Collateral Beauty: Every Tragedy Is Accompanied With Beauty

image

Brigitte: Who won? You or the porcelain?

Dipimpin Will Smith, jajaran cast-nya juara. Bintang utama kelas Oscar semua, dua pernah menang, tiganya pernah dinominasikan. Sayangnya film ini menipu, kualitasnya jauh dari harapan. Wajar sekali tak dilirik di banyak penghargaan. Gesture para karakter seolah meminta piala, namun payahnya dibarengi cerita tak mumpuni. Ibarat masakan, bumbu-bumbunya sudah kelas wahid, racikannya ngasal dan kokinya memang tak pengalaman di restoran bintang lima sekelas WB, Village Road dan New Line Cinema. Hasilnya, para panikmat makanan itu malah ingin muntah. Aneh sekali bintang-bintang besar itu mau bermain di film yang sangat dipaksakan.

Kisahnya sebenarnya menarik sedari awal, sayangnya hanya di awal. Howard Inlet (Will Smith) memberi sambutan di depan karyawan Danworth Financial (syutingnya beneran di kantor agen iklan Wieden Kennedy di New York, maka terlihat sangat asli settingnya) sebuah kunci sukses. Ada tiga koneksi yang erat antara Cinta, Waktu dan Mati. Optimisme anak muda. Diringi tatapan senyum dan tepuk tangan wajah-wajah familiar movie mania. Lalu melalui sebuah pengambilan kamera memutar sang protagonis, cerita langsung lompat ke tiga tahun berselang, mimiknya kini berubah manyun. Howard sedang menyusun domino lego yang megah, lalu ia menjentikkan jarinya ke donimo start hingga roboh beruntun. Susunan yang membutuhkan lima hari itu-pun runtuh. Mainan orang yang punya waktu melimpah ini. Lima hari disusun dengan ketelitian tinggi, porak poranda dalam hitungan detik.

Tiga rekan kerja itupun berdialog mengenai kejiwaan Howard. Whit Yardshaw (Edward Norton), Claire Wilson (Kate Winslet), dan Simon Scott (Michael Pena). Bahwa mereka harus menyelamatkan Perusahaan karena mental Howard terganggu. Bahkan Whit sudah menyewa detektif Sally Price (Ann Down), seorang nenek mirip orang Mormon yang menyelidikinya hingga ketahuan selingkuh dan bercerai. Kehampaan Howard ternyata karena ia kehilangan putri semata wayangnya yang baru berusia 6 tahun. Kehilangan yang mengubah jalan hidupnya. Ia menjadi tak bersemangat menghadapi hari esok.

Suatu pagi, dengan bersepeda Howard mengirim tiga surat. Memasukkannya dalam bis surat. Kegalauan yang mencengkramnya makin akut, karena dari sang detektif kita tahu tiga surat itu tak beralamat jelas hanya ditunjukkan kepada Love, Time dan Death. Mengambil surat dari bus surat adalah sebuah tindakan kriminal. Wow, sampai di sini ide itu masih sangat menarik.

Waktu: “Mereka berkata kau akan menyembuhkan luka tapi mereka tak menceritakan bahwa kau menghancurkan semua hal indah di dunia. Bagaimana kau mengubah semua keindahan jadi abu. Kau tak ubahnya sepotong kayu bagiku. Kau adalah jaringan rusak yang tak dapat terurai. Kau bukanlah apa-apa.”

Ada dialog aneh, karena setiap sore Howard terduduk di taman anjing. Whit sampai berujar ‘apakah ia juga mengirim surat kepada anjing?’ lalu teman-temannya menatapnya tajam, marah. Karena kalau ia melakukannya kita bisa buktikan kejiwaan Howard benar-benar terganggu. Lucu? Ya, aneh? Ya. Dan kalimat itu diucapkan oleh aktor sebesar Norton!

Ide gile berikutnya adalah mereka menyewa tiga aktor untuk memerankan tiga kata kunci. Raffi (Jacob Latimore) sebagai waktu, Amy (Kiera Knightley) sebagai cinta dan Brigitte (Helen Mirren) sebagai kematian. Mereka bertiga diminta berbincang dan menasehati Howard, mereka seolah tak terlihat. Dibantulah aktor lain yang berujar seolah Howard berbincang sendiri. Sampai disini kebobrokan film mulai tampak.

