Hacksaw Ridge: War Story With Superbly Scrafted Screenplay

image

image

Desmond Doss: I dont know how I’m going to live with myself if I dont stay true to what I believe.

Ini adalah tipikal film perang yang penuh ledakan. Citarasa blockbuster yang sukses mengetuk juri Oscar. Banyak antipati terhadap niatan dibalik film ini, bahwa sebuah propaganda Amerika yang diagungkan sebab dalam sejarahnya serangan sekutu ke Jepang di tahun 1945an itu sejatinya adalah puncak Perang Dunia Kedua. Bahwa Jepang, yang dalam film ini digambarkan luluh lantak dan frustasi atas dendam kesumat lawan terhadap serangan Pearl Harbor. Hasilnya? Yah, saya sih menikmati aja. Sekalipun ada embel-embel ‘berdasar kisah nyata’, tapi tetap dramatisasi selalu ada ‘kan?

Kisahnya dimulai dengan ledakan, tembakan, semburan api memenuhi layar, mayat-mayat bergelimpangan dan narasi bagus. “Apakah kalian tidak tahu, Tuhan itu kekal, mencipta langit dan bumi. Dia tidak pernah lelah dan pemahaman-Nya melampaui apapun. Dia memberi kekuatan bagi yang lelah dan menambah tenaga nagi yang lemah. Bahkan remaja bisa lelah dan orang dewasa mampu terpuruk. Tapi bagi mereka yang percaya kepada-Nya akan tetap kuat. Mereka akan mengepakkan sayap bagaikan elang. Merek akan berjalan dan takkan lelah, mereka akan lari dan takkan terpuruk”. Kutipan ini dinukil dari The Book of Isaih, chapter 40.

Pegunungan Blue Ridge, Virginia pada masa 16 tahun sebelum adegan pembuka yang menyeramkan itu. Sebuah keluarga Amerika digambarkan punya trauma terhadap Perang Dunia Pertama. Tom (Hugo Weaving) adalah seorang kepala keluarga yang menyimpan luka, ia sering mengunjungi makam temannya yang tewas akibat perang dan melukai tangannya. Ibunya Bertha (Rachel Griffiths) lebih lembut dalam membesarkan anak. Dua putranya dididik lebih religius, bahwa membunuh itu dilarang, sekalipun itu dalam perang membela negara. Desmond (Darcy Bryce) dan Hal (Roman Guerreiro) sangat akrab, main kejaran dan perang-perangan. Saat layar memperlihatkan Desmond menghantam kakaknya hingga terluka ia kena hukuman, sempat khawatir Hal tewas karena tatapan hampa Desmond menghadap layar dan berjalan dibuat seram. Ternyata ia menatap lukisan tentang 7 Dosa Besar dimana nomor enam adalah: Thou shalt not kill – Tak boleh membunuh. Kejadian ini traumatis, dan kelak jadi pegangan prinsip hidup sang jagoan. Dunia ini adalah tempat yang lembut dan ramah.

15 tahun berselang. Saat dewasa, sang kakak sekalipun dalam pertentangan nekad mendaftar militer. Dengan segala resiko ia menjadi tentara.’Banyak anggota Gereja juga ikut, bekerja di pabrik kertas tentu tak akan menyelamatkan Negeri ini.’ Tentu aja Keluarga kecewa, sang adik (dimainkan dengan bagus oleh Andrew Garfield) awalnya mamandang sinis, tapi cinta mengubah segalanya. Suatu ketika ia berkenalan dengan seorang perawat cantik Dorothy Schutte (Teresa Palmer) di rumah sakit Lynchburg saat mengantar seorang anak yang terluka, Desmond digambarkan cekatan menangani orang luka dengan cepat ia melepas sabuknya untuk diikat di kaki yang luka guna menghentikan pendarahan. Di rumah sakit itulah ia menyaksikan bahwa “mungkinkah ini jalan untuk melayani negara.” Terpesona pada pandangan pertama, ia melakukan donor darah. Proses mendonornya dibuat bagus banget, dimana Palmer ngomongin donor, Garfield menjawab dengan pandangan penuh kasih. Esoknya ia bersemangat sekali, berseri-seri kembali ke rumah sakit. Kembali mau mendonorkan darahnya, tentu saja ditolak. Harus minimal 3 bulan. Sang suster dengan bersemu merah menjelaskan. Tapi malah digombali, “sejak kau menyentuhku, jantungku berdegub lebih kencang, setiap kali memikirkanmu degubnya makin cepat.” Well, Saya melatihnya sepanjang malam. Gadis mana yang tak luluh coba? Akting Garfield natural sekali, khas remaja jatuh hati dengan tatapan mata berbinar dan kalimat terbata.

