Habibie & Ainun #2

image

Habibie: “Apa yang Pak Harto sampaikan kepada saya?” – 28 Januari 1974 di Jalan Cendana No. 8

Inilah buku yang menjadi pegangan film Habibie & Ainun. Karena saya menonton filmnya dulu maka apa yang saya baca tidak mendapat inti secara utuh. Poinnya sama, jadi yah tinggal membayangkan gerak Reza dan BCL dalam bayang jadilah sebuah kisah. Dari pembuka, kita sudah diberitahu bahwa buku ini dicipta tak lama setelah sang istri meninggal. Sebuah memoar cinta untuk orang terkasih. Sebuah terapi self-healing aktif untuk sebuah karya. Salut. The big you and the small I.
Harapan pertama menikmati karya ini adalah untuk mendapat romansa salah satu orang besar milik kita, milik bangsa ini, mantan presiden RI ketiga BJ Habibie. Jadi saat bahasan tentang masa lalunya dengan sang istri, Ainun Habibie kita akan ikut terseret dalam nuansa cinta sejati bagaimana keluarga kecil mereka begitu hidup dan (terlihat) menyenangkan sekali. Setia. Tapi saat bahasan ke arah teknis pekerjaan yang menggunakan istilah akademis maka saya langsung kehilangan arah, ga terlalu nggeh. Seperti membaca jurnal laporan karya ilmiah.

Kisahnya dibuka dengan sebuah pertemuan romantis di suatu pagi tanggal 7 Maret 1962 di Rangga Malela 11, Bandung. Saat itu Habibie bersama saudaranya Fanny sedang berkunjung ke keluarga Besari. Dengan mengendara mobil, mereka ke sana. Saat itu jelang malam Takbir. Awalnya Fanny meminta Habbie menunggu di mobil tapi setelah setengah jam berlangsung, tak ada tanda Fanny kembali sehingga Habibie muda itu memutuskan masuk. Setelah menyapa, “Hallo, hallo, hallo” tak ada yang menjawab itu memutuskan masuk. Dan tak disangka, malah ketemu Ainun muda yang sedang menjahit. Dengan memakai celana jean panjang, Ainun juga kaget. Kalimat pertama yang terucap dari Habibie adalah, “Ainun, kamu cantik. Dari gula jawa menjadi gula pasir.” Setelah tujuh tahun tak bertemu mereka saling tukar kabar. “Rudy, kapan kamu tiba dari Jerman?”

Lalu Fanny, dan keluarga Besari muncul untuk bergabung. Dalam memoarnya Ainun menulis, “Dan mulailah timbul perasaan-perasaan yang terpendam selama itu.” Suasana keakraban mulai tampak. Calon mertua tanya jawab mengenai kebudayaan Jerman dan rencana ke depan. Habibie bercerita dengan senang hati dan berdebar juga, tapi saat Asar tiba dan harus pulang temu ‘inspeksi’ ini harus terhenti. Mereka meminta Habibie untuk datang lagi selepas Magrib untuk merayakan takbiran. Silaturahmi itulah awal dari perjalanan panjang keluarga Habibie. Ainun dari keluarga intelektual, egaliter bebas, relijius dan terbuka. Sempat membuat minder calon pak Presiden tapi takdir memang mengesahkan mereka berjodoh.

Saat hari raya Id, mereka kembali bertemu. Satu jam perjalanan pulang itu, Habibie langsung menyatakan inti. Bertanya, “Saya tak bermaksud untuk mengganggu rencana masa depanmu. Apakah Ainun sudah memiliki kawan dekat?” Ainun diam, tapi karena ia harus memastikan jawab ia mengulangi untuk menekan perjuangan dan ketulusan. Lalu Ainun memandang mata Habibie dan menjawab, “Saya tak memiliki kawan atau teman dekat dan khusus.” Dan berbungalah hati pemuda itu. Jatuh cinta, bersambut. Duh berjuta rasanya.

Berikutnya mereka makin dekat. Ainun ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan dokter ahli anak, bekerja di RSCM Universitas Indonesia di bawah pimpinan Prof. Dr. Soetedjo. Habibie selama di Indonesia tinggal di rumah kakak kandungnya Titi Soebono di jalan Mendut, Jakarta. Karena kedekatan lokasi, mereka mulai pacaran, sering jalan. Sering bertukar ide. Tapi informasi bahwa cuti Habibie akan habis bulan Mei dan akan kembali ke Jerman membuat mereka harus memutuskan sesuatu yang penting dalam tenpo sesingkat-singkatnya. Seakan tak akan tahun esok, mereka memutuskan menikah secepatnya. Aje gile, tujuh tahun tak temu, bulan Maret 1962 bertemu tak sengaja. Sebulan kemudian pertunangan lamaran, sebulan berikutnya menikah! Wow hebat. Taaruf what?

Salut. Saya dan May setelah tujuh tahun tak bertemu, Februari 2011 menyapa dan langsung saling cinta. Butuh tujuh bulan lagi untuk lamaran (dan pontang-panting lamaran cari kerja, tentunya), jadi September 2011 keluarga bertemu untuk pertama kalinya. Lalu November baru melangsungkan pernikahan. Saya merasa terlalu tergesa persiapan sembilan bulan, jangankan tabungan, uang untuk bertahan saat itu saja tak ada. Lha ini ada yang lebih kilat cuma tiga bulan. Salut. Mungkin karena perbedaan ekonomi juga sih. Saya ketemu May dan mengajak hidup bersama dalam posisi jobless, alias nganggur jadi bermodal nekad dan percaya dan cinta. Bayangkan saja, saya baru dapat kerja bulan Oktober 2011, sebualn sebelum nikah! Itupun cuma staff Perusahaan kecil furniture dengan durasi kontrak yang membuat semua calon mertua gemetar. Tapi setelah enam tahun berjalan, tak ada masalah berarti ternyata. Yang penting niat dan kerja keras.

