Moonlight: Good Things But Best Picture?

image

image

— catatan ringan ini mungkin mengandung spoiler – – –

Juan: At some point, you gotta decide for yourself who you’re going to be. Can;t let nobody make that decision for you.

Film pemenang best picture. Salah satu yang tak sempat kutonton sebelum penganugerahan. Setelah menyandang gelar, saya merasa hampa meluangkan 2 jam perjalanan Chiron. Aneh, film sederhana gini menang piala tertinggi. Kalau yang dilihat perjalanan hidup: anak-anak, remaja, dewasa: Boyhood jelas juaranya. Kalau yang diusik kaum gay-nya Brokeback Mountain unggul segala. Kalau yang difokuskan warna kulit, momentum itu sudah lewat 12 Years A Slave lagian tahun ini Hidden Figures – yang juga ada Janelle Monae dan Mahershala Ali – jauh lebih berkelas dalam perjuangan persamaan hak. Jadi bagaimana bisa film ini merebut hati juri Oscar? Kalau alasan untuk menjungkalkan La La Land, nah sedikit setuju. Plot La La Lah terlalu lemah untuk dikatakan yang terbaik.

Kisahnya dibuka dengan sebuah transaksi narkoba. Juan (dimainkan dengan bagus sekali oleh Mahershala Ali – menjadikannya sebagai Muslim pertama yang menang Oscar) bertemu pengedar meminta laporan. Dengan latar sebuah perkampungan kulit hitam, ada anak-anak berkejaran di depan Juan, lalu fokus kamera berpindah kepada kejaran anak-anak tersebut. Chiron ‘little’ (debut bagus Alex Hibbert) adalah korban bullying, ia berlari mencari tempat sembunyi. Saat akhirnya mereda, Juan masuk menyapanya. Tak ada jawaban. Juan lalu mengajaknya makan, memberinya tempat berteduh, bertemu pacarnya Teresa (Janelle Monae). Awalnya ia diam, tapi mendapat sambutan hangat itu membuatnya buka suara memperkenalkan diri.

Esoknya Little diantar pulang. Ada adegan sederhana saat ia dalam perjalanan, ia mengeluarkan tangannya dari pintu mobil sambil memainkan telapak tangan seakan pesawat terbang. Diiringi skor lembut yang menenangkan. Sesampainya di rumah, ibunya Paula (Naomie Harris) marah-marah, main ke mana aja woy, kenapa ga pulang? Sambutan ibunya dingin dan tak bersahabat. Namun hal ini tak membuat Juan emosi karena nantinya mereka malah jalan lagi. Adegan di trailer saat Ali menggendong anak kecil di pantai itu dibingkai dengan bagus. Dan kutipan ‘running around, catching a lot of light. In moonlight, black boys look blue.’ Salah satu adegan terbaik ya saat Juan menasehati Chiron itu. Karena di suatu masa, kau harus memutuskan mau jadi apa kau. Bukan orang lain, tapi kamulah yang mengambil keputusan itu.

Chiron bersahabat karib dengan Kevin (Jaden Piner). Mengajarinya berkelahi, menghadapi kerasnya hidup bahwa kamu itu sebenarnya tak lembek. Kehidupan Chiron memang keras. Ibunya adalah pengguna narkoba, yah kalian bisa tebak akhirnya ‘kan? Kalau ga mati ya ke panti rehab. Melalui hidup tanpa perhatian orang tua membuatnya sering berkunjung ke rumah Teresa, di sana ia mendapatkan kasih sayang.

Saat memasuki usia remaja, Chiron (Ashton Sanders) adalah lelaki pendiam. Menyendiri dalam kegalauan. Suatu hari ia mendapat pengakuan rahasia sahabatnya Kevin (Jharrel Jerome) bahwa ia mendapat hukuman karena ketahuan bercinta dengan ceweknya. Kemudian Kevin memanggilnya dengan sebutan khusus Black. Suatu malam mereka jalan, saling curhat tentang masa depan. Di pinggir pantai itulah terjadi sesuatu yang membuatku me-rewind film. Kejadian yang sangat membekas buat Chiron, sebuah pengalaman pertama.

Dalam sebuah kelas, Chiron lagi-lagi kena bully. Membuatnya marah, hingga terpaksa membalas menghajar ketua genk sekolah. Akibat tindakannya ia harus masuk penjara anak-anak jauh dari segalanya. Memasuki kerasnya hidup yang sesungguhnya.

