Kami Ke Finale!

image

image

image

image

image

image

Senad Lulic: “Kami layak lolos ke final Coppa Italia. Kami bermain baik, bekerja secara tim dan menikmati kesuksesan. Kami sudah berhasil meraih tujuan awal kami, yakni ke final dan yang terpenting mendepak Roma dari kompetisi!”

Dengan mengantongi keunggulan dua gol rasanya Lazio akan melakoni leg kedua semifinal coppa Italia 2016/2017 dengan lebih tenang. Simone Inzaghi menerapkan strategi serupa, hanya berubah di bagian Parolo digantikan Lulic. Dengan tiga bek: Bastos, De Vrij dan Wallace. Lukaku, Lulic, Basta, Biglia di tengah. Savic dan Felipe menopang Immobile. Sebenarnya kita memainkan strategi lima bek karena Basta dan Lulic lebih cenderung mundur. Untung sekali pergerakan gelandang serang kita keren sehingga suplai bola cepat ke striker murni kala serangan balik sukses.

Faktanya memang Biancoceleste sangat tenang menghadapi lawan yang malam ini grusa-grusu mengejar waktu. Sempat unggul dua kali via Savic dan Immo, dua kali pula mereka berhasil menyamakan kedudukan via El Sha dan Salah dan akhirnya ditutup sebuah kesalahan untuk Salah.

Dari LIRK – Lazio Indonesia Region Karawang, ngumpul berlima di rumah Coach Setiadi di dinginnya malam tengah pekan. Dengan suguhan khas tahu bulat dan kopi hitam, ditegur security untuk tak terlalu berisik dalam nobar feat ngobar karena ini hari kerja kita menikmati suguhan derby yang saru.

Sedari menit-meniat awal terlihat Roma lebih mendominasi dan terus coba keras membongkar pertahanan kita. Tapi dengan ketenangan Stefan De Vrij dkk kita bisa redam. Peluang pertama hadir menit kelima saat Lulic dari kiri melepas umpan lambung depan gawang kepada Savic dan Basta, sayang kontrol bola yang kurang tenang sehingga terlepas. Roma baru punya peluang bersihnya di menit 19 saat sebuah serangan rapi di mana El Sha berhasil lolos off side, dan dari sisi kanan pertahanan kita ia tinggal head-to-head sama Thomas, tendangan mendatarnya berhasil diblok, di sisi kiri ada Salah yang lalu menggorengnya, sempat di umpan balik sebelum kembali dilambungkan depan gawang. Dzenko yang posisinya terjepit bisa menyundulnya, tapi terlalu lemah sehingga Thomas dengan tenang mudah menangkapnya. Roma yang butuh gol cepat malah kebobolan terlebih dulu menit 37. Keasyikan di sektor depan Justru akhirnya kita bisa unggul melalui skema cantik. Bola lambung ke arah Basta di kanan, lalu back-pass ke Felipe Bale, dengan melihat arah depan gawang ada Immo, Lukaku dan Savic, Pemain Brazil itupun memberi umpan lambung dalam kerumunan. Bola berhasil di kontrol  dada sama Immo setelah membentur kepala, lalu memberi sepak kejut ke arah Allison, bola muntah depan gawang itu dengan tenang diceploskan Sergej Savic yang berdiri bebas. Goooool! 3 gol dalam 3 laga, luar biasa banget ini bocah. Komentator langsung bilang aggregat 3 gol, dan mustahil dikejar. Selebrasi Savic khas menunjuk logo Lazio, berlari ke arah pemain cadangan sambil menjulurkan lidah mengejek Curva Sud yang sepi. Pelukan pertama dari Keita, lalu semua pecah dalam hingar bingar. Immo yang berlari terpisah arah lalu ikut dalam kemeriahan. Keunggulan ini tak bertahan lama, sayang banget lengah, sebelum turun ngopi Roma berhasil mengurai gap lewat El Sha menit 43. Bola mudah dari sisi kiri itu seharusnya bisa disapu jauh oleh Stefan, tapi halauannya ternyata tak sempurna sehingga malah jatuh di kaki El Sha yang dengan santai menempatkan pojok kanan Thomas. Keadaan menjadi 1-1, tapi kita tetap leading jauh.

