelam adalah pemukiman para naga, penjaga langit. Di barat tempat matahari terbenam tinggallah kurcaci dan goblin yang bermusuhan. Nah di Terra tinggallah manusia, banyak manusia. Manusia tinggal di Timur laut, tenggara dan barat daya. Manusia tinggal di sela-sela menyesuaikan diri dengan makhluk yang ada di sekelilingnya. Sementara di barat laut adalah negeri mati. Tidak ada yang tinggal di sana karena negeri sunyi. Tidak ada suara bahkan tak ada seekor kecoak-pun yang berkeliaran di tanah gersang hitam di barat laut. Kisah ini adalah kisah kuno yang disimpan rapat mengenai terbentuknya dunia. 

Dari prolog ini saya sudah menduga di barat laut tidaklah segersang yang dilantunkan, pasti ada sesuatu yang mengguncang. Tepatkah?

Dari nama-nama bab saja kita sudah disuguhi sesuatu yang tak biasa. Nama-nama khas fantasi; Salvsigr, Salvar, Anleifr, Outhe, Helemud, Pykare, dan Barat Daya. Itu adalah nama-nama setting tempat ketika cerita bergerak. Dari Salvsign kita diperkenalkan dengan karakter utama berusia 13 tahun Agni Sagbaer. Seorang anak angkat Paman Alder dan bibi Holly. Mempunyai saudara ipar kak Alviss dan adik Kassia. Remaja yang suka berburu di hutan ini suatu hari menangkap mahkluk yang jatuh dari langit. Penghuni Caelum itu diselamatkan dan dirawat keluarga Alder. Makhluk bernama Asmaer mengaku kehilangan sebuah lampion, nantinya kita ketahui itu adalah tongkat Silex Luminar. Tongkat itu rencana untuk melipat dunia, kalau sampai terjatuh di tangan yang salah dunia bisa celaka. 

Maka Agni pun mengajak Maer bertemu dengan orang asing yang pernah keluar dari Salvigr yang kini tinggal di tepi danau bernama Eoraed. Ia adalah orang aneh, penampilan bak penyihir dan jelas bukan penduduk asli. Setelah Maer bercerita, ia pun antusias membantu. Karena Silex terjatuh kemungkinan di dunia Pykare maka mereka pun berencana berpetualang ke sana. Dalam satu tim adalah: Maer, Eoraed dan Agni. Tapi dalam realisasinya Alviss bergabung dalam tim. Dengan sebuah perahu ajaib mereka mengarungi sungai hingga di laut lepas.

Daerah di balik hutan itu area asing. Mereka akan menyeberang ke Salvar dengan berlari, karena saat air laut Benava surut akan ada jalan setapak yang kala air pasang tenggelam. Di laut itu tinggallah mahkluk siren. Mahkluk sihir aneh yang gemar makan ikan, sama seperti kehidupan manusia. Ada siren baik dan jahat. Nah dalam perjalanannya Agni terseret dan ditarik siren hingga tenggelam. Kepanikan itu nyaris saja membuat nyawanya melayang, tapi karena Agni tokoh penting dan ini baru pemulaan kisah saya sudah menduga ia selamat. Dan benar saja, di sebuah gubuk kecil tergeletak Agni yang sudah dibekukan. Agni kena sihir, manusia yang tenggelam di laut Benava akan diidentifikasi para siren lalu akan diputuskan akan diapakan. Agni pun siuman dengan bergelagap berteriak, “Aku melihat mata! Banyak mata! Lalu mereka menarikku ke dalam air, ke dasar laut!”

Dari Shari, siren yang menolong mereka lalu bercerita bahwa belakangan ini ada mahkluk Atyra yang terjerat. Mereka mati dan mayatnya menjadi asap, hilang. Itu berarti perebutan Silex benar-benar sedang berlangsung. Perjalanan berikutnya mereka menembus rawa, Shari memutuskan masuk dalam tim. Dengan kuda mereka berpacu menuju negeri para Penyihir.

Naas saat terjebak di rawa, ada karakter yang ditewaskan. Lalu saat benar-benar terjepit muncullah sesuatu yang tak diduga. Maer yang sebelah matanya ditutup, saat penutupnya ditanggalkan terjadilah perubahan. Maer menghilang, digantikan pemuda tinggi dengan kekuatan sihir yang lebih kuat bernama Lapendrengr.

Saat langit mulai gelap, lelah dan kuda dalam helaan pacu pelan, mereka dikejutkan teriakan Eoraed, “Eques!” dan tiba-tiba kuda pacu dalam kecepatan maksimal. Adalah saudara Eoraed, Rosabel Dremmel yang membantu proses perjalanan sehingga bisa sampai lebih cepat. “Selamat datang di Anleifr.”