Sepuluh tahun kemudian, kita diajak ke Georgia, Atlanta. Chiron ‘Black’ kini sudah kaya menjadi pengedar narkoba, mengikuti jejak Juan. Kini ia macho karena rajin olahraga, dengan kalung, gigi emas, peci ala Juan, dan mobil mewah dengan plat istimewa BLACK305. Suatu malam ia mendapat telpon dari Kevin (Andre Holand) yang kini telah menjadi koki. Ia mendapat nomor HP dari Teresa, mengundangnya bertemu kalau mau, dan akan membuatkan menu spesial.

Dengan segala kegamangannya, Black lalu memutuskan ke Florida. Bertemu ibunya yang kini lemah dan hopeless. Lalu mengunjungi restoran Kevin, tanpa memberitahunya ia memberi kejut. Diiring lagu ‘Hello Stranger’ nya Barbara Lewis. Dan sahabat lama ini kembali berjumpa. ‘I am me. I ain’t trying to be nothing else’. Saat akhirnya mereka bisa berdua dan berbincang lebih intim, sesuatu yang mengejutkan diucap Black. Akankah ada kesempatan kedua? Karena saat film ditutup, dengan kamera mengambil sudut punggung si little malah memandang pantai di bawah sinar rembulan, lalu dalam deburan ombak ia memalingkan wajah menghadap penonton dan ekpresinya datar.

Kisah asli film ini diambil dari drama karya MacArhur Fellow Tarell Alvin McCraney – yang juga seorang gay – berjudul In Moonlight Black Boys Look Blue. Diilhami masa lalunya, begitu juga sang sutradara Barry Jenkins juga memiliki masa kecil yang mirip Chiron sehingga ia menyebutnya ‘a beautiful struggle’. Dipecah dalam tiga masa: anak-anak – Little, remaja – Chiron, dan dewasa – Black. Dimana setiap masa diperankan aktor yang berbeda. Dalam proses produksinya mereka bertiga tak pernah bertemu agar bisa membangun jiwa karakter masing-masing, hal yang sama diberlakukan untuk Kevin. Debut bagus Alex Hibbert, saya yakin ke depannya ia akan jadi aktor besar. Kalau tak salah tangan dan jeli pilih peran Alex suatu saat akan bersaing di best actor, suatu saat nanti.

Film yang budget rendah ini ternyata (salah satunya) dibiayai Plan B, rumah produksi milik Brad Pitt. Wow berarti ia sukses beruntun dong sama 12 Years A Slave. Menjadikan film dengan biaya paling rendah yang bisa menang best picture! Secara nominal memang lebih besar dari Rocky-nya Sylvester Stallone tapi secara inflasi lebih kecil. Kekuatan utama film ini ada di naskah yang rapi, akting yang natural, pengambilan gambar yang unik dimana Jenkins sering memainkan kontras dan atmosfer yang ragu dan skoring yang pas. Secara cerita biasa saja, minimalis tak banyak kejutan. Coba bandingkan dengan kemewahan Arrival, yang kujagokan. Jauh sekali. Makanya saya kasih judul: film bagus dengan beberapa kelebihan, tapi menjadi pemennag best picture? Alamak!

Setelah dikecewakan The Hurt Locker, kini ada lagi film yang bagiku tak layak menang. Disela itu masih bisalah kita angkat topi, walau kualitas bukan di nomor satu semua. The King’s Speech punya gagap. The Artist yang hitam putih dan membisu. Argo yang propaganda unik ke Timur Tengah. 12 Years A Slave yang punya judul spoiler parah. Birdman yang punya long scene take tanpa putus. Spotlight yang kontroversial. Tapi Moonlight? Astaga, juri Oscar snob akut.

Moonlight | Year 2016 | Directed by Barry Jenkins | Screenplay Barry Jenkins | Cast Trevante Rhodes, Andre Holland, Janelle Monae, Asthon Sanders, Jharrel Jerome, Naomie Harris, Mahershala Ali, Alex Hibbert | Skor: 3/5

Karawang, 280317 – Christina Perri – Human

Iklan

One thought on “Moonlight: Good Things But Best Picture?

  1. belum nonton film-nya sih nih. sebetulnya, agak penasaran juga sama film ini, tapi rasa penasaran ke moonlight kalah sama rasa penasaran ke spotlight, jadi ditahan dulu. hehe. iya, emang telat dua taun.😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s