Babak kedua langsung ada perubahan dari kedua pihak. Adalah Stefan De Vrij ditarik diganti Wesley Hoedt – Belanda untuk Belanda dan dari kubu seberang Jesus out Peres in. Roma terus menghalau waktu dengan mengusai permainan, namun justru kita yang nambah gol. Prosesnya serangan balik yang cepat dari sisi kanan. Menit 56 Hoedt menendang lambung dari garis tengah, Rudiger sejajar sama Immo sehingga on side, Immo lalu sprint bersama bola menuju Alisson. Naluri predator, tentu saja head-to-head mudah mengkonversi skor. Gooool! 2-1, tamat. Immo, 3 gol dalam 3 laga. Persis Savic. Seluruh Laziale berpesta, seisi Olimpico pecah. Kecuali Igli Tare dan Lotito yang tetap duduk santai, dingin. Immo berlari ke arah tribun Curva Nord yang malam itu penuh, Laziali berlari memeluknya termasuk para cadangan, Patric selalu tampak antusias dalam semua selebrasi. Perhatikan, nyaris seluruh gol selebrasi Patric terdepan! Sayang di sayang LIRK tak bisa lihat langsung proses itu karena koneksi terputus, dan tahu-tahu Immobile selebrasi sehingga kita berlima terlambat sorai sorai. Bahkan awalnya kukira pinalti.

Komentator laga secara reflek berujar, “Akankah mereka bisa seperti Barcelona membuat keajaiban?” Haha.. kita tertawa. Menit 58 spesialis sub Keita masuk mengganti Felipe Bale. Kesantaian kita ditimbali Mohamed Salah, golnya menit 65 memperkecil suasana 2-2. Masih butuh 3. Golnya bermula dari kanan, umpan lambung itu mereka sundul ke dalam kotak, El Sha menang duel dengan Hoedt lalu menembakkan bola yang kena mistar kiri, bola pantul itu jatuh ke kaki Salah yang gagal dikover Wallace, Salah tinggal mendorong bola karena Thomas terlanjur menjatuhkan diri. Dua menit dari itu, Radja mengklaim bola kena tangan di kotak kita, tapi wasit Nicola bergeming.

Menit 71 El Sha ditarik masuk Perotti. Bersamaan itu Lazio melakukan pergantian terakhirnya, wonder kid Murgia in menggantikan il capitano yang cidera. Sepuluh menit berselang Totti in, Paderes out. Dan Olimpico mem-booooo. Menit ke 82 Roma lagi-lagi membenturkan bola ke gawang Thomas. Sebuah umpan lambung di sundul Strootman balik ke arah Salah, yang langsung melakukan shoot. Bola kena mistar kiri yang untungnya bisa langsung dihalau.

Ketika menit menyisakan satu, Salah membuat asa Romlahnisti sedikit melonjak via gol mudahnya. Blunder Thomas karena tendangan lemah Nainggolan itu seharusnya bisa diantisipasi tapi bukannya menghalau jauh atau menangkap bola, eh malah dipantulkan ke tanah sehingga Dzenko  atau Salah yang paling dekat TKP langsung menyerobot. 3-2. Butuh 2 gol lagi saat additional time 4’. Komentator berujar Barcelona lagi, dan menambahkan ‘Roma needs another two goals’. Pemain Roma berlari mengejar bola kita tertawa, santai. Sia-sia. Salah satu momen buang waktu ya saat Savic menggoreng bola di pojokan. Saat peluit nyaring dari Nicola Rizzoli terdengar kita kalah, tapi kita melaju ke final! Huray!

Sementara di tempat lain, keesokan harinya. Juventus dijungkalkan Napoli, tapi nasibnya sama. Napoli terlanjur dibabat 3-1 di leg satu. Sehingga kemenangan itu semu. Final Juni nanti mempertemukan Lazio Vs Juventus. Rematch final 2015.

