Manchester By The Sea: Depressing & Tragic Movie Of The Year

image

image

Lee Chandler: No. No. You don’t understand, there’s nothing. There’s nothing there. There’s nothing there.

Nasib sial tak ada yang tahu. Takdir hidup memang misteri. Kalau tuah tak bisa membuat pribadimu bersedih atas jiwamu, Tuhan akan merenggut orang-orang terkasih untuk memaksamu bersedih. Tuhan juga bisa membuatmu hidup dengan orang-orang yang tak sesuai seleramu. Tapi, DIA selalu memberimu harapan. Selalu ada harapan bagi kaumnya yang mau berusaha. Manchester By The Sea adalah film sederhana, laiknya kehidupan sehari-hari di sekitar kita, memainkan nasib manusia. Tapi eksekusi, akting dan naskahnya juara. Sebuah film indie yang meledak tanpa rentetan peluru.

Superb sekali. Ini adalah film personal. Mengejutkan, sebuah film kecil produksi ‘B Story’ bisa sebagus ini dan pantas menang naskah terbaik di Oscar 2017. Kisahnya adalah pergolakan batin seorang pria yang frustasi, pria ceria yang terenggut jiwa senyumnya. Pria dengan tatapan hampa ini diperankan dengan gemilang oleh Casey Affleck. Sangat pantas menang best actor. Awalnya kukira ini adalah Manchester yang ada di Inggris, yah semua orang – kecuali warga aslinya – pastinya mengira bahwa Manchester adalah sebuah kota di benua Eropa. Ternyata bukan, ada Manchester lain di Amerika. Awalnya hanya Manchester tapi mulai tahun 1989, kota itu resmi bernama Manchester-by-the-sea. Sebuah kota kecil di semenanjung Massachusets. Kota asri sekitar 2 jam perjalanan dari Boston itu menjadi setting cerita drama keluarga yang sangat solid.

Cerita dibuka dengan absurb. Lee Chandler (diperankan dengan brilian oleh Casey Affleck) adalah pekerja tukang bersih-bersih di tanah rantau. Tukang pipa yang bertugas dari rumah ke rumah. Menemui berbagai karakter dari yang egois marah-marah, ada yang jatuh hati padanya, ada yang baik hati karena merasa ga enak hati pipanya jorok hingga memberi tips. Lee dengan tampang datar tanpa ekspresi melakoni kerasnya hidup. Malamnya ia minum-minum buang waktu di bar. Hidup yang yang sangat membosankan. Ditemani rintikan salju yang membuat beku hati setiap individu yang merana.

Suatu hari saat bekerja Lee mendapat telepon dari rumah sakit bahwa kakaknya Joe Chandler (Kyle Chandler) mendapat serangan jantung. Hal ini memaksanya cuti beberapa hari untuk mudik ke Manchester, kampung halaman yang pernah melukai hatinya. Dalam sebuah scene sederhana, kamera mengambil gambar dari balik kemudi mobil Lee, sebuah perjalanan hidup manusia menelusuri kenangan pahit. Sesampai di sana ternyata Joe sudah meninggal. Kesedihan terlintas di wajah Lee, dunia memang tak bersahabat dengannya. Adegan saat Lee memeluk mayat kakaknya itu sungguh menarik. Ekspresi sedih mendalam ditinggal orang terkasih.

Kisah sesungguhnya dimulai di sini. Proses pemakaman Joe menuai banyak masalah. Mulai pendaftaran ke pihak pemakaman, tanah yang keras akibat terpaan salju, anak tunggal si Patrick Chandler (Lucas Hedger) yang tak lazim dalam berlogika, hak warisnya ke arah siapa sampai keputusan-keputusan hidup ke depannya. Si Patrick Stars (heleh, langsung keingat temannya Spongebob) adalah pemuda tanggung yang buruk, contoh generasi milenia yang tak patut dicontoh. Tahu ayahnya meninggal dunia, ia tak ada ekspresi sedih ditampilkan. Saat diajak ke rumah sakit untuk melihat mayat ayahnya, ia ragu. Kalimat ‘Ayo kita pergi’ di dalam mobil itu terdengar biasa, tapi begitu bernyawa. Absolut. Kelakuan bobrok ini anak, malam kematian orang tuanya malah ngajak ceweknya menginap!

Patrick akhirnya harus tinggal bersama Lee – walinya, sesuai wasiat almarhum. Keduanya tak cocok. Lee kecewa karena ia ‘kan tinggal di Boston sebagai tukang ledeng, kenapa dipaksa tinggal sama ponakannya yang aneh? Sang keponakan juga kecewa, karena masih dalam usia remaja maka ia tak boleh mengambil hidup keputusan sendiri, harus ada wali sehingga dua karakter aneh ini begitu ‘menggemaskan’ saat tinggal satu atap. Bagaimana suatu siang Lee marah-marah kepada orang asing terkait pemakaman yang tertunda sehingga mayat harus dibekukan. Bagaimana Patrick, pemuda ga jelas ini mengakali cewek yang berkunjung ke rumahnya. Bagaimana band gajebo-nya bermusik dengan hancurnya. Bagaimana Lee seorang duda yang tak bisa menikmati hidup saat dikenalkan dengan wanita single tapi pasif. Wali yang buruk. Dan seterusnya dan seterusnya. Kompleks, pintar sekali yang buat skenario.