Dari rumah sederhana Rosabel mereka mengistirahatkan tubuh. Esoknya mereka ke Charbocle, toko sihir penuh sihir. Sang tuan rumah Adamounde Veya, adalah penyihir nyentrik yang sudah berusia ratusan tahun. Toko tersebut di atas tanah terlihat kecil dengan tulisan ‘Toko yang Tak Mau Kau datangi.’ Saat masuk dan diajak ke lantai bawah ternyata luas sekali. Berisi benda-benda sihir. Adamounde bisa meramal masa depan. Jadi maksud kedatangan mereka dia sudah tahu. Senjata-senjata sihir itu dijual dengan tukar-tambah, bukan dengan uang tapi dengan benda/barang/informasi berharga dari calon pembeli. 

Agni mendapat busur Nymyl, kurcaci pemanah yang paling dihormati bahkan oleh peri dan ditakuti naga. Ditukar dengan tali kulit rusa. Eoraed Dremmel mendapat dua kapak dari sisik naga yang entengnya luar biasa ditukar dengan lonceng Kassia. Alviss mendapat pedang Fyrth, satu-satunya buatan siren. Dibuat dari mutiara dengan kekuatan siren. Bisa memotong batu besar dengan sekali ayun. Kalau digunakan di bawah bulan biru, saat masuk ke dalam air maka bisa menggunakan sihir siren. Ditukar dengan informasi nama siren yang tenggelam di rawa. Rosabel mendapat tongkat Anwalde ditukar dengan kuali. Dan terakhir untuk Lapendrengr mendapat sabit ganda Daungere, dibuat dari tulang-tulang raksasa yang direbus di malam bulan sabit, sang penyihir meminta ganti sebuah topi putih. 

Sekalipun mereka kehilangan benda berharganya tapi senjata itu adalah peralatan penting menuju petualangan sejatinya. Maka saat esok tiba mereka menuju Outhe. Dengan segenggam kuncup bunga diremas lalu dijatuhkan isinya ke tanah, muncullah asap abu-abu yang mengantar mereka melintas dimensi. Sampailah di pegunungan putih negeri Utara. Semakin jauh mereka berjalan semakin aneh kejadian yang menimpa. Dan ramalan itupun didengungkan. Satu orang membawa Takdir. Satu orang kehilangan kekasih. Satu orang dalam pencarian. Satu orang menjadi pembimbing. Dan satu orang menjadi tertuduh. Saat waktu menipis, perebutan Silex antara para goblin, kurcaci, dan sang antagonis utama Agnar muncul di tengah perang. Akhirnya kepada siapa togkat sakti itu menuju?

Hebat. Adalah kata pertama yang terlintas saat usai membaca. Ada karya lokal yang luar biasa imajinaf. Saya membaca cepat karena memang penasaran. Ada kejutan, setidaknya ada dua. Pertama saat di rawa bagaimana bisa seorang karakter berubah wujud dengan menimpan identitas aslinya. Kedua saat eksekusi ending, sang antagonis yang sedari awal disebut tak muncul-muncul nah ternyata di akhir kita dikecoh (lagi-lagi) identitas. Terasa menyenangkan membaca fantasi anak bangsa.

Sayangnya ini dicetak sederhana oleh penerbit minor. Tak ada nomor ISBN. Ada beberapa typo ditemukan. Bukunya terlalu tipis. Kovernya bagus, tapi bukan karya asli yang dibuat khusus untuk buku ini karena diunduh dari web. Kemudian di sela-sela kisah akan ditemukan nukilan/kutipan dalam kotak yang ‘menarik’ di halaman tersebut, tapi jatuhnya malah tak menarik. Potongan kisah macam gitu cocoknya untuk buku pelajaran yang meringkas poin penting. Untuk fiksi seharusnya jangan. Kualitas kertas buramnya juga kurang OKe, dimana baru seminggu kupunya sudah muncul bercak kuning di mana-mana, jadi sayang sekali kalau dikoleksi dan dipajang di lemari, tak sedap dipandang. 

Kekurangan lebih banyak di non teknis cerita, jadi bisa ditutup kalau Ziggy mengajukan karyanya di Penerbit yang lebih bernama. Kutunggu karya-karya anda berikutnya ZZZZ.

Planetes: Memburu Tongkat Silex Luminar | oleh Ziggy Zezsyazeovienna Zabrizkie | Editor Aya Sophia | Tata sampul Febri | Tata isi Atika | Pracetak Wardi | Cetakan pertama, Juli 2013 | Penerbit Laksana | Sumber gambar cover: http://www.deviantart.com | Skor: 3,5/5

Ruang HR NICI CIF – Karawang, 050617 – Sherina Munaf – Menikmati Hari

 #4 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku​

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s