Di antara rencana gila itu, ada adegan menyentuh saat Howard suatu malam bergabung ke klub duka. Di mana semua member melingkar duduk, berpegangan tangan lalu bercerita kisah dukanya. Wajah-wajah sedih itu berbagi pilu. Klub terapi ini dipimpin oleh Madeleine (Naomi Harris), ia adalah seorang janda yang kehilangan putri satu-satunya. Howard awalnya ragu, lalu gugup dan menjauh. Tapi selalu dikuatkan pikiran untuk dapat berbagi agar hatinya bisa tenang, lega. Beban kalau dipikul bersama, diucapkan, tidak tertahan akan terasa lebih ringan.

Sementara tiga teman kita ini punya plot kisah sendiri. Mereka juga punya alasan untuk menyelamatkan karir karena alasan yang beragam pula. Whit dengan anaknya Allison Yardshaw (imutnya Kylie Rogers) yang marah karena ia berbohong dan selingkuh. Claire dengan masalah kandungan dan Simon yang punya penyakit kronis tapi tak bercerita dengan keluarga. Seberat apapun masalah mereka, mereka punya niat jelek. Kebobrokan konco-konco ini makin memuncak saat, mereka berniat merekam tiap adegan Howard berbincang dalam hampa. Lalu menunjukkannya ke direksi bahwa benar, Howard memang sudah gila. Jadi berhasilkah mereka menyelamatkan Perusahaan?

Dan saat rekaman itu diputar, itulah puncak kebusukan film ini. Editing-nya fantastis sampai-sampai Will Smith tak bisa nalar. Logika dibuang ke tong sampah. Entah kenapa para bintang ini mau bergabung dalam film dengan script buruk seperti ini. Walau ada twist, ya kisah ini ada twist. Tapi tetap perjalanan menuju pengungkapannya sangat payah. Tertatih-tatih, lemas sebelum mencapai pundak.

Kutipan ‘just make sure you notice the collateral beauty’ harusnya masuk top ten kutipan terbaik 2016. Dibarengi tatapan Brigitte yang menusuk, bagian ini sedikit menyelamatkan plot bodoh yang ada. Tema kehilangan orang terkasih lalu mencoba bertahan menghadapi hidup sudah banyak dibuat Hollywood. Karena pada dasarnya cerita memang memainkan konflik, sayangnya Collateral Beauty kehilangan imaji-nya. Terlalu fokus menyimpan twist namun menghalalkan segala cara agar penonton terkecoh.

Will Smith mulai meredup. Dua filmnya di tahun 2016 flop. Ini dan Suicide Squad yang terpuruk. Ada apa dengan Smith? Norton juga sama buruknya di film-nya. Kaku, bahkan saat adegan ia mengejar Kiera itu jelek banget. Larinya ketika keluar gedung menuju teater ga natural.

Film ditutup dengan lagu bagus One Republic yang berkumandang sampai kredit title kelar berjudul ‘Lets Hurt Together’. Wah wajib cari ini lagi, setidaknya mengobati rasa kecewa Collateral Beauty.

Collateral Beauty | Year 2016 | Directed by David Frankel | Screenplay Alan Loeb | Cast Will Smith, Edward Norton, Kate Winslet, Michael Pena, Helen Mirren, Naomie Harris, Kiera Knightley, Jacob Latimore, Ann Down, Alyssa Cheatham | Skor: 2/5

Karawang, 240317 – Letto – Sandaran Hati
Gajian Day

Iklan

One thought on “Collateral Beauty: Every Tragedy Is Accompanied With Beauty

  1. Waw i’m not the only one filmnya kurang greget memang
    Malah aku penasaran nonton filmnya karena awalnya dengerin soundtracknya dulu di youtube. And the song was way better than the movie hehe

    Revisi sedikit nih, kayaknya ada typo deh itu judulnya yg bener let’s hurt tonight.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s