Juventus Lagi
Juventus adalah jinx terbaru kita. Setelah Kutukan Genoh kita patahkan, Chievo yang tak konsisten timbul tenggelam kini jinx terbaru kita adalah benar-benar tim kuat, Juventus. Final nanti adalah final ketiga dalam lima musim terakhir. Tahun 2013 kita sukses dalam derby paling emosional gol Lu71c. Tahun 2015 kita nyaris memenangkan gelar namun tiang membantu Juve mengangkat tropi (hell yeah Matri) dan kini saatnya balas dendam. Saya sampai lupa kapan terakhir kita bisa menang lawan si Zebra. Selama saya aktif nobar LIRK, seri aja ga pernah apalagi menang. Apakah ini akan sia-sia? Kita sudah kerja keras sukses mendepak Genoah, Inter Milan dan Tetangga. Ibaratnya sudah belajar keras sehari semalam belajar bahasa Jawa, esoknya ujiannya ternyata bahasa Sunda. Lieur, mumet ndase. Peluang selalu ada, bukankah bahasa Sunda-Jawa ada beberapa kemiripan? Mukjizat terkadang datang di meja siswa yang sedang ujian yang tetap mengerjakan tes dengan doa dan kerja keras. Ayooo semua Laziale angkat tangan Kalian tinggi-tinggi, bukan untuk menyerah tapi memberikan doa dan dukungan demi sebuah piala di akhir musim ini.

Kado Simone Ke 41
5 April 2016 adalah ulang tahun sang allenatore Simone Inzaghi yang ke 41. Kado yang manis. Pelatih yang sempat diragukan karena minim pengalaman ini menjawab pesimistis manajemen yang ‘terpaksa’ menunjuknya pasca deal-no-deal sama Marcelo Bielsa. Saat itu jagad sosmed riuh karena Pelatih Argentina itu mundur hanya dua hari berselang sepakat. Waktu mendesak jelang kompetisi dimulai itu akhirnya memaksa Lotito menujuk kembali Simone. Musim sebelumnya Simone juga hanya sebagai pelatih intern karena kebobrokan Pioli. Siapa sangka keterpaksaan itu dijawab tembus 60 poin Serie A saat kompetisi menyisakan 8. Dan kado manis selembar tiket di Final Coppa! “Kami melakukan hal yang luar biasa karena dalam derby semifinal Coppa. Terima kasih untuk para pemain yang sudah bekerja keras, kado ulang tahun terindah dalam hidupku.” Selangkah lagi, Simone Inzaghi menyamai rekor Roberto Mancini yang sukses mengangkat tropi Coppa sebagai pemain dan pelatih. Dan akankah Simone Inzaghi bisa menyusul rekor Antonio Conte? Kita aminkan, waktu yang menjawab.

Roma Perpanjang Puasa Gelar
Gol Salah di menit akhir adalah gol ke 100 Roma musim ini (66 di Serie A, 9 di Coppa, 1 di kualifikasi Champions, dan 24 di Europa), tapi gol tembus tiga digit itu hampir pasti gigit jari nir-gelar. Terakhir tetangga memenangi tropi adalah 2008. Periode yang hampir dipastikan satu dekade itu karena di akhir musim kini mereka hanya ada di Serie A. Dengan gap 6 poin dari Juventus yang konsisten rasanya mustahil mereka mengejar. Kecuali Nyonya Tua melakukan kedunguan, dan terpeleset di pekan 36 saat head-to-head. Ah mustahil. Dalam kurun sedekade ini pula, Il Giallorossi mencetak rekor-rekor dagelan Eropa. Membikin malu Italia.

“Apabila gagal, seseorang harus bertanggung jawab.” Komentar Spaletti pasca laga, ini adalah indikasi ia (seharusnya) mundur karena janjinya bila musim ini Roma tanpa gelar. Petaka Roma berawal dari ujaran somse Radja Nainggolan, bahwa Roma bisa meraih treble winner. Tak butuh waktu lama dari klaim tersebut Il Lupi kita hajar 2 gol, menyusul laga di Eropa mereka dirontokkan Lyon. Leg kedua Coppa seperti yang kita saksikan mereka terbenam, dan tangan hampa ada di depan mata.

Totti Idiot
Derby Della Capitale memang selalu panas. Saya sempat menebak akan ada kartu merah karena ketika babak pertama usia sang pengadil sudah mengeluarkan empat kartu kuning. Dzenko sempat nyaris mencekik Felipe. Nainggolan tato dibanyakin tapi senggol dikit guling-guling. Melakukan tekel keras dari belakang dan nyaris membuat onar. Pasca laga Rudiger berseteru dengan Igli Tare di parkiran, gara-garanya si Rudi ngomel bahasa Jerman menuduh sang pencari bakat adalah pencuri, bahasa Jerman itu dipahami Tare sehingga memicu konflik. Tapi tapi tapi yang paling bobrok malam itu adalah Francesco Totti. Ia frustasi di pinggir lapangan, dan terjadilah insiden lempar bola sengaja ke wajah Wallace. Sayang wasit tak melihat kejadian, harusnya FIGC memberi hukuman keras atas kelakuakn itu. Felipe ikut berkomentar: coglione!