Kisah sesungguhnya film adalah keputusan Doss mendaftar militer. Bukan sebagai tentara, tetapi sebagai paramedis. Ia tak mau membunuh orang tapi menyelamatkan orang. Mulia sekali niatannya. Memasuki babak baru kehidupan, berlatih keras dalam pemploncoan di Fort Jack. Beberapa bagian dibaut mirip dengan ‘Full Metal Jacket.’ Keras, sadis dan sangat mengintimidasi. Doss bahkan di-bully dan dikucilkan semua temannya, dihukum berat hingga digebuki ramai-ramai sampai memar. Mel Gibson cerdas sekali membuat penonton ikut terhanyut. Ia bisa melewati semua, tapi saat akhirnya diminta pegang senjata ia menolak. Absurb. Seorang tentara tak mau pegang bedil sekalipun dalam latihan! Terdengar mengada-ada tapi faktanya Doss memang tak mau menyentuhnya. Ia mendaftar di bagian pengobatan sehingga seharusnya bisa ada di belakang pasukan, bukan di front terdepan.

Termasuk saat akan berangkat perang, ia malah disidang mahkamah militer. Sebuah penghinaan terhadap seragam US Army. Saat hukuman akan dijatuhkan datanglah sang ayah mengenakan seragam Perang Dunia Pertama membawa surat sakti dari Brigjen Musgrove – rekannya kala tempur. Surat itu membuat Doss tetap bisa berangkat perang, dengan tetap memegang teguh prinsipnya.

Di bulan Mei 1945, saat mereka diterjunkan di Okinawa, tempat mencekam lembah di Jepang, sebuah Hacksaw Ridge, bak sebuah neraka film ini menemui epic battle-nya. “Well, Dorothy looks like we’re not in Kansas anymore.” Selama satu jam kalian akan menyaksikan sebuah pertempuran kelas wahid. Dibuat dengan megah dan luar biasa seru. Battlefield-nya sangat  mendukung untun tempur. Hebat sekali pengambilan gambar, special efek sampai pada skoring. Perang penuh kepulan asap tapi tetap pesan yang disampaikan dapat, dengan benang merah peran Doss terjaga hingga akhir. Berhasilkah mereka menaklukkan lembah? Selamatkah Doss?

Ketika film usia, ada kutipan-kutipan dari Doss, Hal dan para saksi. Berapa sebenarnya yang diselamatkan Doss? Ia bilang 50 tapi para saksi bilang ratusan. Tapi closing credit-nya menyebut 75. Adegan saat ‘Tuhan, bantu aku menolong satu orang lagi’ itu sangat menyentuh. Perang memang kejam. Sekalipun Amerika klaim kemenangan, jiwa-jiwa pasukan mereka terluka. Doss mendapat medali kehormatan, dan menjadi pembangkang pertama yang membuatnya mendapat gelar Pahlawan Perang.

Film kembalinya Mel Gibson ini pantas dipuji, terakhir ia membuat film tahun 2006, Apocalypto. Satu jam akhir di perang itu menurut sang sutradara terilhami dari mimpi buruknya saat masih kecil di mana ayahnya Hutton Gibson adalah veteran Perang Dunia Kedua di Normandy. Ayahnya sering cerita sebagai pengantar tidur Mel. Bayangan mencekam itu diaplikasikan dalam film. Milestone sang sutradara kini makin mengkilap. Menurutku mending jarang buat film tapi berkualitas ketimbang sering-sering tapi sampah. Mel Gibson ini salah satu aktor yang sukses bertransformasi ke balik kamera. The Passion Of The Crist yang sukses luar biasa. Braveheart yang menghebohkan panggung Oscar. Dan kini setelah bertapa satu dekade ia membuat lagi film hebat. Sangat patut ditunggu proyek film beliau berikutnya.

Hacksaw Ridge | Year 2016 | Directed by Mel Gibson | Screenplay Robert Schenkkan | Cast Andrew Garfield, Hugo Weaving, Rachel Griffiths, Teresa Palmer, Tyler Coppin, Sam Worthington, Vince Vaughn | skor: 4/5

Karawang, 290317 – Sherina Munaf – Demi Kamu Dan Aku

Advertisements

One thought on “Hacksaw Ridge: War Story With Superbly Scrafted Screenplay

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s