Bayangkan dengan keluarga Habibie. Menikah dalam dua adat. 12 Mei adat Jawa, 13 Mei budaya Gorontalo. Bulan madu ke Bali. Saya 11-11-11 bisa berlangsung tanpa hutang mencekik saja sudah syukur. Makanya saat menyaksikan dalam layar lebar, saat adegan pernikahan Habibie, si May meremas tangan saya lalu  berbisik, “Ada yang lebih gila dari Pernikahan kita.”

Setelah masa cuti tiga bulan habis, pasangan muda ini terbang ke Aachen, Jerman. Ketika mendarat di bandara Dusseldorf, mereka disambut dengan hadiah bunga dan printen (kue yang hanya diproduksi di Aachen) sebagai tanda selamat datang. Ketika itu pandangan mata dan senyuman Ainun tampak bahagia, yang bagi Habibie selalu memukau dan dirindu. Masa-masa tak terlupa.

Dengan gaji DM 1.300 (680 Euro), uang yang lebih dari cukup untuk hidup sendiri tapi akan sangat mepet untuk sebuah keluarga mereka akhirnya memutuskan pindah ke apartemen sewa yang lebih murah di luar kota Aachen. Hidup prihatin di perantauan. Tenang kami juga ngontrak dalam dua kamar kecil setelah menikah. Pada ulang tahun ke 25, Ainun mendapat hadiah mesin jahit merek Singer dengan dicicil. Habibie berujar, “Maaf kemampuan saya hanya ini.” Tapi dijawab dengan haru sang istri, “Kamu sudah memberi saya yang lebih indah dari semuanya yang tak dapat bayangkan.”

“Saya perkirakan keadaan ini akan berlangsung sampai bayinya lahir. Perkiraan mungkin bulan Mei tahun depan. Mudah-mudahan tanggal 12 Mei 1963, sekaligus hadiah HUT satu tahun pernikahan.” Kalau perempuan, Ainun yang memberi nama, “Nadia Fitri” kalau laki-laki Habibie yang menamai, “Ilham akbar”. Saat membaca ini saya sempat menitikan air mata. Persis seperti dialogku dengan May. Bedanya setahun mereka dikarunia Ilham, kami setahun pernikahan mendapat duka.

Setelahnya kisah buku ini akan banyak menyosot ke teknis. Sayang sekali buku cinta tapi kisah cinta hanya sebagian kecil, penjelasan tentang perjuangan dalam industri paling dominan. Dari perjuangan beliau di Jerman, salah satunya dengan sepatu bolong disumpal kertas menyusuri salju. Sampai kepada puncak teknologi kita memproduksi pesawat sendiri N-250 Gatotkoco tahun 1995. Bagian ini harusnya membuat rasa nasionalisme kita membuncah. Habibie memilih pulang mengabdi kepada Indonesia ketimbang hidup mewah di Eropa. Kisah panjang salah satu orang BESAR Indonesia dalam buku ini ditutup dengan kepergian Ainun tahun 2010 di rumah sakit Ludwig Maximilian University (LMU) Muenchen, Jerman. Kebersamaan luar biasa untuk keluarga selama 47 tahun 10 bulan. Salah satu bab yang paling genting adalah bab 31, ‘Reformasi Bergulir’. Di situ ada penjelasan saat tahun 2006 Habibie merilis salah satu buku sejarah penting Indonesia berjudul ‘Detik Detik Yang Menentukan. Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi.’ Dulu pernah baca, tebal sekali bukunya. Poinnya adalah peralihan kekuasaan dari Pak Harto kepada beliau, penuh goncangan dan tekanan. Lalu bagaimana Timor Timur lepas via referendum hingga pidato pertanggungjawabannya ditolak dalam sidang. Tapi karena tujuan saya menikmati buku ini adalah roman maka bagian politik dan teknologi terasa berat sekali dilewati.

Buku ini sayang dicetak oleh Penerbit minor sehingga banyak sekali ketemu typo. Banyak kata tak baku dan keluar pakem EYD. Andai ditangani oleh editor yang lebih profesional pasti akan lebih menghentak.

Salah satu tulisan keren ‘the power of love’ yang layak dibagi ada di halaman akhir. “Terima kasih Allah, engkau telah melahirkan saya untuk Ainun dan Ainun untuk saya. Terima kasih engkau telah pertemukan saya dengan ainun dan Ainun dengan saya. Terima kasih hari Rabu, 7 Maret 1962 engkau titipi kami bibit cinta murni, suci, sejati, sempurna dan abadi melekat pada diri Ainun dan diri saya… Lindungi Ainun dan saya dari segala gangguan, ancaman, dan godaan yang dapat mencemari cinta murni, suci , sejati, sempurna, dan abadi kami. Sepanjang masa. Amien.”

Habibie & Ainun | oleh Bacharuddin Jusuf Habibie | design kulit dan layout Anom Hamzah | Penerbit THC Mandiri | Cetakan ketiga April 2012, 50.000 eks | ISBN 978-979-1255-13-4 | xxi + 323 hlm; 14 cm x 21 cm | Skor: 3/5

Karawang, 020617 – The Cranberries – Ode To My Family
#2 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan