Silence: Grim And Intimidating

image

image

Father Rodrigues: I pray but I am lost. Am I just praying to silence?

Film ketiga Oscar 2017 yang ku-rate sempurna setelah Arrival dan Captain Fantastic. Kisahnya sangat panjang, hingga menyikat durasi hampir 3 jam. Waktu yang bisa saya gunakan untuk merampungkan baca satu buku terbitan Atria itu saya persembahkan untuk sebuah film karya sutradara legendaris Martin Scorsese. Untungnya worth it, karena sesuai ekspektasi. Berdasarkan buku karya Shusaku Endo yang bulan lalu sebenarnya sudah saya timang-timang untuk saya beli, namun urung karena terbentur budget, next time pasti kebeli. Kujamin! Martin sendiri menerima novel Endo tahun 1988 dari Paul Moore, seorang Pendeta di New York. Butuh nyaris 3 dekade untuk divisualisasikan!

Kisahnya pilu dan mengintimidasi. Sedari awal sudah diperlihatkan adegan pembunuhan. Walau pengambilan gambar eksekusinya ga eksplisit karena kamera akan menjauh di adegan itu. Bahwa Kristenisasi di abad ke 17 terjadi di tanah Jepang, tepatnya tahun 1637 sesuai yang narator sampaikan. Para Pendeta dikirim ke berbagai belahan dunia. Kalau dulu pas sekolah saya dapat dari pelajaran IPS – Ilmu Pengetahuan Sosial sub Geografi Sejarah bahwa saat itu Eropa menyerbu – boleh juga kau sebut menjajah – Asia dengan misi 3G: Glory, Gold dan Gospel. Nah film ini akan menyosot ‘G terakhir’ tapi dari sudut pandang yang teraniaya. Dari adegan pembuka, kita langsung disuguhi wajah aktor besar Liam Nesson (sebagai Pendeta Cristovao Ferreira) tapi butuh lebih dari sejam lagi untuk muncul. Ia tertangkap bersama 4 Pendeta lainnya, dieksekusi mati dengan keji di depan warga sebagai contoh. Disalib, ditelanjangi lalu disiram air panas setetes demi setetes sehingga sakitnya teramat dan perlahan. Jepang era Shogun Tokugawa melarang pengaruh Barat masuk. Segala hal yang berbau Kristen dibumihanguskan. Zaman itu dipakai untuk kolonialisme, untuk politik, untuk kuasa. Jadi kalau zaman sekarang kalian masih menunggangi Agama untuk meraup suara dalam Kampanye Pemilu, kalian mundur 4 abad ke belakang.

Father Cristovao Ferreira tidak mati, ia murtad untuk menyelamatkan nyawa. Surat perpindahan keyakinan itu diselundupkan, disalurkan dan ditebus sampai ke St. Paul’s College, Macau. Dibacakan oleh Pendeta Jesuit Portugis, Father Allesandro Valignano (Ciaran Hinds) kepada dua pengikut Ferreira, Father Sebastiao Rodrigues (diperankan dengan sangat bagus oleh Andrew Garfield) dan Father Fransisco Garupe (Adam Driver). Kabar yang mengejutkan itu sulit dipercaya, bagaimana bisa orang pegangan mereka ternyata melepas pegangannya, lalu mereka meminta izin untuk bertemu dan ‘meluruskan’ Ferreira ke Jepang. Tentu saja ini adalah misi berbahaya, nyawa taruhannya. Keinginan mereka bak semangat pertama anak muda berpetualang ke tanah seberang.

Mereka dipertemukan dengan saudagar Tuan Chun yang membawanya kepada seorang Jepang yang terdampar di Macau, alkoholik frustasi Kichijiro (Yosuke Kubozuka). Seorang nelayan yang ingin pulang itu akhirnya menghantar mereka menyelundup untuk menginjakkan kaki di Negeri Matahari Terbit. Dalam adegan yang dramatis dan sunyi saat perahu mereka menepi, diluarduga disambut umatnya. Sebuah desa yang penuh Kristiani. Ada dua kepala desa yang selama ini membaptis dan memimpin doa, Mokichi (Shinya Tsukamoto) dan Ichizo (Yoshi Oida). Mereka dengan suka cita melayani Pendeta yang datang. Era itu, barang siapa bisa menunjukkan seorang Kristen mendapat 100 keping emas, saudara Kristen berarti 200 keping emas dan bisa menunjukkan seorang Pendeta artinya 300 keping emas. Era itu begitu mencekam, beda keyakinan dibunuh. Kebebasan beragama ditenggelamkan ke rawa-rawa terdalam.

