Best Film 2016

Sayang sekali karya terbaik Roald Dahl luluh lantak. Padahal sudah dibawah arahan sutradara besar. Setelah Sophie menangis sendu, apakah suatu saat ada kesempatan buat Matilda?

Sudah lama saya tak menyusun film terbaik tahunan. Mulai tahun ini tiap tanggal 31 Maret – salah satu tanggal spesial hidupku –  akan saya susun 14 film pilihan yang sudah kutonton dan kuulas. Saya bukan penggemar berat film blockbuster penuh sinar-sinar yang menyilaukan mata, bukan pula fan film art yang rumit. Saya pelahap buku, jelas. Penggemar drama, pasti. Dan kartun, tentu. Maka daftar ini adalah mix pilihan dari semua film rilis 2016 berbagai genre. Kenapa 14? King Henry pernah mengenakannya di punggung dan penonton Highbury memujanya, dan kini Keita Balde dengan bangga memilihnya. Saya Laziale yang respek Henry.

Berikut daftar best film 2016 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo.

image

#14. Kubo And Two Strings – Travis Knight | review lengkap
Debut menawan Travis Knight. Coraline dicipta dalam bahaya ketika memasuki dimensi dunia lain, matanya terancam dicukil diganti kancing baju laksana boneka pajang. Di Kubo, itu bukan sekedar ancaman. Sang jagoan salah satu pengelihatannya dihilangkan. Memberi dampak psikologis ketika melaju tinggi dalam petualangan seru bersama seekor kumbang kocak dan monyet cerewet. Produksi berikutnya Laika bisa jadi adalah kartun buta yang filosofis, Si Laika dari Goa Hantu. Tanpa pedang dan jarum pentul? Bisakah?

image

#13. Nocturnal Animal – Tom Ford | review lengkap
Ini adalah jenis film yang menantang keberanian penonton untuk terus menatap layar. Ketika tragedi malam disusun kita (mungkin) ikut berdoa supaya keluarga Hastings selamat. Tapi tapi tapi… karena ini jenis thrilling, tentu saja harapan itu dirijek. Hasilnya? Sebuah kisah rapi sang Penulis yang menghadiahkan karya perdananya untuk istri, maksudnya mantan istri. Tak boleh ada air mata, makan malam memang terkadang tak senikmat pie di pagi hari yang cerah.

image

#12. The Jungle Book – Jon Favreau | review lengkap
Saya sudah prediksi Baloo akan mendapatkan piala. Ketakjuban yang sama saat pertama lihat Sully-nya Monster Inc., sihir menakjubkanlah pewujud betapa bulu-bulu magis itu bisa dicipta. Dari sutradara favorit, diadaptasi dari Penulis favorit, ditonton di bioskop bersama orang terkasih. “Bunga Merah” itu bermekaran memenuhi layar lebar dengan tepuk tangan Hermione.

image

#11. Hidden Figures  – Theodore Melfi | review lengkap
Kalau kejuaraan diukur berdasar perjuangan kulit hitam menegakkan haknya tahun ini, harusnya film ini yang menang Oscar. Semua elemen berpadu menjadikan film ini benar-benar menghibur. Trio karakter utama sukses menerapkan naskah menjadi adegan hidup yang fantastis. Kisah lomba balap angkasa ini menghantar John Glenn menjadi astronot Amerika pertama yang mengorbit bumi. Sebuah pondasi kuat menuju bulan dan kini kita tahu ada sosok hebat yang tersebunyi di prosesnya.

image

#10. Magnificent 7 – Antoine Fuqua | review lengkap
Jagoan punya nomor? Ya. 7 bukan hanya milik Ronaldo. Denzel Washington memimpin 7 manusia harimau, orang-orang terbaik di zaman western untuk menegakkan kebenaran. Ini bukanlah karya terbaik Fuqua tapi jelas ini adalah film terbaik Chris Patt. Ledakan di klimak itu benar-benar hebat. Tak ada musuh besar yang tak bisa dikalahkan. #ForzaLazio

#9. Alice Through The Looking Glass – James Bobin | review lengkap

Ketika Alice terjatuh ke lubang dan serasa tak ada dasar, sampai dalam keadaan melayang itu ia bisa berfikiran, ‘semakin aneh semakin aneh semakin aneh’. Sensasi itu saya dapatkan lagi tahun ini, dalam visual yang menantang sang Waktu. ‘Ah, cara terbaik untuk menjelaskan adalah dengan melakukannya.’ Sebuah kutipan terkenal itu dibuktikan sendiri oleh Alice Kingleigh ketika memasuki lemari waktu untuk mengubah masa, guna menyelamatkan temannya yang gila dari kegilaan. Ide bagus mengurangi peran Chesire Cat, karena di seri pertama dominasi ‘ilmu’nya sedikit merusak pemecahan masalah. Dalam Looking Glass, sang puteri sendirilah yang mengendarai chronosphere sampai terperosok dalam tea time forever.

