Pasukan Elang Yang Gagah Di Final

image

image

image

image

Lulic: “Benar kami kecewa karena kami kehilangan gelar. Tapi Anda harus belajar dari situasi ini dan Lazio keluar lapangan dengan kepala tegak. Musim ini belum berakhir di sini, dan akan jadi kesalahan besar jika berfikir demikian”

Olimpico Stadio – Rome, 18 May 2017- Lazio The Great akhirnya dipaksa menggenapkan menjadi 10 kekalahan beruntun di tangan Zebra. Kekalahan kesepuluh ini sayangnya terjadi di laga prestise final Copa Italia 2017. Kekalahan yang membentang jauh dari tahun 2013 ini melukai hati Laziale, tapi kata Lulic kita harus setrooong dan keluar lapangan dengan kepala tegak dan tepuk tangan.

Laga yang seharusnya dihelat tanggal 2 Juni itu dimajukan karena Juventus masuk final Champions bersua Real Madrid (Zinedane Zidane juga sedang menjalani musim yang luar biasa sebagai pelatih) sehingga dipaksa cari tanggal bagus lain. Tengah pekan yang digadang-gadang jadi pesta itu malah jadi bencana setelah 93 menit kita lagi-lagi gagal jebol gawang si Nyonya. Barisan striker kelas dunia melawan bek-bek setangguh menara Pisa.

LIRK – Lazio Indonesia Region Karawang tengah pekan itu sudah memutuskan nobar – nonton bareng-  ke sebuah tempat di Walahar, Karawang Timur. Karena Green Village di Karawang Barat dan keluar dini hari melintasi regional pastinya ga di-acc sama May terkasih maka saya justru memutuskan ikut nobar dengan JCI – Juventus Club Indonesia chapter Karawang di Warkop – Warung kopi Pak David, Pasar Bersih PBK, Galuh Mas. Ada lebih dari 50 Juventini hadir dan saya seorang diri Laziale membaur. Dapat sambutan hangat dari mereka, sepanjang laga mereka bernyanyi, meluapkan chant.

Sebelum kick off, koneksi ke Olimpico sudah terhubung. Dengan laptop, koneksi wifi fiber optic dan infocus ke layar lebar – Laziale biasanya nobar di Coach Setiadi hanya sebesar layar tv, koneksi smarpreet yang lelet pasti membuat iri. Inzaghi menerapkan strategi 3-5-2. Kiper muda Thomas Strakosha ada di bawah mistar. Tiga bek yang diturunkan Wallace di kanan, Bastos di kiri dan sentral ada di Stefan De Vrij. Bagian vital diserahkan kepada kapten Lucas Biglia dengan Marco Parolo yang sempat cidera lawan Fiorentina di kanan bersama Dusan Basta. Di kiri posisi spesialis Senad Lulic bersama Sergej Milinkovic-Savic. Memasang duet panas saat ini Ciro Immobile dan Keita Balde sebagai andalan di ujung. Formasi ini adalah komposisi terbaik (minus Lukaku yang cidera), setelah pekan lalu sebagian besar disimpan saat kontra Fiorentina (andai tim utama, habis itu Fio). Sementara dari sisi seberang 11-12 karena mereka juga menyimpan pemain-pemain terbaiknya saat bersua AS Roma. Dengan skema 3-4-2-1. Kiper cadangan lawannya Bruto, Neto dipercaya. Lalu trio bek terbaik saat ini BBC yang luar biasa: Barzagli, Bonucci, dan Chiellini berikutnya memperkuat lini gelandang bertahan dengan dua pemain Marchisio dan Tomas Rincon (malam ini tampil luar biasa, seperti saat-saat mencekam tiap bersua kita ketika berseragam Genoah). Padahal mereka juga kehilangan pemain kunci di sisi tengah, Cuad dan Kadir terkapar di meja operasi. Di kanan Dani Alves yang sedang on fire di kiri Alex Sandro. Dybala dan Marjuki menyokong tepat di belakang striker tunggal Higuain, momok bek Lazio selama berseragam Napoli.