Blunder Strakosha
Selama derby Thomas Strakosha, kiper muda nan tinggi dari Albania selalu menang. Rekor mentereng itu terhenti berkat kelalaiannya sendiri. Saat menit sudah di penghujung pertandingan, tendangan mudah Radja bukannya diblok jauh atau tangkapan peluk tapi malah diadukan ke tanah, di mana ada dua pemain lawan di dekat yang bisa merebut. Gol konyol itu tak seharusnya terjadi, untung saja kita lolos ke final. Andai enggak, tahu deh komentar nyinyir dan pedas Laziale. Walaupun begitu, yang pasti sih, kita masih sepakat Marchetti makin lama absen makin pede menghadapi laga tiap pekan. Jangan terulang lagi Thomas!

SAVIC NOT FOR SALE
Kehebatan Milinkovic Savic musim ini makin terlihat. Perannya semakin vital karena selalu muncul di saat genting. Klub-klub berduit kini mulia antri tanda tangannya. Chelsea, Arsenal, Manchester United dan Juventus. Direktur Nyonya Tua bahkan sudah bertemu pandang dengan Lotito untuk bahas kemungkinan kepindahan The Soldier. Please, please, please. Komentarku masih sama pasca leg satu: Tolak. Savic adalah masa depan Lazio. Kalau perlu beri dia ban kapten, perpanjang kontrak jangka amat-sangat panjang dengan buy-clausal-out seharga Paul Pogba agar para peminat mikir dua kali untuk membawa kehebatan Savic keluar Olimpico. Kezman, agen sang pemain berujar: “Dia hanya memikirkan Lazio. Ingin memberi tropi Coppa dan mengantar ke Liga Para Juara. Kontraknya masih 3 tahun. Kita akan duduk semeja dengan Tare dan Lotito untuk membahasnya.” Semoga ini bukan isapan jempol untuk menaikkan harga transfer keluar.

Olimpico Membiru
Sejatinya laga ini Roma bertindak sebagai tuan rumah, tapi entah kenapa Olimpico justru membiru. Jatah Sud banyak yang lengang. Bendera merah bahkan hanya terlihat dalam satu sisi, kalah riuh dengan Curva Nord yang luar biasa. Seperti kala bertandang ke Mapei stadion, koreo kita malah lebih membahana, membuat merinding. Kini saatnya bersatu kawan, harapan juara masih ada dan tinggal selangkah lagi. #ForzaLazio! #AvantiLazio #LazioTiAmo

Roma 3-2 Lazio (aggt 3-4) – Savic 37’, Immobile 56’
Susunan Pemain Derby Della Capitale
AS Roma (4-3-3): 19-Alisson; 33-Emerson, 3- Juan Jesus (13-Bruno Peres 46′), 44-Kostas Manolas, 2-Antonio Rudiger; 6-Kevin Strootman, 5-Leandro Paredes (10-Totti 81), 4 -Radja Nainggolan; 92-Stephan El Shaarawy (8-Diego Perotti 71′), 9-Edin Dzeko, 11- Mohamed Salah
Pelatih: Luciano Spalletti
Lazio (3-5-2): 1-Thomas Strakosha; 3-Stefan de Vrij (2-Wesley Hoedt 46′), 6-Jordan Lukaku, 8-Dusan Basta, 13-Wallace, 15-Bastos, 10- Felipe Anderson (14-Balde Keita 58′), 19-Senad Lulic, 20-Lucas Biglia (96-Alessandro Muriga 71′), 21-Sergej Milinkovic-Savic, 17-Ciro Immobile
Pelatih: Simone Inzaghi

Karawang, 080418 – Sheila On 7 – Bingkisan Tuhan
Terima kasih LIRK saksi derby: Setiadi, Rye, Adhit, Nur

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s