Rodrigues dan Garupe bersembunyi dan sesekali muncul untuk memimpin doa. Rasa frustasi mulai tampak, jika mereka tak bertindak bagaimana bisa menemukan guru mereka? Suatu hari mereka ditemukan dua orang Jepang memakai buyuk/caping dibalik kabut. Awalnya ketakutan, namun ternyata mereka dua orang Kristen yang datang dari Goto. Mereka tahu ada Pendeta datang ke Jepang via si gila Kichijiro. Mereka meminta Padre (Romanji-nya Father) untuk ke sana karena umat begitu rindu pemimpin. Adegan itu mengharu biru, yang akan membuat orang tersentuh. Di tengah tekanan dan ancaman, masih ada umat yang memegang teguh keyakinan. Minoritas yang teraniaya. Dari Goto, Rodrigues mendapat informasi dari seorang tua bahwa Ferreira di Shinmachi, daerah dekat Nagasaki. Itu dulu sebelum masalah besar terjadi. Kota berbahaya.

Di Goto, Rodrigues membagikan salib ayaman dari selubung padi. Diterima dengan suka cita umatnya, sampai-sampai pada mencium penuh kasih. Salib yang membuatnya khawatir karena mereka menilai tanda-tanda keimanan ini jauh lebih dari keimanan itu sendiri. Tapi melihat antusiasme tinggi itu, Rodrigues begitu tarharu. Ia bahkan memberikan Rosarianya. Semacam tasbih, yang dibagikan satu per satu tiap butirnya. Kecuali Kichijiro yang berlari ketakutan. Ternyata si gila memikul beban dosa tak tertanggung, ia memiliki masa lalu yang kelam. Dan bagaimana keluarganya meregang nyawa ditampilkan dengan pilu. Setiap ingat itu ia selalu ingin melakukan Pengakuan dosa.

Di Goto, Rodrigues membaptis ratusan orang. Menjadi orang yang begitu dihormati bak nabi, bak The Chosen One. Berjalannya waktu, Pihak Pemerintah Jepang memburu. Mereka mengancam kalau dalam tiga hari mereka tak memberi informasi tentang persembunyian Pendeta maka mereka akan membunuh 4 orang dan salah satunya sang pemimpin Mokichi. Informasi itu diperdebat, Rodrigues dan Garupe begitu dicintai mereka bimbang, apakah harus pergi ataukah bertahan. Maju kena mundur kena. Dan keputusan bulat diambil, Padre bertahan sehingga wajib dipilihlah empat orang yang siap mati. Dua pemimpinnya tentu saja maju yang pertama, jeda lama. Jeda diam yang begitu menyakitkan, siapa mau mati demi agama? Seorang loyalis tua mengajukan diri, gila! Sukarela mati bro. Begidik rasanya, dan kurang satu orang. Tak ada yang berani mengajukan diri (salah satu adegan terbaik 2016, sunyi yang mengintimidasi), sampai akhirnya seseorang nyeletuk Kichijiro bukan warga asli sini kenapa bukan dia aja? Adegan di poster saat akhirnya Andrew Garfield bersentuhan jidat dengan Yoshi Oida itu pun terjadi. Ditemani rintikan hujan dengan latar Adam Driver yang berwajah hampa. Sedih sekali.

Eksekusi matinya pun dibuat seram. Satu per satu diminta menginjak simbolisme Yesus, awalnya mau tanpa ekspresi tapi mereka curiga sehingga dilanjutkan diminta meludahi salib dengan menyebut kalimat sulit buat seorang Kristiani. Simbol, sebuah tanda keagamaan itu bertaruh nyawa. Dua Padre yang melihat dari jauh itu benar-benar frustasi, sampai beginikah sebuah negeri menolak Agama Luar?