Juve mengenakan kostum kebanggaan Hitam Putih sedang kita memakai jersey Biru Tua dengan sponsor musim depan Seleco, kostum khusus yang sudah mulai dipamerkan pekan lalu. Setelah koreo menakjubkan dari Curva Nord dan gegap gempita yang bisa bikin air mata Laziale meleleh terharu, akhirnya bersama segelas kopi pahit laga dimulai. Pertandingan berjalan dengan tempo cepat sejak peluit dibunyikan. Setelah counting down sebuah layar di tribun menyentuh angka 0 seakan 22 pemain di lapangan plus kedua pelatih ekspresif di pinggirnya langsung tersengat listrik kejut untuk dipaksa aktif. Dan gaya kick n rush-pun tertawa. Menit baru menyentuh angka 4 Juve sudah punya shot on goal melalui sepakan jarak jauh Chiellini, tendangan lemah itu bisa dengan mudah ditangkap Thomas. Menit keenam giliran kita mencipta peluang. Proses cepat itu bermula dari umpan datar Savic kepada Keita. Dengan kekuatan sprint yang bakal membuat Usain Bolt bersorak, si keling menyusuri kiri lapangan dan mengecoh dua pemain, Keita punya ruang tembak sempit. Shoot tenang itu sayang Seribu Sembilan Ratus – 1900 sayang kena mistar! Aaagghhrrr… andai pantulnya sedikit condong ke dalam dan mau bergeser melewati garis, tentu laga akan condong ke kita dan terasa sangat berbeda. Nyatanya bola malah menjauh sehingga bisa disapu jauh. Menit ketujuh gentian Juve membuka asa, Higuain melakukan dropshoot dari luar kotak pinalti, yang dengan jungkir balik ditepis Thomas. Bayangkan belum sepuluh menit berjalan kedua tim tergesa memburu skor. Lupakan image Serie A yang tenang. Benar-benar pembuka laga yang spektakuler.

Dan sayangnya sang dewi memeluk Zebra. Prosesnya cepat sekali lewat serangan balik, sisi kanan pertahanan Alex Sandro mengirim assist jarak jauh menyilang menuju dalam kotak pinalti. Alves yang berdiri bebas, melakukan sentuhan first time dengan sisi dalam kakinya. Bola sempat memantul ke tanah sebelum akhirnya melewati jangkauan Thomas. Bola semacam ini memang sulit karena laju kencang membentur tanah arahnya liar. 1-0. Gol ketiga Dani dalam lima laga terakhir. Free transfer, Barca apa kabar? Lulic yang tepat di depan gawang terlihat geram dengan meloncat marah. Wallace faceless. Alves merayakan gol bersama pemain cadangan. Saya memegang kepala, aduh. Juventini Karawang bersorak sorai.

Menit ke delapan belas lagi-lagi peluang emas tercipta. Dybala melakukan tendangan jarak jauh, direspon Thomas dengan jibaku. Bola berhasil ditepis dan lari ke kaki Alves, bukannya langsung menembak lagi, Alves malah menyodorkan bola ke depan gawang. Higuain yang menanti bertarung dengan tiga bek, Lulic pun sukses menjinakkan bola.

Ada preseden buruk, baru juga menit dua satu, Marco tertatih keluar lapangan. Radu masuk. Aduh, terlalu prematur untuk subtitusi, alarm khawatir tentu saja meraung keras, sangat keras. Anda berhak panik saat tim Anda dipaksa melakukan pergantian sebelum setengah jam dilewati. Mungkin kalian menyalahkan pilihan starter, tapi antusiasme final memang tinggi. Aneh juga seorang pemain tengah diganti bek. Kenapa ga pemain tengah juga? Felipe Bale atau bahkan Murgia pun Lombardi? Menit ke dua puluh tiga Dybala melakukan solo run di kanan, untung kita sigap sehingga bola sukses diblok sebelum menuju Higu yang menunggu. Tapi dari corner kick inilah petaka kedua tiba. Tendangan penjuru Dybala itu mengarah ke arah Bonucci yang tinggal membelokkan si kulit bundar setelah menerpa tipis kepala Sandro. 2-0. Bonucci merayakan ke arah lintasan lari dengan ekspresi menghadap penonton menujuk wajah, melingkar-lingkarikan jari lalu mengepalkan kedua tangan seakan bilang, ‘kami perkasa, sangat perkasa!’ Anehnya teman-temannya tak ada yang ikut keluar lapangan, baru memberi peluk ketika sang skorer kembali ke line.