Akhirnya kisah menemui titik temu jawab saat baru setengah jalan. Alasan kenapa Lee bisa menjadi begitu hampa dijelaskan dengan kekuatan naskah yang rapi. Ia adalah ayah dan suami yang sembrono, yang cuek dan yah mungkin childish. Sebelum tragedi terjadi ia adalah orang yang ceria. Begadang dengan teman-temannya, main poker, ngopi, mancing, tertawa lepas. Tragedi itu telah merenggut jiwanya. Ditambah istrinya Randi Chadler (diperankan dengan tak kalah brilian oleh Michelle Williams, walau menitnya minim sekali) yang menimpukkan semua salah padanya hingga mereka harus berpisah. Hidup memang kejam. Bagaimana akhir kisah dari sekumpulan manusia frustasi ini?

Akting dua bintang utama di suatu sore saat Williams mendorong kereta bayi dan Casey mengenakan jaket itu juara, keren banget. Salah satu adegan paling bagus sepanjang tahun 2016. Bagaimana si cewek masih mencintainya, meminta maaf, dan merangkul dalam tangis. Bagaimana Casey masih tanpa ekspresinya, datar karena kehilangan kotak senyumnya. Casey memang layak menang Oscar, sudah kutebak sedari awal ia pantas. Michelle juga kutebak namun salah. Tebakan subjektif sih karena kekesalanku atas kekalahannya di Blue Valentine. Michelle tampil sebentar tapi sangat bernyawa. Si pirang yang sukses memukauku.

Untuk yang suka drama, jelas ini adalah film wajib. Menjadikan film keempat Oscar 2017 yang kuberi nilai sempurna. Dalam sebuah pesiar ada sekelumit kalimat yang berbahaya – sebuah harapan. Makanya hati-hati dengan apa yang kamu minta. Dengan ditemani ombak yang menggoyangkan kapal Claudia Marie, obrolan paman-ponakan itu berlangsung. “Andai kamu terperangkap dalam goa, siapa yang pertama kamu inginkan menemani?” Dengan sambil tersenyum menjawab, “Pamanlah!” kalimat itu ternyata didengar Dewa Laut sehingga akhirnya mereka benar-benar tinggal seatap. Unik ya, sekelumit dialog itu membuat deru traumatis sepanjang film berlangsung.

Satu-satunya orang normal di film ini dimatikan. Sebuah ide cerdas untuk menuntun penonton mengikuti sekumpulan orang depresi. Film ini juga memainkan ironi. Saat kapal itu berlayar semua tampak ceria. Namun ketika adegan berikutnya, Lee dan Patrick seakan menjadi dua kutub yang berseberangan. Muram dan depresi. Kemudian magnet itu dibalik lagi untuk saling menarik guna menyelamatkan hari. Ending-nya juga pas banget. Chemistry hebat keluarga Chandler.

Poin penting lain yang saya dapat adalah, Kenneth Lonergan sudah membaca dan menelaah buku ‘Orang Asing’-nya Albert Camus. Saya jamin. Adegan saat Patrick tak mau melihat mayat ayahnya, lalu malamnya bercinta adalah gambaran visual Meursault. Apakah kesamaan seperti ini termasuk menjiplak? Nope, ini adalah kejelian sang kreator. Saya lebih suka menyebut ‘terinspirasi’. Cerdas sekali dia memupuk kisah usang menjadi tragedi modern.

Baju sweeter yang dikenakan Casey saat diinterogasi dua polisi berwarna hijau bertulis “Pratty’s”. ini juga ironi dari fakta yang terlangsung. Bagaimana bisa seorang ‘pembunuh’ tak dipenjara? ‘Hanya itu saja?’ Ya. Memang tak ada hukum karena tragedi itu lebih ke kecelakaan, namun kan ini karena keteledoran? Wajar sekali Lee sepanjang film menanggung dosa besar. Berat sekali.

Manchester By the Sea adalah film paling depresi tahun ini. Sangat menginspirasi. Kalau kalian ingin membuat cerita bagus, matikan saja karakter normal dan biarkan sekumpulan depresif mengambil alih kisah.

Manchester By the Sea | Year 2016 | Directed by Kenneth Lonegan | Screenplay Kenneth Lonergan | Cast Casey Affleck, Michelle Williams, Kyle Chandler, Lucas Hedges | Skor: 5/5

Ruang HRGA NICI, Karawang, 230317 – Sherina Munaf – Semoga Kau Datang

Iklan

4 thoughts on “Manchester By The Sea: Depressing & Tragic Movie Of The Year

  1. Ping balik: Best Film 2016 | Lazione Budy

  2. Pas Patrick nggak mau nengok jasad ayahnya terus bukannya berkabung tapi malah ml, itu beda konsep sama pas Mersault ogah-ogahan ngelayat jasad ibunya. Terutama karena Patrick itu dia pengen kabur dari kenyataan bahwa ayahnya mati, dan berarti dia masih sayang sama ayahnya. Sedangkan Mersault itu dia bahkan nggak ditampilkan berduka sama sekali saat liat peti mati ibunya, dia malah ngantuk terus ketiduran (meski dia mati-matian bilang sama jaksa bahwa dia itu sedih pas ibunya mati). Adegannya sih boleh mirip tapi premisnya beda blass.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s