Aku harap aku bisa sekuat kamu. Setelah eksekusi itu mereka memutuskan pergi. Ah mereka mati sia-sia, mati demi kita. Misi berikutnya mereka berpisah, Garupe ke Hirado dan Rodrigues kembali ke Goto. Dari adegan perpisahan itu saya sudah curiga mereka pasti celaka. Rasa curigaku terbukti, saat tiba di Goto desa sudah porak-poranda. Pemerintah yang dipimpian jaksa kejam Innoe Sama (Issei Ogata) sudah membumihanguskan wilayah itu. “Bapa, aku meminta maaf untuk kelemahan dan keraguanku.” Dan akhirnya apa yang ditakutkanpun terjadi. Berhasilkah mereka bertemu Father Ferreira? Seberapa kuat mereka memikul beban untuk mempertahankan keyakinan di tengah deraan siksa yang pedih di dunia yang fana ini?

Adam Driver adalah aktor baru, belum terlalu lama muncul. Dia mencuat berkat aksinya sebagai Kylo Ren di film besar Star Wars: The Force Awakens. Betapa beruntungnya awal muncul langsung di proyek besar, apalagi kini mendapat tempaan sutradara hebat Martin Scorsese. Penampilannya tetap tenang, wajahnya memang teduh – mirip aktor lokal yang jadi Rangga di AADC series – jadi cocok jadi seorang Pendeta. Penampilan Garfield juara, bagusan di sini ketimbang jadi serdadu anti senjata di Hacksaw Ridge. Anehnya dua penampilan Garfield ini sebagai orang soleh yang terdampar di Jepang! Ada adegan absurd saat dua Padre ini dijamu makan, karena laparnya mereka langsung sikat! Begitu mangkuk diserahkan. Sementara umatnya malah tenang dan berdoa khusuk sebelum makan. Aneh bin ajaib.

Film sebagus ini bahkan tak masuk kandidat best picture. Hanya menyumbang satu kategori, itupun bukan utama. Duh, bandingkan film foya-foya joget dan nyanyi penuh warna yang nyaris menang itu, jauh banget kualitasnya. Ini adalah film religius ketiga Martin setelah The Last Temptation of Christ dan Kundun. Skoringnya bagus banget. Begitu pas mengiringi ‘kesunyian’ yang menyelimuti. Bunyi jangkrik dalam renungan. Adegan saat si gila meludah ditemani skor jeder jeder, wuiszz serem.

Film ini pertama tayang rilis terbatas di Vatikan. Lalu screening terbatas lagi di depan ratusan Pendeta di Roma. Mendapat review positif. Yak, tentu saja mereka suka. Walau beberapa adegan memberi gambaran pilu karena simbol agama diinjak, kalau Muslim pasti pada istighfar tapi secara keseluruhan film ini tetap berpegang teguh pada keyakinan. Separuh awal kita mungkin bisa terhanyut untuk memberi simpati pada kaum yang di-dzolimi, sebuah minoritas tertindas. Separuh akhir muncullah sebuah pergolakan batin, kalau Tuhan ada kenapa diam saja – cocok dengan judulnya – saat umatnya disiksa. Dimana Tuhan saat mereka meminta pertolongan? Iman adanya di hati, bukan pada simbol-simbol keagamaan. Bukan pada salib, bukan pada tasbih, bukan pula pada peci, celana cungkring, sampai jenggot tebal. Iman itu didasari di hati. Tak perlu ditonjolkan, tak harus diungkapkan ke orang sekitar, cukup dalam sunyi bersemayam di lubuk pikiran biar Tuhan dan pribadi yang tahu.

For the Japanese Christians and their pastors Ad Majorem Dei Gloriam. Saya nikmati sampai credit title-nya habis. Tak umum karena cast and crew tak berjalan naik, tapi muncul per tulisan lalu ganti. Silence dipersembahkan untuk istri Martin, Helena dan putrinya Fransesca. Seperti katanya bahwa Silence is about the necessity of believe fighting teh voice of experience!

Beruntunglah kita, hidup di era kebebasan beragama. Toleransi dalam bergaul. Hidup dalam lindungan dan kasih sayangNya. Semoga kita semua selalu dalam limpahan rahmat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Amin.

Silence | Year 2016 | Directed by Martin Scorsese | Screenplay Martin Scorsese, Jay Cooks | Cast Andrew Garfield, Adam Driver, Liam Neeson, Yosuke Kubozuka, Issei Ogata | Skor: 5/5

Karawang, 120317 – Sherina Munaf feat Elfa’s Singers – Selamat Datang Cinta

Iklan

2 thoughts on “Silence: Grim And Intimidating

  1. Ping balik: Best Film 2016 | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s