Beberapa menit berselang giliran kita menampilkan peluang, bola lambung ke depan gawang Juve berhasil disundul Immo. Sayangnya bola sulit itu tak menempati sasaran. Allegri terlihat mencak-mencak karena Immo bisa berdiri bebas depan Neto. Bola jauh yang susah karena Immo berlari kencang untuk menyundul, sudah menempatkannya dalam jala. Lalu menit ketiga puluh tujuh, serangan one-two ala PS1 – Play Station One – diperagakan The Great, Immo dari tengah merangsek naik dengan mengumpan datar ke Lulic, Lulic mengumpan balik ke depan gawang, yah gagal karena Chiellini dengan sigap memotongnya. Hebat, setiap bola yang mengarah ke area pinalti dengan cepat dipotong. Menit empat puluh satu, Dybala berduel dengan Biglia, rekan setimnas. Dybala terjatuh dan minta tendangan bebas. Tapi wasit bergeming, Lazio langsung bergerak cepat menyusun serangan balik. Dan lagi-lagi, saat Basta mengumpan ke dalam kotak, bola tak sampai ke Immo karena diblok Barzagli. Saat akhirnya babak pertama selesai, Lazio hanya memiliki satu on target. Itupun gerakan lemah Savic yang membelokkan bola sundul. Babak pertama BBC dapat jempol dariku. Semua sisi ditutup, mereka menjaga area penalti seperti menjaga gadis belia dari godaan para bedebah.

Turun minum, JCI ngeteh dengan potongan kentang tipis sambil ngobrol ngalor ngidul. Saya buka COC – Clash Of Clans – update pasukan buat war. Clan Bandanoantrindo sepi, pasti lagi pada fokus final ini.

Babak kedua mulai, Lazio butuh gol cepat langsung turn ON berdaya tinggi. Menit empat puluh sembilan Basta merongrong dari kanan, melempar umpan ke depan gawang, bola lebih dekat ke Neto. Lima puluh dua, Marjuki mencoba spekulasi bisa diantisipasi. Tak ada perubahan skor yang diharapkan, Inzaghi memasukkan Felipe Bale, menarik Bastos. Kembali ke tiga bek. Lima puluh empat Keita mencoba jarak jauh, melambung. Semenit berselang Rincon melakukan hal sama. Pun sebuah tendangan melengkung Felipe, fail. Lima puluh enam, drama terjadi. Lazio memulai serangan dari Basta ke arah kanan, Biglia melambungkan bola ke arah Ciro yang menang duel udara versus Barzagli lalu bola ke arah  Neto. Sang kiper bejan karena telapak tangannya dicium bola, bola mental itu tipis sekali sama paha Ciro. Andai kena pasti masuk. Kemelut itu mencipta sebuah bola liar 0.00000005 cm garis gol. F##k! immo sampai misuh-misuh dengan kedua tangan depan dada peraga ampun-ampun. Gilax, setelah kena  mistar kini bola tipis itu ditepis Dewi keluar.
Enam puluh sebuah free kick sang kapten melambung. Enam puluh satu Higu gagal menerima umpan depan Thomas. Inzaghi merespon keadaan dengan memasang lagi gelandang serang, menarik bek sentral De Vrij. Edan lini belakang kini ditunggui bek tua Radu! Tujuh puluh dari kiri pertahanan Alves mengirim bola ke Higu yang shot-nya dimentahkan kapten. Higu mengklaim bola mengenai tangan, tapi Tagliavento menunjuk pojokan. Tak lama berselang Alves melakukan nutmeg kepada Lulic. Lalu kemelut terjadi di depan Thomas, Barzagli melakukan shot kena blok, bola lambung adu sundul dan bola dihalau menjauh. Tujub puluh tiga lagi-lagi dari kiri, Higu sukses mendribel bola menarik Thomas keluar sarang. Bola itu diumpan datar depan garis gawang. Tak ada yang menyambut. Kegagalan serangan itu langsung dibalas Lazio dari kanan, Keita mengumpan lambung ke dalam kotak. Bola disundul dimuntahkan keluar kotak, Alberto menerimanya dengan aksi shot first time. Baru masuk langsung mencipta debug jantung. Sayang sekali bola bis aditangkat Neto.