image

#8. Hell Or A High Water – David Mackenzie | review lengkap

Kalau kalian benci banget sama bank dengan kredit yang mencekik dan aturan anuitas yang bangsat itu, kalian wajib nonton film ini. Bank-bank itu dirampok, duitnya ditukar koin di kasino buat iseng judi lalu koinnya ditukar lagi dengan cek ke bandar dan ceknya kita tukar lagi ke bank yang kita rampok. Idenya bagus banget ya. Memutar uang belum pernah saya saksikan sebrilian ini. Tapi saat rasa benci kita, sebenci-bencinya sama bank itu mencapai puncak ternyata eh ternyata seni rampok itu bukanlah benang merah karena ada uang yang jauh lebih besar lagi di rumah, di sekeliling kita. Dan David Mackenzie begitu jeli memainkan emosi itu. Seni bagi jiwa-jiwa kesepian.

image

#7. Fantastic Beast And Where To Find Them – David Yates | review lengkap

Debut JK Rowling harus ada di daftar ini, niat itu bahkan sudah ada di kepala jauh sebelum saya menonton filmnya. Curang? Ya ya, harus diapresiasi bagaimana buku tipis 88 halaman dirubah ke dalam naskah film yang panjang, sangat panjang karena ini baru seri pertama. Jualan utama para penyihir ini ya imaji, paling shocking pas Newt masuk ke koper. Paling aneh pas Niffler memasukkan perhiasan ke kantong ajaib. Paling takjub pas Occamy masuk ke teko, wuuuuihhh saya tepuk tangan di bioskop. Dan paling sedih pas Jacob dipayungi. Kita tunggu petualanganmu ke Papua, Newt. Kita tunggu…

image

#6. Silence – Martin Scorsese | review lengkap
Am I just praying to silence? Sebuah perjalanan suci pencarian Tuhan yang berakhir hampa di Oscar. Agama di zaman itu memang berfungsi ganda sebagai pegangan kolonialisme. Para Padre itu bisanya hanya berdoa, tak tahu bahwa rawa tak cocol ditamani bunga mawar. Dan Scorsese menyajikan pergolakan hati orang-orang beriman itu dengan sangat berani.

image

#5. Manchester By The Sea – Kenneth Lonegan | review lengkap
Sekumpulan orang frustasi bersatu tak bisa dikalahkan. Manchester bersatu tak hanya milik Inggris. Chemistry paman-ponakan melawan nasib buruk untuk bertahan hidup di kerasnya fakta yang mengelilingi. Aura suram disebar di udara sepanjang jalinan kisah. Sebuah indi yang menyabet naskah terbaik dan aktor bergumam yang diganjar piala.

image

#4. Captain Fantastic – Matt Ross | review lengkap
Film filsuf. Pilihan hidup yang tak lazim karena sepasang suami-istri mengasingkan diri ke hutan, lari dari hiruk-pikuk masyarakat untuk membesarkan anak-anak mereka agar mandiri. Matt Ross mengajak kita mengenal lebih dekat ajaran Noam Chomsky dan seluruh kegilaan kitab-kitabnya. Tentu saja penggemar Metalica ikut berdendang.

image

#3. Zootopia – Byron Howard, Rich Moore 
Lupakan Pixar. Disney kali ini tak perlu (bantuan) Pixar untuk memukau penonton. Tahun ini kartun ketat sekali. Era makin canggih, CGI sudah begitu mengelabuhi pandangan. Ditunjang naskah bagus dengan presentasi para karakter yang memorable, ‘Hello Flash,,,!’ Zootopia adalah hadiah buat para penggemar fabel snob. Para binatang itu bukan hanya diminta berbicara dan berfikir tapi juga diajak bertindak untuk menentukan nasib guna mewujudkan mimpi-mimpi yang mustahil. Animasi of the year.

#2. Captain America: Civil War – Anthony Russon, Joe Russo | review lengkap
Di sektor superhero, juara tahun ini adalah Perang antar teman. Klimak adegan di bandara itu adalah salah satu yang akan saya kenang sebagai view-gasme cinema. Yang namanya teman, gesekan pasti ada, “I wanna punch you in your perfect teeth”. Hi, Tony berhak marah. Kalau awalnya marah sambil bercanda, di akhir kisah marahnya meledak. ‘Punch’ itu bahkan sangat layak mendarat ke wajah jagoan kita, sang kapten yang tampan. Puncak segala daki Marvel itu membuatku ragu untuk petualangan berikutnya, apakah bisa sesukses fase satu?

image

#1. Arrival – Denis Villeneuve | review lengkap
Ladies and gentlemen, please stand up and give applaus for the best picture yang the year: Arrival. Naskah cerdas, menyimpan kejutan rapi sekali. Teka-teki identitas gadis itu ternyata hanya ada di benak Loiuse Banks. Kamvret benar ya, kita ditipu. Bagaimana Alien bisa sesantun dan berniat sebaik itu perlu kita cermati lebih dekat. Bagaimana bisa sebuah tulisan itu bukan dari kiri ke kanan, atau sebaliknya. Bukan dari atas ke bawah, atau sebaliknya. Tulisan yang merasuki otak kita selama ini ternyata membuat kita memadang hidup ini lempeng bahwa waktu itu linier. Bayangkan tulisan cakar ayam balita, bisakah mereka mengintip hari esok jua? Andai bermakna, suatu saat nanti mungkin saat teman-teman Abott dan Castelo kembali mendarat ke bumi, pastinya mereka sukses merebut piala di bawah sinar rembulan. Alien di bawah sinar bulan berwarna biru.

Karawang, 310317 – Harry Birthday Winda Luthfi Isnaini
Glee – Don’t Speak

Advertisements

2 thoughts on “Best Film 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s