Tujuh puluh enam, Immo sekali lagi mencoba tendangan jarak jauh. Neto-pun jua bisa menggagalkannya. Juventus akhirnya melakukan pergantian pertamanya menit tujuh delapan, LeminaWho masuk mengganti Dybala. Haha, ternyata ini adalah pergantian terakhir mereka karena dua lagi tak diguna. Semenit kemudian umpan lambung disundul Wallace, Immo dan kerumuman bek di belakangnya. Terlanjur off side. Delapan puluh satu Felipe menusuk dari kiri, menggoreng bola mendekati garis gawang dan melepas umpan, blok. Korner, disundul keluar. Giliran Basta yang mencoba shot jarak jauh. Gagal kena burung di langit. Delapan puluh empat Immo berkejaran dengan Bonucci dalam kotak, out. Delapan puluh tujuh Higu menerima bola terobosan, Wallace telat kover, onside. Higu dengan dingin menedang, Thomas sigap. Tinggal berhadapan kiper, striker sekelas Higu gagal! Thomas lagi HOT.

Tambahan tiga menit tak banyak berarti. JCI Karawang sudah bernyanyi, Laziale cilik sudah menangis. Kita sudah all out. Kita sudah sangat keras mengupaya. Gagal. Sampai akhirnya peluit akhir terdengar. Sah, Lazio mengakhiri musim fantastis ini nirgelar. Lazio tampil hebat, gagah. Tapi musuh ternyata lebih tangguh. Mental juara sudah dibangun. Mereka punya trio bek kelas dunia, bandingkan dengan Wallace, alamak! Kalau acuan kita Barca, mereka saja dibantai 3 gol tanpa balas. Kesempatan kedua-pun sama gagal membuat sebiji gol-pun. Berarti kita lebih Hebat dari Barcelona. Hening.

Benar kata Sir Alex, penyerang yang bagus akan menghasilkan gol. Tapi pertahanan yang hebat akan menghasilkan gelar. Malam ini lagi-lagi terbukti. Pola defensif Juve harus diakui luar biasa. Berlapis, tenang seakan tahu ketika keserang bola akan melaju ke mana, antisipasi sudah disiapkan. Begitu juga saat melakukan serangan balik, setiap pemain sudah ada default position, tahu ke arah mana bergerak, seakan tombolnya ada dan kita terlalu takjub sehingga baru terbangun sadar saat bola sudah menggoyang jala. Juventus dibangun untuk meraih gelar. Mereka membuat pondasi bertahun-tahun dengan uang dan harapan dan transfer tepat. Lazio dibeli Lotito untuk uang. Bertahun-tahun merekrut bintang muda (musim ini skuat Inzaghi rataannya sangat muda dan label the next the next bla bla blah), dicetak lalu dijual. Daftarnya panjang, Inter Milan punya tagihan runut ke Formelo. Seharusnya skuat ini dipertahankan. Musim belum usai, Keita sudah ditawar 30 juta plus bonus oleh Juventus! Keita, Biglia dan De Vrij tahun depan akhir kontrak. Kalau mau dapat gelar harus bertahan. Sektor bek harus dirombak. Wallace terlalu mudah tembus, jersey The Great terlampau bagus buatnya. Radu sudah menua, bisa berlari tanpa pingsan di akhir laga sudah syukur.

Kemenangan ini berarti membuat asa treble mereka terjaga. Tinggal menertawakan Roma dan menantang Real Madrid di Inggris. Menjadikan tim pertama yang bisa merentet tiga copa beruntun. Hebat! Melawan Crotone bisa saja terpeleset karena mereka butuh poin survive tapi Bologna mustahil menuai angka sekalipun di Renato D’Ara. Champions bagi Juve adalah target utama, setelah nangis di final berulang kali 1997, 1998, 2003 dan 2015 mungkin ini saatnya. “Kami belum meraih hadiah utamanya sehingga kami harus memastikan benar-benar siap untuk tantangan di depan.” ujar Alves. Ya, grand prize itu di penghujung musim 2016/2017. Good Luck Zebra!

Kekalahan ini merenteng rekor Allegri selama di Juve dengan 10 kemenangan tanpa putus dengan hanya sekali kebobolan. Salahkan Pioli! Musim ini tiga kali kita bersua, tak ada gol. Ketiganya berpola sama. Juve spartan di babak pertama sehingga leading terlebih dulu, lalu bertahan rapat di babak dua. Bermain santai, tak mengejar skor muluk yang ditarget menang, dan terwujud. Immo butuh pendamping seganas Ronaldo bukan segahar Djorje. Bayangkan seorang striker world class sampai pekan 36 belum cetak gol. Anjrit, bagaimana mau ngejar Capolista?

Cerita Di Final Copa
Selama masuk ke final Lazio memenangkan gelar 6 kali. Sebagian besar saya menjadi saksi. 1958 mengKO Fiorentina. 1998 meruntuhkan Milan, era emas Erikson. 2000 membuat nangis Inter, double winner terbaik sepanjang sejarah. 2004 menumbangkan Juventus, hello Mancio we miss you. 2009 Delio Rosi dalam gegap gempita, tendangan akhir Dabo. Dan tahun 2013, LU7IC. Terima kasih Petkovic, legacy-mu akan selalu terkenang sampai berabad-abad yang akan datang. Menang derby di final adalah hadiah terbesar sepanjang zaman. Kita kalah 3 kali, tahun 1961 lawan Fiorentina. 2015 oleh tendangan bejan Matri dan yang terbaru malam tadi. Tak terlalu buruk, coba lagi tahun depan.

Biglia Sang Runner Up
Sekali lagi Lucas Biglia juara dua. Daftar runner up sang kapten panjang. Mau di timnas atau berbaju Lazio Biglia merenteng panjang kalah di final. Dengan konsistensi permainan sebagus ini aneh sekali Lucas tak juara. Sebenarnya saya sudah berharap kutukan ini runtuh malam ini karena Claudio ‘The Tinker Man’ Ranieri  bisa mematahkannya tahun lalu bersama Leicester City, tentunya Biglia juga bisa. Final tahun 2015 dia absen karena cidera, malam ini main pun tetap kalah. Banyak tawaran masuk untuk pemain 31 tahun ini, tapi sebagai bintang dengan gaji di atas salary cap rasanya kecil kemungkinan keluar, Cataldi (mungkin) digeser posisi untuk memberi kesempatan menit. Kuharap Biglia bisa mematahkan kutukan runner up itu saat berbaju Lazio. “Orang hanya akan mengingat mereka yang memenangkan piala.” Kutipan yang ironis dari il capitano.

Savic Menghilang
Bukan Savic nya yang buruk, tapi strategi Allegri yang jitu dengan brilian mematikan langkah Savic. Kecil sekali andil The Soldier malam ini, saya hanya sekali menulis namanya dalam live comment, itupun sarkasme karena bilang ‘oh Savic main ternyata, tak terlihat.’ Sektor tengah dimenangkan Juve, ya mereka mengantisipasi dengan benar. Marchisio dan Rincon bagus, terutama Rinso Rincon bagus sekali, momok Lazio. Mau pakai jersey Genoah atau Juve sama saja. “Mereka menjalani musim yang sangat baik, mereka pantas mendapat respek,” ujar Rincon. Savic membalas, “I love Lazio dan fan”. We love you too, tetap semangat Milinkovic. Kuharap saat duel Rincon Vs Savic kembali terjadi musim depan pertarungan seru terjadi lagi, dan skor memihak kami. Kuharap.

Alberto Menjanjikan
Luis Alberto sangat menjanjikan. Musim ini mantan The Reds ini lebih banyak memulai laga dari bangku cadangan. Tapi setiap diberi kesempatan dia memberi bukti, kerja keras. Gol perdana ke gawang Genoah sangat keren. Andalan shot jarak jauh, sangat diperlukan saat buntu. Saat lawan Fiorentina super sekali. Saat final, dia masuk setelah sejam berjalan dan permainan langsung berubah agresif. Aura positif tercipta. Andai masuk lebih dini, bisa saja di akhir laga bukan air mata yang ada. Musim depan sangat layak starter. Harus starter.

Strakosha Terbaik
Terlepas dua gol yang memang sulit, Thomas Strakosha adalah pemain Lazio terbaik malam ini. Belasan save dicipta. Komentator Arab sampai berteriak Astagfirullah berulang kali. Gempuran bertubi Nyonya Tua tak membuatnya frustasi. Higu yang seorang momok, yang sering membuat Marchetti macam kiper Serie C malam ini tak berkutik. Salah satu save fantastisnya ya pas tinggal head-to-head. Striker kelas wahid dipecundangi. Inilah kiper masa depan The Great. Sektor penjaga gawang berkelas kita punya daftar panjang. Etrit sudah mapan di Atlanta, Guido bisa saja melapis. Adamois bisalah diberi kesempatan. Lupakan Vargic. Dan semua sepakat amnesia Marchetti?

Inzaghi Dapat Applaus
Oke, kita kecewa dengan hasil akhir. Tapi lihatlah prosesnya. Simone Inzaghi menjalani musim dengan langkah gagah. Dia hanya minor di gelar. “Skuat saya luar biasa musim ini dan ini merupakan pertunjukan yang luar biasa. Malam penuh gengsi, terimah kasih Laziale. Kita hanya kurang beruntung.” Musim perdana sebagai pemain setelah ditransfer dari Piacenza, juara. Musim pertama sebagai pelatih primavera, juara. Musim perdana sebagai pelatih senior, (nyaris) juara. Wajar langsung ditawari kontrak panjang sama Lotito. Di Serie A udah mencetak 72 gol sampai pekan 36 (belum dihitung nanti saat lawan Inter 6 gol lagi) berarti sudah melewati rekor gol terbanyak dalam semusim yang sebelumnya dipegang Pioli tahun 2015. Scudetto 2000 saja 64 gol. Jadi segala pesta setengah lusin gol laga-laga itu pantas dapat tepuk tangan, begitu juga sepanjang kompetisi Copa. Tolong keganasan sektor depan diimbangi sisi pertahanan, ayolah wajib diperbaiki. Kita perlu bek bintang yang sepadan Stefan De Vrij.

Neto Yang Sedang Bagus
Ada dua peluang bersih yang bisa diselamatkan sang kiper cadangan. Awalnya saya tepuk tangan tahu Superman Buffon disimpan, karena artinya kripton berat Keita yang rencana dibawa bisa diletakkan. Namun di atas lapangan diluarduga si Neto main brilian. Malam ini memang dua kiper pamer gaya. Neto di usia emas 27 tahun, dan sekalipun kiper Italia sudah menua kita tak tahu kapan pensiun. Tentu saja kiper sebagus ini tak mau jadi bayang-bayang. Eks kiper Fiorentina ini setiap dipercaya mengganti emang tampil lumayan, jadi wajar spekulasi musim depan merebak. Menurut La Gazzetta Dello Sport, Neto sedang didekati Napoli dan LAZIO!!! Eh kemana Mulyadi ya?

Tagliavento
Sang wasit kali ini fair. Tak mudah meniup bunyi setiap kontak terjadi. Tak banyak kartu, hanya satu keluar dan itu memang pas. Bahkan saat duel berdarah Marjuki, ia tetap tenang. Tak banyak omong, sekedar gesture kepada semua pemain untuk tetap adem. Penunjukan beliau memimpin sebenarnya condong ke Lazio. Juve yang sering dapat pinalti dipeluitin Paolo hanya dapat 4 pinalti dan dihukum 7 dari 26 laga Bianconeri! Jelas ini rekor. Kalahnya bahkan lebih tinggi. Sementara untuk Lazio, kita mendapat 8 tendangan titik putih. Aura itu sudah mendukung, tapi takdir berkata kun untuk Nyonya Tua.

Laziale Koreo Fantastis
Olimpico penuh. Curva Nord juara. Kalian luar biasa. Nyanyian, chant sepajang laga. Tak ada yang lebih berharga dari loyalis fan, dukungan tiada henti kala menang-duka. Keren sekali. Kita di pengujung kompetisi. Dua laga lagi berakhir. Kita layak keluar lapangan dengan kepala tegak. Dengan semangat 1900 coba lagi musim depan. Kata Lotito: “Terima kasih fan dan big huge!” Curva Nord da champion.

Juventus 2-0 Lazio
Susunan Pemain
Juventus: Neto; Barzagli, Bonucci, Chiellini, Alex Sandro; Marchisio, Rincon; Dani Alves, Dybala (Lemina 78′), Mandzukic; Higuain
Lazio: Strakosha; Bastos (Felipe Bale Anderson 53′), De Vrij (Luis Alberto 69′), Wallace; Basta, Biglia, Parolo (Radu 21′), Milinkovic-Savic, Lulic; Immobile, Keita

#AvantiLazio #NonMolareMai #BisognaVincere #LazioPerSempre #LazioTiAmo #ForzaLazio

Ruang HR CIF – Karawang, 190517 – Sherina Munaf – Curahan Segalanya
Terima kasih untuk Bung Dian Samrijal, Ernest dan seluruh JCI chapter Karawang yang sudah memberi kesempatan nebeng nobar. Sebuah kemewahan bagi kami bisa menyaksikan Lazio di layar lebar. Kalian luar biasa, kita luar biasa. #Respect

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s